Alfian Dalam Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 15 August 2017

Kala rindu tak lagi mau mengerti, jauh menusuk relung hati. Malam pun tak peduli, hamparan kegelapan tanpa satu pun bintang menerangi. Merenungi laranya hati, aku rindu kau pencuri hati. Tapi apalah arti rindu ini, bila hanya tersimpan rapi dalam hati, dan tak ada nyali tuk ungkapkan rasa ini. Terkadang aku lelah melihat bayangmu yang hadir bersama detak jarum jam dalam kesunyian malam, ingin juga kumaki senyummu yang hadir dalam setiap mimpi, hingga aku mulai mengerti kau begitu berarti.

Tetesan air hujan membuat waktu seakan lambat, jarum jam seolah terantai tak mau bergerak. Satu botol minuman sudah habis aku teguk, namun hujan masih tetap tak kunjung reda, membuat rasa jenuh samakin membrontak, rasanya aku sudah muak berteduh di depan mini market yang selalu mengingatkanku pada senyum Fian, seseorang yang mengajarkanku permainan hati penuh fantasi.

Ingatanku pada Fian buyar saat tiba-tiba hidungku mencium aroma parfum yang sangat khas, aku menoleh pada beberapa laki-laki yang berdiri di sampingku, lalu aku berjalan memasuki mini market, setelah menyusuri beberapa rak, aku berpapasan dengan seorang laki-laki yang menggendong anaknya, dan ternyata aroma parfum itu berasal dari laki-laki itu. Kemudian aku kembali mengambil minuman pada kulkas di ujung mini market ini. Setelah membayar pada kasir, kembali aku menikmati minuman sembari duduk pada deretan bangku di depan mini market ini, sesekali aku melihat laki-laki yang menggendong anaknya tadi masih sibuk memilih snack untuk anaknya, dan aku teringat lagi dengan aroma parfum Fian yang masih jelas kuingat.

Saat itu sekitar jam 16.00 aku sampai di terminal Purabaya, baru pertama kali datang di terminal ini, aku meras kikuk dan bingung mau ke mana. Setelah beberapa menit berjalan, kemudian aku duduk pada deretan bangku tunggu yang disiapkan bagi para pengunjung terminal ini
“Hallo, Fian kamu di mana? Aku uda di terminal nih, cepet dong!”
“Bentar ya, aku masih di jalan, bentar lagi nyampe kok”,
Aku menutup teleponku dengan bibir agak manyun, semoga saja Fian cepet sampai, rasanya tidak nyaman sekali duduk sendirian di tempat asing.

Setengah jam berlalu, Fian tak kunjung datang, perasaanku semakin resah, apa lagi teleponku dari tadi tidak ada yang diangkat sama sekali, aku benar-benar bingung seandainya Fian tidak datang, apa yang harus aku lahkuan, bus yang menuju ke arah rumahku setiap jam 4 sore sudah tidak ada yang beroprasi, sedangkan di kota ini aku tidak ada keluarga, hanya ada temen SMA yang kebetulan kuliah di sini, itupun aku tidak tau alamat kosanya. Aku tertunduk sembari menutupi wajahku, rasanya aku ingin menangis

“Alika..”, aku dikagetkan dengan suara yang memanggil namaku, kemudian aku menoleh, ternyata di sampingku sudah ada cowok manis tersenyum berdiri di sampingku, di saku bajunya terdapat tanda pengenal yang bertuliskan Alfian,
“Gak kurang lama ta?”, tanyaku sedikit sinis,
“Maaf sayang, kamu kan tau sendiri jarak tempat kerjaku dari sini tuh 2 jaman. Ihh abis nangis yaa.., hahaha”, Alfian menertawaiku sambil mencubit pipiku,
“Yaa habisnya aku pikir kamu gak bakalan datang, terus nasibku gimana di sini”, bantahku sambil menahan malu dan tetap manyun. Mendengar itu Fian hanya tertawa dan mencubit pipiku lagi, lalu dia menggandengku sembari berjalan meninggalkan area tunggu di terminal ini.

Setelah berjalan-jalan menikmati suasana malam kota ini, kami berhenti di salah satu mall. Sejak awal memang kami berencana untuk nonton, namun saat ingin membeli tiket,
“Aduhh ATM aku ketinggalan di kost”, ucap Fian sambil menggaruk kepalanya,
“Terus?”, tanyaku sambil menatapnya sinis,
“Aku Cuma bawa uang ngepres nih, nonton lain kali gak papa ya?”,
mendengar itu rasanya kesal sekali. Aku hanya diam dan berjalan meninggalkan bioskop, lalu Fian mengejarku,
“Jangan marah donk Al, kita makan aja yuk!”
“Gak laper”
“Kalo gitu muter-muter mall aja yuk!”
“Buat apa muter-muter kalo gak beli, malah bati kepingin doang. Udah deh, aku mau ke kosatan temen aku aja”
“Ya udah, aku anter ya?”
“Gak usah, kamu pulang ja deh sana!”,

Kemudian aku berjalan keluar dari mall itu, Fian masih tetap berusaha untuk membujukku agar mau dia antar, tapi aku tetap diam dan mengacuhkan dia karena aku sudah terlanjur sakit hati padanya.
“Emmm ya udah deh, kalu gitu kamu hati-hati ya”, setelah kata itu diucapkan Fian, aku tak lagi mendengarnya berbicara, mungkin dia sudah lelah membujukku. Kemudian aku menoleh ke arahnya, ternyata Fian sudah tidak ada di sampingku, rasanya hatiku semakin kesal saja, tega-teganya dia meninggalkanku sendirian menunggu taksi, mana taksinya lama gak dateng-dateng lagi.

Setelah taksi datang, aku menuju ke alamat kost temenku yang baru saja dikirimkanya lewat pesan singkat. Setengah jam kemudian, aku sudah sampai di depan kostan Nana teman SMAku itu,
“Hey kok cepet banget, katanya kencan?”, sambut Nana sambil memelukku,
“Kencan prett Na, aku lho gak jadi nonton, katanya ATM dia ketinggalan terus Cuma bawa uang sedikit, jadi gak cukup buat beli tiket nonton”, ceritaku pada Nana sambil marah-marah,
“Terus kamu percaya?”
“Ya gak lah Na”, kemudian aku terdiam sambil menundukkan kepala. “Mungkin dia kecewa setelah ketemu aku, ternyata tidak sesuai yang dia bayangkan kali Na. Habisnya dia keren, putih tinggi lagi. Pasti seleranya tinggi deh Na”, ucapku lagi sambil menatap hamparan kegelapan langit tanpa bintang, sekilas aku seakan melihat bayangan wajah Fian di antara awan-awan hitam.
“Ahh masa sih Al, kamu kan juga cantik. Udah deh kamu mandi aja dulu, bauk tau!”, ujar Nana sambil menutupi hidungnya seolah mencium bau badanku, padahal aku tau badanku masih sangat wangi.

Malam ini aku tidak bias tidur, aku selalu terbayang-bayang wajah Fian, rasanya kesal campur seneng dan gimana gitu. Kami baru pertama kali bertemu setelah 2 minggu bersahabat dekat di chatting, tapi saat bertemu kami gak saling jaim tapi malah bertengkar soal hal-hal yang sepele pula. Anehnya hal itu malah membuat pertemuan tadi serasa berkesan bagiku, membuatku selalu ingin tersenyum dan sedikit kesal pada saat mengingatnya, apalagi aroma parfum Fian masih jelas melekat pada baju yang aku kenakan, membuatku semakin tidak bisa tidur dan selalu terbayang padanya bila sesekali hidungku mencium aroma parfum itu.

Paginya sekita jam 05.30 aku sudah sapai di terminal, aku masih harus menunggu keberangkatan bus yang akan kutumpangi sekitar setengah jam. Saat aku menunggu sambil bermain game. Tiba-tiba aku mendengar suara Fian, aku fikir itu hanya halusinasiku saja, tapi aku juga mencium aroma parfumnya juga, tidak salah lagi ini pasti Fian, aku segera menoleh ke arah suara yang memanggilku
“Alika…”
“Fian… Kamu ngapain ke sini?”, tanyaku sedikit kaget dan berusaha menyembunyikan ekspresi bahagiaku.
“Mau ngajak kamu serapan”, lalu dia menarik tanganku dan menggandengku menuju salah satu warung makan di sana.

Selama menyantap makanan kami jarang ngobrol, membuatku merasa kikuk dan nervous saja. Setelah makanan kami habis, Fian melontarkan beberapa pertanyaan yang sangat sulit untuk aku jawab,
“Gimana setelah ketemu, kamu kecewa gak ma tampangku?”, tanyanya dengan tatapan yang serius,
“Emmm gak sih, tapi hatiku sakit banget uda kamu tinggal di mall sendirian kemaren”, jawabku sekenanya karena aku memang bingung harus menjawab apa. Tapi Fian malah tertawa,
“Hahaha salah sendiri diatar pulang juga gak mau”
“Ya tapi kan…”, aku tidak melanjutkan kata-kataku, aku bingung dan kesal,
“Gimana nih kita kan udah ketemu, jadi kamu mau gak jadi pacar aku?”,
Aku benar-benar bingung harus jawab apa, dari pandangan Fian sih kelihatanya serius, kalau aku jawab dengan bercanda pasti dia akan marah. Hmmm rasanya benar-benar membingungkan, mau jawab iya takut dia Cuma main-main, mau jawab tidak bingung gimana menyamaikannya.
“Kita kan baru ketemu kemaren, kamu juga belum tau karakter dan sifatku gimana. Sedangkan kita kan sudah tau sendiri, diusia kita udah bukan waktunya…”, belum selesai aku bicara, tiba-tiba Fian memotong kata-kataku Hmmm
“Alika…, aku Cuma butuh jawaban iya atau tidak, bukan penjelasan”,
Aku menghela nafas dan berpikir keras selama beberapa detik,
“Huf…, baiklah, intinya aku belum bisa kasih jawaban sekarang Fian, ini tu masih terlalu dini untuk mengambil keputusan”
“Ok, itu berarti jawaban kamu tidak. Baiklah aku akan pergi dari kehidupan kamu, dan terimakasih sudah mau bertemu denganku”, kemudian Fian bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan meninggalkanku
“Lho.., tapi aku kan belum kasih jawaban. Fian.., Fian…, Alfian…”
Fian tetap terus berjalan, tanpa sedikitpun menggubris panggilanku.

Aku bingung dengan apa yang kurasakan. Aku tak tahu apa yang harus aku lahkukan, hanya terpaku melihat langkah kaki Fian yang semakin jauh meninggalkanku, terbersit rasa kehilangan saat langkah kaki itu tak lagi dapat aku lihat. Namun aku juga tidak bisa memberikan jawaban padanya, aku merasa ini terlalu dini untuk mengambil keputusan, dan aku tidak ingin kembali mengambil keputusan yang salah.

Ingatanku tentang Fian buyar saat tiba-tiba seorang pegawai toko yang sedang mengepel lantai menegurku,
“Permisi mbak, maaf saya bersihkan lantainya dulu ya”
Aku segera berpindah dari tempat dudukku, rasanya malu sekali pasti pegawai itu sedari tadi memperhatikanku yang sedang melamun, kemudian aku perhatikan di sekelilingku ternyata orang-orang yang berteduh bersamaku tadi sudah tidak ada, karena memang hujan sudah reda.

Aku berjalan meninggalkan toko itu. Sepanjang perjalanan pulang, aku melihat beberapa foto Fian yang pernah dia kirimkan padaku, kemudian aku hapus satu persatu foto tersebut. Semenjak Fian meninggalkanku saat makan pagi itu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi, dia pun juga tidak pernah menghubungiku lagi. Sesekali saat aku sangat merindukanya, aku mencoba menghubunginya, tapi pesanku selalu dibalas dengan sinis. Akhirnya aku juga memilih menjauh darinya, meskipun terkadang aku masih merindukanya, tapi aku yakin ini adalah keputusan yang benar. Aku percaya, cinta sejati itu tidak datang dalam waktu yang singkat, butuh waktu yang cukup untuk menumbuhkan rasa cinta. Karena dalam cinta terkandung rasa nyaman, sayang, saling membutuhkan, dan ketulusan. Untuk mendapatkan semua itu tentu butuh peruses, dan bila ada yang bilang cinta pada pandangan pertama, menurutku lebih tepatnya adalah rasa ketertarikan pada pandangan pertama. Karena perasaan cinta itu akan hadir kala kita tertarik lalu mengenal, memahami, merasa nyaman, dan pada akhirnya akan saling membutuhkan. Dan jika Fian lebih memilih pergi sebelum semua fase itu terlewati, itu berarti dia bukanlah cinta sejatiku.

“Ada cerita pada setiap pertemuan,
tentang pembicaraan, tujuan, dan harapan.
Aku yang mungkin tak mampu memberi arti tak berhak melarang pergi,
dan bila rindu tak mungkin terucap, biar semua terungkap dalam cerita.
Yang pasti, akan ada saat dimana yang terlupakan akan dirindukan…

dear Fian”

Cerpen Karangan: Tinta Melati
Facebook: Kamal Liya

Cerpen Alfian Dalam Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pangeran Sakura dan Gadis Pelukis

Oleh:
“Maaf… Saya hanya mengatakan yang sesungguhnya.” “Hm… Iya Saya mengerti dok.” Gadis itu keluar dari ruang konsultasi yang sudah 14 bulan lamanya ia kunjungi. Di wajahnya tak nampak raut

Laut, Senja, Dan Kamu

Oleh:
Gadis itu duduk menghadap lautan. Baginya, senja selalu sama. Laut selalu sama. Menghadirkan cerita yang dulu pernah ia alami dalam hidupnya. Ingatan itu terus muncul tiap kali ia menjejakkan

Cinta Yang Tak Terucap

Oleh:
Aku adalah seorang murid yang sering membuat masalah di sekolah. Sering kali, aku bolos sekolah. Teman-temanku memanggilku Irfan. Pagi yang cerah, langit berwarna biru. Mentari menyinari dunia dengan hangat.

“Lovely Cake”

Oleh:
Ya ampun..!! Meisya bangun kesiangan! Padahal ini hari pertamanya masuk kerja. Meisya tergesa-gesa berangkat ke tempat kerjanya. Ia sudah terlambat hampir satu jam. Dengan penampilan kurang rapi, Meisya berlari

The Word Destiny (Part 1)

Oleh:
Aku selalu mencintaimu. Bukankah kau tahu itu? Kukira, kita bisa bersama selamanya. Namun takdir berkata lain. Hey, kau, apa kau dengar aku? Aku harap begitu. Aku ingin kau selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *