Ambivalensi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 August 2016

“Permisi, Pak. Apakah, Bapak memanggil saya?,” tanya Yoru kepada Pak Tadashi.
“Iya. Silahkan duduk!”
Yoru pun duduk sesuai dengan perintah Pak Tadashi.
“Jadi begini, Bapak rasa murid Bapak membutuhkan bantuan kamu untuk mengarang lagunya. Memang, kamu bukanlah seorang pengarang musik. Melainkan, pengarang novel. Tapi, Bapak rasa kamu bisa membantunya. Mengingat, sebentar lagi ia akan ikut di Kompetisi Nasional.”
“Tapi…”
“Ah! Itu anaknya! Bapak harap, kam bisa membantunya.”
Yoru pun menolehkan kepalanya ke arah belakang seraya jari telunjuk Pak Tadashi yang berputar ke arah orang itu. Seketika matanya tersentak. Ia tidak menyangka, mimpi yang selama ini tidak ia harapkan akhirnya berakhir dengan kanyataan. Mengingat, satu tahun ia berusaha melupakan orang itu.
“Hoshi! Ini dia orangnya.”
Hoshi hanya terdiam saat ia tahu siapa orang yang akan menjadi partnernya.
“Kalian, sudah saling kenal?!,” tanya Pak Tadashi setelah melihat kedua muridnya yang saling bertatapan cukup lama.
“Tidak!,” jawab Yoru dan Hoshi serentak.
“Oh, baiklah kalau begitu. Bagaimana, kalau kalian kenalan dulu?!,” tawar Pak Tadashi.
“Yoru!,” ucapnya dengan mengulurkan tangan.
Mau tidak mau, Hoshi membalas uluran tangan itu dan membalasnya dengan menyebutkan namanya.

“Hoshi, kamu bisa memberikan deskripsi keinginan kamu mengenai lagu yang akan kamu ciptakan kepada Yoru. Bapak akan membantu kalian, sebisa Bapak.”
“Baiklah, Pak.”
Hoshi pun mengambil beberapa lembar kertas. Kemudian menerangkan sketsa pembentukannya sesuai dengan deskripsi dan rencana awal yang ia bangun bersama dengan rekan-rekan bandnya. Endo sang basis, Jire dan drummer, dan Takeda sang gitaris.

“Apakah Takeda bekerja keras selama ini?,” tanya Yoru ragu.
“Yah.. begitulah! Jadi, bagaimana?Apakah kau mengerti?”
Yoru menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia juga menerangkan sketsanya yang sudah ada di dalam otaknya. Karena hari sudah mulai malam, mereka melanjutkan diskusinya di dalam ruangan studio dengan bantuan seluruh personil baand Milky Waay.

“Hoshi! Bagaimana kalau kita makan. Aduh, aku lapar sekali!,” kata Jire dengan membelai perutnya yang lapar.
“Tahu nih! Apakah kau akan membuat kita mati kelaparan?,” tanya Endo.
“Please…,” kata Takeda memelas.
“Nggak, nggak! Bentar lagi!,” pintanya santau tanpa menatap wajh teman-temannya yang tengah kelaparan.
“Aku tidak akan meneruskan semua ini jikalau kau tidak memberikaan mereka makan!,” ucap Yoru sewot.
“Apa?!!!,” kata Hoshi dengan nada yang mulai meninggi.
Yoru tetap menatap mata gadis itu dengan tegas. Hingga akhirnya, Hoshi hanya bisa menghembuskan nafas beratnya. Lalu, ia mengizinkan semua rekan bandnnya untuk keluar studio membeli makanan yang mereka inginkan.

“Sampai kapan kau akan mementingkan dirimu sendiri?,” tanya Yoru dengan tetap meneruskan karangan tulisannya.
“Setidaknya, aku tidak seegois dirimu,” ucap Hoshi ketus.
“Aku tidak pernah melakukan hal yang mengiksa orang lain.”
“Apakah kau lupa bahwa kau pernah melukaiku? Aku menyesal berada di sekolah yang sama denganmu.”
“Apakah kau peranah terluka karenaku?”
“Apakah kau lupa dengan peristiwa itu?,” tanya Hoshi dengan menatap mata Yoru dengan tatapan yang sangat tajam.
Seketika Yoru terdiam. Ia tak mampu menjawab pertanyaan Hoshi. Bagaimana tidak? Mereka pernah menjalin hubungan satu sama lain sebelum mereka berada di SMA yang sama. Yah.. hubungan yang saling mencintai satu sama lain dengan urutan pertama. Dengan kata lain, cinta pertama. Mereka mencintai satu sama lain dengan kepolosan. Mereka juga mencintai satu sama lain karena iringan waktu yang selalu bersama dengan mereka.
Tapi, tepat pada bulan ke tujuh hubungan mereka. Pada tanggal 16 Desember, Yoru meninggalkan Hoshi tanpa alassan yang jelas. Hoshi terus mencari informasi tentang Yoru bahwa apakah Yoru meninggalkannya karena wanita lain. Tapi ternyata tidak. Bahkan, sampai sekarang pun Yoru tidak pernah berkencan dengan gadis lain. Dan, sampai sekarang pula, Hoshi tidak pernah bisa menemukan alasan Yoru untuk meninggalkannya.

“Kau mau kemana?,” tanya Hoshi saat Yoru beranjak dari tempat duduknya.
“Pergi.”
“Kemana?”
“Bukan urusanmu.”
“Yoru!!!!,” bentak Hoshi.
Yoru menghentikan langkahnya tanpa menolehkan kepalanya ke belakang.
“Katakanlah padaku, kenapa kau meninggalkan aku!”
“Hoshi! Lupakan semuanya! Aku tidak ingin mengungkitnya lagi!”
“Ok. Aku akan berhenti untuk mencari tahu. Dengan syarat, beritahu aku yang sebenarnya.”
“Karena aku sudah tidak mencintaimu.”
“Katakanlah sekali lagi dengan menatap mataku. Maka, aku akan benar-benar pergi tanpa penyesalan apapun. Aku akan berjanji kepadamu.”
Seketika tenggorokan Yoru terasa tercekat. Badannya terasa gemetar. Lututnya terasa lemas. Matanya terasa begitu panas. Jantungnya terasa berhenti untuk berdetak. Nafasnya terasa sesak. Tapi, semuanya berubah.
“Kenapa kau melakukan semua ini?,” tanya Hoshi lembut dengan memegang pundak Yoru.
Yoru masih terdiam dalam bisunya. Hingga akhirnya, Hoshi berjalan ke arah depan Yoru. Matanya tersentak saat ia menatap mata Yoru yang penuh dengan air mata. Hoshi tidak pernah menyangka mengenai hal ini. Selama ini, ia hanya bisa melihat Yoru yang kuat. Yoru yang tidak pernah terkalahkan dengan keras kepalanya. Dan, Yoru yang penuh dengan cinta.
“Yoru, jawablah aku. Kumohon!,” pintaa Hoshi dengan nada yang memelas.
“Yoru…,” panggil Hoshi lirih.
Yoru tetap terdiam dalam bisunya. Ia tak mampu mengatakan apapun.
“Yoru… Kenapa? Kenapa kau seperti ini? Kenapa?,” tanya Hoshi di tengah isak tangisnya.
“Kumohon, jawablah aku!,” lanjut Hoshi dengan memukul lemas dadaYoru.
“Maaf…,” ucap Yoru lirih.
“Yoru!,” panggil Hoshi semangat.
“Hoshi! Bisakah kau melupakan aku?!”
Seketika Hoshi tersentak saat ia mendengarkan ucapan Yoru. Selama ini, Hoshi tidak pernah mendengarkan kata-kata Yoru yang begitu kasar dan menyakitkan. Tapi hari ini, semua yang tidak mungkin menjadi mungkin.

“Kau kenapa begitu menyedihkan, Hoshi?!,” tanya Miwa saat melihat sahabatnya berjalan dengan hidung yang merah layaknya tomat badut.
Hoshi tidak menjawabnya. Ia hanya bisa memeluk Miwa dengan sisa isak tangisnya.
“Hoshi…,” panggil Miwa sendu.
“Katakanlah padaku, apa yang telah terjadi?,” lanjut Miwa dengan memegang kedua pipi Hoshi.
Hoshi masih terdiam. Ia tak mau memberi tahu Miwa sahabatnya. Tapi, tatapan Hoshi sudah cukup memberikan jawaban yang ia butuhkan.
“Hoshi! Laki-laki itu sudah tidak bisa kau harapkan lagi. Dia tidak lebih dari seorang pengecut.”
“Tapi, aku masih bisa melihat cinta di mata itu.”
“Hoshi! Hentikan semuanya! Cinta itu buta. Kau sudah dibutakan oleh cinta hingga kau tak mampu mengenali siapa dirimu!”
Hoshi terdiam. Lalu, ia kembali memeluk Miwa yang tengah menatapnya dengan tajam.
“Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin melihatmu menangis seperti ini.”
“Miwa… Gitarku adalah dia. Dia adalah semua laguku. Tatapan seksiku di majalah distro dan mingguan, adalah wujud diriku menatapnya. Tawaku dan sedihku, adahalah suara manjanya. Aku, aku tidak bisa seperti ini terus menerus. Dadaku terasa begitu sakit. Jantungku terasa lepas. Miwa, tolonglah aku. Tolonglah diriku,” kata Hoshi dengan meremas dadanya.
Miwa tak dapat melakukan apapun. Ia hanya bisa membawa Hoshi ke alam pelukannya. Membelai rambut sahabatnya. Menenangkannya dengan sentuhan lembutnya. Mengharap agar ia bisa memberikan kekuatan atau energi untuk sahabatnya.
Tanpa banyak berfikir, Miwa membawa sahabatnya ke dalam rumahnya. Meskipun rumah mereka bersebelahan, Miwa yakin kalau Hoshi tidak akan bisa sendiri dengan kondisinya yang begitu menyedihkan.
“Tidurlah! Aku akan membuatkanmu coklat panas! Jadi, kau bisa tenang.”
“Miwa, Thank You!,” ucap Hoshi dengan senyuman tipisnya.
Miwa, mengangguk mantap dengan senyuman lebarnya. Selama Miwa pergi, Hoshi melihat ke arah jendela luar. Menatap langit biru yang telah mengejeknya atas kecengengannya. Ia merasa malu dengan mentari yang menertawakannya. Hingga akhirnya, ia memutar matanya untuk melihat ke sekeliling rumah Miwa.
“Yoru?!,” gumam Hoshi.
Hoshi menajamkan matanya untuk mengamati Yoru yang tengah berjalan ke arah rumahnya. Hoshipun segera ke luar dari kamar Miwa. Menuruni tangga dan berlari untuk ke luar rumah.
“Hoshi! Kau mau…?”
“Aku akan kembali!,” seru Hoshi dengan melambaikan tangannya.
“Tch! Anak itu, benar-benar gila!”

“Yoru!,” seru Hoshi.
“Hoshi!,” panggil Yoru kaget.
Hoshi tidak menjawabnya. Melainkan, ia melihat ke arah kotak surat di depan rumahnya. Hoshi melangkahkan kakinya ke depan. Terus mendesak Yoru untuk melangkah mundur ketakutan.
“Apa yang kau mau?!,” tanya Hoshi ketus.
“Jawab, aku!!!!,” bentak Hoshi.
Yoru hanya bisa menatp Hoshi dengan tatapan mata yang sendu dan penuh dengan air mata.
“Yoru! Aku selalu mengira bahwa coklat, bunga sakura, dan surat itu adalah hanya dari penggemar yang iseng mengirimkannya setiap hari. Aku juga hany berpikir, bahwa orang yang selalu meminta foto dengan inisial ‘Y’ hanyalah fans yang tak berarti. Hingga aku harus bermuka sombong dan ketus kepada orang itu. Yoru, apakah kau semunafik ini? Ataukah kau memang seorang yang munafik?! Bukankah kau tahu, aku sangat membenci orang yang munafik? Yoru, aku sangat membencimu. Benar-benar membencimu. Tapi, aku juga mencintaimu!!!,” bentak Hoshi.
“Hoshi, terimakasih atas kebencianmu. Bagiku, kebencianmu adalah wujud dari cintamu. Hoshi, aku ingin kau melupakan aku. Tapi, aku tidak pernah menyuruhmu untuk melupakan cintaku. Aku juga tidak pernah menyuruhmu untuk melenyapkan cinta itu. Karena bagiku, aku mencintaimu dengan cara yang berbeda. Bukan berarti aku meninggalkanmu karena hal yang kau sangka. Melainkan, aku ingin melihatmu berada di titik puncak dimana aku tetap ada di belakangmu. Meskipun, kau tak pernah menolehkan kepalamu untuk melihat ke belakang.” Tanpa menjawab, Hoshi memajukan langkahnya. Merentangkan kedua lengannya. Mmeluk Hoshi dalam waktu yang cukup lama. Begitu juga sebaliknya.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)

Nama: Pratiwi Nur Zamzani
TTL: Pasuruan, 4 Juli 1999
Pekerjaan: Reseller dan Editor
Amalat: Jl. Rambutan, Pesanggrahan Selatan, Gg.Masjid Baiturrochim, RT/RW, 05/02, Kel. Gempeng, Kec. Bangil, Kab. Pasuruan, Prov. Jatim.
E-mail: pratiwinrzamzani[-at-]yahoo.co.id
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Hijab Putih)
Prestasi: juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Ambivalensi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rinduku di Ujung Senja

Oleh:
Hal yang paling indah menurutku adalah disaat aku bisa duduk bersamamu. Untuk menikmati senja tanpa ada kesedihan di setiap kebersamaan kita. Karena, aku selalu merasa bahagia saat bisa menikmati

Drama Cinta

Oleh:
“hai teman-teman,” terdengar suara Huda ketua kelas di kelasku menyapa semua siswa yang berada di kelas, mendengar suara itu semua yang berada di dalam kelas menghadap ke Huda semua,

Awalnya Sih Biasa Saja

Oleh:
Rizal.. Orang-orang biasa memanggilku. 15 belas tahun yang lalu, bayi dari keluarga sederhana lahir. Memang pengalamanku banyak, tapi yang paling indah adalah di saat aku pindah sekolah. Aku pindah

The End (Part 3)

Oleh:
Saat Leon akan berjalan menuju kelasnya, Richard berjalan keluar dari ruangan kelas. Tapi tiba-tiba saja, langkahnya goyah. Karena merasa heran, Leon menghentikan langkahnya. Ia melihat Richard yang sempoyongan dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *