Alasan Untuk Bahagia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 29 May 2013

Jadi, dia kerja di sini? Tanya seorang laki-laki dalam hatinya sambil memegang kertas kecil bertuliskan alamat sebuah bangunan yang ada di depannya sekarang. Ia tersenyum, lalu melihat kertasnya lagi. Dan.. semua ini berakhir dengan manis, lalu lelaki tersenyum sambil membayangkan senyuman seorang wanita yang amat ia cintai.

Langit tak lagi menampakkan keindahannya dalam senja. Kini, ia beralih menjadi malam yang menakutkan. Namun, bintang-bintang tengah berkedip untuk menunjukkan eksistensinya sebagai cahaya kecil namun begitu stabil. Tak mengiraukan kedipan bintang di atas sana, seorang gadis berlari setengah terengah menuju sebuah tempat. Sesekali, ia berhenti dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia sadar, berhenti tak akan membawanya pada tempat yang ia tuju, ia harus tetap berlari. setelah sekian menit ia berlari, tibalah di tempat yang sudah menjadi fokus dalam pikirannya.

“Red Cafe.. bener kan?” tanyanya pada diri sendiri ketika membaca papan yang tergantung di depan pintu. “Oke, ini pasti bener.” Ia meyakinkan dirinya sendiri lalu membuka pintu. Selangkah ia menapakkan kakinya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan orang yang akan ditemuinya sudah datang atau belum. Namun, tak seorang pun yang ada di sana adalah orang yang dia maksud. Tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Refleks, dia menekan tombol answer pada ponselnya itu.

“Halo.. Kamu di mana… Oh kamu telat… Oke kalo gitu aku pesen dulu ya?” tut. Percakapan singkat namun mampu memberikan kepastian untuk gadis itu. Oke, let’s serve me barista! Katanya dalam hati, lalu ia berlari menuju tempat pemesanan.

“Ada yang bisa saya bantu?” kalimat klasik waiters ketika seorang pelanggan menghampirinya.
“Latte panas satu.” Jawabnya tanpa berpikir panjang.
“Baik, latte satu. Ada tambahan?”
“Itu dulu aja deh.” Kata gadis itu lalu pergi menuju kursi kosong dekat jendela. Sedikit namun pasti, air bervolume kecil turun dari langit berarakan. Suasana menjadi lebih romantis di tengah ia menunggu kopinya datang.

Tiga puluh menit telah berjalan, namun kopinya masih belum sampai di mejanya.
“Ah, si Sultan pake acara ngaret gini sih.” Keluhnya sebal. Ia memang tak suka menunggu, namun, ia tahu bahwa sahabatnya satu ini bukan seseorang yang tak bertanggung jawab membiarkannya menunggu lama. “Si Sultan ngaret, si Latte ngaret juga.” Keluhnya yang menyadari kopi yang ia pesan tak kunjung datang.

Hanyut dalam kesebalan menunggu sahabatnya, Sultan, sedikit terobati dengan kedatangan latte yang di antar oleh seorang waiters. “Maaf mbak, karena sedang ramai, jadinya banyak pesanan dan lama.” Kata seorang laki-laki yang berlabel ‘barista’ di bajunya.
“Oke mas, never mind.” Kata gadis itu sambil membenarkan posisi duduknya agar nyaman meminum lattenya. “Makasih ya mas.” Kata gadis itu menoleh ke arah sang barista. Ini kan matanya.. gadis itu terkejut. Ia yakin, ia mengenal tatapan itu dengan baik. Dalam sedetik, pandangan keduanya saling bertautan. Menyadari bahwa saling mengenal satu sama lain, sang barista memulai pembicaraan, “Kamu.. Sharon kan?” katanya gugup.
“Iya. Kamu.. Tera kan? Wah kamu jadi barista sekarang?” kata gadis itu sambil tersenyum menutupi kegugupannya.
“Hahaha, iya. Sesuai dengan passionku. You know kan? Udah lama ya nggak ketemu. Sekitar.. sembilan tahun.” kata Tera dengan senyum maskulinnya. Dalam ‘sesi’ keterkejutan di antara mereka berdua, Sultan datang dengan tergesa-gesa. “Sori Shar, aku masih benerin desain yang kamu pesen kemarin.” Kata Sultan menjelaskan alasan keterlambatannya. Melihat keanehan sikap antara Sharon dengan si barista, Tera, Sultan mengambil sikap. “Mas, espresso satu.” Pesan Sultan. “Baik mas.” Jawab Tera singkat.
“Sultan! Ah, kamu ini.” Rengek Sharon sambil melipat tangannya.
“Kenapa Shar? Eh kalo desain interiornya gini gimana? Ngg.. sebentar laptopku masih loading.” Kata Sultan tanpa dosa, tanpa memperhatikan raut muka Sharon.
“Sultan, plis.” Kata Sharon lalu meminggirkan laptop yang ada di depan Sultan. “Kamu tahu, siapa barista tadi?” tanya Sharon dengan mimik wajah serius.
“Emangnya siapa sih, Sharon? Penting ya buat kamu?” kata Sultan dengan menopangkan dagunya, berpura-berpura memperhatikan.
“Itu Tera, Tan! Remember, who was he?” tukas Sharon penuh gejolak.
“Oh ya?” Sultan menoleh ke kanan dan ke kiri. “Dia kan cinta pertamamu? Ciye..” Sultan menggoda.
“Aku pingin ngobrol sama dia..” harap Sharon.
“Kalo ditakdirin ngobrol, pasti kamu akan ada waktu ngobrol, tenang aja. Eh selesein dulu nih kerjaanmu. Pernikahan kakakmu udah hitungan minggu nih.” kata Sultan membenarkan kembali posisi laptopnya yang ‘terpinggirkan’. Dengan mukan manyun, Sharon menuruti saran dari sahabatnya itu.

Diskusi memang menyenangkan. Itu pula yang dirasakan oleh kedua sahabat yang sedang saling bertukar pikiran untuk menghasilkan sesuatu yang mufakat. Tanpa menyadari, waktu telah berlari begitu kencang.

“Deal ya? Pake desain ini?” tanya Sultan memastikan.
“Yep! Warnanya udah pas. Huft. Akhirnya selesai juga.” Kata Sharon lalu menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Sebentar.” Izin Sultan untuk meninggalkan Sharon sejenak. Sultan menuju kasir untuk menyelesaikan ‘urusannya’ lalu kembali.
“Kamu traktir?” tanya Sharon. Sultan hanya mengangguk.
“Saya Tera, ada yang bisa saya bantu?” tiba-tiba seorang lelaki menghampiri meja Sharon dan Sultan.
“Iya mas, duduk aja di sini. Mas shiftnya sudah selesai kan?” kata Sultan.
“Nggg. Iya mas, ada apa ya?” tanya Tera sedikit ragu.
“Mas kenal dengan teman saya ini kan? Ayo ngobrol dulu. Temen saya ini ingin sekali ngobrol dengan mas.” Rayu Sultan menarik tangan Tera untuk duduk di samping Sharon. Sharon yang mulai mengerti situasi, tersenyum. “Ayo ngobrol dulu Ter!” ajak Sharon.
“Jadi, kalian kenal sejak kapan?” tanya Sultan mencairkan suasana.
“Kami kenal waktu SD, mas.” Jawab Tera.
“Nggak usah panggil dia mas Ter! Dia itu temenku, sahabatku dari SMP.” Kata Sharon sambil tertawa. Tera tersenyum, itu menandakan bahwa dia mulai mampu mencair dengan suasana.

Tera dan Sharon berbincang begitu nyaman tanpa memperdulikan Sultan yang begitu fokus dengan laptopnya. Perbincangan mereka berdua benar-benar membawa mereka pada titik di mana mereka menemukan kembali satu keping yang hilang bersama waktu. Mereka tersenyum puas, bahwa kenyataannya, keping yang hilang itu kini mereka temukan kembali.

Hujan mulai reda, Sharon sadar ini sudah sangat larut malam. “Ter, pamit dulu ya. Lain kali kita ngobrol lagi, aku sms nanti.” Kata Sharon tersenyum, sambil menarik tangan Sultan untuk pulang. Tera hanya mengangguk sambil tersenyum. Sultan dan Sharon berjalan keluar dari kafe.

“Cinta pertama.. akan selalu membekas. Bahkan sampai sekarang.” Gumam Sharon, namun terdengar oleh Sultan. “Tan, aku pulang naik taksi aja ya? Kayaknya aku mau ke rumahnya Desti deh.” Kata Sharon. “Yakin? Ya udah hati-hati.” jawab Sultan singkat dan menatap Sharon yang masuk ke dalam taksi. Tanpa pikir panjang, Sultan menyalakan motornya dan meninggalkan kafe itu, Kafe yang ia cari selama ini.

“Jadi, kamu udah mempertemukan mereka berdua?” Tanya seorang lelaki tua berjas putih.
“Iya dok, dan sepertinya mereka berdua memang.. masih saling memiliki rasa.” Kata Sultan menunduk.
“Oke, sekarang keputusanmu gimana? Kapan mau kemo? Ingat Sultan, kanker otak itu nggak main-main. Dan hidup ini..”
“Stop dok.” Perintah Sultan. Dengan wajah yang kecewa namun puas, ia mengatakan, “Saya tidak perlu hidup lagi kan dok? Saya cuma ingin membahagiakan orang yang membahagiakan saya saja. Walaupun, saya bukan alasan dia untuk bahagia.”
“Dengan kamu kemo, kamu bisa membuat orang tuamu tenang di alam sana.” Sanggah sang Dokter.
“Tidak dok, saya ingin menikmati hidup ini terakhir ini sebagai orang yang tidak mengonsumsi obat. Saya akan tetap kontrol, jika memang sudah terlalu gawat, saya ingin meninggal di sini.” Jawab Sultan sambil tersenyum, lalu ia berdiri. Tak sampai ia memegang engsel pintu, Sultan terjatuh. Ia pingsan.
Dokter itu membuka pintu dan berkata pada seorang suster, “Siapkan kamar untuk Sultan.”

“Dok, bagaimana perkembangan Sultan?” tanya Sharon sedikit panik. “Kok raut mukanya takut gitu? Dia baik-baik aja kok mbak, detak jantungnya sudah normal.”

Kelelahan Sharon menunggu selama sepuluh bulan terbayar sudah. Saat membuka kamar Sultan, ia sudah mendapati Sultan membuka mata. “Sultan.. aku sayang sama kamu.. plis jangan tinggalin aku lagi.” Kata Sharon memegang tangan Sultan. “Tera… gi..mana.. Dia… kan.. cin…ta per…. ta.. ma… mu?” tanya Sultan terbata-bata. Sharon memeluk tangan Sultan lalu berkata, “Sultan, hubunganku sama Tera tidak seperti yang aku bayangkan. Sembilan tahun tidak bertemu sudah mengubah banyak hal. Bukan dia yang aku cari, kamu yang aku butuhin.. kamu alasan aku buat bahagia. Kamu harus sadar itu.” Sultan tersenyum lemah, dan ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia memiliki alasan untuk bahagia, begitu juga dia.. sebagai alasan untuk seseorang bahagia.

Cerpen Karangan: Syifa Errahmah
Blog: syifaerrahmah.wordpress.com
seorang mahasiswa Teknik di PTN surabaya yang berumur 19 tahun.

Cerpen Alasan Untuk Bahagia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diary Abangku

Oleh:
Ini aku tulis untuk menjadi kenangan bagi kalian yang membaca ini karena perjalananku tidak akan panjang lagi, garis akhirku terasa semakin dekat. Aku tidak tahu darimana semuanya ini berawal.

LDR Tipe Gamers

Oleh:
LDR TIPE GAMERS versi JELLAL Seperti biasa aku memencet tombol pada CPU komputerku untuk melakukan kegiatan keseharianku yaitu ngegame Online. Kudengar desisan mesin komputer ditambah deritan kipas dalam CPU

Sorry, I Love U

Oleh:
Tit….Tit…Tit…. Terdengar suara klakson yang mengagetkan Icha dari lamunannya. “itu pasti adit” batinnya dalam hati. Ichapun mengambil tasnya dan berlari kedepan,,, tapi Icha lebih kaget lagi saat tiba di

Cinta Pertama Dan Terakhirku

Oleh:
Dreng, dreng, dreng, bunyi alarm yang membangunkanku dari tidur lelapku. Aku pun segera mandi kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Pagi hari yang cerah membuatku semangat ke sekolah. “Hai

Cinta SMA

Oleh:
Dari SD, aku selalu menyimpan perasaan ini. Dan kini, seseorang telah mengambilnya. Yaitu sahabatku sendiri. Oh ya, namaku Nafia. Aku duduk di kelas 3 SMA. Aku salah satu anggota

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *