Aku Tak Akan Melupakanmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 July 2016

Apa yang kamu rasakan kalau pacaramu adalah orang yang tepat dalam hidupmu? Dia tulus menerimamu apa adanya, tulus mencintai dan menyayangimu dengan segala kekurangan yang kau miliki. Dia yang tak pernah mempermainkan perasaaanmu, dia yang yang membuatmu menangis tapi tak pernah lupa untuk menghapus air matamu, dia juga yang selalu meluangkan waktunya yang super sibuk untuk menemuimu, dia yang memegang erat tanganmu, memelukmu dalam dekapannya yang penuh kasih. Ya! Aku bahagia. Aku benar-banar bahagia saat dia adalah pria yang pernah membiarkanku sendiri dan yang tak pernah meninggalkanku.

Aku punya pacar, namanya Harry, dia tinggi, keren, romantis, baik dan penyayang. Aku berpacaran dengannya sudah 5 tahun sejak aku berada di kelas XI SMA. Tak mengira, aku seorang cewek remaja berumur 17 tahun dengan penampilanku yang cupu, cewek berkaca mata dengan rambut yang tak pernah terurai namun selalu dikucir dengan ikatan rambut berwarna hitam kesayanganku berponi layaknya dora, memakai rok panjang 7 cm di bawah lutut (sedangkan cewek lain memakai rok 5 cm di atas lutut), dan juga selalu tertib mengenakan dasi, yang kesukaannya adalah duduk membaca buku di perpustakaan sekolah, mendapat perhatian dari kakak kelas yang adalah kepten tim basket sekolah kami yang super duper keren.

Waktu itu tim basket sekolah sedang latihan untuk pertandingan basket antar sekolah 2 minggu lagi, aku berjalan di tengah lapangan basket sambil membaca sebuah novel terbaru karya pulis terkenal Tere Liye berjudul “Bidadari-Bidadari Surga” cetakan ke VI tahun itu tepatnya 2010, Harry si kapten tim mendrible bola dan melepar bola menuju ring dari jarak 5 meter sekuat tenaga, bola terpantul di papan ring dan tiba-tiba… Brruuukk!
“Aaauuuhhhh.” Isakku kesakitan karena pantulan bola yang tak masuk ke ring basket mengenai dahiku.
“Aduh Chika, lo nggak apa-apa?” Tanya Harry khawatir dengan wajah cemas.
“Eehh, emm nggak apa-apa kok, gue baik-baik aja.” jawabku sambil memegang kepalaku. Sebenarnya sakit sih tapi tak apalah.
“Nggak apa-apa gimana, dahi lo memar tu, eh udah mulai bengkak Chik, duh gimana ni, gue anter ke UKS ya?” katanya makin khawatir.
“Nggak-nggak, lo latihan lanjut latihan deh biar gue ke UKSnya sendiri aja.” tangkasku.
“Eh, jangan-jangan. Guys, kita latihannya cukup sampai sini aja ya, udah panas banget juga, gue mau anter Chika ke UKS dulu.” Kata Harry mengakhiri latihannya dan mengantar ku ke UKS.
Tunggu, sepertinya ada yang mengganjal dengan kejadian ini, Harry si kakak kelas terkeren tahu nama gue, busseett, tahu dari mana dia. Ah, sudahlah toh bukan sesuatu yang harus dibanggain juga kan?

“Bu, bisa minta air es nggak mau ngompres dahi Chika, tadi nggak sengaja kena lemparan bola basket.” minta Harry pada Bu Sintia penjaga UKS sekolah kami.
“Duh, memarnya parah tuh, bentar ya ibu ambilka.” sahut Bu Sintia “Ini airnya Harry, kamu yang kompres ya atau biar ibu saja?” Tawar Bu Sintia.
“Biar aku aja Bu, sekalian mau tanggung jawab karena ulahku tadi.” ujarnya “Gue kopresin ya Chik, tenang gue bakal hati-hati kok.” Rayu Harry.
“Udah biar gue sendiri aja, nggak enak sama kakak kelas, hehehe.” Sahutku.
“Nggak biar gue aja, kan gue yang buat dahi lo memar.” Katanya sambil mengompres dahiku dengan air es.
“Kan tadi gue yang seenaknya jalan di tengah lapangan. Eh, by the way lo tahu nama gue dari mana ya, gue kan bukan cewek terkenal nggak juga cantik, nggak pernah bergaul sama kakak kelas, bahkan gue orangnya cukup anti sosial, tongkrongan gue cuman di perpus, tapi kok bisa sih lo tahu nama gue.” Tanyaku penasaran.
“Hahahaha, lo lucu ya, kasih tahu nggak ya?” Candanya.
“Ih, kok gitu sih?” Kataku dengan sedikit mengakrabkan diri.
“Lo nggak perlu tahu dari mana gue tahu nama lo.” Jawabnya.
Sepertinya, percakapan di UKS hari ini adalah percakapan pertamaku dengan Harry kakak kelas yang gila kerennya. Aku bahagia bisa berbincang dengannya dengan sedikit candaan yang dilontarkan.

Pagi ini terasa berat bagiku untuk bersekolah, kepalaku masih sakit karena hantaman bola basket kemarin, memar di dahiku pun belum hilang, tapi sudah tak bengkak lagi mungkin karena hasil kompresan Harry kemarin.
“Hai Chik, ohayo.” Sapa Harry menaiki tangga menuju lantai 3 gedung sekolah kebetulan bertemu denganku yang juha hendak menaiki tangga. Sapaannya begitu hangat terdengar dengan ucapan selamat pagi bahasa Jepang “Ohayo”. “Gimana udah baikan?” Tanyanya dan langsung menyingkirnan poni rambutku untuk melihat keadaan memar di kepalaku.
“Eh, hai Har, pagi juga. Udah kok udah baikkan.” Jawabku langsung menyingkirkan tangannya dari dahiku.
“Masih memar gitu bilang udah baikkan, tapi lumayan bengkaknya udah turun. Oh ya, maafin gue ya kemarin benar gue nggak sengaja, maaf juga kemarin nggak sempat minta maaf langsung ke elo, peace!” ujarnya sambil tersenyum merekah memandangiku.
“Eh, iya iya Har nggak apa-apa. Kelas gue nih duluan ya!” Pamitku sambil memasuki kelas.

Bel tanda memulainya pelajaran dibunyikan Pak Agus guru mata pelajaran Fisika memasuki ruang kelas kami dan langsung memulai pelajarannya. Beberapa jam kemudian bel kembali berbunyi menandakan diakhirinya jam pembelajaran pertama dan saatnya untuk kami beristirahat, waktu istirahat adalah sekitar 30 menitan lumayan lama juga.

Aku menuju ke kantin untuk membeli sebotol air mineral dan sebungkus roti cokelat berukuran sedang untuk dibawaku ke perpustakaan (di perpustakaan ada subuah lorong kecil disitulah biasanya aku duduk dan membaca, kadang-kadang tidur disana), sambil menikmati roti dan air mineralnya aku membaca novel karangan Tere Liye “Bidadari-Bidadari Surga” kemarin yang belum kuhabiskan.

“Chika sendiri ya?” sapa Harry mengagetkanku.
“Astaga, duh Har ngagetin deh.” jawabku kesal.
“Iya maaf. Kok sendiri sih, lo nggak punya temen ya? Atau emang lo suka sendiri?” Tanyanya tertawa.
“Mungkin sih gue nggak punya temen, emang juga gue lebih suka sendiri lebih tenang gitu.” Jawabku tersenyum.
Melihat Harry tertawa jantungku tiba-tiba dag-dig-dug, Oh My God perasaan apa ini, senang dan rasanya pengen lompat-lompat. Tunggu lagi-lagi ada yang mengganjal, dari mana Harry tahu tempat persembunyianku ini. Tak pernah ada orang yang bakalan mau datang ke temapat ini karena tempanya kurang cahaya dan sedikit angker kelihatannya (cuma pikiran anak perempuan, mungkin lelaki tidak).
“Har, lo tahu dari mana gue disini? Lo ngikutin gue ya?” Tanyaku bercanda.
“Ha? Hm iya tadi gue ngikutin lo dari belakang tapi lo nya nggak sadar. Sebenarnya gue pengen mencekik lo dari belakang gitu pas lo masuk ke lorong ini. Hhehehe, nggak becanda doing.” Katanya lagi-lagi sambil tertawa lebar, dan lagi-lagi aku ingin sekali melompat kegirangan.
“Eh udah bel tuh, ke kelas yuk, kan kelas kita dekat.” Ajak Harry menarik tanganku. Astaga nggak salah nih tanganku dipegang Harry. Aku hanya bisa bengong dan mengikuti tarikkannya.

Kami berpisah di dekat tangga turun ke lantai 2, kelas Harry berada di pojok kiri tangga dan kelasku berada di deretan kedua sebelah kanan tangga.
“Bye Chik.” Harry tersenyum melambaikan tangan kananya sambil berlari ke kelasnya.
Tak sempat aku membalas “bye-nya”, aku kemudian berbalik dan berjalan masuk ke kelasku.

Syukurlah, hari ini hari Sabtu jadi tidak ada kegiatan belajar-mengajar di sekolah artinya sekolah libur. Yess! Inilah saat yang tepat untuk bermalas-malasan di rumah tepatnya di kamar tidur. Anehnya hari aku ingin sekali jalan-jalan ke pusat perbelanjaan tidak seperti biasanya aku seperti ini, semua pakaian dan perlengkapanku mamalah yang membelikannya, baru 3 kali aku ikut mama belanja perlengkapanku itu karena aku terus didesak sama mama.

Jam 10 pagi, dengan diantar sopir papa aku pergi ke Grand Indonesia, rencananya aku ingin membeli baju dan sepatu karena koleksi baju-bajuku sudah sangat ketinggalan jaman, maklum aku jarang banget ke Mall untuk shopping.
Sambil berjalan-jalan, aku masuk dari satu toko ke toko lain, berusaha mencari model baju yang kusuka, satu jam sudah aku berkeliling baru 2 potong baju yang kubeli, “Sudahlah lebih baik aku mencari sepatu saja, kebetulan sepatu sekolahku sudah usang.” Gumamku dalam hati mencoba menghibur diriku sendiri.

“Hai Chika!” sapa seseorang dari belakang memukul pundakku.
“Harry, oh hai.” sapaku balik, ternyata Harry.
“Wow, kok beda ya,” katanya sedikit terpukau.
“Beda apa? Oh, hahaha iya nggak tahu kenapa, kalau di sekolah ya aku nggak tahu gaya kalau di luar sekolah ya beginilah.” sahutku tersenyum kecil.
“Beda stylenya aja, kalau wajah sih lo tetap cantik!” Goda Harry padaku sambil mengangguk dan memegang dagunya.
“Ah, elo bisa aja. Oh ya, lo sama siapa ke sini? Pacar lo ya?” Oh My God nggak salah nih gue nanya gitu ke dia, jangan-jangan dia pikir gue sengaja lagi Tanya gitu ke dia. Oh No!
“Gue nggak punya pacar kali, gue kesini bareng temen si Andy lo tahu kan teman sekelas gue anggota tim basket juga, yang rambutnya gondrong itu, tapi dia lagi jalan sama ceweknya.” Tandasnya. What his haven’t a girlfriend, imposible!
“Masa sih nggak punya pacar, cowok setampan lo masa sih nggak punya ya nggak mungkin kali. Si Andy, emmmm gue nggak kenal tu. Jangankan kakak kelas teman-teman seangkatan gue aja separo nggak gue kenal, kalau elo sih gue tahu itu karena sering banget nama lo disebut-sebut sama cewek-cewek sekolah gitu.” Jelasku padanya.
“Hahaha, jelas lah kan gue ganteng.” Tukasnya penuh percaya diri, tapi emang iya sih Harry ganteng, ganteng banget malah.
“Lo cari sepatu ya? Sepatu kayak gimana? Gue bantuin cari boleh nggak?” Mintanya dengan senyum merekah padaku.
“Nggak tahu juga sih, mau sepatu yang gimana gue sukanya yang simple-simple gitu, biar kelihatannya tetap menarik.” ujarku.
“Yang ini gimana, suka nggak?” Tanyanya sambil mengambil satu sepatu kets warna biru muda merk Vans. Yap! Biru muda warna kesukaan gue.
“Boleh juga nih, keren modelnya warna juga pas sesuai kesukaan gue. Ya udah gue ambil ini aja.” Jawabnya sambil mengambil sepatu itu dari tangannya dan memberikannya pada pramuniaga disana.
“Besok sepatunya mau langsung dipakai?” Tanyanya penasaran.
“Nggak tahu juga, tapi kayaknya iya deh soalnya sepatu lama gue udah usang banget.” Jawabku bersahabat.
“Oh gitu ya bagus deh, eh lo udah makan? kita makan yuk gue yang traktir, gimana?” Ajakan makan pertama dari seorang cowok tampan pad ague si si cewek cupu di sekolahan.
“Boleh! Tapi bayarnya biar masing-masing aja ya takut ngerepotin.” Tandasku
“Nggak-nggak! Udah gue aja yang bayarin, sekalian tanda permintaan maaf gue yang kemarin nimpuk lo pake bola.”
“Ya udah kalau lo maksa.” Kami berjalan ke salah satu tempat makan di Mall itu juga, tanpa sadar ternyata Harry membawaku ke Resto Jepang.

Kami masuk dan duduk di meja no. 07. Seorang pelayan datang dan menyodorkan kami buku menu.
“Lo pesan apa Chik?” Tanyanya sambil melihat lihat buku menu.
“Gue pesen mie soba aja. Lo apa?” Mie soba adalah mie yang di campur atau dimix dengan kakesoba atau kuah soba.
“Soba ya? Gue ramen kalau gitu. Minumnya?” Tanyanya kembali.
“Orange juice.” jawabku. “Gue juga deh.”
“Soba satu Ramen satu sama Orange juice 2 ya mbak, makasih mbak.” Pesan Harry pada mbak pelayan itu.
Tidak lama kemudian pesanan kami datang dan langsung kami menyantapnya, aku menghabiskan semangkuk penuh mie sobaku karena sudah terlanjur lapar 5 menit kemudian barulah Harry menghabiskan makanannya.
“Wah, cepet banget makannya, laper ya lo?” Ejeknya merekah
“Ngejek ya, iya nih laper banget tadi nggak sempat sarapan.” Jawabku malu.

Sudah jam 2 siang, tidak terasa sudah 4 jam aku berada di Mall. Aku pulang diantar Harry dengan mobil Toyota Altis hitam miliknya.
“Thanks banget ya Har, maaf repotin lo nganter gue balik.”
“Iya Chik it’s ok kok. Aku balik ya, bye!” Ia melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum.

Aku masih benar-benar bingung, Harry sang pangeran tampan sebegitunya mau akrabkan dirinya padaku, bahkan dia pun pernah mengatakan bahwa di sekolah ataupun tidak aku tetap cantik. Perlahan-lahan aku mulai memiliki perasaan padanya. Ya! Seperti si cewek cupu berkaca mata ini jatuh cinta pada pangeran tampan si kapten tim basket sekolah.

Aku melalui hari-hariku seperti biasa, setiap hari saat istirahat tiba aku membaca buku di lorong sempit di perpustakaan tapi kali ini agak berbeda, biasanya aku selalu sendiri namu akhir-akhir ini semenjak kejadian aku ketimpuk bola basket sama si Harry, dia selalu menamaniku membaca di lorong itu. Terkadang Harry ikut membaca bersamaku, kadang pula ia hanya duduk memperhatikanku (hal itu membuatku salah tingkah setengah mati).

HPku bergetar tanda adanya sms masuk, pikirku dalam hati siapa yang meng-smsku malam-malam begini, hari Kamis nanti Ningsih ulang tahun kita semua diundang ke ultahnya jam 7 malam, tempat di Hotel Mulia, pestanya bertemakan pesta topeng, wajib bagi semua cewek memakai gaun panjang hitam. Ternyata sms dari Taty ketua kelas kami.

HPku kembali bergetar, pikirku dalam hati mungkin sms dari teman-teman lain. Malam Chika, lagi ngapain?. “Siapa yang sms, nomer nggak dikenal.” Gumamku.
Ini gue Harry. “Harry, kok bisa?” pikirku. Iya Har, nggak ngapa-ngapain lagi mandang bintang nih, kok bisa punya nomer gue sih? balasku. Aku telepon aja ya, pengen denger suara lo nih. Sms Harry ini membuat jantungku berdebar kencang.
“H halo.” jawabku terbata-bata.
“Lagi mandang bintang ya?” tanyanya menggoda.
“Iya nih, bintangnya banyak banget. Lo lagi ngapain?”
“Mandang bintang.” jawabnya singkat.
“Bohong lo,” kataku sambil tertawa.
“Serius, gue lagi mandang bintang”.
“Ehehehe, iya deh, ngomong-ngomong lo kok bisa punya nomer gue sih, dapet darimana?” aku mengulangi pertanyaanku di pesan singkat tadi karena penasaran.
“Emmm, rahasia, lo nggak boleh tau.”

Kami berbincang di telepon hampi 2 jam lebih sampai tanganku pegal-pegal memegang Handphone, telingaku pun juga sudah terlalu panas.
“Eh, Chik udah jam 12 nih, lo tidur gih, besok kan sekolah.” pintanya padaku.
“Iya Har, bye.”
“Bye.” Harry menutup telepon.

Entah mengapa pagi ini aku bangut terlambat, papa sudah meninggalkan ku 15 menit yang lalu karena ia harus buru-buru ke kantor karena ada meeting mendadak bersama rekan kerjanya.
“Mama, Chika berangkat dulu ya, bye mam.” Aku pamit sama mama, rencananya aku akan naik taksi ke sekolah.
“Iya sayang, hati-hati ya.” teriak mama dari halaman belakang.

Ada apa ini, sebuah mobil Altis hitam berada tepat di depan pagar rumahku. “Ini kan mobilnya Harry, jangan-jangan…” aku menghentikan gumamanku karena seorang pria keren turun dari mobil, dan berjalan ke arahku, ya, itu Harry. This ini not my dream, right?
“Pagi tuan puteri yang cantik. Pelayan sudah siap mengantar tuan puteri ke sekolah.” kata Harry membuatku melongo, apa maksudnya ini.
“K k kok lo tahu rumah gue sih, aduh ada apa ini, gue bingung deh.” kataku tidak karuan.
“Udah nggak usah banyak nanya masuk gih, nanti kita terlambat.” Ajak Harry yang sungguh membuatku super bingung.

Sampai di sekolah, Harry tidak membolehkanku membuka pintu mobil sendiri, dia yang membukakan pintu mobil untukku. Tentu saja semua mata tertuju pada kami berdua, beberapa berteriak mengejek, yang lain bengong, dan beberapa cewek menatapku penuh dendam.
Kami berjalan ke kelas berbarengan, kemudian berpisah di tangga.

“Oops, si cewek cupu berkaca mata, make pelet apa sih kok bisa ngegaet Harry ya.” serang seorang kakak kelas cantik bernama Riana. Dengar-dengar Riana dan harry pernah berpacaran di kelas X dulu, namu hubungan mereka kandas karena Riani ketahuan bohong sama Harry, entah apa itu.
Aku sama sekali tak menghiruakan perkataan Riani. Aku masuk ke kelas, tak lama Bu Septiani datang untuk mengaraj mata pelajaran Matematika.

Hari ini hari dimana Ningsih berulang tahun, aku sudah mengucapkan selamat untuk lewat pesan singkat, ketika bertemu di sekolah aku kembali mengucapkan selamat sambil berjabat tangan dengan Ningsih. Dia mengingatkanku untuk tak lupa datang ke perayaan ulang tahunnya yang ke 17 Sweet Seventen-nya. Aku mengangguk menyatakan akan datang ke pesat ulang tahunnya.

Chika entar ke ulang tahun Ningsih ya? Aku sama anak-anak basket juga diundang nih secara khusus sama si Ningsih. Kamu kesananya bareng siapa? Sms dari Harry mengagetkanku.
Nggak tahu nih, kayaknya sendiri naik taksi. Balasku. Ya udah, kamu kesananya bareng aku aja, nanti kurang 15 menit jam 7 aku jemput. Dandan yang cantik ya Chik, hehehe becanda!
Oke Harry tenang aja, aku bakal minta bantuan mama buat dandanin aku. Kebetulan mamaku jago dandan, dulu sebelum nika sama papa, mama sempat kursus make up artist selama 1 tahunan lebih.

“Halo, Chik gue di depan nih.” telepon dari Harry bahwa ia sudah datang menjemputku ke pesta ultah Ningsih.
“Ok, gue keluar.” jawabku.
“Lo cantik banget Chik.” Gombal Harry padaku. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya, karena jantungku sudah berdetak kencang, “Tuhan semoga Harry tidak mendengar suara detak jantungku.” Gumamku.

Kami tiba di pesta ultah Ningsih ketika acara tiup lilin tiba. Setelah itu acara potong kue. Ningsih tampak bahagia hari ini, aku melihat raut wajahnya dengan jelas, ia selalu tersenyum dan tertawa.
“Chik ikut gue yuk,” Ajak Harry menarik tanganku. Aku hanya berjalan pelan menigutinya dari belakang, ternyata Harry membawa ku kelom renang Hotel Mulia.
“Ada apa lo ngajak gue kesini Har?” tanyaku sedikit takut.
“Lo jangan takut Chik, gue nggak bakal macem-macem kok.” Jawabnya. Loh, kok dia tahu aku takut, mungkin karena tubuhku sedikit gemetar dan nada suatuku terdengat ketakutan.
“Gue mau jujur nih sama lo,” Aku hanya memandangnya panuh keseriusan.
“Lo pasti bingungkan, dari man ague bisa tahu nama lo padahal lo nggak suka bergaul, dimana tempat persembunyian lo waktu istirahat di sekolah, nomer HP lo, alamat rumah lo, sebenarnya gue udah ngelirik lo dari awal lo masuk sekolah kelas X dulu, gue liat lo beda banget sama cewek lain, meskipun lo sedikit anti sosial, tapi gue suka ketenangan dalam hidup lo.” jelasnya. Aku tak dapat berkata apa-apa.
“Semenjak itu, gue coba nyari tahu semua tentang lo, nama lo, alamat rumah lo, kebiasan-kebiasan lo, hobby lo, nomor HP lo aja udah lama banget gue dapet tapi sengaja gue nggak ngontak lo. Pertama liat lo gue rasa ada berbeda dari diri gue, gue jatuh cinta sama lo Chik. Selama ini gue mendam rasa cinta dan sayang gue ke elo.” jelasnya lagi.
“Bentar, gue bingung Har.” Ya, aku memang dibingungkan olehnya.
“Chika gue sayang sama lo, lo mau nggak jadi cewek gue?” What? Harry nembak aku. OMG. Mimpihkah ini?
“Har, cubit pipi gue dong, gue mimpi ya?” tandasku.
“Chik, this is real, gue serius gue sayang sama lo.” katanya mengulangi.
“Har, semenjak kejadian gue ketimpuk bola basket sama lo, semenjak kita sering jalan bareng, sebenarnya gue juga punya rasa sama lo, gu jatuh cinta sama lo.” Ujarku penuh percaya diri tapi sedikit malu.

Itulah cerita singkat awal mula aku jadian sama pacarku Harry. Selama kami berpacaran 5 tahun, Harry tidak pernah sekali pun menyakiti perasaanku, dia selalu setia bersamaku. Bagiku, Harry adalah sosok pria terbaik dalam hidupku. Dia selalu ada bersamaku. Sekarang Harry sudah tak ada lagi, Yang Maha Kuasa sudah memanggilnya pulang ke sisi-Nya karena Leukimia yang dideritanya selama satu setengah tahun. Namun kisahku bersama Harry akan menjadi kenagan terbaik dalam hidupku. Aku tak akan pernah melupakan Harry. Harry aku mencintaimu.

Cerpen Karangan: Lany Pono
Facebook: juliani pono

Cerpen Aku Tak Akan Melupakanmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mimpi? Oh Itu Membuatku Pusing

Oleh:
Kugambar sebuah wajah di kertas kosong ini, ketika selesai di bagian mata hatiku senang karena seolah olah dia memandangiku, dia begitu tampan sehingga banyak para wanita yang mengejarnya, kurasa

Cermin Terbaik

Oleh:
Aku duduk di balkon sekolah sambil terus mengetik laptop ku, setidaknya disini tak akan ada kamera CCTV, dan hanya disinilah tempat kedua setelah toilet yang tidak dipasangi kamera pembuktian

Maaf

Oleh:
Sudah 1 tahun lebih gue pacaran sama bella. Dan sifat aslinya mulai Nampak seiring berjalannya waktu. Gue udah gak tau harus bagaimana lagi untuk menyikapinya. Seolah-olah dia itu adalah

Si Anak Baru

Oleh:
Di sekolah Merli ada anak baru, lalu Merli menceritakan hal itu pada kakaknya. Topik yang sama Merli ungkapkan lagi di sekolah bersama dengan teman-temannya, semacam gunjingan ibu-ibu arisan. “hari

Serangkai Kisah

Oleh:
“Sahabat itu identik dengan mereka yang sesama jenis, sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa akan sangat susah jika laki-laki dan perempuan murni hanya sebatas bersahabat tanpa melibatkan hati di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *