Aku Yang Tersakiti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 19 July 2017

Cinta yang tak pernah kumengerti terkadang mengajariku arti memahami segalanya, memahami sebuah rasa, tanggung jawab bahkan arti saling menerima satu sama lain. Aku yang masih berada di sini, kembali ke tempat dimana aku pernah diberi kesempatan untuk bahagia, namun saat ini hanya aku yang merasa tersakiti.

Suara teman-temanku mengeluh tentang pembeli yang mereka layani, “Nat, gue nggak sanggup deh loe aja yang ngeladenin”, “Yang mana Shof?”, “Itu yang pake’ jaket orens di ujung” aku menghampiri pembeli yang membuat Shofi mengeluh. Dia seorang cowok berkulit putih dengan hidung yang mancung.

“Ehm… maaf mas mau cari apa ya?”, “Ini mbak, saya cari hem yang lengan panjang tapi dengan warna yang cerah”, “Biasanya ukurannya apa?”, “L” aku mencoba mencari di rak hem jengkis berukuran L, “Saya punya tiga pilihan ini buat mas, ada yang cocok?” dia membuka semua hem yang terbungkus itu lalu mengacak-acaknya. Setelah beberapa menit, “Gimana, suka atau kurang cocok mungkin anda bisa cari di tempat lain”, “Saya bayar tiga ini” hal yang tidak pernah diduga, tanpa ocehan atau basa basi yang sedari tadi ia ucap pada pelayan yang lain cowok itu langsung membungkus ketiga hem tersebut. “Semuanya 300 ribu” ia memberikan 3 lembar uang seratusan pada kasir, “Eh nama kamu siapa?”, “Natasha” dengan senyum ia berlalu ke arah pintu keluar, “Aneh” aku kembali bersama teman-teman yang sedang beristirahat.

“Nat, dia jadi beli?” tanya Tika, “Ya jadilah, dia beli tiga tuh hem yang gue pilihin”, “Sialan, sama gue aja dia ngomel-ngomel”, “Loe kurang sabar sih, Shof” Shofi sempat melempar pandangan pada Tika. Hari terbaikku berada di tempat ini adalah saat aku bisa mengatasi apapun kesulitan yang sering dikeluhkan hanya dengan satu senyuman.

“Nggak balik loe?”, “Bentar gue nunggu jemputan”, “Ya udah gue duluan ya”, “Okey, Tik”, “Gue juga duluan ya”, “Iya, hati-hati Shof” aku tersenyum ketika orang yang aku tunggu datang.

Adi Jaya, baru saja nama itu berada dalam kontak ponselku, “Dia anaknya keren loh, loe harus tahu walau dia agak cerewet gitu”, “Dari mana loe tahu?”, “Dari temen gue yang kerja di bokapnya”, “Emang bokapnya dia punya usaha apa?”, “Meubel, pelanggannya banyak banget kadang satu bulan pemasukan bisa mencapai 30 jutaan gitu”, “Asiik donk, kenapa dikasih sama Natasha kok nggak ke gue aja?”, “Shofi yang cantik jelita, mau dikemanain pangeran Robin Hood loe itu” Shofi hanya tersenyum ketika Tika menegurnya. “Gimana, Nat?”, “Ah nggak ah, gue nggak mau”, “Kenapa? Loe beneran rela ngelewatin cowok kayak gitu?”, “Loe lebih milih si Zaki itu daripada si ganteng tajir?” semua pertanyaan itu membuatku bingung.

Hari ini pelanggan sepi, aku duduk di teras depan dengan harapan akan ada pembeli yang datang. “Nat, gimana ceritanya loe bisa jalan sama itu anak?”, “Belum Tik, itu masih rencana gue sama dia aja”, “Asiik donk, nggak pake’ lama gebet aja dah”, “Enak aja kalau ngomong, si Zaki beresin dulu tuh” perasaan yang tak jelas ini membuatku semakin terombang-ambing. “Hay, lagi ngelamun ya?”, “Nggak kok”, “Suasana ini asik ya”, “E’emb, kamu sering ya ke tempat ini?” Adi mengangguk, “Kadang aku kalau lagi bosen atau marah suka datang ke sini”, “Ngapain?”, “Ngungkapin semua sama lautan, cerita bahkan sambil teriak kalau amarah udah memuncak” Adi tersenyum begitu berbeda, karena sejak pertama menemuinya di toko aku hanya menangkap kesan keangkuhannya.

“Gue nggak ngerti sama jalan pikiran loe?”, “Udah deh loe nggak usah ngaling, loe pikir gue nggak tahu akhir-akhir ini loe sering jalan sama cowok” aku terkejut mendengar penjelasan Zaki. Beberapa hari ini hubunganku dengannya semakin merenggang, “Tapi dia kan bukan siapa-siapa gue”, “Kenapa loe harus ngajak dia jalan”, “Emang mau ngajak siapa, ngajak loe? Suruh jemput gue aja loe khawatir sama bensin” Zaki hampir menamparku tetapi di urungkannya, “Gue ini bukan siapa-siapa loe, kita cuma pacaran dan gue muak sama cara loe yang kasar sama gue”, “Aarrgggghh… terus mau loe apa?”, “Gue mau kita putus” aku meninggalkan tempat itu, tidak peduli apakah Zaki masih berat atau malah senang mendengarnya. Sudah cukup satu tahun ini aku hidup dengan seseorang yang berpura mencintaiku, tetapi sesungguhnya ia hanya sebatas lelaki yang suka menampar dan memukulku.

“Pipi kamu kenapa?” aku tersentak, “Ah nggak apa-apa kok”, “Kamu nggak usah bohong sama aku”, “Nggak apa-apa kok, cuma memar biasa”, “Kamu nggak mau cerita sama aku?” aku hanya tersenyum menanggapinya. Rasanya aku masih belum sanggup untuk melupakan semua kenangan bersama Zaki, “Andai kamu bisa lebih lembut padaku, mungkin kita akan bersama selamanya seperti keinginan kita” gumamku saat mencoba memandang semua jajaran pakaian yang ada di toko itu. “Kenapa loe, Nat?”, “Nggak apa-apa kok, Tik”, “Lagi ada masalah ya, sama Adi atau sama Zaki?”, “Gue putus sama Zaki”, “Hah?” Tika dan Shofi berteriak serentak.

“Aku nggak mau liat kamu sedih lagi”, “Aku nggak sedih kok, aku udah nggak apa-apa”, “Aku sayang sama kamu” aku memeperhatikan dua mata itu. Sebuah kata cinta membuat segalanya berubah, Adi tak seperti yang aku bayangkan bahkan lebih lembut dari apa yang aku harapkan. “Kayaknya ada yang lagi romantis-romantisan nih” ujar Tika, “Apa’an sih”, “Cerita donk sama kita” Shofi ikut penasaran, “Aku mau cerita kalau kalian udah bisa bikin tumpukan hem ini habis” aku tersenyum sambil melangkah ke deretan kaos dan bluss.

Adi merubah hidupku, hari ini dia ingin mengunjungi rumahku dengan senyum termanisnya. “Oh ini yang bikin Natasha senyum-senyum” ayah menggodaku dengan tatapannya, “Silahkan duduk” ibu lebih lembut untuk menyambut kedatangannya. “Ada yang mau aku omongin ke kamu”, “Ngomong apa?”, “Kamu beneran mau pindah?”, “Iya, mau gimana lagi kan ini rencana udah lama”, “Aku belum siap jauh dari kamu”, “Aku juga belum siap, tapi aku yakin suatu saat kita akan bertemu lagi” aku melihat raut khawatir pada wajah Adi. Hariku menjadi semakin cepat, “Kamu beneran mau berhenti?”, “Iya, aku kan nggak bisa tinggal di sini”, “Kita bakal kehilangan kamu”, “Tapi walau kita jauh nanti, aku akan sering hubungi kalian” Tika dan Shofi memelukku dalam diam, sebelum aku pulang bos dan anaknya juga memberiku beberapa kenang-kenangan agar aku tidak melupakan semua yang pernah mereka lakukan selama aku bekerja di tempat ini.

Hari itu tiba, aku berangkat bersama ayah dan ibu dengan perasaan sedikit berat, “Aku berangkat, semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi” aku menyempatkan mengirim kabar pada Adi Jaya, orang pertama yang paling berat untuk kulepas. Satu bulan dua bulan aku berada di sini membuat rasa berat itu semakin menyesak, “Walau pun kamu di sana udah ada tunangan, tapi kamu kan nggak seharusnya terbelenggu begini” semua yang ada di sini mengerti keadaanku, aku dan Adi memang bukan pasangan lama tetapi ia sepertinya serius pada janji yang diikat pada cincin yang sampai saat ini aku bawa. “Kamu kenapa nggak ada kabar, lagi sibuk kah atau memang kamu nggak bisa berhubungan jauh seperti ini” itu yang selalu kupertanyakan setiap kali aku tak mendapat balasan pesan atau ia tidak mengangkat teleponku.

Suatu hari aku melihat kabar sebuah foto seseorang yang aku kenal, “Adi?” foto itu tidak sendiri melainkan bersama seorang perempuan cantik. Air mataku hampir tak bisa menetes melihat keadaan itu, tapi aku berusaha mencoba untuk tegar menghadapinya meski semua yang ada di depanku merasa iba dan kasihan. “Nggak usah sedih, semua akan indah pada waktunya” aku melihat wajah itu, wajah yang pernah kutemui sebelumnya. Aku sudah menjadi salah satu mahasiswi di sebuah kampus ternama daerah ini, “Nat, kamu ada panggilan tuh?”, “Panggilan apa?”, “Dari anak BEM” aku melangkah mencari tempat di mana orang itu menungguku, “Ada apa?”, “Nggak, cuma mau ketemu kamu aja” aku tersenyum, “Aku aja penasaran punya masalah apa”, “Kamu itu jangan terlalu serius, bercanda sedikit kenapa sih” seseorang yang berada di depanku ini cukup mengesankan.

Hari ini kabar yang tak pernah ku duga, “Ada apa?”, “Kamu kapan sih bisa sedikit dewasa?”, “Maksud kamu apa?”, “Aku kan udah mengakhiri semuanya, buat apa kamu masih simpan fotoku di jejaring sosialmu”, “Adi kamu bercanda kan?”, “Aku udah lama kan nggak pernah hubungi kamu, itu karena aku udah punya tunangan” air mata yang selama ini tertahan meluap begitu saja, “Tolong jangan rusak hubunganku dengan tunanganku” ia memutus telepon itu membuat aku menangis lebih dalam. Seseorang yang kukiran akan setia hingga nanti aku menggenggam gelar sarjana ternyata telah berdua, “Kenapa?” spontan aku memeluk seseorang yang selama ini selalu ada dalam hariku. Kuliah menjadi sangat menjemukan, mata kuliah yang biasanya sering kukejar untuk lebih mendalami sekarang terbengkalai. “Kenapa sih kamu ini?”, “Nggak apa-apa kok”, “Kamu selalu begitu Nat, padahal kenyataannya kondisi kamu nggak baik” dia yang menjadi kakak sekaligus mentor belajarku, namanya Rahmat anak tetangga sebelah yang usianya hanya berbeda satu tahun denganku.

Suatu hari yang cerah, “Hallo Nat, apa kabar?”, “Baik kok tante, yang di sana apa kabar?”, “Alhamdulillah semua sehat”, “Syukurlah kalau begitu”, “Kamu gimana sama tunangan kamu”, “Aku udah nggak, dia kan udah ada pilihan lain sekarang”, “Oh iya, tante juga denger cerita dari tetangganya yang kebetulan jadi orang sini”, “Cerita apa tante?”, “Dia itu dulu waktu awal kamu ke sana, mungkin sekitar dua bulanan mau nyusul kamu ke sana” Tante mulai bercerita panjang lebar tentang apa yang di dengarnya.

Aku kembali menjalani hari dengan senyuman, Rahmat selalu membantuku menjalani semua kesulitan yang hampir membuatku putus asa. Hingga tak terasa usai sudah perjuanganku berada di kampus ini, “Selamat ya kamu berhasil dengan nilai yang baik”, “Makasih Rahmat, kamu adalah orang pertama yang ingin kubagi kebahagiaan ini” Rahmat terdiam, “Ada yang mau aku bicarain ke kamu”, “Ada apa Nat?”, “Kamu percaya takdir nggak sih?”, “Percaya nggak percaya”, “Semua yang terjadi perlahan membuatku sadar, di dunia ini ada cerita pada setiap perjalanan hidup” ia mengangguk, “Aku seneng karena sebentar lagi aku akan kembali menemukan cinta itu” tanpa di duga ia tersenyum. Sesuatu yang tak pernah kuketahui sebelumnya, “Jadi, kamu udah tahu semuanya?”, “Tahu apa?”, “Tahu kalau misalnya aku suka sama kamu” ucapan Rahmat membuatku tercengang, “Aku cinta sama kamu, aku sayang dan karena itu aku nggak suka ngeliat kamu sedih”, “Rahmat?”, “Iya?”, “Tapi yang aku cinta… bukan kamu” ia terdiam dalam pertanyaan besar, “Cintaku tetap sama seperti dulu… dia Adi Jaya” mungkin kecewa itu sakit, tapi aku tak tahu harus berbuat apa karena perasaanku tak bisa mengganti Adi dengan siapapun.

Bulan yang aku tunggu tiba, aku kembali ke tempat dimana aku pernah mengenal banyak hal dan pengalaman. Aku sengaja mengunjungi rumah Tika, “Ciie makin cantik, tetep kerja di toko?”, “Natasha? Ya ampun aku kira siapa, nggak aku udah lama berhenti”, “Aku kangen deh masa-masa kita ngumpul dulu”, “Aku juga” tak berapa lama kulihat seseorang yang dulu selalu membuat jantungku bergetar. Tapi hal yang cukup membuatku terpaku adalah gadis yang ia gandeng, “Mau ke mana, Di?”, “Nggak ada habis dari rumah aja”, “Oh gitu” Tika memperhatikanku, “Oh iya Tik, aku ada janji nih soalnya aku nggak lama liburannya”, “Kamu kerja di mana?”, “Aku di Bank BNI pusat yang ada di wilayah sana”, “Wah keren ya” Adi menatapku dengan tatapan yang tidak ku mengerti. Aku menangis saat melajukan motor dengan kecepatan tinggi, cincin itu tersemat di jari manis mereka adalah tanda tertutupnya harapanku untuk kembali seperti dulu. “Kenapa… kenapa kamu setega itu sama aku” tak kulihat sebuah truk melintas dengan kencang dan benturan keras tak bisa terhindarkan.

Orangtuaku membawaku pulang setelah dipastikan aku sudah mendapat izin untuk dirawat di rumah, setiap hari Rahmat mengunjungiku dengan penuh perhatian. “Kamu cepet sembuh ya, kamu harus kembali kerja untuk meraih semua yang kamu inginkan” suapan demi suapan dijejalkan dengan lembut, “Aku khawatir banget denger kamu kecelakaan, untungnya kamu nggak kenapa-napa” aku memang baik saja, tapi hatiku sudah hancur tak bersisa setelah menerima kenyataan itu.

Sekitar satu bulan sampai masa izinku selesai, Rahmat yang biasa menjemputku bekerja karena kebetulan kita berada dalam satu kantor. “Kalian berdua kenapa nggak tunangan aja sih, udah cocok loh Nat” Safitri yang biasa menjadi teman baikku sering mengatakan hal yang sama, tapi mengembalikan hati yang luluh lantah tidak semudah lidah berbicara. “Kamu mau makan dulu apa langsung pulang, Nat?”, “Jalan-jalan dulu boleh nggak?”, “Ya udah ayo” di sini aku mulai merasakan bagaimana cinta menjagaku, bagaimana cinta memahami dan mengertikanku hingga tak ada perasaan lain yang kumiliki selain bahagia, nyaman dan damai.

Luka memang sempat membuatku hancur, bahkan aku sudah seperti tak sayang pada diri sendiri. Tapi cinta membuatku mengerti betapa hidupku lebih berarti untuk orang yang selalu menjagaku, “I will always love you, Nat”, “Me too” Rahmat selalu dapat membahagiakanku dalam pelukan dan lindungannya. Cinta, makna lain baru ku mengerti setelah aku tahu yang namanya luka, hingga luka mempertemukan kembali duniaku dengan kata bahagia. Thank You My Love.

Cerpen Karangan: Ikke Nur Vita Sari
Facebook: Ikke N Vita Sari

Cerpen Aku Yang Tersakiti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Dari Mantan

Oleh:
Aku melangkah melewati koridor sekolah. Sungguh sangat malas rasanya. Nah loe tau gue dari mana? Gue dari jogja pagi-pagi banget. Gila dinginnya minta ampun, untung aja gak minta duit

Karena Zaky

Oleh:
Aduhh ini masih pagi aku lanjutin tidur ah. Namaku Revalina Anya biasa di panggil Lina. Kelas siang itu membuatku bahagia karena kalau malam biasanya aku main ps dulu terus

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Pagi yang cerah. Dimana terdapat burung-burung yang berkicau dengan merdunya. Ku terbangun dari tidur lelapku semalam dan mandi untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. Setelah mandi dan memakai seragam SMA-ku,

Untukmu Af

Oleh:
Teng tong teng teng teng tong teng teng… bunyi yang tak asing lagi di telingaku, ya keretaku tercinta tempat dimana aku biasa menuju tujuan terakhirku rumahku setelah aku bertemu

D, Tinta Merah (Part 1)

Oleh:
‘Jangan kau pikirkan apa yang telah terjadi. Jangan pernah. Karena itu hanya akan membuatmu terpuruk pada masa lalu.’ 10 tahun yang lalu … Hidupku berbalik 180 derajat akibat tinta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *