An Apple In The Morning

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 21 November 2013

Seperti biasa, setiap pagi aku duduk di depan kelas sambil sarapan sebuah apel. Orang tuaku adalah penjual buah-buahan. Setiap pagi aku harus membantu orang tuaku untuk membuka kios kecil kami. Dan karena itulah aku tidak sempat untuk sarapan setiap harinya. Pagi itu sungguh sangat dingin karena tadi malam hujan turun dengan lebat. Bau rerumputan yang basah menyegarkan hidungku. Hmm.. baunya segar sekali.

“Pagi ini sepi sekali ya?..” ehh, Rio mengagetkanku dari belakang. “tentu saja, ini kan masih pukul 6:40” jawabku sambil makan buah apel. “apel lagi, ya?” Tanya Rio basa-basi seperti tidak tahu kebiasaanku saja. Dan aku pun hanya tersenyum.

Rio bertanya kepadaku mengapa aku selalu datang ke sekolah pagi-pagi sekali dan mengapa tidak sarapan dulu di rumah, malah makan buah apel setiap pagi. Lalu aku menjelaskannya, dia bilang aku hebat. Entahlah, menurutku aku biasa-biasa saja, tentu saja membantu orang tua itu sudah kewajiban kita sebagai anak yang baik.

Meskipun aku bukan termasuk anak yang pandai di kelas, aku dapat mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan baik, meskipun setiap hari harus membantu orang tua. Sebenarnya ibuku adalah single mom, dua tahun yang lalu ayahku meninggal karena serangan jantung. Aku sangat bangga mempunyai ibu yang rajin. Selain harus mengurus rumah tangga juga mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Selain harus menyekolahkan aku yang ada di bangku SMP, ibu juga harus menyekolahkan adikku yang baru mulai masuk Tk.

Entah apa yang berbeda dengan hari ini, ehh… aku baru ingat. Itu kan Rio sedang duduk di depan kelas. Tunggu,… sepertinya ada buah apel di sebelahnya, dua buah. Aku langsung menyapanya dan tertawa. Untuk apa dia melakukan hal yang setiap pagi aku lakukan. Dia bilang dia ingin menemaniku sarapan. Katanya pasti kurang enak jika sarapan sendirian. Aku sungguh terharu dengan apa yang dilakukan Rio.

Selama seminggu ini kami selalu sarapan buah apel bersama di tempat yang sama dan masih buah yang sama. Dari yang dulunya kami tidak mengenal satu sama lain, kini kita lebih menegenal satu sama lain. Aku pikir dia suka aku, ehh ternyata dia hanya simpati saja kepadaku. Sedih sih, sedikit. Tetapi apa yang aku harapkan, aku hanya anak seorang penjual buah-buahan, maksudku “Seorang Ibu yang Hebat”. Itu sudah cukup bagiku.

Minggu berikutnya, sepertinya Rio tidak datang hari ini. Atau dia sudah bosan menemaniku setiap pagi. Tidak lama setelah buah apel pertamaku habis, Rio datang. “sorry telat nih,.. macet jalanan maklum hari senin” sambil tertawa kecil. Aku hanya tersenyum dan menyodorinya buah apel karena sepertinya dia lupa tidak membawa.

“Kamu tahu tidak jika buah apel itu mengandung flavoid? Yaitu zat yang berfungsi menurunkan risiko kanker.” Wah, ternyata Rio banyak belajar tentang apel. “benarkah?” meskipun aku sudah tahu. Tiba-tiba Rio termenung. Aku Tanya dia kenapa tetapi dia hanya diam. Tiba-tiba dia menceritakan kisah yang memilukan. Sebenarnya dia dulu mempunyai seorang adik. Tetapi dua bulan setalah kelahirannya, dokter memvonis adiknya terserang kanker otak. Setahun berjuang melawan kanker, akhirnya waktu itu tiba. Adiknya pergi untuk selamanya.

Aku benar-benar tidak menyangka, disetiap keceriaannya dia menyimpan sebuah kisah yang sungguh sangat memilukan, sama seperti apa yang aku alami saat ayah pergi. Tetapi kita bangkit dan berusaha mengisi hari-hari dengan semangat untuk mereka yang selalu ada di hati kita.

Sepulang sekolah Rio mengajakku untuk membeli buku. Sebenarnya aku menolak, tetapi mengingat kebaikannya setiap pagi, aku akhirnya mau. Entahlah apa yang aku rasakan sebenarnya. Sepertinya aku suka pada Rio. Tetapi aku harus menyimpan rapat-rapat rasa ini. Tentu saja harus. Dia kan sudah punya pacar. Bahkan jauh-jauh dari segalanya melibihi aku.

Setelah membeli buku kita makan siang di sebuah kedai kopi, sepertinya ini tempat favoritnya. Aku sungguh takut melihat tatap wajahnya. Entahlah aku hanya merasa bersalah saja mencintai seseorang yang baik kepadaku. Bukankah sudah cukup dia baik kepadaku, mengapa aku menginginkan lebih? Setelah makanan habis, aku langsung berpamitan dan pergi.

Aku bodoh!! Itulah kata yang pantas untukku. Entah apa yang aku pikirkan. Pasti Rio sangat bingung mengapa aku meninggalkannya begitu saja. Tidak lama aku meninggalkan kedai kopi, Rio memanggilku. Aku pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan langkahku berjalan menjauhinya.

Keesokan harinya, aku putuskan untuk sarapan (makan buah apel) di kios. Ibu bertanya mengapa aku sarapan disini, tetapi aku hanya menengadah memandang langit yang sangat cerah. Setelah selesai aku segera mencium tangan ibu dan berangkat sekolah. Sesampai di kepan kelas sebelah kelasku aku melihat Rio, dia duduk di depan kelas tempat biasa kita sarapan apel. Sepertinya dia menungguku, aku mulai berjalan perlahan merapat dinding tembok menuju ke dalam kelas agar Rio tidak melihatku.

Di kelas, kita tak saling bicara terutama aku. Saat Rio melihatku, aku berusaha mengacuhkannya, hingga akhirnya bel pulang berbunyi. Aku segera beranjak dari bangku dan berlari pulang. Sesampainya di lapangan basket, ternyata sedang ada pertandingan. Aku tahu Rio juga berlari di belakang mengejarku, saat aku berjalan di pinggir lapangan, tiba-tiba bola basket yang begitu besar dan berat menimpa kepalaku.. rasanya, saaakit sekali seperti tertimpa pohon apel saja.

Sontak kepalaku pusing tujuh keliling lalu Rio memapahku ke poliklinik. Setelah membantuku tidur di ranjang piliklinik, Rio mengambilkan aku segelas air putih lalu membantuku untuk minum. Ehh,.. setelah beberapa saat rasanya sedikit lega. Aku berterima kasih kepada Rio, dan beranjak turun dari ranjang. Belum genap kedua kakiku turun dari ranjang, Rio bertanya, “mengapa kamu menghindar dari aku?” aku tidak berani berkata dan hanya diam. Dan akhirnya, dengan sekuat keberanian, aku menjelaskan tentang perasaanku jika dia dekat denganku itu akan melukai perasaanku, jadi aku minta agar dia tidak berbuat baik lagi kepadaku. “Maaf” aku langsung pergi.

Sore harinya, seperti biasa aku membantu ibu berjualan di kios. Tiba-tiba Rio datang, “Sore tante, Erin boleh saya ajak keluar?” aku sudah berisyarat kepada ibu agar tidak membolehkanku pergi, tetapi sepertinya ibu ingin aku bersenang-senang dengan temanku. Uhh.. padahal aku sedang bad mood. Dengan terpaksa aku pergi dengan Rio. “kita kemana?” Rio tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya mengayuh sepeda dengan lebih kencang. Akhirnya kita sampai, ternyata Rio mengajakku ke taman kota yang entah mengapa sore itu sepi, sepertinya sedang mendukung suasana. Kita duduk berhadapan di bawah pohon rindang, membuat suasana hatiku yang bad mood jadi senang.

“Jadi?” “apa?” aku Tanya malah balik tanya, dasar Rio. Dia mulai memegang tanganku, “kamu tahu? Nina itu anaknya baik, cantik, ceria, periang, dan pintar. Ehmm.. kamu pasti juga tidak tahu kalau dia itu adalah sepupuku kan?” aku langsung kaget dan menatap wajahnya. “benarkah” dia tersenyum. “tapi anak-anak bilang kalian pacaran” “itu karena kita sangat dekat, jadi mereka tahunya kita pacaran” aku masih tidak percaya, dan sepertinya aku sangat-sangat bahagia mengetahui hal ini.

“Dan sepertinya aku tahu satu hal” dia menatapku dengan penuh perasaan. “apa” tanyaku penasaran, padahal aku juga sudah tahu. “Will You be Mine, please…” aku tersenyum lebar dan “Yes, I will”. Setiap pagi berikutnya, sebuah apel berdiri tegap di atas ubin depan kelas. Indah rasanya jika setiap rencana berjalan dengan baik dan seperti yang kita rencanakan, tetapi kita juga harus ingat, bahwa manusia hanya merencanakan, tetapi Tuhan yang Maha Kuasa.

Cerpen Karangan: Agus Purnamasari
Facebook: Https://www.facebook.com/lovedba4ever
Aku sayang keluargaku 🙂

Cerpen An Apple In The Morning merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cahaya Untuk Awan Bintang Part 2

Oleh:
Awan mencoba naik ke pinggiran gedung itu. Tangan kanannya kupegang, takut dia kenapa-kenapa. “Bintang. Kamu foto aku yah!!! Tapi agak munduran!” pinta Awan. “Nggak…!” “Bentar ajah bintang, please…!” “Nggak

Ini Ceritaku

Oleh:
Di sini, aku akan menjemput pangeranku. Orang paling spesial di hidupku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Aku tidak ingin kehilangan dan terlambat lagi. Aku sudah berada di bandara sekarang.

Waktu Di Balik Senja (Part 5)

Oleh:
“Ray..” panggil Devan. “Lo gak apa-apa kan?” tanyanya lagi. “Enggak, emang gue kenapa?” “Kenapa kemaren gak masuk? Ada masalah sama Adit? Atau sama Bara?” “Apaan sih, gak ada kok.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *