Aku, Rin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 January 2016

“Aku kan sudah bilang padamu. Jangan dekati area itu! Kenapa kau tidak menurut? Ha?!”

Protektif. Lelaki bawel. Hah! Dan juga, aku masih anak SMA. Tidak bisakah aku menikmati masa remajaku ini? Masa bandelku ini?

“Kau dengar aku?”
Ih, bawel! Harusnya aku bawa earphone tadi.
“Hei! Jangan tutup telingamu! Aku sedang berbicara!”
Cukup.
“Hei, Mr. Protect! Bisakah kau tenang? Ini hanya masalah kecil! Kenapa kau ini?”

Namaku Rin. Lengkapnya Rin Sinclair. Aku adalah anak dari seorang pengusaha besar dan seorang designer terkenal. Menurut orang-orang, kehidupanku sangat sempurna. Tapi tidak denganku. Aku murid SMA di SMA GLOBAL 1. Kelasku 10 IPA-2. Seseorang yang sedari tadi berkicau adalah Aldo. Lengkapnya Aldo Tan. Dia mengatakan bahwa aku adalah pacarnya. Bagaimana bisa? Dia menyatakan perasaannya padaku di hari kedua saat MOS sedang berlangsung. Aku tidak menjawabnya. Tetapi, dia menyimpulkan bahwa aku menerimanya. Dia pemaksa.

“Apa aku salah? Aku hanya ingin melindungimu, Rin! Kau adalah pacarku. Meskipun, kau tidak menjawab perasaanku. Tapi, aku berjanji. Berjanji untuk melindungimu.” ujarnya berapi-api. Tapi, aku menyukainya. Walaupun dia menyebalkan dan terlalu mengkhawatirkanku. Aku tersenyum dan menurunkan topi yang sedang ia kenakan agar menutupi wajahnya. “Bawel! Jangan berjanji kalau kau akan mengingkarinya nanti. Ayo jalan lagi!” ucapku.

Saat ini, aku dan Aldo akan segera makan siang. Tidak perlu mewah. Aku mengajaknya ke tempat mie ayam yang dijual di emperan. “Kau.. yakin di sini?” tanyanya.
Aku mengangguk, “Hm, ada yang salah? Aku hanya ingin makan.”
Aldo menggeleng dan menuntunku untuk menempati kursi yang kosong. Lalu ia pergi ke tempat pemesanannya. Tidak lama, ia kembali.

“Hari ini, kau pendiam.” ujarnya.
“Hm? Aku memang seperti ini, kan?”
Aldo menggeleng, “Kau.. kau kembali menjadi dirimu yang bosan menjalani hidup. Hah.. Bisakah kau ceria saat bersamaku?”
Hei, apa yang dia katakan? Aku selalu seperti ini saat bersamanya. “Apa maksudmu?”
“Rin. Belajarlah untuk mencintaiku. Ribuan gadis sedang menunggguku untuk menghampiri mereka semua. Tetapi aku memilihmu.”

Dia ngelantur.

“Dengar. Aku serius. Kau punya dua pilihan. Stay, and leave. Atau tiga? Terus seperti ini dan biarkanku pergi. Hm?” Dia menantangku. Aku hanya diam untuk meresponnya. Sepertinya, dia serius. Ada apa dengannya? Apakah dia terbentur benda keras? Tidak lama, pesanan kami pun datang.

2 weeks later..
Aku tidak mengerti akan semua ini. Semenjak kejadian itu, aku maupun Aldo saling menjaga jarak. Di sekolah, ketika kami satu kelompok pun, kami tidak berkomunikasi. Sampai sekarang, tidak ada satu pun pesan masuk darinya maupun pesan terkirim untuknya. Apa aku salah? Aku tidak pernah menceritakan masalahku padanya. Tidak pernah bermain dengannya di sekolah. Tidak pernah berkomunikasi lewat telepon saat malam hari seperti pasangan lainnya. Bahkan bergandengan tangan pun tidak pernah kami lakukan. Aku selalu menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengannya.

Dia selalu mengajakku untuk bersikap bahwa akulah pacarnya. Akulah seseorang yang ia cintai. Apa yang harus aku lakukan? Apa saat ini dia sudah punya pacar lagi? Aku harus menyelesaikannya. Aku bukanlah Rin. Tapi, aku ingin seperti Rin. Gadis yang kehidupannya diidamkan oleh orang-orang. Aku tidak bisa seperti ini terus.

Rambutku adalah mahkota untukku. Bajuku adalah perhiasannya. Wajahku adalah pelengkap dari mahkotaku. Tapi, aku akan merubah itu semua. Aku ingin seperti Rin yang diinginkan oleh seorang designer terkenal yang telah melahirkanku. Dia ingin Rin-nya dekat dengan pencipta-Nya. Bukan sepertiku. Yah.. belum terlambat untukku. Untuk memutuskan hubunganku dengan Aldo dan untuk memperbaiki semua ini.

“Maaf, do! Kau dan aku harus mengakhiri hubungan ini.” ujarku pada Aldo.
Saat ini, aku akan mengakhiri semuanya. Aldo menatapku. Jarak kami 1,5 meter sekarang.
“Yah! Aku diputuskan oleh seorang gadis..” ujarnya.
“Oh, maaf!”
Aldo tersenyum, “Tidak apa-apa. Aku hanya bercanda. Yah.. Maafkan aku. Aku tidak ada kabar selama tiga minggu kemarin. Aku ada acara Majelis di rumah. Aku jadi panitia di sana. sungguh melelahkan!” Ah, dia juga sudah berubah ya?

“Syukurlah.”
“Apa rencanamu setelah ini, Rin?”
“Membuat Rin yang diidamkan oleh setiap orang.”
Dia bertepuk tangan, “Bagaimana ini? Rin-ku sudah berubah. Dan aku kehilangan Rin yang baik. Aku menyesal.” dan berkata seolah-olah menyesal.

“Apa-apaan kau ini? Kalau kita ditakdirkan untuk bersama, kita akan bersama kembali.” ujarku.
Aldo tersenyum, “Jika tidak?”
“Kita akan menemukan yang lebih baik dari sekarang.”
“Pintar. Aku akan kehilanganmu, Rin! Seseorang yang telah terdaftar menjalin hubungan dengan Aldo Tan ini. Yah, kau benar. Kita berjuang bersama, ya!”
Aku tersenyum, “Ya, semangat!”

Dan inilah perjalanan kehidupanku yang baru, akan segera dimulai. Aku bahagia saat ini. Aku mempunyai seorang ayah yang bisa membagi waktu dan kasih sayang kepada keluarganya. Begitu pun dengan ibuku. Aldo bagaimana ya? Ah! Tidak usah memikirkannya! Kalau sudah takdir bersama, aku akan kembali bersamanya. Hahaha. Tapi, jauh di dalam lubuk hatiku. Aku masih menyukaimu, Aldo.

Cerpen Karangan: Cahyati Dwi Muliani
Facebook: Cahyati Dwi Muliani
Nama: Cahyati Dwi Muliani
Kelas: 10
Asal kota: Bogor

Cerpen Aku, Rin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Kau dan Kenangan Kita

Oleh:
Sore itu kami sedang menikmati hembusan angin pantai nan indah dan sejuk. Iringan lagu pengamen pantai membuat suasana hati kami berbunga-bunga karena lagu yang dinyanyikan sangat tepat dengan suasana

Menunggu Senja

Oleh:
Melangkahku dalam sudut, Bergaungku dalam lembut, Menariku dalam kabut, Dan senja belum lagi datang menyambut Rinai kembali bergemiricik di sore hari. Membuat basah kuyup Rega saat ia harus pulang

Lolly love or Lolly friend?

Oleh:
Halo sobat, namaku Nadya. Aku punya seorang sahabat namanya Kevin. Kami sudah lama bersahabat, awalnya aku hanya menganggapnya teman biasa. Tapi, lama kelamaan ada perasaan yang berbeda untuknya. Yap,

Pada Sebuah Kafe

Oleh:
Jarum jam di pergelangan tanganku masih menunjukan angka setengah tujuh malam. Ini berarti masih tersisa waktu setengah jam lagi, waktu yang lebih dari cukup bagiku untuk mencapai tempat tujuan.

Cinta Datang Terlambat (Part 2)

Oleh:
“Ada apa?” tanya Andini yang tiba–tiba datang dan tentu saja tanpa ekspresi di wajahnya. “A.. Andini..” “Nabila bilang kamu ingin mengatakan sesuatu bukan?” tanya Andini lagi. “Aku..” “Maafkan aku..”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *