Andi dan Ratih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 11 December 2019

“Andi! Tunggu!” Ratih berseru sembari mempercepat langkah kaki.

Tak ambil pusing, remaja bertubuh atletis yang dipanggil Andi malah mempercepat langkah kakinya menapaki jalan keluar sekolah mereka yang dirimbuni pepohonan penyejuk. Andi bahkan tak menoleh ketika ada seorang siswa memanggil namanya. Siang itu memang teramat panas dan seperti biasanya anak-anak berseragam putih biru terlihat membuat kelompok-kelompok kecil di bawah pohon Trembesi yang ditanam di sepanjang jalan menuju pintu gerbang sekolah. Entah membicarakan apa.

“Andi, please deh! Konyol amat kamu. Ihhh baper!” teriak Ratih tanpa memusingkan banyak mata yang memandangi dirinya yang nampak seperti orang bego berbicara dengan dirinya sendiri. Ratih tampak kesal. Wajahnya cemberut. Baru sekali ini Andi bertingkah seperti ini. Tega amat dia. Ratih jadi cemas.

Di depan gerbang sekolah, Andi menghentikan langkahnya. Sengaja menunggu. Kini malah Ratih yang terlihat ragu untuk membuat beberapa langkah maju mendekati Andi. Baru sekali ini Ratih melihat wajah Andi bagaikan udang direbus.

“Ngapain kamu pake ngejar-ngejar segala, udah kayak tukang kredit aja!” ledek Andi. Nadanya terdengar ketus di telinga Ratih. Sama seperti Ratih, Dani pun tak peduli beberapa teman kelas memperhatikannya. Pemandangan di belakang sekolah tadi sudah menyulut seberkas api di dalam hatinya. Api cemburu. Melihat Ratih berduaan di belakang kelas bersama si buaya Antoni sekaligus anak papa paling brengsek di sekolah mereka, oh my good, Andi benar-benar marah.

“Tunggu Andi, biar kujelasin dulu persoalanya! Semua tidak seperti yang kamu kira Andi!” ujar Ratih setelah memberanikan diri membuat beberapa langkah mendekati Andi.
“Gak ada yang perlu dijelasin lagi di sini!”
“Kamu gak malu ya, dilihatin banyak orang, mending kita nyari tempat lain aja yuk!” Ratih berbisik di telinga Andi
“Ngapain!” Andi membentak Ratih.
“Konyol benar loe Ndi!” balas Ratih sambil menjulurkan lidahnya.
“Dasar play girl loe!” ledek Andi. Ia tak berani mengucapkan perkataanya itu secara lantang. Tak pantas menghina seorang gadis di depan umum seperti itu, pikirnya. Kalimat ini sengaja dibisikan ke telinga Ratih. Imbasnya, justru membuat Dani jadi kelabakan sendiri. Ratih sama sekali tak marah dibilang seperti itu. Malah tertawa sambil berkata, “Ciee ciee ada yang cemburu berat nih. Baper ya, liatin gue tadi!. Udah ah, kayak anak SMP aja loe. Ayo, kita pulang ntar di jalan kuceritain kejadian sebenarnya, biar kamu gak salah paham!”

Andi sendiri keheranan, dia tak bisa menampik ajakan Ratih. Padahal hatinya tengah dibakar amarah. Andi bagaikan sapi ditarik hidungnya ketika Tangan Ratih menarik pergelangan tanganya untuk berjalan meninggalkan sekolah mereka.

Keduanya berjalan bergandengan tangan. Andi, enggan memulai percakapan. Ia sengaja menunggu Ratih yang memulai. Bukankah Ratih yang harus menjelaskan? “Begini Andi sayang, my lope lope ku!,” Ratih memulai topik baru, mungkin merasa tak enak sendiri membiarkan kekosongan terlalu lama di antara mereka. “Tadi itu Antonio hanya minta tolong agar aku jadi mak comblang. Cuma itu aja kok. Kamu tahu kan anak pindahan yang baru masuk di kelas tiga B? Si Amelia. Itu yang rambutnya selalu dikepang dua!”

Andi terbelalak mendengar cerita Ratih. Gila! Bagaimana si buaya Antonio bisa naksir seorang murid yang kelihatan sangat alim dan kabarnya murid pindahan dari sebuah sekolah di pinggiran kota. Dari penampilannya, Amelia terlihat biasa-biasa saja. Berbeda dengan berapa teman sekolah mereka yang kabarnya berhasil ditaklukan Antonio dan jatuh ke dalam pelukan buaya itu. Menarik. Jika benar Antonio naksir Amelia, ini sebuah berita besar. Tapi mengapa selera Antonia berubah sedrastis ini. Bukankah Antonia suka kepada para siswi yang sudah teremansipasi. Dan tidak beranggapan bahwa seks pra nikah adalah suatu hal yang tabu? Berpikir sampai di sini, Andi lantas curiga kepada Ratih. Jangan-jangan gadis ini berbohong.

“Ngarang! Kamu pikir gue semudah itu percaya sama cerita loe? Jangan-jangan kamu yang tadi ditembak Antonia!” desak Andi sambil melepaskan genggaman tangan Ratih dari pergelangan tangan kirinya.
“Pleasee deh Andi. Jangan konyol gitu dong. Masa sama pacar sendiri kamu gak bisa percaya! Ntar kalo aku sudah resmi jadi istri kamu, kalo kamu masih suka kayak gini, gue tinggali loe, biar kedinginan!” ujar Ratih tak kehilangan akal meledek Andi.
“Siapa juga yang mau nikah dengan wanita pembohong dan suka maen belakang!”
“Siapa yang pembohong? Siapa yang suka maen belakang! Itu kan, gak bisa percaya ma pacar sendiri! Tapi gue suka lho kalo kamu cemburu gini, itu artinya kamu benar-benar cinta kepadaku! Benar begitu kan Andi, ngomong dong I Love U, ngomong aja gak usah pake bunga Ndi juga gak usah pake ngasih hadiah kayak di sinetron, gue tahu tanggal gini kamu lagi tongpes kan, cukup ngomong aja gue udah puas kok!” ujar Ratih sambil bergayut manja. Andi yang tak menyangka Ratih bakal bersikap seperti itu, hampir terjatuh lantaran tak bisa menahan beratnya Ratih. Tak urung Andi jadi terpingkal-pingkal sendiri. Seketika, amarahnya hilang. Menghadapi tingkah Ratih yang kadang kekanak-kanakan Andi memang tak pernah keluar sebagai juara bertahan.

Sebenarnya Andi paham, Ratih bukanlah tipe wanita gampangan. Wanita yang mudah dikibulin seorang buaya kayak Antoni. Tapi sebagai lelaki, dan pacar dari Ratih, dan juga ia tak terlalu akrab dengan Antoni, pemandangan di belakang sekolah tadi benar-benar membuat dirinya terbakar api cemburu. Harga dirinya sebagai seorang lelaki dan kekasih dari wanita yang diajak si buaya itu untuk berbicara di belakang kelas sudah tersinggung. Jika tadi Ratih tidak melerai mereka, Andi sudah nekat menghajar Antoni, tak peduli si buaya itu memiliki banyak centeng setia.

“Benar kan kamu gak bohong Rat? Benarkan kamu masih sayang kepadaku?” Andi bertanya sambil memperhatikan wajah kekasihnya.
“Ihhhhh lebay loe, tumben kamu lebay kayak gini say!” ujar Ratih sambil melekatkan punggung tanganya ke arah jidat Andi. “Tidak ada tanda-tanda kamu terserang demam! Semua normal, Cuma lebaymu yang naik lima puluh derajat celcius. Cieee cieee!” ujar Ratih sambil tertawa.
“Heran, diajak ngomong serius, gak pernah nyambung, dasar cewek telmi!”
“Siapa yang telmi?” ujar Ratih cemberut. Hanya kata ini yang mampu membuat Ratih jadi uring-uringan. Telmi? Masa seorang jago mate-matika di kelas dibilang telmi? Jika bukan andi yang berkata, Ratih bakal menantang siapa saja untuk menyelesaikan soal-soal mate-matika yang rumit rumit sebanyak sepuluh soal untuk membutikan dirinya tidak telmi alias telat mikir.

“Kok cemberut gitu say!” Andi berkata. Tak enak hatinya sudah membuat kekasihnya jadi murung. Dia tahu, kata telmi tadi itulah penyebapnya. Ratih memang benci disebut telmi.
“Kamu sih, kalok ngomong suka gak pake otak, eh lupa, kan kamu gak punya otak!” ujar Ratih membalas, puas hatinya bisa membalas walaupun cuma menirukan ucapan kepala sekolah yang pernah memarahi Andi lantaran Andi membuat grafiti di tembok belakang sekolah mereka. Walaupun Andi sudah mencat seluruh tembok sebagai hukuman atas keisengannya.

“Udah ah, ayo pulang, perutku sudah lapar nih!” ujar andi.
“Ia, tapi kita singgah dulu ke perkantoran!”
“Untuk apa ke perkantoran?”
“Untuk ke kantor KUA, manggil pak penghulu biar temani kamu ke rumahku, biar kita sekalian dinikahkan saja biar kamu gak cemburuan kayak tadi!” ujar Ratih dalam nada manja sambil mengedip-ngedipkan matanya.
“Genit amat matamu Rat, lagian masa seusia gini sudah nikah, mau jadi apa nanti, sekolah saja belum selesai sudah berumah rumah tangga! Ntar say, jika kita sudah jadi sarjana, sudah mapan, kamu pasti kupinang!”
“Janji! Gak gombal kan!”
“Iya janji, tapi benar kan kamu gak bakalan ninggalin aku say!”
“Iya, lagian, ngapain gue ninggalin cowok oon kayak kamu, ntar yang ada gue udah capek melahirkan anak kita, trus gue juga yang mesti jagaian. Kalo sama kamu kan enak, gue yang lahirin ntar kamu yang bantu jagain, gue kan mau jadi wanita karier seperti impian mama dan papaku!” timpal Ratih sambil menjulurkan lidah kepada kekasihnya.

“Terserah loe ah!” ujar Andi sambil menarik tangan Ratih. Keduanya mempercepat langkah mereka. Sekalian yang tadi terjadi seakan pergi tanpa bekas. Mungkin memang harus seperti itu, tak perlu membuang-buang energi untuk sebuah masalah yang tak penting.

Manokwari, 15 – 09 – 2017

Cerpen Karangan: Filep Mambor
Blog / Facebook: mamborfilep[-at-]gmail.com

Cerpen Andi dan Ratih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karma

Oleh:
Lagu di ponsel berbunyi sangat panjang yang menandakan sudah pagi, lalu aku pun bangun dan mematikan Alarm itu. aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh dari

Malaikat Di Hatiku (Part 1)

Oleh:
Tidak dapat dipungkiri, Kisah ini sudah berjalan 4 bulan semejak kejadian itu, kejadian dimana secara tidak sengaja aku menyatakan perasaan ini kepada seorang wanita yang baru saja putus dari

Khitbahlah Aku!

Oleh:
Brukk…!!! Tubuhku terpental jauh kepinggiran jalan dan serasa tubuhku kesakitan karena tubrukan tubuhnya. namun lelaki di depanku ini hanya mengulum senyum sambil menggaruk-garuk kepalanya. “kamu siapa sih?” tanyaku padanya

Sihir Kata

Oleh:
Semua ini dimulai dengan musim panas tanggal 23 Juni di kotaku. Dan layaknya kota-kota besar pada umumnya, jalanan selalu ramai dan padat kendaraan. Menjelang siang, panas matahari semakin menyengat.

First and Last Love

Oleh:
Pada suatu pagi di SMA Garnie International, ada seorang murid siswi bernama Putvi dipanggil Pak Frans. Pak Frans adalah guru matematika yang terkeren dan terbaik. Putvi adalah anak yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *