Aneh, Aku Suka Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 27 January 2018

Hujan masih turun begitu deras. Berkali-kali kutengok ke luar. Aku masih cemas, apa dia benar-benar datang? Hujan tak terlihat reda malah jadi kian deras. Ah, dia menyuruhku untuk datang jam tiga. Tapi ini sudah setengah empat. Bukankah dia yang selalu memintaku untuk tidak terlambat? Tapi sekarang? Ah, sudahlah. Akan kutunggu setengah jam lagi.

Tak begitu lama, seorang siswi berlari tunggang langgang menghindari hujan. Dia begitu tergesa dan akhirnya sampai di tempat ini. Aku hanya bisa melongo melihat tas dan seragamnya yang basah. Apa yang gadis ini pikirkan sebenarnya?
“Maaf, aku terlambat. Bagaimana? Kita mulai sekarang?” Gadis di depanku ini tak terlihat risih atau apapun itu. Meski hampir seluruh badannya telah basah. Dia malah tersenyum lengkap dengan wajah penuh semangatnya.
“Baiklah, ayo kita mulai! Jam lima nanti aku harus pulang. Aku punya banyak tugas hari ini.” Dia segera menyingkirkan beberapa air dari seragam, rambut, serta tas yang tadi ia jadikan payung.

Gadis itu pun segera duduk dan membuka buku yang baru ia keluarkan dari tasnya. Gerakannya amat cepat. Dia terus membuka lembar demi lembar buku bahasa Indonesia itu, dan tak lama menemukan halaman yang jadi tugas kami kali ini. Kurasa, aku bahkan tak bisa secepat itu. Berkali-kali perhatianku malah terfokus padanya. Aku hanya heran, terbuat dari apakah gadis di depanku ini? Bahkan setelah dikungkung di dalam kelas selama dua belas jam, ditambah kegiatan jurnalis dua jam, dia masih terlihat bugar saja. Sementara aku yang banyak bolos jam pelajaran dan tidak ikut ekstra, sudah tak kuat menahan kantuk apalagi saat dingin-dingin begini.

Gara-gara terlalu memerhatikannya, aku sampai benar-benar lupa pada bukuku. Aku bahkan tak mendengar apa yang temanku itu katakan. Ada satu hal yang benar-benar membuatku tak betah.
“Hei, cepat buka bukumu!” Teriakannya akhirnya membuatku sadar. Buru-buru aku membuka LKS itu. Tapi, sekali lagi. Gadis yang saat ini sibuk menggarisi barisan-barisan abjad di buku itu mencuri perhatianku. Aku benar-benar tak tahan kali ini…

“Ta, kacamatamu? Itu berembun.” Kataku malu-malu. Ucapan itu keluar begitu saja, dan seketika membuat Sita berhenti. Ah, aku jadi sungkan. Kurasa aku telah mengganggunya. Tapi gadis itu malah tersenyum.
“Iya, Robet. Aku juga melihatnya.” Ujar Sita santai. “Tapi tenang, aku masih bisa lihat, kok. Udah, ayo, cepat kita mulai! Sudah kubilang, kan. Aku banyak tugas hari ini.” Tuntasnya kemudian kembali pada kesibukan awalnya.

Namun tak lama, tiba-tiba dia berhenti. Sita melepas kacamatanya lalu mengelap lensa cekung itu dengan ujung seragam putihnya. Kemudian ia pakai lagi dan kembali tenggelam dengan pensil dan LKS bahasa Indonesianya. Sementara aku. Sekali lagi hanya menatapnya dengan heran.

Tak begitu lama, hujan deras itu mulai mereda. Beberapa anak terlihat melewati teras kelas kami menuju tempat parkir. Mereka sudah mau pulang. Ah, aku juga ingin pulang. Tapi Sita masih begitu semangat menceritakan kisah seseorang bernama Hanafi dan Corie de Busse. Dia berhasil membuatku makin ngantuk. Entah berapa kali aku menguap? Bahkan berulang kali pula kutengok jam yang melilit pergelangan tanganku. Kuharap ia akan berjalan dengan cepat sehingga bisa kuminta Sita mencukupkan diskusi hari ini.

“Nah, bila dilihat dari keseluruhan cerita di novelnya, maka jawaban A itu salah. Meskipun jawabannya sesuai dengan penggalan ini, tapi ini tidak sesuai dengan keseluruhan cerita novelnya.” Sita menunjuk sebaris paragraf di lembar kerja kami.
“Tuh kan, bener. Jawaban yang benar adalah A.” Katanya sambil menunjukkan kunci jawaban yang ia pegang. Sita memang sengaja ditunjuk untuk membimbingku belajar bahasa Indonesia. Oleh karena itu, dia punya kunci jawaban yang langsung diberi oleh guru kami. Nilaiku di bahasa Indonesia memang paling buruk di kelas. Sedangkan Sita adalah siswa terbaik yang sering dipercaya guru-guru membantu kami belajar.

Aku masih setengah tak percaya melihat ini. Jawabannya memang benar. Bagaimana dia bisa punya pikiran seperti itu dan menemukan jawaban yang tepat di antara pilihan yang bagiku benar semua? Kurasa, dia pasti sudah melumat habis novel itu. Dia bahkan mengerti sekali jalan ceritanya. Aku pernah melihat buku itu di perpustakaan. Novel itu sangat tebal. Gila, membaca satu lembar saja sudah membuat mataku terayun-ayun sedangkan Sita hafal cerita itu sampai mengelupas. Hmmm….

Sita juga gak ada capeknya. Setelah soal tadi terpecahkan, dia segera berlanjut ke soal selanjutnya. Tapi, huah… Lagi-lagi aku menguap. Aku sudah tak tahan.
“Duh, Ta. Aku ngantuk…” Sita seketika berhenti membaca. Kepalanya menegak. Dia menatapku dengan wajah serius penuh tanya. Itu membuatku takut. Apa aku membuatnya marah?
“E… Kita lanjutkan besok saja, ya.” Sebenarnya aku tak tega bilang begini. Tapi aku sudah terlanjur mengatakannya. Aku sangat ingin pulang.
Huah…. Aku menguap lagi.

“Ya sudah, kita pulang.” Kata Sita yang sungguh berhasil membuatku kembali cerah.
“Benarkah?” Aku berharap Sita sedang tidak bercanda.
“Iya. Ayo, kita pulang!” Wajah Sita serius kali ini. Dia sudah merapikan buku dan alat tulisnya lalu memasukkan ke dalam tas hijaunya.
Yey… Hatiku bersorak senang. Aku juga segera mengemasi barang-barangku.

“Ya sudah. Besok lebih awal juga bisa.” Entah, aku yang biasanya malas, kini jadi semangat. Aku jadi ingin sekali membalas kebaikan Sita hari ini. Aku mau mengganti beberapa menit yang kurang untuk bimbingan sore ini.
“Tidak bisa, aku mau nonton Motogp. Minggu depan saja.” Sita sudah berdiri dan bersiap pulang.
Kami benar-benar pulang padahal baru belajar satu jam. Ini masih jam empat. Aku dapat bonus setengah jam sore ini.
“Sita… Terimakasih, ya…” Teriakku di depan kelas. Sita pun menoleh dan melambaikan tangannya sambil tersenyum membalas lambaianku. Dia pasti bingung yang menemukan asal suara yang memanggilnya. Kebetulan saat itu ada beberapa siswa lain yang sedang di koridor itu. Oleh karena itu, kupikir aku perlu melambaikan tanganku. Sering bertemu, membuatku tahu dia menderita miopi parah. Minusnya sudah tinggi sehingga pandangannya sangat buruk. Itu pasti karena efek sifat kutu bukunya yang sudah tingkat akut.

Sore ini udara begitu cerah. Sinar matahari masih terang dan udara sejuk seperti biasa. Mungkin nanti tidak akan turun hujan. Tapi memang itu yang kuharapkan. Aku punya rencana bagus hari ini.
“Tumben sekali kamu semangat begini?” Sita tergesa-gesa mengemasi barangnya.
“Pokoknya, kalau gak sekarang, aku gak mau diskusi lagi.” Dia terus kupaksa sebab dia sulit sekali diminta meninggalkan kegiatan jurnalistiknya.

Sita terus bertanya kepadaku tentang ke mana kami pergi. Bahkan saat kami sampai di tujuan kami, dia masih terus bertanya apa kami benar-benar akan masuk ke sana. Setelah mengetahui aku memang mengajaknya masuk, dia gembira benar. Rasa antusiasnya membuncah tatkala telah nyata di hadapan kami hamparan rumput menghijau dan deretan kursi fiber. Mata Sita tak hentinya mengamati setiap sudut tempat ini. Bahkan karena itu juga, dia jadi sangat lambat. Berkali-kali aku harus mengingatkan dia yang berdiri terdiam. Dia terlalu asyik mengagumi tempat ini. Ini membuatku sedikit kesal karena tempat ini sangat panas dan aku ingin segera berteduh. Tapi, melihat senyum yang tak henti surut di bibir Sita, membuat semua letihku hilang. Sudah kukira, membawa Sita ke stadion pasti berhasil.

Sita, seperti julukannya sebagai gadis aneh, dia memang tak sama seperti pada umumnya gadis. Selain Motogp, gadis aneh itu juga adalah seorang penggila bola. Beberapa hari lalu, malam-malam aku meneleponnya. Aku hendak bertanya salah satu soal matematika yang membuatku bingung. Lalu, apa yang dia katakan saat itu? Dia memintaku memikirkan sendiri soal itu karena dia… Dia sedang nonton Manchester United, MU. Siapa sangka, gadis lugu itu sangat suka hal macho seperti itu.

Dan, seperti yang terjadi sekarang. Dia sangat senang ketika kuajak ke stadion. Ini adalah kali pertama dia masuk ke dalamnya. Sudah jadi impiannya bisa merasakan duduk di tribun. Hanya melihat lapangan dengan beberapa atlet lari yang sedang berlatih saja membuatnya senang, bagaimana kalau tim kota kami sedang bertanding di sini. Kalian tahu sendiri jawabannya.

Kami akhirnya memilih duduk di tribun VIP yang beratap. Kemudian, kami mulai lagi aktivitas kami seperti biasanya. Membuka buku dan mulai mendiskusikan soal-soal bahasa Indonesia.
Aku yang biasa datang ke tempat ini untuk nonton bola, hari ini sengaja datang untuk belajar. Ya, pada akhirnya, aku menikmati juga kegiatan belajar kelompok ini. Sita pun mampu dengan sabar mengajariku. Nilai bahasa Indonesiaku juga mulai merangkak naik. Pun dengan hal yang lain. Hal yang. Ah, nanti saja kukatakan. Aku belum yakin.

Belajar di tempat terbuka memang lain rasanya. Aku tak banyak menguap hari ini. Begitu juga dengan melihat jam. Soal-soal pun bisa kujawab dengan benar. Semua betul-betul lancar. Hingga kami tak terasa sudah hampir dua jam di sana.

Begitu kami selesai, kami baru sadar. Awan hitam sudah meraja di angkasa. Cerahnya mentari telah digusur mendung-mendung tebal yang kini memayungi langit. Hujan mungkin akan segera turun.
Beberapa langkah saja, bulir-bulir air tiba-tiba menyerbu kami. Kami berlari berusaha menyelamatkan diri. Sita menantangku adu kecepatan untuk sampai di halte tak jauh dari posisi kami sekarang.

“Hahaha, kau kalah, kan…” Sita tak hentinya menertawaiku.
Aku ikut tertawa. Beberapa kali kami sempat sikut-sikut agar bisa sampai paling dulu di halte itu. Tapi tak kusangka, dia cepat juga. Kuakui aku telah kalah. Tawa kami masih menggelak di sela nafas kami yang tersengal-sengal. Kami saling menertawai cara kami memenangkan lomba tadi. Dan, tanpa sengaja, mata kami bertemu. Aku mendapati sebuah mata indah di balik lensa tebal yang berembun itu. Ingin sekali aku melepas kaca itu, mengelapnya hingga bisa kulihat mata elok itu dengan jelas. Tapi mata itu buru-buru bersembunyi saat cahayanya mengenai korneaku. Breze… Semua jadi beku. Seketika saat itu, tawa kami perlahan mereda, juga dengan nafas kami yang seperti tiba-tiba berhenti. Yang terdengar kini hanya curahan hujan yang jatuh dari atap halte.

Sita beringsut. Dia segera duduk lalu tangannya bergerak tak jelas. Tiba-tiba mengelap baju, merapikan rambut, membenahi posisi tasnya. Sita seperti orang bingung. Tapi aku menikmati kesalah tingkahannya.

Rambutnya yang terikat sederhana ke belakang. Beberapa anak rambut yang sedikit basah. Seragamnya yang tak tersetrika licin. Tas selempang hijaunya yang telah lusuh. Kulit coklatnya yang lebih kering dibanding kulitku. Juga, kacamata berframe hitam tebal yang lensanya sering dia biarkan berembun. Begitu pula wajahnya yang acap berminyak dan kusam. Sungguh, dia bukan tipe gadis idaman. Bahkan ada puluhan siswi di sekolahku yang jauh lebih cantik darinya. Tapi, dia selalu berhasil jadi magnet bagiku. Saat ini pun, mataku masih tak henti mengamatinya yang tiba-tiba jadi kaku.

Dia selalu bisa cantik tanpa riasan dan penampilan rupawan. Ketika dia membaca buku, dia cantik. Ketika dia menulis, dia cantik. Ketika dia menjelaskan, dia pun cantik. Dan yang tercantik adalah ketika dia membaca sambil menggarisi beberapa kata dengan spidol warna-warninya. Aku suka saat itu. Sewaktu dia sedang sangat berkonsentrasi pada bukunya dengan beberapa helai rambut yang lepas dari ikatannya. Juga dengan kacamatanya yang melorot hingga ujung hidungnya yang tak mancung. Itu sungguh alami. Cantik.

Beberapa saat berlalu tanpa percakapan kami lagi. Kami saling diam. Bus yang tak kunjung datang membuat suasana semakin dingin di tengah hujan yang masih deras.

“Jadi, kamu setiap hari begini?” Tanyaku coba memecah hening.
Rupanya pertanyaanku itu membuatnya terkejut. Aku tak menyangka dia setegang itu.
“Begini?” Tanyanya balik. Wajahnya tampak bingung.
“Menunggu bus.”

Sita setiap hari memakai transportasi umum itu. Sedangkan bagiku, ini adalah kali pertama aku melakukan pekerjaan ini. Menunggu bus. Sebenarnya aku tak sedang ingin naik bus. Aku bawa motor tapi kuparkir di sekolah. Sekolah kami masih beberapa meter dari sini. Tapi, hujan menahanku di halte ini, bersama dengan Sita yang kini hanya diam.

Aku terus berusaha memecah kediaman itu. Sita juga mencoba bersikap biasa. Namun, kecanggungan masih saja belum lenyap seketika. Dia bahkan tak menatapku saat kami berbicara. Sita kembali seperti saat pertama kami jumpa. Dia begitu malu-malu dan tak banyak biacara.

Hujan dan bus benar-benar memihakku. Mereka membiarkanku untuk bersamanya lebih lama. Hingga sebuah bus mulai merapat kemudian membawa Sita pergi. Itu membuatku sedikit berat. Aku. Aku masih ingin bersamanya lebih lama. Bicara dengannya, atau bahkan hanya menatapnya. Aku masih ingin itu. Aku mungkin sudah gila. Kurasa, aku telah jatuh hati. Ya, akhirnya aku yakin untuk mengatakan ini. Sita, teman anehku, aku suka dia.

Cerpen Karangan: Indah Hilmiyati
Facebook: Indah Hilmiyati

Cerpen Aneh, Aku Suka Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lebih Baik Memaafkan

Oleh:
Beberapa orang yang saling bersatu. Itulah yang ku sebut kelompok. Orang-orang yang ada di dalam kelompok itu, akan berusaha untuk menjaga keharmonisan antar anggota kelompoknya, dengan cara meningkatkan kekompakan,

Ku Temukan Sahabat Ku

Oleh:
Hari ini merupakan hari pertamaku mulai masuk di SMP, ini merupakan pengalaman yang sangat baru karena di sana aku tidak mempunyai teman satu pun ya mungkin karena aku bukan

Matanku Hidayahku

Oleh:
Angin pukul tiga sore di balkon lantai tiga gedung kuliah mengantar sebingkis kenangan beserta rindu kepadaku. Lagu lebih indah dari Adera menjadi pengiring film pendek yang menggantung di bulu

Karena Cinta

Oleh:
Akhir-akhir ini aku menyukai Bagas teman sekelasku. Aku heran kenapa aku harus jatuh cinta kepada orang yang tidak mencintaiku, padahal masih banyak pria yang menungguku tapi aku hanya tertarik

Beyond The Limit (Part 1)

Oleh:
Suara angin yang berbisik-bisik menelusuri malam terasa begitu menusuk kulit. Embusannya memukul-mukul dinding putih planetarium yang berdiri kokoh di tepi bukit kecil. Halamannya dikelilingi rumput hijau, dengan pohon-pohon rimbun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *