Amanah Dari Kedua Orangtuaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 21 March 2016

Rasanya memang sakit ditinggal seorang yang dicintai. Walaupun dia bukan pacarku. Tetapi dia selalu membuatku baper dan melayang-layang. Dia adalah cinta pertamaku. Kini aku masih duduk di bangku SMP. Dan hari ini adalah hari terakhirku melihat dia. Bel pulang pun berbunyi. Rifki mulai menjabat tangan kepada semua teman-teman sekelas dan para sahabatnya, iya Rifki adalah cowok yang ku ceritakan bahwa ia cinta pertamaku. Dan sekarang tibalah saatnya ia berjabatan denganku. Tapi sebelum berjabatan, ia menatap mataku dalam-dalam.

“Dena mungkin aku akan pindah ke luar kota tapi cintaku padamu tak akan pindah ke lain hati,” katanya.
“Maksudmu, apa yang kamu katakan?” jawabku dengan suara lirih. “Apakah dia juga merasakan apa yang ku rasakan selama ini?” batinku tak percaya.
“Benar kamu tidak tahu maksudku, aku memendam perasaan sejak dulu kalau aku menyukaimu. Aku juga tahu kamu sering ngelihatin aku, tapi aku pura-pura gak tahu. Biar bisa dilihatin terus sama kamu dan sekarang aku ingin menyatakan perasaanku kepadamu kalau aku benar-benar mencintai, apa kamu mau terima aku jadi pacar kamu?”

Tatapan matanya yang penuh harapan membuat jantungku berdegup kencang tak karuan. Aku bingung ingin menjawab apa, di satu sisi aku sudah menyukainya sejak dulu dan perasaanku padanya tidak akan berubah, aku sangat mencintainya. Tapi di sisi lain aku dapat amanah dari kedua orangtuaku jikalau aku tidak boleh pacaran sebelum aku kerja atau kuliah mana mungkin aku melanggar amanah itu. Aku bingung harus menjawab apa. Akhirnya dengan terpaksa aku menjawab pertanyaan itu.

“Kamu geer banget sih aku ngelihatin kamu bukan berarti aku suka sama kamu, aku cuma sekedar kagum sama kamu apalagi kamu paling pinter di kelas.” jawabku disusul senyum tipisku untuk meyakininya, di saat ku berbalik untuk pulang dan teman-temanku pun juga sudah pulang semua setelah berjabat tangan. Tapi tiba-tiba Rifki berkata yang membuatku tak kuasa menahan air mata. “Bibir memang berkata seperti itu, tapi aku yakin bahwa hatimu berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh bibirmu,” jawabnya lagi. Aku menghentikan langkah kakiku dan tanpa sadar aku meneteskan air mataku, dia menghampiriku. “Jawablah pertanyaanku dari hatimu.” katanya yang sangat yakin bahwa aku juga mencintainya.

“Maaf,” kataku.
“Ayolah jawab pertanyaanku, langsung dari hatimu,” lagi-lagi dia menatapku dengan berharap agar aku menerimanya.
“A..aa…kuuu.. Sebenarnya memang mencintaimu,” jawabku terpatah-patah.
“Sudah ku duga itu,” katanya dengan pasti.
“Tapi, Rif. Aku belum boleh pacaran. Itu adalah amanah dari kedua orangtuaku. Untuk tidak pacaran sebelum aku lulus kuliah.” air mataku menetes lagi.
Rifki terdiam, dan tidak menatapku lagi. “Ini dia yang ku takutkan jika aku berbicara yang sebenarnya pasti kamu akan..” dia langsung memotong pembicaraanku.
“Iya aku ngerti kok, memang tidak baik untuk melanggar amanah apalagi dari kedua orangtuamu.” kedua tangannya sambil memegang pundakku.

“Maaf..” aku mengulangi kata itu lagi.
“Tidak apa-apa kan kita masih bisa berteman seperti biasanya. Tapi kamu harus ingat selalu di hatiku dari waktu kita MOS sampai sekarang itu hanya ada kamu,” jawabnya.
“Makasih kalau kamu bisa ngertiin aku, iya kamu adalah teman terbaikku yang singgah di hatiku,” kataku dengan senyuman lebar. “Sama-sama.” dia juga tersenyum lebar. Kita selalu berkomunikasi melalui chattingan. Walaupun hanya lewat chat tapi itu membuatku senang jika mendapatkan chat darinya. Walaupun bukan pacar tapi menjadi teman juga tidak kalah menyenangkan.

The End

Cerpen Karangan: Azzahra Dinda Maharani
Facebook: Azzahra Dinda Maharani
Aku bersekolah di SMPN 3 WONOGIRI. Saat ini hobiku adalah membaca cerpen, dan berlatih membuat beberapa cerpen.

Cerpen Amanah Dari Kedua Orangtuaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Percayalah

Oleh:
Di ujung tempat melihat langit yang dulu kita lihat berdua, di mana tempat itu yang pertama kali mempersatukan kita. Canda, tawa sudah kita lalui di tempat yang begitu tak

Pelangi dalam Hujan

Oleh:
‘pelangi di bukit senja’ Pagi itu ashilla berjalan tak tentu arah dibawah derasnya hujan yang melanda kota minggu itu. Ketika ashilla terus menikmati perjalanannya dibawah hujan tanpa peneduh apapun,

Chemistri Cinta Adit

Oleh:
“Fire, fire, fire dduduudduuud” suara BBM adit terdengar. dia masukan nomor kode HPnya dan membuka BBM, ternyata dia adalah ely nurjannah yang akrab dipanggil kak elen. Adit temukan Kak

Terima Kasih Telah Mengajari Ku

Oleh:
Aku, aku yang telah layu bahkan kering tanpa dirinya. Dia pergi menikah dengan wanita lain, aku sangat terpukul. Dan aku hanya bisa menangis menangis dan menangis di setiap waktu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *