Anniversarry Kedua Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 November 2015

Mentari mulai enggan menampakkan sinarnya, mendung disertai suara petir menemani perjalananku di dalam bus sore ini. aku sekolah di salah satu sekolah favorit yang didominasi cewek tapi bukan SMA aku di SMK. karena bosan dengan situasi kota yang dekat-dekat rumah aku putuskan buat sekolah di kota yang lumayan jauh dari rumah dan harus tinggal di kos. Seminggu sekali aku harus pulang ke rumah untuk mengambil uang saku, tapi kali ini aku baru saja menempuh Ujian Nasional dan libur panjang untuk menunggu pengumuman. Bus berhenti tepat di selatan alun-alun kota kelahiranku.

“Hay Ref, sendirian aja nih lagi nunggu siapa?” deg tiba-tiba jantung ini nggak karuan.
Perlahan aku menyebut namanya, “Miki? Kamu ngapain di sini?”
“eh aku nanya balik ditanya, aku lewat aja di sini, baru pulang sekolah, ayo barengan sama aku rumah kita kan cuma berjarak 500 meter,”
Miki memang tetanggaku sekaligus teman dari kecil dan cinta pertamaku. Aku mulai naik di motor Miki, motor yang gede dan sangat gagah seperti orangnya. Aku hanya diam dan nggak tahu harus mulai bicara apa.

“Ref, kok tumben diem aja, dulu kamu cerewet banget. Oh ya gimana Riza, kalian masih pacaran kan. Wah hampir 2 tahun nih kayaknya. Langgeng banget Ref,”
“Iya Mik, kamu gimana sama cewekmu?”
“aku jomblo Ref,”
“ah masa? Biasanya tiap kamu putus kan udah ada cadangannya,”
Miki hanya tersenyum mendengarkan ucapanku, dan sampai rumahku Miki berhenti menurunkan aku.

“Ref, kamu cinta sama Riza?”
Kok dia tanya kayak gini, aku ragu harus jawab apa.. di satu sisi aku memang cinta sama Riza tapi di sisi lain aku juga masih mencintai kamu Miki.
“eh ditanya kok diem aja, aku serius Ref,”
“eh iya Mik, ya gitulah emang kenapa Mik?”
Tiba-tiba Miki turun dari motor dan menggenggam dua tanganku.
“aku masih mencintai kamu Refa, it’s always been you Refa, kamu tahu kan kamu cinta pertamaku, aku juga cinta pertamamu, tapi kita tidak pernah bersatu, kamu sudah sama Riza dan aku terlambat. Nggak tahu kenapa dari semua wanita yang menggantikan kamu tidak satu pun bisa membuat aku lupa sama kamu,”

Sejenak aku kaget aku menunduk dan tidak berani menatap mata yang tajam itu tapi aku juga mencintai Riza, dia yang sudah 2 tahun menemani dan menghibur aku meskipun dia selalu sibuk dengan semua urusannya.
“Maafkan aku Miki, aku memang mencintai kamu aku juga tidak bisa lupa denganmu, tapi aku tidak bisa mengkhianati orang yang sudah setia denganku, aku tidak bisa melepas Riza gitu aja, karena….” Sangat sulit mengucapkan satu kalimat ini di depan Miki, aku takut dia tersinggung.
“karena apa Refa? karena kamu mencintai Riza juga?”

Dan aku hanya bisa mengangguk perlahan, aku mulai berani memandang Miki yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aku tahu mata itu kecewa aku bisa melihat raut wajah Miki yang berubah.
“Miki maafkan aku, aku sangat mencintaimu Mik, tapi aku tidak bisa meninggalkan Riza gitu aja,”
“Iya Ref, aku sadar kok, ini bukan salah kamu, aku yang salah karena dulu aku sempat suka dengan wanita lain dan kamu langsung nerima Riza jadi cowokmu, ya udah Ref mulai sekarang aku tidak lagi mengharapkan kamu, aku akan mencoba melupakan kamu Ref, aku pulang dulu ya.. salam buat Ibu kamu,”
“iya Mik, aku yakin masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik dari aku.. hati-hati ya,”
Aku masih memandangnya hingga motornya sudah tidak kelihatan lagi. Huuhh galau lagi.

Sampai jam segini Riza belum juga menghubungi aku, mungkin dia masih sibuk. Nggak terasa aku ketiduran setelah melepas seragam dan berbaring di tempat tidur kemarin sore dan sekarang sudah pagi. Hari ini hari Minggu, yeehh saatnya santai di rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan sampai sekarang setelah aku ngecek Hp, tidak satu pun kabar dari Riza dari kemarin sore. Memang bukan pertama kali ini Riza seperti ini bahkan hampir setiap hari, entah kenapa aku selalu sabar ngadepin dia. Tapi aku percaya dia orang yang setia. Aku mengenalnya dari SMP dulu dia orang yang tulus dan pekerja keras. Sekarang dia mengikuti bisnis bersama teman-temannya untuk biaya kuliahnya setelah lulus dari sekolah yang kebetulan 1 SMA dengan Miki.

Pukul 11 tiba-tiba Riza sudah berada di depan rumahku dengan temannya yang kebetulan sudah akrab juga denganku.
“assalamualaikum,”
“waalaikumsalam.. kok datang nggak bilang-bilang sih,”
“kejutan sayang,” celetus Riza yang langsung menggandeng tanganku.
Hari ini memang hari jadianku yang genap 2 tahun dengan Riza.

Mereka duduk dan aku menaruh minuman di atas meja. Dari pertama datang Riza selalu megang BB-nya. Dan Mas Putra yang sedari tadi diam mulai curhat tentang pacarnya yang lagi marah. Dan Riza bilang jam 12 nanti dia harus kumpul sama temennya buat bahas bisnisnya, padahal sekarang waktu sudah menunjukan jam 11.30 WIB. Aku tidak sepenuhnya mendengar cerita mas Putra karena Riza yang BB-nya selalu bunyi aku mengambil paksa dari tangannya. Semua BBM dari cewek, kebanyakan memang anggota bisnisnya tanya ini itu, aku maklum karena itu pekerjaannya. Tapi 1 nama yang membuat aku penasaran karena dia bukan anggota dari bisnis itu. Dan aku ingat aku mempunyai kado berupa film untuk hadiah anniversarry 2 tahun kita. Aku mengambil laptop dan memberikannya pada Riza untuk dia tonton. Dan aku pasang soundtrack lagu zifila “setia,” Aku masih memegang BB-nya aku mencoba membuka 1 pesan dari cewek yang katanya adik kelasnya itu.

Deg. Tiba-tiba rasanya panas semua, rasanya aku ingin membanting Hp ini, tapi aku mencoba sabar dan menahan air mataku untuk tidak ke luar ada beberapa chattingan yang membuat aku sakit hati, Riza bilang, “eh dek, aku suka sama temen kamu Indah, dia kayak mantan aku dulu, dia cantik banget kalau pake jilbab, kamu kok enggak pake jilbab? aku minta pin BB-nya dong,” lalu adek kelas itu bertanya padanya.
“dia nggak pake BB kak.. loh emang Kakak belum punya cewek?”
Dan Riza menjawab, “belum dek,”

Aku mencoba menahan sekali lagi air mata karena rasa sakit hati yang aku tahan ini, sementara Riza masih melihat film yang aku buat, Mas Putra melihatku dengan tatapan curiga. Aku gagal mempertahankan air mataku di depan mereka. Karena sakit yang teramat dalam ini aku perlihatkan semua chattingannya sama adek kelasnya dan aku berlari ke kamar untuk menumpahkan semua sesak yang aku rasakan. Aku menangis sejadinya aku nggak nyangka Riza kayak gini, berulang kali pesan singkatnya selalu terngiang di ingatanku dan sekali lagi aku menangis. Aku bodoh terlalu mempercayai dia, aku bodoh melepaskan Miki gitu aja aku bodoh bertahan dengan orang yang jelas-jelas selalu sibuk dengan urusannya. Memang pertama kali ini Riza membuat aku menangis, tapi ini rasa sakit yang benar-benar sakit yang aku rasakan. Kepercayaan dan kesabaranku diacuhkan begitu saja. Bahkan aku sama sekali nggak dianggap selama 2 tahun ini.

Tiba-tiba Ayahku ke kamar dan menyuruhku untuk ke luar karena masih ada Riza dan mas Putra, saat Ayah melihatku menangis dia ke luar dan bertanya pada Riza.
“Kenapa Refa menangis?” tapi aku samar-samar dengan jawaban Riza. Berulang kali Riza mengetuk pintu kamarku dan meminta maaf. Mungkin Mas Putra bingung, dia mengirim pesan singkat.
“kamu kenapa Ref kok nangis?” aku membalasnya dan menjelaskan semua yang udah aku baca dari HP-nya Riza. Di luar aku dengar sedikit keributan Mas Putra marah dengan Riza. Aku mencoba menghapus air mataku aku putuskan untuk ke luar dan menyuruh mereka pulang karena udah pukul 13.00 WIB. Aku tahu Riza sedari tadi dihubungi teman-temannya untuk segera ke sana dia bahkan telat 1 jam. Tapi Riza tetap tinggal dan nggak mau pergi sebelum aku memaafkannya. Dia memegang erat tanganku dan matanya berkaca-kaca melihat aku menangis. Tapi sungguh aku tidak bisa lagi memaafkan dia, dan gimana sakitnya menjadi orang yang tidak pernah dia anggap, bahkan hari ini hari ulang tahun jadian kita yang kedua.

Pukul 13.45 Riza dan Mas Putra pulang dan aku langsung ke kamar membuka laptop untuk mencoba menenangkan rasa sakit ini, ketika aku buka document ada 1 file dari Riza yang dia tulis.
“Aku memang keterlaluan Ref, tapi bukan aku bermaksud mencari yang lain, bukan aku ingin yang lain. Aku hanya bisa mengungkapkan maaf, hanya maaf, tapi sebenarnya aku tetap masih yang dulu, sama seperti 2 tahun yang lalu, mungkin, memang aku selalu sibuk, sibuk terus bahkan sampai aku lupain kamu, walau begitu aku selalau mengingatmu, maafkan aku Refa bukan maksudku untuk menyakiti hatimu, bukan maksudku untuk membuat kamu menangis, jujur sayang aku tidak sanggup melihat air matamu ke luar,”
Pipiku kembali basah dan entah kenapa rasa sakit ini berubah menjadi rasa iba. Aku tutup laptopku dan mencoba memejamkan mataku untuk istirahat sejenak.

Sorot panas mentari dari arah timur jendela kamarku membangunkan aku pagi ini. Dan masih sama mataku sembab karena nangis kemarin. Ketika aku buka HP ada 11 Pesan dari Riza semua yang isinya masih sama dia menyesali dan minta maaf nggak akan mengulangi lagi. Huh rasanya berat memberi kepercayaan lagi kepada orang yang sudah mengkhianati. Seperti orang-orang lainnya aku mencoba menghibur diri membuka akun facebookku dan isinya masih sama ucapan maaf dari Riza yang langsung dikoment temenku. Saat aku buka beranda, ada status paling atas dari Miki, “I LOVE YOU, SITA,”

Huh ya Tuhan apalagi ini. Kenapa Miki seperti ini. Bahkan belum sampai seminggu dia bilang dia masih mencintaiku, tapi nyatanya sekarang dia umbar di akun Facebooknya. Ya aku berterima kasih pada Tuhan sudah diperlihatkan seperti ini, aku tidak terlalu kecewa dan sakit hati kali ini. Karena dari dulu Miki memang seperti ini sering membuat aku menangis, dan kali ini aku putuskan untuk blokir akunnya. Huh dan aku harus menyibukkan diri supaya nggak ingat lagi sama kejadian ini. Sepanjang siang aku hanya mencari hiburan lewat modem internet di laptopku, download film ini itu, dan akhirnya aku tertidur lagi.

Jam weker di kamarku menunjukkan pukul 4.30 sore, Ibuku memanggilku karena ada tamu di luar aku segera bangun dan bergegas ke ruang tamu.
“Refa aku minta maaf,”
“kamu ngapain sore-sore kesini Riza? udahlah pulang aja udah jam segini,”
Riza diam dia tidak menjawab dan tidak mau bicara sampai pukul 5.00 lebih, dia hanya menunduk melihat ke arahku menunduk lagi dan sesekali dia mengusap matanya. Riza menangis.

Aku merasa nggak enak hati melihat cowok menangis di depanku, yang aku tahu Riza kuat dia tidak mungkin menangis karena hal semacam ini, tapi tidak, dia sekarang tepat berada di depanku berlutut di depanku memegang erat tanganku, meminta maaf dan mengeluarkan air matanya. Sesekali aku mencoba melepaskan pegangannya karena aku yang masih ngerasa sangat sakit, Sungguh dia benar-benar tulus dan aku bisa melihat dari sorot matanya. Harus bagaimana aku sekarang.

“Sayang aku bener-bener keterlaluan, aku minta maaf sayang. Tolong aku cinta sama kamu aku sayang sama kamu, aku memang keterlaluan,”
“Riza kamu nggak usah nangis kayak gini, aku masih butuh waktu buat sembuhin rasa sakit ini za, tolong beri aku waktu buat maafin kamu, aku nggak bisa sekarang..” dan tiba-tiba aku menangis lagi, dengan lembut Riza menghapus air mata di pipiku dengan kedua tangannya dan berkata.
“aku janji nggak akan membuat kamu menangis lagi, aku nggak kuat lihat kamu menangis Ref, nanti malam kalau kamu telepon aku berarti kamu udah maafin aku kalau tidak berarti aku harus setiap hari kerumahmu minta maaf seperti ini terus,”
“iya Za, lihat nanti malam aja, kamu pulang aja udah mau maghrib,”

Sekarang sudah pukul 8.00 malam aku ragu baut nelepon Riza, tapi aku juga tidak bisa melihat dia menangis seperti ini. Kata sahabatku aku harus ngasih dia kesempatan lagi, dan mungkin ini kesempatan terakhir. Dan aku mencoba buat ikhlasin semuanya. Tapi tetep aja sulit sangat sulit saat aku masih ingat aku tidak dianggap. Entah apa maksudnya dia bilang seperti itu. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku belum siap kehilangan Riza, aku masih sangat mencintainya. Dan aku putuskan untuk mengambil Handphone dan menelponnya.

“Halo Refa.. kamu maafin aku kan Ref?”
Aku masih diam, aku masih ragu karena aku masih takut sakit hati lagi. Mungkin di seberang sana Riza sudah menyesali perbuatannya, aku harus tetap belajar memaafkannya walaupun sebenarnya belum sepenuhnya.
“Iya Za aku maafin kamu, tapi janji jangan buat aku nangis lagi,”
“Janji sayang aku nggak akan buat kamu nangis lagi. Makasih sayang udah ngasih aku kesempatan kedua i love you Refa,”
“I love you too Riza,”

Dan sekarang aku mencoba untuk memberikan Riza kesempatan kedua, mungkin dia akan berusaha yang terbaik dan sungguh-sungguh menepati janjinya. Dan mulai detik ini aku putuskan untuk melupakan semua tentang Miki dan kembali lagi dengan Riza dan semoga dia benar-benar menjadi cinta terakhirku.

Cerpen Karangan: Elysa Dwi

Cerpen Anniversarry Kedua Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gloomy

Oleh:
Seperti biasa ubin sekolah pada pagi hari selalu nampak dingin. Seolah menceramahi atas kebiasaanku datang paling awal. Sesekali aku membuang muka, karena mereka terus berusaha memperolok diriku. Aku sangat

Cinta Yang Tak Terucap

Oleh:
Aku adalah seorang murid yang sering membuat masalah di sekolah. Sering kali, aku bolos sekolah. Teman-temanku memanggilku Irfan. Pagi yang cerah, langit berwarna biru. Mentari menyinari dunia dengan hangat.

Secangkir Kopi (Kopi 1)

Oleh:
Ingatan tentang hujan di Kedai Arch membuahkan rasa yang aku sebut cinta. “Ini kopimu!” Tangan besar menyuguhkan aku secangkir kopi pesanan. Aku mengira kamu adalah pelayan langganan. Ternyata sosok

Karena Kamu Innocent

Oleh:
Hari ini mas Adin pulang telat lagi. Sudah hampir jam sebelas malam dia belum sampai rumah. Hal ini terjadi satu minggu termasuk hari ini. Huft. Aku menghembuskan napas. Aku

Rindu di Tepi Langit

Oleh:
hufh… badanku seluruhnya rontok, dari atas sampai jempol kaki. mungkin perlu disiram dan diberi pupuk kali y? hehehehhe, yayaya, aku baru saja menyelesaikan studi masterku di bumi east java

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *