Aku Siapa? (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 21 February 2017

Malam yang begitu sunyi sangat menusuk tulang Siliasih. Di bawah hamparan bintang yang berkedip terang mengiringi tiap langkahnya mencari sesosok lelaki yang telah lama tak ditemuinya. Bu Asih begitu akrab ia dipanggil, terus melangkah ditemani seorang bayi yang masih menggemaskan, Rahmat San namanya, usianya baru menginjak 8 bulan.

Setelah hampir 5 jam ia berjalan, namun hasilnya nihil, bu Asih memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya mengingat waktu yang kian larut malam, hampir setengah 2 dini hari.

“Kemana saja kau, Sih? jam segini kau baru pulang? kamu tidak kasihan apa melihat anakmu kedinginan seperti itu?” gertak ayahnya, pak Arganta, yang sedari tadi menunggunya di depan pintu.
“Maaf pak, tadi aku mencoba untuk mencari Mas Surya” jawab Bu Asih, menerangkan.

Keesokan harinya, Bu Asih kembali pergi mencari suaminya tapi sekarang ia sendiri, tak ditemani anaknya. ia menitipkan Rahmat San kepada bapaknya dengan beralasan pergi ke pengajian RT.

Menyusuri setiap gang dan daerah hingga ke tepi muara (laut), ia mencari, hingga akhirnya…
“Silisih..” terdengar suara yang tak asing baginya. ia pun menoleh ke belakang. betapa terkejutnya ia melihat sesosok lelaki yang ia cari selama ini, suaminya, kemudian langsung ia peluk erat-erat tubuh kekar suaminya seraya meneteskan air mata melepas rasa kangen setelah hampir 3 minggu tak ditemuinya.
“Siliasih, kok kamu keluar sendirian, mana nak Rahmat San?” Tanya Mas Surya.
“kabar gembira, Mas, ini yang ingin aku kasih tau ke Mas dari dulu, bapak sekarang sudah berubah, nak Rahmat sekarang lagi sama bapak, lagi diajak main, Mas”.
“syukurlah kalau begitu, semoga ini awal yang baik dan bisa merubah sifat bapak yang keras itu”.
Memang, pak Arganta terkenal sebagai sosok yang keras dan suka marah, ia tidak menyukai keberadaan Surya, menantunya, entah mengapa.

“mas, ayo kita pulang, bapak dan nak Rahmat pasti sudah menunggu di rumah”.
“sebenarnya, kedatangan mas Surya ke sini untuk minta izin, mas hendak pamit lagi, Siliasih”.
“lho mas, bukannya baru pulang kok malah pergi lagi, apa sampean tidak kangen dengan Asih?, tak rindukah mas dengan nak Rahmat anak kita? hingga mas tega untuk pergi lagi?”. ucapnya lirih seraya meneteskan air mata. Surya mencoba untuk menenangkan sambil perlahan ia menerangkan alasannya harus pergi lagi. Sebenarnya, Surya tidak tega bila harus berpisah kembali dengan keluarga apalagi anaknya yang masih batita, namun ia telah terikat janji dengan seseorang yang mengharuskan ia pergi lagi. betapa terkejutnya bu Asih setelah mendengar cerita dari sang suami, tak percaya, ternyata selama ini suaminya menutup-nutupi tentang silsilah dan asal dari Surya, yang ia ketahui, suaminya telah menjadi yatim piatu, tak berayah dan tak beribu. ternyata, suaminya bukanlah anak sembarangan, ia merupakan anak dari sang raja Jayang Rana dari kerajaan Srubi Tanha.

Akhirnya, dengan berat hati, bu Asih harus merelakan kepergian sang suami demi menjalankan tugas dari ayahnya yang tak lain adalah mertuanya, walaupun ia baru mengetahuinya sekarang.

Bu Asih kemudian pulang dengan perasaan tak karuan, antara sedih, kangen dan tak bisa dijelaskan. ia menangis tersedu-sedu sampai…
“Kenapa kau menangis? siapa yang membuatmu menangis seperti ini?”. tanya bapaknya heran.
Bu Asih hanya menggelengkan kepala sambil mengusap air mata yang terus menerus jatuh dari kedua bola matanya. perlahan, ia menjelaskan penyebeb dirinya menangis.

“suamimu datang ke sini? cuma pamit terus pergi lagi? ya bagus itu, itu yang bapak harapkan dari dulu, bapak tidak suka dengan suamimu, bapak muak lihat mukanya, bagus kalau dia pergi lagi”.
“lho bapak kok ngomongnya gitu sih, asal bapak tau, Mas Surya bukan anak orang sembarangan, ia adalah anak dari raja Jayang Rana, pemimpin kerajaan Srubi Tanha”.
Betapa terkejutnya pak Arganta mendengar penuturan anaknya, ternyata ia selama ini tinggal bersama anak dari keturunan musuh bebuyutannya yang telah merebut kekuasaan Dhamar Mayang yang kini telah berubah menjadi Srubi Tanha.

Tanpa terkontrol, ia memarahi bu Asih. Bu Asih terheran, mengapa ayahnya marah besar setelah mendengar penuturan darinya.
“Siliasih, sekarang bapak kasih kamu pilihan, pilih tetap tinggal bersama bapak? atau kau lebih milih suamimu yang anak sialan itu”.
Bu Asih terheran, apa maksud dari bapaknya tersebut. gejolak batin pun tak bisa terbendung dari dalam hatinya. Jikalau memilih bapaknya, berarti ia harus berpisah dengan suami yang amat dicintainya. tapi, jika ia memilih suaminya, maka ia harus rela untuk tak bersama orangtua tunggalnya.
“Maaf pak, Asih lebih memilih Mas Surya”.
“silakan, kamu pergi dari sini, dan mulai sekarang jangan panggil saya bapakmu lagi”. ucap ayahnya seraya menahan amarah dengan mengacungkan tangannya.
Asih tercengang mendengar ucapan bapaknya, tak menyangka orang yang menyayanginya akan tega mengusirnya.
“bapak jahat, bapak tega sama Asih” Ia menangis. “baik pak, kalau itu mau bapak, Asih akan pergi, tapi Asih akan membawa nak Rahmat, di mana ia pak?”.
“anakmu?, Siliasih, bapak kasih tau ya, anak sekarang hanya tinggal kenangan, Rahmat San sudah bapak buang jauh-jauh, bapak sudah menghanyutkannya ke sungai Cibagusan”.
“bapak jahat. punya hati nggak sih pak, Nak Rahmat masih bayi pak belum punya salah belum punya dosa, kalau bapak mau bunuh saja Asih pak jangan nak Rahmat”.
Bu Asih menangis sejadi-jadinya. perasaannya begitu tak karuan.

Cerpen Karangan: Dadung Garming Abdullah
Facebook: Dadung Soe
Abdullah, biasa dipanggil Dadung. lahir di Indramayu, 06 Maret 1998. Hobi menulis sejak SD. tertarik dengan Bahasa dan Bastra Indonesia.

Cerpen Aku Siapa? (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kata Maaf Terakhir

Oleh:
Berkali-kali kusakiti hatinya, hingga air matanya mengering tak mampu menitikkan bulirnya lagi. Sejak usiaku belia hingga kini umurku 28 tahun, aku masih saja merepotkannya dengan pekerjaanku yang tak berguna.

I Know You Jealous To Me

Oleh:
“Matematika itu membosankan, mendingan Sains daripada Matematika yang cuma ngitung sampai pusing” “Apa kau bilang? Asal kamu tahu ya, Sains itu lebih membosankan daripada Matematika. Sains pelajaran baru di

Aku Mau Beli Waktunya

Oleh:
Hari gua selalu sedih karena bokap sama nyokap gua kerja mulu. Gua sampai bosan nunggu mereka pulang sampai ke rumah. Pas gua ambil rapot, gua cuman ambil sendiri. Kadang

Orang Menyebutnya Jodoh

Oleh:
Seperti biasa Jakarta sore ini macet. Para karyawan, mahasiswa, pegawai negeri semua tumpah ruah di jalanan ibukota. Jangankan sepeda motor, mobil yang aku kendarai dari tadi cuma bisa bergerak

Juara Pertama Yang Berkesan

Oleh:
Pagi ini, adalah hari pengambilan raport di salah satu SD yang berada di desa Sriwangi. Para wali murid telah berdatangan memadati halaman sekolah, untuk mengambilkan raport anaknya. Tak hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *