All is Fair in Love and War

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 September 2012

“Siapa yang bisa menjawab mengapa hatimu menghela napas berat sebagaimana cintamu pergi? Hanya waktu yang bisa.
Siapa yang bisa menjawab mengapa hatimu menangis ketika cintamu musnah? Hanya waktu yang bisa.”

I loved you from the very first. And how long does it take to mend a broken heart?

“Gina!”
Gadis bernama Gina itu menutup buku didepannya dengan kasar saat seseorang memanggilnya, “Ya?”
“Semua sudah selesai, ayo kita pergi.” Gio, kakak laki-lakinya, mengulurkan tangan pada Gina.
Gina menggandeng tangan Gio dengan enggan awalnya namun akhirnya ia mantap untuk beranjak pergi sambil meraih bukunya dengan cepat.
“Ada apa?” Gio menatap buku yang dipegang erat oleh adiknya itu dengan alis mengernyit.
“Apa? Oh, tidak. Tidak ada apa-apa.”
Sambil masih menggandeng Gina, Gio mengamati buku itu sesaat lalu fokus dengan langkah kakinya. Ia sepertinya tahu apa yang Gina sembunyikan namun ia dengan bijak memilih untuk tidak membahasnya lagi selama perjalanan menuju sebuah rumah diantara reruntuhan bangunan. 10 menit mereka berjalan, kaki Gina sudah terasa sangat lemas mengingat ia belum memasukkan apa-apa kedalam perutnya sejak 24 jam yang lalu. Yang ia lakukan hanya mengamati keadaan luar dengan was-was.
“Gio, Gina!” seorang wanita menyambut kedatangan mereka berdua di sebuah ruangan dengan interior eropa kuno yang kental. Wanita itu menghambur memeluk keduanya sekaligus.
Gina bisa melihat orang-orang yang berada diruangan itu, baik yang sedang berdiri ataupun duduk, semua tertunduk lesu. Bahkan beberapa terluka dan yang lain saling mengobati diri.
“Ayah…”
Wanita itu melepaskan pelukannya saat Gina bersuara.
“Ayah baik-baik saja, Gina. Mereka sedang merawatnya di salah satu kamar.” Gio menghela napas panjang saat ibunya menjawab dengan hal yang melegakan. Setidaknya keluarga mereka utuh, “Ibu akan mengecek ayah. Kalian tunggulah disini.”
Baik Gio maupun Gina mengangguk lalu duduk disofa panjang yang entah kenapa masih kosong meski banyak orang yang sedang berdiri. Mereka saling diam.
“Kau masih memikirkan pemuda Jerman itu, ya kan?”
Gina menoleh menatap kakaknya yang ia tahu pasti sedang berbicara dengannya, “Apa?”
“Sudahlah mengaku saja, Georgina. Kau masih menulis tentangnya disana.” Gio menunjuk kearah buku yang kini berada dipangkuan Gina.
“Kau tidak mengenalnya.”
“Oh ya. Aku memang tidak mengenalnya dan kau tahu kenapa aku tidak mau mengenalnya.”
“Ia bukan anak buah Hitler bodoh itu.”
Gio memutar badannya sehingga kini ia berhadapan dengan adiknya yang berusia 19 tahun itu, “Dengar, Gina. Siapa yang bisa memastikan ia bukan budak Hitler? Apa yang ia katakan padamu?”
“Jangan bodoh, Gio. Ia yang menyelamatkan nyawaku saat kau tidak bisa. Apa kau tidak ingat?”

6 bulan sebelumnya
“Gio!”
Gio berlari ketempat persembunyian yang dimiliki hampir semua rumah dilingkungan itu. Keadaan tidak lagi aman.
“Kau tak apa-apa?”
Gio hanya menggeleng menjawab pertanyaan adiknya. Bulan ini ia berusia 20 tahun dan yang ia inginkan adalah permohonan sederhana namun tidak sesederhana realisasinya. Ia hanya ingin perang ini berakhir dengan cepat. Secepat pasukan Nazi diluar sana merenggut nyawa saudara-saudaranya, sahabat-sahabatnya, orang-orang yang ia kenal. Beberapa minggu yang lalu ia terkena tembakan dilengan sebelah kirinya. Tidak parah karena tembakan itu hanya menyerempet kekulitnya namun masih meninggalkan bekas luka dan kebencian.
“Aku harus pergi untuk menemui ibu. Kau ikut?”
“Sekarang? Tapi diluar sana tidak aman.”
Gina menendang sebuah pintu kecil dari kayu yang ada dibagian bawah sisi dinding, “Kita harus menggunakannya sesekali.”
“Ini sudah ketiga kali. Kalau aku jadi mereka, lama-lama aku akan menyadari dan ikut menyusup lewat lorong itu juga.”
“Baru tiga kali dalam rentang 1 tahun terakhir. Kau bercanda. Orang-orang Jerman itu sangat bodoh, Gio. Tenang saja.” Gina lalu menghilang didalam lorong kecil itu.
Rumah mereka sendiri sudah rata dengan tanah karena ledakan bom yang dijatuhkan disekitar sana. Anak-anak dibawah 18 tahun diungsikan kedaerah yang lebih aman setelah kejadian itu. Lorong bawah tanah itu berpusat pada satu lubang ditengah kota dan bercabang pada masing-masing tempat persembunyian dihalaman-halaman rumah.
Tik tok tik tok…
Sudah hampir 2 jam Gina pergi namun belum juga kembali. Gio mulai gelisah. Gina adalah tanggung jawabnya sebagaimana ayahnya berpesan padanya sebelum pergi berperang. Sementara ibunya membantu merawat kakeknya yang sedang sakit bersama nenek. Saat ia akan menembus lorong itu untuk menjemput Gina, tiba-tiba terdengar bunyi tendangan pada pintu lorong itu. Gina keluar dari sana dengan tanah dan debu pada bajunya dan ia tidak sendirian.
“Nazi!”
“Wo wo wo, Gio! Tenang.. ia menolongku waktu akan kembali tadi. Ada beberapa Jerman yang mengepung disekitarku sehingga aku harus berlindung dengan cepat.” Seorang lelaki Jerman muncul dari belakang Gina dan mengangguk pada Gio, “Dan dia bukan Nazi.” Tambah Gina pada telinga Gio.
Gio tadinya sudah mengepalkan tangannya dan bersiap memukul pemuda itu. Tapi ia lalu pergi dengan bersungut-sungut dengan mengisyaratkan pada Gina untuk segera menyuruhnya pergi.
“Terima kasih, Theo. Kau masih ingat jalan kembali lewat lorong itu?”
Theo mengangguk, “Lain kali berhati-hatilah.” Ia lalu berlalu melewati lorong.
“Bijak sekali kau memberitahukan lorong itu pada salah satu Jerman!” Gio sudah kembali berada disatu ruangan bersama Gina, “Apa dia meracunimu atau bagaimana sehingga kau kehilangan otakmu?!”
“Sudahlah. Ia tadi menolongku dengan menyuruh para Nazi itu menurunkan senjata mereka dariku. Kau seharusnya berterima kasih padanya.”
“Tapi bukan berarti kau bisa memberitahukan tentang lorong itu, kan. Berpikirlah sejuta kali lain kali.”

Sejak hari itu Gina sering pergi kerumah neneknya lewat lorong itu. Mengantar roti, atau sekedar menengok kakeknya. Disana, ia mengamati Theo yang sedang bekerja. Entah apa pekerjaannya.
Disatu hari yang tenang, ia menghampiri pemuda itu.
“Kau sibuk sekali.”
Theo menoleh dan tersenyum kecil saat melihat Gina, “Hai.”
“Aku mengganggu?”
“Tergantung apa yang akan kau lakukan.” Jawab Theo lalu tersenyum lagi.
Gina terdiam lalu duduk dikursi berjarak 1 meter dibelakang Theo.
“Kenapa kau mau berbicara denganku? Aku orang Jerman, ingat? Beberapa orang lain pun tidak mau berbicara denganku meskipun tahu aku bukan Nazi.”
“Karena… aku tahu kau orang baik, Theo.” Jawaban Gina membuat Theo menoleh dan mencurahkan perhatian pada setiap kata yang akan terucap lagi dari bibir gadis itu, “Aku.. entah mengapa bisa merasakannya.”
Theo lalu berpaling dan kembali sibuk dengan pekerjaannya sebelumnya, “Perasaan. Jangan pernah terlalu mengandalkan perasaanmu, Gina. Suatu saat nanti hal itu akan menikammu dari belakang.”
Gina berdiri dengan sedikit kesal, “Mengapa kau bisa berbicara seperti itu? Kau tahu mengapa aku bisa begitu percaya dengan perasaanku? Karena ia satu-satunya yang tidak pernah mengkhianatiku. Oh mungkin kau pernah mengalami hal yang tidak kau inginkan. Tapi tidak denganku.”
Pekerjaan itu terbengkalai seketika saat sang pekerja memutar badan dan berhadapan dengan Gina. Berbicara langsung pada gadis itu dengan nada yang sedikit keras, “Kau tidak tahu kenapa aku berada disini dan apapun tentang perasaanku!”
Gadis itu terdiam mendengar suara Theo yang kini berbalut geraman, “Well, kalau begitu… maafkan aku.”
Saat Gina akan berbalik pergi, suara ledakan bom terdengar tak jauh dari sana. Sontak Gina berteriak dan Theo menangkap gadis itu disaat yang tepat sebelum tubuh yang terhuyung itu jatuh menimpa kayu penyangga dibawahnya.
“Tetap dibelakangku.” Theo melindungi Gina dari percikan ledakan lain yang bisa saja semakin dekat dari tempat mereka berdiri. Tubuh Gina bergetar, kakinya lemas seolah tidak lagi memiliki tenaga untuk menyangga tiap berat tubuhnya hingga akhirnya ia jatuh terduduk dibelakang Theo.
Mengapa perang ini tidak segera berakhir?

“Gina, kau tak apa-apa?”
Suara itu begitu jelas dan terdengar sangat cemas. Gina membuka matanya perlahan dan mendapati hanya Theo yang berada disampingnya. Ia hanya menggeleng menjawab pertanyaan Theo dan bergerak untuk mengubah posisinya menjadi posisi duduk.
“Apa kau tidak bisa menyuruh mereka pergi? Untuk apa lagi mereka menghabisi kami?” pertanyaan itu diucapkan dengan segala asa yang tersisa dari dalam hati Gina. Perasaannya. Segala pertanyaan yang ingin ia katakan kepada setiap orang Jerman yang ia temui. Bahkan dalam seragam Nazi sekalipun.
Theo hanya diam. Ia pun tidak yakin apa yang harus ia utarakan untuk menjawabnya. Seolah belum cukup pengkhianatan mereka selama ini padanya sehingga ia harus menjawab pertanyaan yang ditujukan pada cecunguk brengsek itu. Hitler bodoh dan semua yang bekerja dibawah perintahnya.
“SURUH MEREKA PERGI!!” Gina menangis dengan keras dan membuang semua kesal yang selama ini ada dan berdesakan didalam tubuhnya. Mengalir bersama darahnya dan berdetak bersama jantungnya. Belum cukupkah semua nyawa yang terambil dari tubuh-tubuh yang bergeletakan dijalanan itu? Perlukah ia menyerahkan dirinya sekarang juga dan meminta mereka menghentikan perang?
Theo memeluk gadis itu dengan erat. Mendekapnya dan mencoba menghentikan sesak yang dirasakan Gina. Ia bisa tahu dari pergerakan bahunya naik turun tak karuan. Ia tahu gadis itu menyimpan segalanya selama ini sendirian. Gina berteriak seiring suara ledakan berikutnya terdengar di kejauhan. Theo hanya bisa mengelus punggung gadis itu pelan. Berusaha menenangkan.

Sungai St. Lawrence. Theo duduk diantara rerumputan setelah mengantarkan gadis itu kembali ke lorong tempatnya bersembunyi bersama kakaknya. Lagi-lagi Gio tidak menyambutnya dengan baik. Tapi ia tidak merasa masalah. Sama sekali tidak. Ia tahu ini bukan tempatnya. Mengerjakan konstruksi sementara teman senegaranya sendiri menghancurkannya kembali. Untuk apa perang ini?
Sesaat Theo merasa berada diposisi Gina. Ia lelah. Ia ingin melepas predikatnya sebagai orang Jerman yang eksistensinya sama sekali tidak diharapkan masa itu.
2 jam ia hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa. Menatap langit yang entah kenapa berubah semakin kelam tiap detik perang ini berlanjut.
“Theo..”
Pemuda itu memutar kepalanya dan mengernyit mengetahui siapa yang datang, “Gina?”
Gina duduk disebelah Theo dengan jarak 1 meter darinya. Gadis itu menoleh menatapnya, “Maaf.”
“Untuk apa?”
Gadis itu mengamati dan menyentuh rumput-rumput dengan tangannya untuk mengalihkan pandangan, “Untuk… menyusahkanmu saat aku pingsan dan… berteriak… dan yang lainnya.”
Theo terperanjat sesaat lalu mendekati gadis itu dan mengacak-acak rambutnya, “Tak usah kau pikirkan. Aku juga minta maaf karena sudah membentakmu.”
Gina menggeleng, “Itu juga salahku. Tak perlu minta maaf.”
Mereka berdua menghabiskan waktu sesorean itu dengan membicarakan banyak hal. Berdua saja seolah sudah saling mengenal sejak lama. Ditepi sungai St. Lawrence.

Mereka semakin sering bertemu semenjak itu. Membicarakan suatu hal atau Gina hanya menyaksikan Theo bekerja dengan kayu-kayu dan papan yang begitu banyaknya bersama beberapa orang Jerman lain. Berbulan-bulan seperti itu dan Gio tidak pernah tahu bahwa Gina selalu bersama Theo saat Gina berpamitan untuk menemani nenek dan ibunya. Sampai akhirnya Gio mengikuti kemana adiknya pergi disuatu hari yang cukup sunyi tanpa suara ledakan.
Gio menarik Gina pergi saat ia tahu yang adiknya itu lakukan. Ia belum juga bisa menerima keberadaan orang Jerman didekatnya. Mereka semua sama bagi Gio.
“Apa-apaan sih kau?! Berapa kali kau sudah ku peringatkan?”
“Dengar dulu, Gio! Ia bukan seperti yang kau pikirkan. Kau terlalu sempit menilai mereka.”
“Tidak ada waktu berdebat! Kita kembali ke lorong!” Gio menatap Theo dengan pandangan membunuh, “Dan kau… jangan-pernah-mendekati-adikku-lagi. Kau mengerti?”
Gio menyeret Gina pergi dan tidak pernah lagi memperbolehkan adiknya pergi atau bahkan hilang dari pengawasannya. Maka yang bisa Gina lakukan hanya menuliskan segalanya pada sebuah buku yang telah lusuh miliknya dulu saat masih bersekolah. Mencoba mengingat yang telah ia lewati bersama pemuda Jerman itu.

“Ia sudah meninggal. Benar begitu?”
Airmata Gina yang dari tadi tertahan akhirnya jatuh dengan deras dan tak sanggup lagi dibendung oleh pelupuk matanya yang kecil. Theo meninggal setelah tertembak oleh pasukan Nazi. Teman senegaranya sendiri. Begitu yang Gina dengar dari salah seorang temannya yang ikut membantu orang-orang Jerman yang membetulkan konstruksi bangunan.
Gio memeluk adiknya itu yang masih sesenggukan dalam tangisnya, “Aku tahu semua ini tidak adil bagimu. Tidak ada yang adil dalam perang, dan juga cinta.”
“Tidak adil karena tidak ada yang bisa kulakukan untuknya.” Gina mengatakannya dengan lirih, “Banyak yang sudah ia lakukan untukku. Tapi aku tidak pernah melakukan apa-apa.”
“Banyak hal buruk yang terjadi. Setidaknya kau telah memberinya kenangan manis. Kau masih bisa mendoakannya.”
Gina melepaskan diri dari pelukan kakaknya dan membuka bukunya untuk menuliskan sesuatu disana.
Beristirahatlah dengan tenang, Theo. Tunggu aku disana. Georgina.
Ia menyobek kertas itu dan berlari keluar dari rumah itu menuju sebuah sungai yang tak jauh dari sana. St. Lawrence. Membuat perahu kertas dan menaruhnya diair. Membiarkan arus air menjalankannya pergi. Bersama semua harapannya untuk Theo diatas sana.

FIN

Cerpen Karangan: Neneng Uswatun
Blog: http://nfeltonkeynes.tumblr.com
raw author 🙂

Cerpen All is Fair in Love and War merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Aku

Oleh:
Ayah dan ibuku bekerja sehari semalam. Ini tugasku untuk menjaga adikku. Suatu sore adikku terlihat tidak semangat. Aku mengecek keadaannya. Ternyata dia mengalami demam biasa. Kami sering bermain dokter-dokteran

Persimpangan

Oleh:
Persimpangan itu terdengar seperti “banyak jalan yang harus kau pilih dengan tepat”. Sekali kau berbelok ke arah yang salah, susah untuk kembali lagi. Hal seperti itu yang aku alami

Salahkan Rasa ini?

Oleh:
Selembar foto seorang pemuda, dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya itu kembali mengingatannya tentang sebuah kenangan yang masih belum bisa ia lupakan sampai sekarang. Tentang sebuah kisah asmara yang

Cinta itu Rasanya

Oleh:
Dian gadis berusia 19 tahun yang merupakan murid baru di kampusnya, sedang duduk di bangku kantin, sambil mendengarkan musik melalui earphonenya. Ia membaca novel kesukaannya yang walaupun sudah sering

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “All is Fair in Love and War”

  1. Eros Arif Kurniawan says:

    sedikit comment;
    Cerpennya bagi saya ada cerpen sedih, dimana kesedihan terletak pada latar belakangnya yang berada pada PD (perang Dunia) dan kekejaman NAZI pada saat itu, mirisnya ketika kita tahu bahwa semua sejarah yang pada saat itu terjadi ada berupa kematian, kesedihan dan segala hal yang membuat hati setiap orang menangis bila masuk dalam dunia saat itu.

    Unik cerpennya;
    Judul, latar belakang, tema, isi, pesan dan kesannya adalah “Penegasan” bahwa “Judul” merupakan “jiwa” dari cerpen ini.

    Pesan, Jati diri sang penulis, alasan, pertanya… semuanya ada pada judul dari cerpen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *