Ali’s Liontin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 February 2016

Aku melongo menatap lingkaran angka yang sudah menunjukkan angka 11 itu. Mataku memang sudah mengajakku untuk melepaskan lelah hari ini. Aku masih saja menunggu, menunggu ponselku berbunyi. Ku buat secangkir kopi untuk menemaniku malam ini. Lebih tepatnya agar mataku dapat dikompromi. Sayangnya benda persegi itu tak pula bersuara bahkan tak bergerak. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Drrt, drrt, drrt. 1 pesan masuk, aku terbangun dari tidurku pagi itu. Meski aku masih mengantuk.

Ali (sayang)
“selamat pagi princess, always love you sampai berjumpa di sekolah.”
“hah, cuma gini? Payah! Apa lo gak peka gua bete sama lo, Li. Bete!” ujarku sembari memelotot pada benda persegi itu.

Di sekolah yang tenang itu, aku duduk di sebuah gazebo tidak jauh dari kelasku. Seperti biasa mamaku selalu menyiapkan bekal untukku. Tapi kali ini selera makanku hilang dibawa angin.
“Hai sayang! Sendirian?” sapa Ali padaku. “Lo? Pergi!” ujarku sangat tidak sopan.
“Lo kenapa?” tanya Ali menatap dalam padaku. Aku berlalu meninggalkannya. Aku memang gadis yang sedikit egois, mungkin karena dibesarkan oleh kedua orangtuaku yang selalu bertengkar, sudah beberapa hari ini kami tidak saling berhubungan. Sepulang sekolah itu aku duduk di atap sekolah, melepaskan kegundahan hatiku.

Ali (sayang)
“gue tunggu lo di atap gedung sekolah!” Terkirim. Tak lama Ali datang.
Terlihat dari balik tubuhnya tersimpan sebuah kotak kecil, entah apa itu? Aku yakin itu untukku.

“Hai, Ra!” ujarnya, ku balas dengan senyuman.
“Gue tahu gue salah. Gue akuin kesalahan gue. Gue enggak mau nyakitin lo lagi, sekarang gue izinin lo pergi!” ucapnya tanpa basa-basi. “maksud lo apa?” tanyaku dengan mata berkaca kaca. “ini buat lo.” sambil memberikan kalung dengan liontin My angel. “pake terus sampai kapan pun, gue mohon.”
Kemudian Ali berlalu meninggalkan aku dengan pekik tangisku. “Apa maksud semua ini, Li?” pekikku lagi yang aku yakini pasti terdengar sampai gendang telinganya.

Hari-hari berlalu sangat menyedihkan, tak ada seorang pun yang mau mendengar curhatku. Iya aku tidak familiar seperti anak-anak lainnya. Aku jadi semakin pemurung saat ku lihat Ali dengan gadis berparas cantik itu. Aku sering bolos sekolah karena malas melihat mereka. Tapi, tenang untuk masalah nilai aku masih dapat mempertahankan peringkatku. 2 tahun kemudian. Aku lulus dari sebuah sekolah yang sangat sejuk ini SMA N 2 Waytenong, hari itu aku mengenakan kebaya silver dengan dandanan yang natural. Terlihat cantik sekali. Berkali-kali aku berkaca. Dan iya memang benar aku sangat cantik di acara perpisahan itu. Aku memandang Ali yang bangkunya tak jauh dari bangkuku. Kebetulan, semenjak Ali memutuskanku 2 tahun lalu aku sering dipanggil guru BK untuk menceritakan masalah-masalahku. Dan akhirnya aku bisa LULUS di sekolah ini. Hari itu aku membacakan sebuah pidato singkat.

“… Saya mengucapkan beribu terima kasih pada semua orang yang sudah sudi meluangkan waktunya untukku. Thanks to God, Thanks to Mom, thanks to Dad, my teachers and my friends. I’m sorry saya selalu egois. Terima kasih untuk sekolah tercintaku ini. Mohon doanya pada seluruh keluarga besar SMA 2 Waytenong karena saya sudah dipercaya untuk membawa almamater sekolah ini untuk sekolah di Jepang terima kasih untuk pemerintah yang sudah sudi membiayai saya….” riuh tepuk tangan dan tangis haru bercampur menjadi satu. Dan ketika aku akan turun dari panggung, tak ku sangka Ali dengan gagahnya membawakan sebuah bunga dan kotak terlihat begitu tampan dengan jas hitam dan dasi kupu-kupunya. Aku menerima semuanya, meskipun dengan sedikit rasa jengkel, aku masih sayang padanya. Memang dialah laki-laki yang bisa mengartikanku.

Sesampainya di rumah ku buka kado darinya. Aku melongo seperti orang bodoh, dan akan terlihat lebih bodoh lagi jika ada lalat yang masuk ke dalam mulutku. Sebuah liontin lagi, tapi kali ini dengan sepucuk surat. “My angel Pergilah! Dan akan ku tunggu kedatanganmu.”

3 tahun kemudian. Aku kembali ke Lampung. Aku memang sudah sedikit asing dengan daerah ini, semuanya sudah banyak berubah. Tak sama seperti 3 tahun lalu. Aku mengetuk pintu rumahku karena memang aku tidak dijemput dari bandara. Aku terkejut ketika yang membukakan pintu untukku bukan mama ataupun ayah. Melainkan Ali, tanpa meminta persetujuanku ia langsung memelukku kemudian bertekuk lutut dengan tangan yang sudah menggenggam kotak. Dan kali ini isi kotak itu bukan kalung, melainkan cincin.

“will you marry me?” cetusnya begitu yakin. “apa maksud semua ini, Li?”
“gue sayang lo. Maaf gue gak pernah cerita. Ayah gue ustad dan gue gak boleh pacaran. Itu sebabnya gue mutusin lo beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang gue yakin lo yang akan jadi Ibu dari anak-anak gue. Apa lo mau?”
“semua atas restu Papa”
“gue udah diterima Papa sama Mama, tinggal lo?”
Aku hanya mengangguk pelan dengan mata yang berkaca-kaca.

Cerpen Karangan: Eka Yolanda
Facebook: Yolanda
Nama saya Eka Yolanda lahir di Karangagung pada tanggal 2 Juni 1998. Hobi baca novel dan suka nulis.

Cerpen Ali’s Liontin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dongeng Kertas

Oleh:
Di atas meja itu, kamu bisa melihat buku-buku berjajar rapi… tempat pensil, lengkap dengan pulpen, penghapus, dan penggaris bergambar kartun kucing. Di dalam laci meja itu, ada sebuah kotak

Melepasmu

Oleh:
I LOVE YOU adalah sebuah kata-kata yang seharusnya memiliki makna kebersamaan, tapi kali ini aku mengucapkannya untuk sebuah perpisahan. Kutuliskan sebuah tulisan ini khusus untukmu. Sampai saat ini aku

Surat Kristal

Oleh:
Ini adalah ceritaku, Bintang, yang pada akhirnya harus meninggalkan sebuah surat untuk seseorang yang tak pernah menyadari bahwa cinta itu selalu sangat dekat, walaupun terkadang jalannya adalah jalan yang

Sembilan

Oleh:
Denting jam melaju sangat cepat. Gadis seumurku tak bisa untuk menahan waktu. Tak akan mungkin. Tapi tuntutan untuk menyelesaikan tugas sebelum bel pulang berbunyi terus menggerogotiku. Maklumlah untuk kelas

Man With Red Jacket

Oleh:
Aku berdiri di depan pintu kelas, sekolahku masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang saja. Mungkin aku yang terlalu cepat tiba di sekolah. Tiba-tiba pandanganku terfokus pada suatu objek.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *