Anang Si Blontang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 January 2018

Siang ini warung pak Mistad sangat ramai, si “pawang” sekolah ini rupanya sedang kebanjiran rejeki. Sejak Kantin sekolah direnovasi, warung ini jadi idola anak-anak. Bu Mistad kewalahan meladeni para pembeli yang berdesakan melampiaskan kelaparannya. Meski warungya tidak begitu besar dan makanan yang dijual pun tidak begitu banyak. Hanya ada es, gorengan dan bakso yang bisa mengganjal perut para siswa pada jam istirahat.

Lain halnya dengan Zuhri, dia lebih suka duduk dan membaca buku di bawah pohon mangga dekat pagar belakang sekolah. Saat yang lain berjubel berebut makanan di warung pak Mistad, dia lebih memilih untuk sendiri. Suasana rindang kebun itu ditambah semilir angin membuatnya betah berlama-lama di sana.

Entah buku apa yang sedang dia baca, dia kelihatan serius dan kalaupun ada bom meledak di dekatnya sepertinya dia tidak akan menghiraukan. Aku semakin penasaran dengan pemuda yang satu ini, misterius pikirku. Agak ragu rasanya tapi tetap kulangkahkan kakiku mendekat. Tanpa basa basi kusodorkan botol yang berisi air dingin di hadapannya. Dia hanya tersenyum dan melanjutkan membaca.

Tak lama kemudian muncul jagoan sekolah menghampiri Zuhri, tanpa permisi langsung melontarkan pukulan ke tubuhnya. Aku terperanjat dan histeris, aku berteriak hingga urat leherku terasa putus, kupanggil siapa saja yang ada di sekitar kebun. Tak lama kemudian Zuhri tersungkur, mulutnya berdarah, buku yang sedari tadi dibacanya kini berhamburan bagai debu gunung berapi.

Tanpa dikomando, para siswa berlarian datang mengerubuti kami. Pak Hadi yang kebetulan berada di lapangan langsung menangkap Anang yang kesetanan menghujani zuhri dengan tendangan dan pukulan bertubi-tubi. Zuhri merintih kesakitan, teman-teman segera membopongnya ke ruang UKS. Sedangkan Anang segera di bawa ke ruang BP untuk disidang.

Aku masih saja menagis, meski Ina datang menenangkanku. Aku khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Zuhri, karena semua ini terjadi karena aku. Anang tidak akan membiarkan kumbang manapun dekat denganku, dia memang kekasihku tapi aku… Aku merasa selama ini menjadi penghuni neraka, aku dikekang dan tak boleh bergaul dengan lelaki manapun meski itu teman satu kelas.

Sudah tak terhitung aku minta putus dari Anang, namun aku selalu gagal. Hanya bogem mentah yang aku dapatkan kalau aku mengatakan hendak pergi darinya, setelah itu dia akan merayuku, memelukku dan mengatakan dia tak bisa hidup tanpaku. Sungguh aku hidup dalam sel tahanan cinta Anang.

Zuhri bangkit dari ranjang tempat dia dirawat, menghampiriku yang masih menangis di sudut kelas. Kulihat luka lebam di pelipis kirinya, sambil memegang perut dia meringis padaku. “Sudah jangan menangis, semua ini bukan salahmu, sebenarnya dari tadi pagi kami sudah terlibat pertengkaran mulut” katanya. Lalu dia bercerita masalah apa yang membuat Anang marah dan tega memukulinya.

Aku semakin bingung dengan cerita Zuhri, dia bilang kalau sebenarnya Anang mengkhianatiku, dia punya kekasih di sekolah lain dan Zuhri tau itu. Saat Zuhri mengingatkan, Anang tidak terima, dia kira kalau Zuhri terlalu ikut campur urusan pribadinya. Ya.. Zuhri dan Anang adalah sahabat karib sejak mereka duduk di bangku SD.

Anang kini duduk di bangku pesakitan ruang BP. Tanpa sedikitpun rasa bersalah. Bu Yunanik selaku guru BP dibuatnya kesal, karena menginterogasinya seperti bicara pada tembok, tanpa jawaban, tanpa reaksi. Bahkan diancam akan di DO pun dia tidak bergeming. Tak lama kemudian Zuhri datang ke ruang BP dan meminta izin untuk berbicara berdua dengan Anang.

Seperti macan yang menemukan mangsanya Anang kembali menghujani tubuh Zuhri dengan pukulan, lalu terdengar “praaakkk” ternyata Anang memukul tubuh Zuhri dengan kursi. Setelah itu Anang kabur dari sekolah dengan melompati tembok pagar sekolah. Para guru dan siswa berhamburan keluar sekolah mengejarnya… Namun dia telah hilang di keramaian jalan.

Tak lama kemudian ambulan datang, Zuhri dilarikan ke rumah sakit, dia terluka cukup parah. Pihak sekolah menghubungi orangtua Anang dan meminta segera menyelesaikan permasalah yang sedang dihadapi anaknya. Orangtua Anang tak henti meminta maaf kepada sekolah dan kedua orangtua Zuhri. Saat itu juga mereka meminta Anang dipindahkan ke Pondok Pesantren.

Seminggu berlalu dari kejadian yang memilukan itu, Zuhri sudah sembuh dan kembali ke sekolah. Aku mulai merasakan hawa kebebasan dari kandang macan. Bunga-bunga yang bermekaran di taman sekolah mewarnai keceriaanku. Aku kembali bergaul dengan semua orang yang ada di sekolah, aku bahagia sekali. Namun dalam hati kecilku aku masih sayang dengan sosok makhluk yang bernama Anang.

Tak terasa sudah dua tahun berlalu dari kejadian pemukulan itu dan sedikitpun tak pernah kudengar berita tentang Anang. Akhirnya aku lulus dari SMA, saat sedang merayakan kelulusan dengan baju penuh coretan dan gelak tawa di depan gerbang sekolah kulihat sosok yang tak asing bagiku, tapi dia mengenakan baju koko dan celana lengan panjang serta memakai peci hitam. Agak ragu kupandangi lagi wajah itu. Anang… ya benar dia Anang.

Aku langsung berlari menghampirinya, tubuhnya kelihatan lebih kurus, tetapi wajahnya berbinar penuh kegembiraan. Hatiku tenang saat menatap wajahnya. “Hai Ani apa kabar” sapanya, “Selamat ya kamu sudah lulus dan aku ke sini ingin meminta maaf atas kejadian dua tahun silam, aku ingin bertemu dengan Zuhri juga dengan semua guru di sekolah ini” lanjutnya. Tanpa terasa air mataku berlarian keluar dari kelopak mataku. Tak kusangka Anang yang dulu brutal kini jadi alim, dan mau meminta maaf atas kesalahannya.

Kuantarkan dia menemuai semua guru di sekolah untuk meminta maaf dan terakhir dia bertemu dengan Zuhri, sambil menangis dia memeluk sahabat karibnya itu. Meminta maaf dengan tulus dan tak lupa mendoakan agar sahabatnya menjadi orang yang sukses, sedangkan dia sendiri akan kembali ke Pesantren untuk melanjutkan studinya.

Tak pernah kuduga Anang dulu bergelut dengan dunia hitam, kini menjadi seputih kapas. Rasa cintaku padanya tak pernah luntur sedikitpun. Teman-teman menjukinya “Si Blontang”. Kini aku mengikuti jejaknya untuk masuk ke pesantren. Berharap suatu saat bisa bertemu lagi dengannya dalam kemesraan yang diridhoi Allah.

Cerpen Karangan: Triyani
Facebook: Triyaninayla

Cerpen Anang Si Blontang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Sadness Hill

Oleh:
Aku memperhatikan mereka berdua. Dari sini mereka tampak begitu jelas untuk di lihat. Dari sini aku dapat melihat bahwa mereka sedang duduk di sebuah bangku kayu. Ya, bangku kayu

Cinta Kita Berbeda Sayang

Oleh:
Aku menatap langit-langit di sudut kamar tidurku. Aku memikirkan betapa aku sangat menyayangimu. Ya, aku tahu kalau hubungan kita ini tidak mungkin sampai lama. Tapi bagaimana caranya, aku tetap

Si Sempe

Oleh:
Kalau biasanya anak cowok susah baget deket sama bokapnya… beda dengan keadaan gue dan kakak-kakak gue ke bokap. Kita justru deket banget sama ayah. Mungkin karena dia orangnya super

PSPH (Part 4)

Oleh:
Dari kemaren, cowok ini rada-rada pedekate sama aku. Oke, sebenarnya sih si Vinsen ini lumayan keren dan kata teman-temanku, baik yang di kelas IPS maupun IPA, dia keren, ganteng,

Selamat Tinggal

Oleh:
Aku masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya orang-orang pikirkan ketika akan menyatakan cinta kepada orang yang mereka kasihi, bagaimana mereka menekan rasa malu mereka dalam menyatakan hal seperti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *