Amazing Butterfly (When The Caterpillar Fly 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 28 January 2014

“Kenapa aku baru menyadari kalau kupu-kupu itu indah?”
–Ari

“Reina…” Nama itu langsung terlontar dari mulutku saat aku melihatnya berdiri dengan jarak kurang dari satu meter.

Kepalanya berputar cepat ke belakang, menatapku penuh kebingungan. Terlihat sedikit kerutan di keningnya. Seperti berusaha mengingat sesuatu dan aku yakin sesuatu itu adalah diriku. Kebingungan dan rasa penasaran semakin terlihat jelas di wajahnya.

“Mungkin kamu lupa, tapi aku mengucapkan terima kasih yang tak terhingga” Tambahku. Dan dalam detik yang sama aku merasa sangat bodoh. Untuk apa aku mengeluarkan kata basa-basi seperti itu? Harusnya aku langsung memperkenalkan diri, tak perlu berlagak misterius seperti ini.

Alhasil, Reina semakin menatapku dengan tatapan bingungnya. Tatapan bingung itu sangat menyenangkan. Aku semakin ingin berlama-lama menatap bola mata hitam itu dalam kebingungan.

“Terima kasih? Untuk apa?”

“Karena kamu telah merealisasikan impian adikku satu-satunya” Jawabku

Jujur saja, ini sama sekali bukan kebiasaanku. Aku tak menyukai hal basa-basi dan bertele-tele seperti percakapan ini.

Bola matanya membesar. “Ari?” Ucapnya terdengar hati-hati

Ekspresinya berubah. Ia terkejut. Tapi aku hanya mengulas senyum untuk merespon pertanyaannya. Dan bibirku semakin mengembang saat matanya kembali memancarkan kebingungan.

“Ari? Kakak laki-laki Fiko?” Tanyanya lagi

“Iya” Aku sedikit menganggukkan kepala

“Kakak laki-laki Fiko teman kecilmu?” Terdengar suara lain di sela-sela anggukkanku

“Iya, kenalkan ini Ari, kakak Fiko” Reina sedikit melangkah ke kiri, berusaha untuk tidak menghalangiku dari pandangan wanita dan lelaki separuh baya di belakangnya.

“Kenalkan, saya Ayah Reina dan ini istri saya” Ucap ramah lelaki separuh baya itu sambil mengulurkan tangannya kepadaku

“Saya Ari” Balasku dengan sedikit menundukkan kepala, dan tak lupa membalas uluran tangannya

“Dan aku Artan” Tambah lelaki yang sedari tadi diam menatapku

“Ari” Balasku singkat sambil menyalami tangannya yang terulur ke arahku

Belum sempat aku membuka mulut untuk menanyakan sesuatu yang membuatku penasaran, tiba-tiba handphone dalam saku celanaku berdering. Sejenak aku melihat nama yang tertera. Amira, adik sepupu yang merangkap menjadi sekretarisku. Dengan cepat aku menggeser layar itu ke arah yang tak seharusnya. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk mendengar omelan Amira agar aku segera kembali ke kantor.

Sekilas aku melirik jam digital yang terdapat di bagian atas layar handphoneku. Baiklah waktuku habis.

“Maaf, saya harus pergi” Pamitku sopan

“Tak ingin melihat ke dalam?” Tawar Reina

“Mungkin lain waktu, tapi aku janji akan mengelilingi Mall tumbuhanmu ini”

“Ini bukan Mall-ku” Protesnya

Aku tertawa ringan. “Ya tetap saja, tapi aku benar-benar harus pergi, ada pertemuan penting yang harus kuhadiri. Selamat atas keberhasilanmu” Ucapku sambil mengulurkan tangan ke arah Reina

“Terimakasih” Balasnya. Tangan kami bersalaman singkat setelah itu ia menarik tangannya kembali. Ada perasaan asing yang menderaku. Tidak! Ada apa ini?

Setelah bersalaman dengan kedua orangtua Reina dan juga Artan -yang mungkin kekasih Reina- aku sedikit menundukkan kepala “Saya pergi dulu.” Pamitku kesekian kalinya. Kemudian badanku berbalik hendak menjauh.

“Hati-hati”

Refleks aku membalikkan tubuhku kembali. Hati-hati? Untuk apa Reina mengucapkan kata itu? Ah ya, pasti hanya untuk sopan santun.

Aku menatapnya tanpa ekspresi. Ia hanya membalas dengan senyuman. “Sampai jumpa lagi” Kataku. Tanpa menunggu balasannya, aku berbalik dan melangkah menjauh menembus keramaian.

Kalimat yang kulontarkan barusan bukanlah sekedar kata-kata biasa, tapi itu janji. Ya, aku akan berjumpa lagi dengannya. Entah kapan. Tapi akan kupastikan kami akan berjumpa lagi.

Mall tumbuhan itu benar-benar sangat berdampak bagi kota ini. Semua orang penasaran dengan ide dan desainnya yang unik. Menurut beberapa orang ini adalah terobosan terbaru untuk membangun kota yang lebih hijau dan ramah lingkungan. Baiklah, dampak positif dari mall itu memang sangat banyak tapi tentu saja tidak meninggalkan dampak negatifnya. Ya, macet! Sudah lebih dari 10 menit mobilku tak bergerak sedikit pun. Kulirik jam tanganku. 15 menit lagi meeting akan dimulai dan aku terjebak macet.

Alarm peringatan di otakku mulai berbunyi. Kenapa aku tidak memperkirakan tentang kemacetan ini sebelumnya? Dapat terlihat jelas bayangan Amira yang kebingungan menungguku. Lebih baik aku harus mengabarinya tentang hal tak terduga ini.

“Apa anda sengaja melewatkan meeting ini, Pak Ari?” Sindirnya langsung tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu

Aku mendengus kesal. “Aku terjebak macet, benar-benar padat dan mobilku tidak bisa bergerak sama sekali”

“Lalu?” Nada Amira di seberang benar-benar tidak bersahabat

“Aku tahu ini sangat berisiko Amira, tapi aku akan menyelesaikan semuanya. Bilang pada mereka untuk menunggu”

“Menunggu katamu? Tidak ada orang yang suka menunggu!”

Aku sedikit menjauhkan handphone-ku dari telinga. Lalu kuhembuskan napas perlahan sejenak. “Kamu lebih cocok menjadi bosku daripada sekretarisku” Balasku sambil mendekatkan ke telinga

“Dan anda adalah bos paling beruntung karena memiliki sekretaris seperti saya Pak Ari” Sindirnya lagi

Dasar wanita! Sangat pintar mengeluarkan sindiran-sindiran halus.

“Akan kuusahakan sampai tempat waktu…”

“Harus! Bukan diusahakan!” Potongnya cepat

“Baik Nona Amira!” Godaku mengakhiri

Entahlah. Aku merasa seperti bukan atasan jika berhadapan dengan Amira. Tapi dia benar, aku beruntung memiliki sekretaris cerdas dan bertanggung jawab seperti dirinya. Selain itu, dia jugalah salah satu orang yang dapat menghadapiku, kecuali kedua orangtuaku tentunya.

Handphoneku kembali berdering. Amira.

“Ya?”

“Keberuntungan memang selalu di pihakmu” Balasnya

“Apa maksudmu?”

“Mereka menunda meeting menjadi besok lusa”

Aku tertawa ringan mendengarnya “Aku tahu, I’m a lucky man!”

“Ya, silakan juluki dirimu sendiri sesuka hatimu, aku tak akan peduli”

“Lusa aku akan menjadi orang pertama yang hadir di meeting itu sebelum mereka datang” Ucapku penuh keyakinan

“Sudahlah, banyak pekerjaan yang harus kukerjakan. Sampai jumpa”

Aku tersenyum kecil. Takdir memang selalu berpihak padaku, sepupu manis!

Bagaimana tidak? Selama ini hidupku nyaris sempurna. Aku dilahirkan di keluarga baik-baik dan ternama. Kemampuanku juga tidak bisa diremehkan dalam berbagai hal, tak salah Papa mewariskan perusahaannya kepadaku. Dari berbagai macam kelebihan yang kumiliki, aku menyadari beberapa kelemahanku. Keras kepala dan sikap tak acuhku kepada sekitar yang sering membuat orang lain tak ingin di dekatku. Termasuk wanita, selama ini perjalanan cintaku tak semulus karirku. Dari sekian banyak wanita yang memasuki hidupku adalah tipe wanita yang sangat haus akan perhatian. Dengan kepribadian dan kesibukanku yang seperti ini membuat mereka tak mendapat apa yang mereka inginkan. Ya, perhatianku lah yang mereka inginkan.

Bahkan selama ini aku tak pernah merasakan cinta kepada mereka, yang kurasakan hanyalah tertarik. Bukankah tertarik dan cinta memiliki arti yang berbeda? Walaupun aku tahu tak terlalu banyak perbedaan dari dua kata tersebut tapi tetap saja aku tak pernah merasakan gugup, salah tingkah apalagi jantung berdetak tak karuan saat bersama mereka.

Aku mendengus kesal. Kenapa tiba-tiba aku memikirkan cinta? Banyak hal lebih penting yang harus kupikirkan daripada memikirkan cinta. Toh, selama ini aku masih bisa hidup dengan baik tanpa cinta.

Suara klakson membuyarkan lamunanku. Membuatku tersadar telah tercipta jarak antara mobilku dan mobil sedan di depanku. Tanpa berpikir panjang aku menginjak gas untuk melenyapkan jarak tersebut.

“Aku makan siang di luar” Ujarku pada Amira yang masih sibuk dengan komputer di depannya.

Setelah meeting dengan para investor selama beberapa jam, perutku berteriak meminta asupan makanan. Terlintas rencana di otakku untuk mencari makan siang di Mall tumbuhan Reina. Siapa tahu aku bertemu dengannya?

“Dimana?” Amira beralih menatapku

“Aku akan memilih salah satu restoran di Mall tumbuhan di daerah selatan”

“Mall tumbuhan? FI-Green Mall maksudmu?” Tawa Amira meledak mendengar sebutanku untuk Mall itu. “Bukankah kamu sudah ke sana kemarin lusa?” Tambahnya

“Lalu kenapa? Apa aku tidak boleh kesana? Aku adalah kakak dari bocah lelaki pencetus ide brilian Mall itu” Balasku

“Ya, dan aku adalah sepupu dari bocah lelaki itu”

Aku tertawa ringan. “Dan intinya kita adalah keluarga Fiko”

Amira menatapku. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. “Aku merindukannya”

Aku tersenyum getir mendengar ucapan lirih Amira. “Aku juga sangat merindukannya, seandainya dia masih di sini bersama kita semua, aku yakin sekarang dia adalah mahasiswa arsitektur di salah satu universitas ternama” Pandanganku menerawang jauh.

“Pokoknya aku akan membangun Mall tumbuhan di kota ini!”

“Kakak, lihatlah! Ini adalah gambar untuk Mall tumbuhanku nantinya. Indah kan?”

“Kak, pasti sangat menyenangkan bila berada di dalam Mall tumbuhan”

Teriakan antusias Fiko terngiang-ngiang di telingaku. Aku sangat mengingat betapa berbinarnya mata adik laki-lakiku itu saat membicarakan Mall tumbuhannya. Aku tak membayangkan betapa bahagianya jika ia masih hidup saat ini. Mall tumbuhan yang awalnya kukira hanya imajinasi anak-anak belaka, kini berwujud nyata. Mall itu berdiri dengan kokoh dan rindangnya.

“Boleh aku ikut denganmu?”

Aku menatap Amira. Matanya berkaca-kaca, tapi dengan cepat ia menghapus buliran air di sudut matanya sebelum buliran itu jatuh di pipinya.

“Aku ingin merasa kehadiran Fiko di Mall itu” Tambahnya

Aku memejamkan mata sejenak. “Tentu saja”

Langkahku dan Amira terhenti saat memasuki Mall tumbuhan. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Hanya satu kata yang ada di otakku. Indah. Ya, jika ada kata yang mampu mendeskripsikan lebih dari indah, aku pasti menggunakan kata itu untuk menggambarkan Mall tumbuhan ini.

Rancangan bangunannya benar-benar sempurna. Mall ini tak meninggalkan kesan modern. Terdapat sebuah bola-bola lampu yang menggantung di langit-langitnya dan untuk ubin menggunakan keramik putih tulang sehingga menambah kesan bersih. Pepaduan warna setiap properti di Mall ini benar-benar sesuai. Tak salah mereka menyebut ini sebagai terobosan terbaru.

Aku merasa sangat bangga kepada Fiko. Tapi di lain sisi aku juga merasa sangat kagum pada Reina. Meskipun ide ini adalah milik adikku, tapi dia telah mengembangkan ide itu menjadi sedemikan hebatnya. Aku harus menemuinya lagi dalam waktu dekat ini. Ada banyak hal yang perlu kutanyakan padanya, termasuk bagaimana dia bisa mengetahui impian adikku itu.

“Apa kamu pernah bertemu dengan Reina? Katanya dia yang mendesain Mall ini”
Tanya Amira

“Aku sudah bertemu dengannya 2 kali”

“Benarkah? Aku ingin sekali bertemu dengannya” Amira benar-benar excited

“Ya, tapi aku tak yakin dia ada di sini sekarang” Jawabku sambil berjalan

“Bagaimana kalau kita bertanya pada bagian pengurus Mall ini? Mungkin mereka tahu di mana kita bisa bertemu dengan Reina” Usul Amira saat berhasil menyamai langkahku

“Menurutku ide yang bagus…”

“Dindaaa!!!”

Belum sempat aku meneruskan ucapanku, Amira meneriakkan nama seseorang dengan sangat kencang. Seorang wanita dengan beberapa tas belanjaan di tangannya berjalan ke arah kami dengan wajah sumringah.

“Amira? Hai bagaimana kabarmu? Sangat lama kita tak bertemu” Wanita bernama Dinda itu memeluk erat Amira.

“Baik, oh aku sangat merindukanmu. Bagaimana kalau kita memilih salah satu tempat nyaman di sini?” Amira menguraikan pelukannya

Dinda melirik canggung ke arahku.

“Ari, kakak sepupu Amira” Ujarku sambil mengulurkan tangan kananku

“Dinda” Balasnya

“Ari, apa kamu ingin bergabung dengan kami?” Tawar Amira

“Tidak, aku tak ingin menganggu reuni kalian” Kelakku cepat. Tentu saja aku tidak akan bergabung dengan dua orang teman lama yang tak pernah bertemu ini. Aku sudah dapat membayangkan betapa ributnya mereka dan aku sama sekali tak ingin berada di antara keributan itu.

“Baiklah, aku akan meneleponmu nanti”

Amira dan Dinda melangkah menjauh. Dan aku melanjutkan langkahku ke arah yang berlawanan dari mereka. Di tengah langkah kakiku, aku menimang-nimang menu apa yang sepertinya menarik untuk makan siangku hari ini. Langkahku berhenti di depan restoran bernuansa Jawa. Beberapa menu yang tertera membuat perutku semakin berontak. Sepertinya lezat.

“Ari..” Panggil seseorang

Aku setengah terkejut saat mengetahui pemilik suara itu. Ia tersenyum ke arahku.

“Reina..”

Kami memilih restoran bernuansa Jawa itu sebagai tempat ngobrol kami. Sekalian makan siang, pikirku. Setelah memesan beberapa menu, pelayan pergi meninggalkan kami berdua. Hening, sesaat.

“Senang bisa bertemu dengamu lagi” Kataku memulai pembicaraan

“Ya” Reina mengangguk pelan

“Kamu tidak bekerja? Atau kamu meliburkan diri?” Tanyaku menyadari pakaian yang dikenakannya sangat santai.

“Menurutmu?” Tanyanya balik “Aku hanya mengenakan kemeja putih polos dan jeans biru tua”

“Kamu masih bisa bersantai? Bukankah banyak sekali orang yang ingin menggunakan jasamu? Mengingat keberhasilan Mall tumbuhanmu ini”

Ia mendengus pelan. “Bukankah sudah kukatakan Mall ini bukan milikku, aku hanya dalangnya saja” Reina tersenyum samar “Kalau masalah kerja, memang benar. Ada beberapa proyek yang menunggu tapi aku meminta free selama satu minggu setelah proyek Fi-Green Mall ini” Jelasnya

“Sepertinya kamu menikmati pekerjaanmu” Komentarku

“Tentu saja. Memang pada awalnya arsitek dan FI-Green Mall adalah impian Fiko, tapi aku sekarang sadar itu adalah impianku juga”

Aku memajukan tubuhku. Sangat tertarik dengan apa yang dibicarakannya. “Darimana kamu tahu tentang impian Fiko?”

Reina menghela napas sejenak. “Kamu masih ingat pertemuan awal kita? Sepuluh tahun yang lalu di taman?”

Aku mengangguk.

“Itu juga adalah awal pertemuanku dengan Fiko. Ia bercerita betapa inginnya dia melanjutkan sekolah demi impiannya itu. Aku sangat mengingat binar matanya saat ia menceritakan Mall Tumbuhan.” Reina menghela napas sejenak “Pada detik itu juga, aku menyadari betapa hebatnya Fiko, ia baru berusia 10 tahun tapi sudah memiliki cita-cita yang mantap. Berbeda denganku, seorang remaja 17 tahun yang tidak mengerti apapun tentang tujuan hidup. Ayah, Bunda dan Kak Artan…”

“Tunggu dulu” Potongku tiba-tiba. Dia menyebut Kak Artan? Apa telingaku tidak salah dengar?

Reina mengerutkan keningnya. “Ada apa?”

“Kak Artan? Artan adalah kakakmu?” Tanyaku

Ia mengangguk. “Ya, Kak Artan adalah kakakku satu-satunya”

Ada perasaan luar biasa lega yang meneyelimutiku. Hei, ada apa denganku? Tidak. Ini pasti konyol!

“Lanjutkan, ada apa dengan Ayah, Bunda dan kakak laki-lakimu itu?” Tanyaku sedatar mungkin untuk menutupi rasa asing yang bergemuruh di dadaku.

“Mereka berpikir aku tak akan memiliki hidup yang jelas nantinya, aku juga berpikiran seperti itu pada awalnya. Tapi setelah bertemu Fiko, melihat semangatnya untuk mengejar impian dan cita-citanya membuatku tergugah untuk mencari impian dan cita-citaku”

“Bolehkah aku jujur?” Aku meletakkan tanganku di atas meja

Reina memajukan tubuhnya dan ikut meletakkan tangannya di atas meja “Jujur? Tentang apa?”

“Kesan pertama yang kudapat saat bertemu denganmu adalah gadis SMA tengil yang tidak jelas. Tapi aku tak menyangka, gadis tengil itu kini tumbuh menjadi wanita hebat”

Reina tersenyum. “Gadis tengil ya?” Ulangnya “Dan asal kamu tahu, kesan pertama yang kudapat saat bertemu denganmu adalah mahasiswa sombong yang suka merendahkan orang lain”

“Bagaimana bisa kamu menilaiku seperti itu?” Aku benar-benar tak menyangka penilainnya terhadapku seburuk itu “Kamu bahkan tidak mengenalku”

“Ya memang, tapi itulah kesan pertama yang kutangkap darimu” Jawabnya enteng

Aku mengangkat sebelah alisku “Tapi kini penilaianmu sudah berubah, kan?” Pancingku

Ia tergelak. “Aku bahkan belum mendapat penilaian baru tentangmu” Jawab Reina di sisa tawanya

“Ternyata predikat gadis tengil masih cocok untukmu” Balasku sambil tersenyum kecil

Ia hendak membuka mulut untuk membantah, tapi tiba-tiba pelayan datang mengantarkan makanan kami. Setelah meletakkan semua pesanan, pelayan tersebut meninggalkan kami kembali.

“Ternyata benar kata orang, kesan pertama memang penting”

Aku mengangguk setuju. “Kembali ke topik sebelumnya, menurutku kamu termasuk berani memilih arsitektur, beberapa temanku berpendapat arsitektur merupakan salah satu jurusan yang tidak mudah. Bahkan lapangan kerja untuk arsitek di Indonesia pun juga lumayan susah”

“Awalnya aku memang berpendapat seperti itu. Bahkan aku sangat kewalahan mengerjakan tugas yang bertubi-tubi. Benar katamu, dulu aku memang gadis tengil yang pemalas. Jadi bisa dibayangkan betapa hampir gilanya aku mengerjakan tugas-tugas itu” Ia menghirup jus jeruknya sejenak. “Tetapi sekali terjun kita harus terus terjun. Dan setiap mengingat mata Fiko yang berbinar, membuat semangatku yang padam menjadi menyala kembali. Fiko memang hebat. Ketika dia sudah tidak ada tapi pengaruhnya masih terasa hingga saat ini”

“Kamu juga hebat” Celetukku tiba-tiba. Aku sama sekali tak menyadari kalimat yang barusan terlontar dari mulutku. Bodoh! Sejak kapan mulutku tak dapat berkompromi seperti ini?

“Justru kamu yang hebat, kamu kakak yang hebat” Balasnya

Mataku menatap bola mata hitamnya. Reina Deanessa. Nama itu terdengar sangat menenangkan bagiku. Ya, ini konyol memang. Bagaimana bisa aku merasa sangat nyaman di dekatnya seakan-akan kami ini adalah teman lama? Bahkan ini baru pertemuan ketiga kami. Pasti ada yang salah dengan diriku!

Pipi Reina bersemu merah. Mungkin karena tatapanku yang terlalu intens terhadapnya. Aku berdeham sejenak untuk mengurangi kecanggungan ini. “Lebih baik kita makan, sebelum dingin”

Ia hanya mengangguk pelan lalu melahap makanan yang telah dipesannya.

Sudah hampir satu bulan aku tidak bertemu Reina. Kenapa seperti ada yang salah dengan diriku saat aku memikirkan Reina? Jantungku berdegup kencang saat mengingat wajahnya. Apa ini cinta? Tidak! Semua ini kurasakan pasti hanya karena Reina adalah seseorang yang sudah mewujudkan impian Fiko.

Apa ini juga akan kurasakan bila orang itu bukan Reina? Apakah aku juga akan merasakan hal yang sama pada orang itu? Entahlah. Mungkin ini hanya rasa sementara.

Tiba-tiba sosok Amira muncul dari balik pintu.

“Orang yang kujanjikan sudah datang” Ujarnya seraya membuka pintu lebar-lebar

Refleks aku berdiri dari dudukku. Setengah terkejut dan tidak percaya.

“Kenapa ekspresimu seperti melihat hantu?” Tanya sosok itu sambil memasuki ruanganku

“Seperti itulah bos kami, saya akan membuatkan anda minuman. Silakan duduk” Amira berkedip sekilas kepadaku sebelum meninggalkan ruangan.

“Mengapa kau ada di sini?” Tanyaku sedatar mungkin

Reina mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu? Aku diundang untuk datang ke sini, kata sekretarismu kamu memintaku untuk membuat rancangan bangunan perusahaan kalian yang baru?”

Bagus! Amira mulai berani melancangiku sekarang. Lihat saja nanti, sepupu manis!

“Ah ya, kalau boleh tahu memang gedung seperti apa yang kamu inginkan?” Tanyanya

“Sebelum membahas ini, aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu”

“Sesuatu?” Reina sedikit memiringkan kepalanya

“Dua Minggu lagi, akan diadakan acara kirim doa untuk 10 tahun meninggalnya Fiko. Apa kamu tidak keberatan untuk datang?” Pertanyaan itu dengan lancar keluar dari mulutku. Sebenarnya aku masih ragu untuk mengundangnya, tapi dipikir-pikir tidak salah juga jika aku mengundang Reina, mengingat begitu berharganya Fiko bagi dia.

“Pasti, akan kuusahakan datang”

Yes! Bocah lelaki dalam diriku seperti berteriak kegirangan.

Hei! Ada apa denganku?

“Baiklah, keluargaku juga sangat penasaran denganmu” Balasku dengan nada senormal mungkin.

Keluarga? Kenapa ucapanku terdengar seperti akan mengenalkan Reina sebagai orang terdekatku? Oh, ini pasti hanya perasaanku saja. Aku memang mulai gila belakangan ini.

“Aku akan menjemputmu pada hari itu, jadi sebaiknya aku memiliki nomor handphonemu” Lanjutku

“Nomor handphoneku? Bukankah kamu yang meminta sekretarismu untuk meneleponku? Otomatis kamu sudah memilikinya”

Amira! Dia benar-benar tak memberitahuku tentang ini.

“Ah ya, pasti sekretarisku menyimpan nomormu” Aku menghembuskan napas perlahan, berusaha mengurangi rasa gugupku.

Apa? Aku gugup? Tidak mungkin! Ini pasti hanya perasaanku saja!

“Kami berangkat dulu” Pamit Reina setelah mencium tangan kedua orangtuanya.

“Hati-hati di jalan” Pesan Ayah Reina

“Titip salam untuk keluarga ya, Nak Ari” Bunda Reina menyentuh lembut pundakku

“Iya Bu” Jawabku

Aku dan Reina melangkah ke halaman, tempat aku memakirkan mobil. Tak butuh waktu lama aku segera menginjak gas, melajukan mobilku. Dalam perjalanan tak ada perbincangan yang tercipta. Hening.

Aku berdehem pelan. Dan Reina menoleh ke arahku.

“Sangat jarang melihatmu terdiam seperti ini?” Tanyaku berusaha mencairkan suasana

Ia tersenyum kecil. “Aku hanya sedikit takut”

“Takut? Apa yang kamu takutkan?”

“Orangtuamu” Jawabnya lirih “Masih terbayang kesedihan kedua orangtuamu saat hari meninggalnya Fiko” Reina berhenti sejenak “Sebenarnya, aku adalah orang terakhir yang ditemui Fiko sebelum meninggal” Suaranya berubah serak “Napas Fiko yang tiba-tiba tersengal-sengal di sampingku, tangisan kedua orangtuamu, semua masih terekam jelas”

“Kamu ada di sana saat itu?” Aku menatapnya sekilas

“Aku tak sengaja melihat Fiko di taman rumah sakit saat aku mengantar Bunda menjenguk salah satu temannya. Wajah Fiko terlihat sangat muram” Terdengar hembusan pelan dari mulutnya. “Fiko bertanya padaku, apakah dia akan meninggal, apakah umurnya tak panjang lagi. Aku hanya bisa menjawabnya dengan kata-kata penghibur. Dia juga berkata bahwa dia sangat ingin membanggakan kedua orangtuanya dan kamu, Ari. Tapi takdir berkata lain” Air mata jatuh bebas di pipi Reina.

Aku menepikan mobilku. “Takdir memang tak pernah berada di pihak Fiko. Aku juga tak mengerti apa yang membuat hidupnya menjadi begitu menyakitkan”

“Aku bertanya, mengapa Tuhan mengambil Fiko secepat itu? Padahal ia memiliki cita-cita yang luar biasa” Pandangan Reina menerawang.

“Tuhan memiliki rencana lain, Rei” Ucapku lembut sambil menyentuh bahunya, berusaha memberikan kekuatan. “Fiko pasti bahagia saat ini. Ia pasti sangat berterima kasih padamu karena mewujudkan Mall tumbuhannya”

“Justru aku yang berterima kasih kepada Fiko. Tanpa dia, mungkin aku akan tetap menjadi ulat kecil yang menjijikkan”

Aku menggenggam tangannya. Entah darimana aku mendapat keberanian untuk melakukannya. Tapi tangan itu terasa sangat pas dalam genggamanku. Aku merasa sangat damai.

“Tapi kini kamu adalah kupu-kupu indah yang terbang bebas di hamparan langit biru” Ujarku sambil terus menatapnya.

Ia hanya terdiam. Matanya menatap tanganku yang menggenggamnya. Lalu ia beralih menatapku. “Dan aku akan berusaha agar kupu-kupu itu terus terbang tinggi” Jawabnya mantap.

Aku hanya tersenyum mendengarnya. “Aku akan ada di samping kupu-kupu itu”

“Ketika waktu terus berputar, maka saat itu juga bersiaplah untuk menyambut bab-bab baru kehidupan”
-Reina

“Happy Birthday, Fiko” Bisikku sambil meletakkan serangkaian bunga pada gundukan tanah di hadapanku. “Aku sangat merindukanmu, anak hebat! Semoga kamu selalu damai di sana”

Angin pagi menerpa wajahku. Membuat tatanan rambutku sedikit berantakan karena sapuannya. “Terima kasih untuk semuanya Fiko” Gumamku lagi

“Happy birthday, adik superku” Ucap sosok lain yang tiba-tiba berdiri di sampingku.

Aku hanya tersenyum kecil mendengarnya. Sosok itu menggenggam tanganku erat, membuatku beralih untuk menatapnya.

“Fiko pasti senang melihat kita” Ujarnya

“Ya, aku tahu itu” Jawabku pelan

“Ayo!”

“Ayo? Kemana?”

“Oh Reina, kamu pasti tidak melupakan janji kita pada teman Mama untuk mencoba baju pengantinmu kan?” Tanya Ari

Untuk kesekian kalinya, senyuman terukir di bibirku. “Tentu saja tidak, tapi bukankah masih satu jam lagi?”

“Sudahlah ayo kita berangkat sekarang, aku tak sabar melihatmu mengenakan baju pengantin itu” Desaknya

“Ternyata kamu lebih cerewet daripada Bunda” Godaku sambil menariknya untuk berjalan

“Dan kamu lebih tengil dari yang kukira”

“Hei! Apa yang kamu bilang?!” Teriakku. “Aku bukan gadis tengil lagi sekarang!”

Ari tertawa. “Baiklah, sekarang kamu adalah amazing butterfly yang akan menghiasi hidupku”

“Ish, rayuan macam apa itu” Komentarku sambil memutar bola mataku sekilas.

“Berhenti memutar bola matamu seperti itu, Nyonya Ari!” Ucapnya dengan nada yang dibuat-buat.

Aku tertawa melihat tingkahnya. Benar, kebahagiaan akan tiba pada waktunya. Dan kini aku siap memenuhi lembar-lembar baru kehidupanku dengan menambah satu pemeran utama di dalamnya. Aku dan Ari akan menjadi pemeran utama dalam buku kehidupanku sampai lembar terakhir. Sampai tertulis kata ‘tamat’ dalam lembar tersebut. Tapi satu hal, cerita tentang kami boleh saja selesai tapi cinta kami tak akan mengenal kata tamat.

‘Terima kasih Tuhan’

Cerpen Karangan: Ifarifah
Blog: www.ifarifah.blogspot.com

Cerpen Amazing Butterfly (When The Caterpillar Fly 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Memendam Perasaan

Oleh:
Matahari muncul dan menampakkan dirinya, menyinari hari ini dengan senyuman yang merona. Pagi hari yang cerah membangunkan Adelard dari tidurnya, “Kukuruyuk!” terdengar suara ayam berkokok dari halaman belakang rumah.

Arti Setiap Tetesan

Oleh:
Afresia Hani Permata, aku seorang remaja yang duduk di bangku SMA. Aku menyukai seseorang yang bersekolah di SMK namanya Ima, tapi itu bukan nama aslinya itu adalah nama julukanku

Untuk Navisya (Sesal Tak Berujung)

Oleh:
Pagi, Saat itu aku baru saja menyelesaikan masalahku dengan dia, sampai akhirnya aku hanya dapat kesedihan, yah kata “putus” itu selalu menghantui setiap hubungan bukan? dia berkata aku hanya

Perjuanganku Terbalas (Part 2)

Oleh:
“Fan mau nyanyiin lagu apa?” Tanyaku menatap refan. “Terserah kamu aja” “Jamrud judulnya pelangi di matamu, gimana?” Tanyaku lagi. “Boleh, kebetulan aku juga hafal kunci gitarnya” balasnya balik menatapku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Amazing Butterfly (When The Caterpillar Fly 2)”

  1. ReinAve says:

    Tanda bacanya masih belum lengkap thor…
    But good story anyway

  2. Indah says:

    Ceritanya bener bener menginspirasi. Aku jadi terharu ngebaca ini. Makasih juga ya jadi buat dorongan aku untuk byak belajar 🙂

  3. lidya says:

    ceritanya bagus, but ada sedikit masalah, tokoh “aku” di begian pertama dan kedua kenapa berubah orang ya,, harusnya di konsistenin aja, ceritanya hampir mengalir nyata tp pas ganti tokoh Aku nya jd sedikit buyar heheh,, anyway oveall good,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *