Alphaterrania (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 24 October 2014

Bag. 1 Kenyataan

Aku terbangun dari mimpi indahku, di mimpi itu, aku berada di hutan yang sangat indah, hutan yang memiliki bunga-bunga berwarna-warni, serangga yang beraneka ragam jenisnya, bahkan seekor serigala putih yang sangat jinak, yang dapat kuelus wajahnya, serigala putih itu bisa berbicara, tetapi disaat dia berbicara mulutnya tetap tertutup, aku masih ingat perkataannya “kembalilah, kita akan menjadi teman yang hebat” dan aku pun terbangun.

Hari ini sekolahku terasa biasa saja, seperti hari-hari yang lalu. Sekolah SMA ini berusia 2 tahun dan aku berada di kelas 11 A. angkatanku hanya memiliki dua kelas, 11 A dan 11 B, wajar saja, karena sekolah ini berada di desa terpencil dan masih terselimuti hutan tropis yang lebat. Kenyataannya aku tinggal di desa terpencil.

Sepulang sekolah, aku teringat mimpiku semalam, mungkinkah aku akan kembali ke hutan indah itu? Hatiku bertanya-tanya tak berhenti. Sesampainya di rumah, ternyata ada teman Ayahku yang sedang berkunjung. Aku merasa tidak asing dengan teman Ayahku ini. Saat kuperhatikan wajahnya dia melihat kearahku lalu menyapaku “Alpha, bagaimana sekolahmu?.” Apa? Dia tahu namaku. “Masih ingat tidak dengan om?.” lanjutnya. “bagaimana dia bisa ingat, dia berumur dua tahun saat itu. Alpha ini om Féthra, kita tinggal bersama dia saat umurmu dua tahun.” Ayahku menjawab pertanyaan yang seharusnya untukku. Mulailah obrolan para lelaki di meja makan yang hanya tersaji kacang goreng dan tiga gelas kopi untuk kami

Waktu menunjukan jam 9 malam. Om Féthra pun beranjak dari rumah kami, setelah banyak cerita yang aku dengarkan darinya, dia bercerita tentang masa kecilnya dengan Ayahku. “Alpha. Nama yang sangat pas untukmu, tumbuhlah menjadi pria yang kuat, kau akan menopang beban yang berat.” Nasihatnya merasuk ke dalam hatiku. “Semua pria akan menopang beban yang berat, aku akan tumbuh seperti Ayahku yang merawatku seorang diri” sambil tersenyum aku menjawab. Ya memang Ayahku merawatku seorang diri, tanpa seorang Ibu aku tumbuh, tapi Ayah selalu menjadi orang tua yang hebat. Om Féthra pun beranjak pergi dari rumahku.

“Aku merasa tidak asing dengan Om Féthra” kataku. “Berarti ingatanmu bagus.” ayahku hanya menjawab seperti itu. kami pun beranjak ke kamar masing-masing. Aku merebahkan tubuhku yang sudah terasa berat ini, melihat sekeliling kamarku yang sedikit berantakan, beberapa foto Aku dan Ayahku terpajang di dinding, kamarku yang berukuran 3 x 5 meter ini terasa luas karena barang-barang’ku yang sedikit. Aku pun tertidur.

Aku merasa panas seperti ada kobaran api yang berkobar di sampingku, aku pun tersadar, hutannya, hutan indah ini terbakar, bunga-bunga indah berubah menjadi hitam, hewan-hewan berlarian, beberapa teriakan terdengar. Apa yang terjadi? Siapa yang tega membumi hanguskan keindahan ini? Aku bertanya dalam hatiku. Serigala putih yang ada dalam mimpiku sebelumnya menghampiriku, nafasnya terengah-engah, jalannya terpincang-pincang, sebatang anak panah merobek daging dan menancap di kaki kanannya “Kami membutuhkanmu, kami tidak bisa menghadapi ini jika kau tidak menempuh jalanmu.” serigala itu berbicara sambil terengah-engah. “Apa yang harus kulakukan?.” Aku bertanya dengan panik. Serigala putih itu pun rebah, terjatuh ke tanah dengan abu-abu hitam, aku memegang dadanya, jantungnya berdetang tidak stabil, perlahan nafasnya mengendur, matanya kosong, dalam hitungan beberapa detik detak jantungnya perlahan menghilang. Aku panik, berteriak meminta tolong, tetapi tidak ada yang menggubris, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Aku pun terbangun, nafasku terengah-engah, jantungku berdetak kuat dan cepat, keringat mengucur dari keningku. Aku menarik nafas panjang untuk menenangkan diriku, seraya kuhembuskan keluar nafasku, aku pun mulai tenang dan stabil. Waktu menunjukan jam 6 pagi. Aku beranjak dari tempat tidurku lalu memasuki kamar mandi, aku termenung di dalam kamar mandiku. Akupun bersiap untuk berangkat sekolah. “Ayah aku berangkat.” Aku berkata. “Hati-hati, tengah malam tadi hujan, mungkin jalan akan licin.” “pasti Yah, aku akan berhati-hati.”.

Sekolah, tugas, nilai dan guru-guru killer, aku sedikit bosan dengan ini semua. Temanku yang bernama Syaina menyapaku “Hay, bagaimana tugasmu?.” Apa tidak ada hal lain selain tugas. “Seperti biasa.” Aku menjawabnya dengan malas. “Kau ingin menyalin tugasku?” sambil menjulurkan buku Bahasa Belanda. “Lebih baik berdiri di lapangan sambil menghormati bendera dari pada harus belajar bahasa musuh.” Aku menjawabnya dengan santai.

Bel berbunyi, guru Bahasa Belanda masuk, memperkenalkan murid baru, menanyakan tugas, menyuruhku keluar dan berdiri di lapangan sambil hormat kepada bendera Merah Putih. tunggu, murid baru itu bernama Trheisya, dia sangat cantik, membuatku mengalihkan perhatian dari dunia kesendirianku, memberikan energi ke dalam jantungku sehingga berdetak sangat kencang, dan yang membuatku bahagia, dia duduk di sampingku.

Pelajaran Bahasa Belanda selesai, ini bukan Moving Class tapi Moving Teacher. Bu Vina guru segala bahasa itu menyuruhku masuk “Masuklah! Bahasa Belanda sudah selesai, ini memang bahasa musuh kita, tapi ini ada gunanya juga di suatu saat nanti.” Bu Vina menyeramahiku. “baiklah bu.” Aku hanya berbohong. Disaat aku masuk kelas Syaina bertanya “apa kamu nggak lelah? Setiap pelajaran Bahasa Belanda kamu selalu begitu.” Dia sok memperhatikanku. “Enggak.” Aku menjawab, lalu duduk di tempatku. Trheisya memberikan senyuman malu kepadaku yang membuatku gemetar, wajahnya yang putih, bermata hitam gelap dalam, hidung yang lancip, bibir tipis merah merona tanpa lipstick, dan rambutnya yang bergelombang berwarna hitam dikuncir sangat membuatku ingin memperhatikannya terus. “hey, apa ada yang salah di wajahku?.” dia sadar aku sedang memperhatikan wajahnya, aku pun tersentak lalu membuka buku, berpura-pura membaca. “maaf, aku hanya ingin mengingat wajahmu.” Sambil tersenyum malu aku menjawab, apa-apaan ini? aku seorang pria yang gugup di depan wanita cantik, aku seorang pecundang, pecundang sekolah terpencil di negara ini. “hey aku belum tahu namamu.” Sepertinya dia gugup sepertiku. “aku Alpha, Alltaf Upp Alpha.” Aku gugup, sangat gugup. “aku Trheisya Vindurri.” Dia sama gugupnya denganku. Aku berfikir suatu lelucon untuk mencairkan kegugupan ini, ayolah berfikir otak “sepertinya nama kita sama-sama aneh.” Bodoh! Itu lelucon atau menghina? Terlanjur kukatakan, tetapi Trheisya tertawa kecil, aku pun tertawa karena tawanya sangat menyenangkan, akhirnya suasana gugup pun luntur seraya beberapa guyonan yang kami lontarkan.

Tak terasa bel akhir jam berbunyi, kami pun bersiap untuk pulang. “kamu ke arah mana?.” Trheisya bertanya sambil tersenyum dan senyuman itu sangat manis, membuat perasaan ini seperti disiram oleh air es saat udara terasa panas. “kanan dari gerbang sekolah.” Aku balas senyumannya dengan baik, kuharap. “berarti searah denganku.” Aku bersumpah jika ada senyuman yang lebih indah dari wanita ini aku akan menendang bokongku sendiri. “baiklah, kita satu sekolah sekarang, satu arah pulang, mungkin akan satu hati.” Sedikit lelucon dan harapan kujadikan satu. Dia tertawa kecil dan bertanya “sudah siap?.” Tanyanya. “sudah, sepertinya matahari akan segera tenggelam.” Aku berkata “apa kau akan dapat ocehan dari orangtuamu?” lanjutku. “tidak, mereka tahu sekolah ini memiliki segudang kegiatan.” Jawabnya

Kami pun berjalan berdua, berbincang, berguyon, tertawa dan saling melirik-lirik. Senang rasanya bisa bertemu dengan dia, aku bersyukur, tuhan telah mengirimkan malaikat cantik ini untuk menambahkan nada dalam hidupku yang hanya memiliki note fals ini, dan sekarang telah menjadi Symphony yang sangat merdu, harmoni berjalan selaras dengan tempo searah.

Kami berdua terkejut oleh secercah cahaya yang bersinar dari pepohonan. “Alpha apa itu?” Trheisya ketakutan, dia menggenggam kuat tanganku, kami bergandeng tangan berjalan menuju cahaya yang berwarna-warni yang selalu berubah corak warnanya itu, aku berdiri tepat di depan cahaya itu dengan Trheisya yang menggenggam tanganku sangat kuat, wajahnya menyiratkan ketakutannya “tenangkan dirimu, ini hanya fenomena alam.” Aku menenangkannya. “tapi aku takut.” Jawabnya. Tiba-tiba cahaya yang tadinya bercorak warna yang tak beraturan kini berubah menjadi sebuah Visual yang jelas, itu sebuah hutan, hutan yang kulihat di mimpiku, tidak ini bukan hanya sebuah Visual, ini sebuah gerbang, gerbang menuju hutan yang sangat indah, hutan yang kemarin terbakar di mimpiku ternyata benar-benar ada, benar-benar nyata terbuka lebar di depanku. Trheisya melepas genggamannya dan mengangkat kakinya menuju Gerbang itu, Gerbang cahaya seperti hologram itu, dia menuju hutan yang ada dalam mimpiku, aku pun mengikutinya dari belakang. Hutan yang indah ini adalah Kenyataan…

Cerpen Karangan: Aditia
Facebook: https://www.facebook.com/aoi.a.reita
Cuma manusia biasa, penghayal, pecinta halusinasi, dulunya sering berbohong -_-

Cerpen Alphaterrania (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Amak (Pria Bercinta)

Oleh:
Kisah ini dimulai dari anak yang tinggak di kampung mekar jaya, anak ini bernama “Ahmad nursidiq alwi”. Tetapi orang sering bilang dengan sebutan “amak”. Amak adalah salah satu murid

Realita dalam Sebuah Fatamorgana

Oleh:
Hai, namaku Salsabila Intan. Kalian bisa memanggilku Bila. Rambutku panjang terurai. Biji mataku kelam, sekelam hidupku saat ini. Kata kebanyakan orang wajahku cantik. Walau kecantikanku ini hanya disebut ‘kembang

Indera Keenam

Oleh:
Embun pagi masih berbaring di kelopak-kelopak mawar. Wangi bunga-bunga di taman berpadu dengan bau rerumputan. Kicauan burung-burung pun terdengar dari jauh. Sungguh pagi yang indah. “Hi, Zack!” Seorang mahasiswi

Dia Yang Ku Sayang

Oleh:
Waktu pertama kali aku kenal dia waktu aku baru menjejakan kaki di smp 5.. Waktu itu aku tak tau mengapa aku sebenci itu pada seorang lelaki yang bernama avan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Alphaterrania (Part 1)”

  1. keren ceritanya 🙂
    trus berkarya

  2. shina says:

    bagus ceritanya.
    mau numpang nanya nich! lo kirim cerpen proses dimuatnya berapa lama sich? solanya hubungin bagian admin gak ada respon,
    tlong balasannya ya, thnx u

  3. Aditia says:

    maaf ya baru bisa bales sekarang…
    @pera: thanks udah comment dan baca

    @shina: lama banget udah hampir setahun kayanya, ini aja baru liat ternyata cerpen saya di aprove… thanks ya

  4. Nurmasari says:

    Ditunggu kelanjutannya. Bikin penasaran… salam kenal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *