Antar Aku Dengan Senyuman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 13 April 2013

“iya bun.. bunda juga jaga kesehatan ya..!! daaah bunda.. assalamualikum..” ku tutup telpon dari bunda dan segera kurebahkan tubuhku diatas sebuah sofa. Hari ini matahari sangat terik, lumayan juga nih produksi keringat hari ini.
Kuliah hari ini masih belum fokus nih. Masih kebawa-bawa kebiasaan pas liburan kemaren.. hehe.. hey.. Raisya Anindita.. semangat donk.. ayoo harus sukses..

***

Getar hp ku dibawah bantal membangunkanku dari tidur siang ku.. tak ku lihat jelas siapa yang menelpon, dengan gerak tangan tak beraturan ku cari dimana letak hp ku dan segera ku angkat telpon tersebut..
“hallo…” jawabku dengan nada yang sangat jelas baru bangun tidur.
“Kamu baru bangun tidur ya sya? Katanya mau jalan-jalan sore?”
“eehh iya.. aku lupa.. oke deh aku langsung mandi dan beres-beres ya.. kamu jemput aja.. sorry.. sorry.. hehe”.
Ternyata telpon dari Rivanno kekasihku. Suddah sejak 2 tahun lalu kami bersama.
“ok.. aku langsung jalan deh sya.. see u..”

**

“oiya sya… jadi kamu praktek di rumah sakit tempat tante aku? Soalnya kemaren dia telpon, disana bisa kok. Tapi tergantung kamunya sih, mau ga di rumah sakit jiwa.. hahaha”
“iihh.. kamu nih.. kok malah diketawain.. tapi kayanya asik loh jadi perawat orang-orang yang sakit jiwa gitu.. lain gitu sensasinya.. hehe”
“yaa.. asalkan kamu ga ketularan gila aja..” ledek rivano..
“haha.. jadi kamu ga mau sama orang gila yaaa.. :D.. iyaa aku jadi kok disana. Kemaren semua administrasi datanya udah aku urus”

***

Jam menunjukan pukul 21.00. hmm.. waktu terasa sekejap jika bersamanya.?
“makasih yaa..!! abis ini kamu mau langsung pulang atau kemana dulu?”
“langsung pulang kok sya.. aku ada janji juga tadi sama papa.. kok kosan masih gelap? Lara kemana sya?”
“hmm.. tadi sih dia sms katanya emang mau pulang agak malem, tapi ga bilang mau kemana. Mungkin bentar lagi juga balik.”
“hmm.. kamunya gapapa sendirian? Atau mau aku tungguin dulu sampe Lara dateng?”
“ga usah deh.. aku gapapa kok vano.. katanya kamu ada janji sama papa kamu. Yaudah kamu langsung pulang aja..” jawabku sembari memegang bahunya.
“yaudah.. kamu hati-hati ya.. telpon aja gih Lara, bilang jangan pulang malem-melem gitu..”
“ok bos.. hehe.. kamu juga hati-hati dijalan.. jangan ngebut yaa..”
“iya sayang.. aku pulang ya.. kamu masuk gih..” Vano pamit, dan membelai rambutku.
aku berjalan menuju kamar kosan, tapi tiba-tiba kaki kiriku terasa nyeri dan seperti keram, sehingga langkahku terhenti sejenak. Vano yang masih memperhatikanku segera menghampiriku dengan wajah sedikit cemas.
“kenapa sya?” tanyanya sambil memegang kakiku
“eehh, gapapa kok.. Cuma agak nyeri dikit.. biasa kok.. mungkin kecapekan aja vano.”
“bener nih Cuma nyeri biasa?”
“iya.. udah sana kamu pulang gih..” perintahku sambil memegang pundaknya dengan lembut.

Rasa sakit dikakiku itu tak kunjung hilang sesampainya aku didalam kamar. Memang sudah satu minggu ini sering sekali seperti itu, kaki dan tangan kiriku sering sekali seperti itu. Tapi mungkin memang karena aku benar-benar terlalu letih.

***

2 minggu kemudian..
Aku sedang melaksanakan praktek di sebuah Rumah sakit jiwa. Aku calon perwat, dan mudah-mudahan segera jadi perawat. Amien..?
“Dok.. ini data dari pasien yang di kamar anggrek 03.. sepertinya sudah ada kemajuan dok stelah 4 hari ia dikurung. Apa tidak sebaiknya kita bebaskan lagi saja dok? Tadi saat saya masuk ruangannya, dia sudah mulai biasa lagi kok dok..”
“iya kita lihat saja sampai sore nanti sya..”

**

Aku berjalan di lobby rumah sakit. Tampak sesosok wanita berjalan seperti tengah di kejar sesuatu, cukup cepat ia berjalan. Ternyata itu tantenya Vanno. Tante Via. Tante Via salah satu dokter disini dan ia sangat membantuku disini, ia orang yang sangat ramah dan sangat sayang padaku, sejak mama vano meninggal, ia sudah seperti ibu bagi vano. Ia juga sangat merestui hubungan ku dengan vano.
“Tante.. mw kemana kok buru-buru banget?”
“eehh Raisya.. iya nih.. map tante ketinggalan dalam mobil, padahal perlu buat nanti ada rapat.. udah mau pulang ya? Vano mana? Kok belum keliatan?”
“iya tante aku mau pulang.. vano ga bisa jemput tante.. katanya ada kuliah dadakan. Aku bisa naik angkot aja kok tante.”
“aduh maaf juga tante ga b isa anter kamu sayang..”
“ih tante gapapa kok.. kan ada angkot banyak.. “
“yaudah deh.. hati-hati ya.. tante duluan ya sayang..”

***

Pukul 18.25 aku tiba di kosan.. tampak Lara sedang mengangkat pakaian.
“Ra.. nih gue bawain mie ayam..” kusodorkan sebuah bungkusan kepada lara. Aku berjalan menuju dapur, saat itu kaki kiriku sakit lagi dan tak kusadari aku jatuh begitu saja, seakan kakiku mati rasa saat itu. Lara terkejut dan menghampiriku.
“Loh sya.. lo kenapa sih.. akhir-akhir ini sering banget sih jatoh tiba-tiba kayak gitu. Kaki lo kenapa?” Tanya lara cemas. Karena memang akhir-akhir ini aku sering seperti itu. Namun aku tetap tak terlalu memikirkannya, dan sok-sok cuek saja, ya meskipun sedikit takut terjadi sesuatu yang buruk. Tapi mudah-mudahan tidak apa-apalah..
“gapapa kok ra. Gue nya aja yang ceroboh.. hehe”

***

Ya tuhan. Kenapa ini.. kakiku rasanya benar-benar sakit, nyerinya tak tertahankan. Kadang-kadang memang sangat sulit untuk melangkah. Tuhan.. semoga tak terjadi sesuatu yang buruk. Aku tidak ingin membuat orang disekelilingku mengkhawatirkanku. Aku benar-benar sangat penasaran. 2 hari setelah itu aku beranikan diri untuk check up ke Lab disebuah rumah sakit ternama. Kupupuk harapan semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk denganku.
“Raisya Anindita.. Sudah berapa lama anda merasakan seperti ini?”
“waktu saya SMA sih jarang dok, tapi frekuensinya meningkat sekitar 3 minggu ini lah. Jadi sebenarnya ada apa ya dok? Apa ada penyakit dok dalam tubuh saya?” aku benar-benar takut mendengar jawaban apa yang akan disebutkan dokter itu. Tapi tentunya aku harus siap dengan apapun yang terjadi. Semoga semuanya akan baik-baik saja.
“dari semua gejala yang anda keluhkan, seperti sering nyeri tulang di kaki dan tangan, badan kadang melemah sehingga terjatuh, dan kadang-kadang seperti mati rasa.. diagnosa saya itu adalah Osteosarkoma nak Raisya.” Dokter itu menatap dalam terhadapku. Lidahku kelu.. air mataku berurai. Terbata-bata aku berbicara.
“O..oo..Osteo..sarkoma? apa itu dok? Ju..jujur saya baru mendengar istilah itu.”
“Osteosarkoma, kanker tulang.. tapi itu baru diagnosa.. kita masih harus periksa dulu ke lab.. untuk kepastiannya nak raisya.”
Tanpa kata kutinggalkan ruangan dokter tersebut dan air mataku terus megalir, tak pernah terpikirkan aku mengidap penyakit sperti itu. Meskipun itu masih diagnosa, tapi 80% mungkin benar. aku sakit.. bagaimana ini? Bagaimana orangtuaku? Bagaimana Vano?

**

2 hari setelah itu aku kembali kerumah sakit tersebut untuk melaksanakan pemeriksaan lanjutan. Dan ternyata, positif, Osteosarkoma stadium Lanjut. Terlambat terdeteksi.
Ya tuhan… saat itu badanku melemah.. aku terduduk mendegar perkataan dokter. Tak sepatah katapun terucap dari mulutku. Hanya air mata yang mengalir. Aku harus kemoterapi, membeli banyak obat-obatan.. kemungkinan kakiku di amputasi? Ya tuhan.. bagaimana masa depanku nanti? Apa yang akan terjadi pada orang tuaku? Apa reaksi Vano.. tuhaan.. mengapa kau berikan cobaan ini padaku. Aku harus bagaimana tuhan..?

Sore, sekitar pukul 17.00 Rivanno datang ke kost, namun aku sungguh tidak siap bertemu dengannya, aku masih belum sanggup menatap matanya, aku takut menangis dihadapannya dan ia menanyakan sebab mengapa aku menangis. Kusuruh Lara mengatakan aku sedang tidak enak badan dan tidak ingin ditemui. Lara menyadari keanehanku. Sebelumnya aku memang tidak pernah seperti ini. Lara terus bertanya-tanya kenapa. Namun aku benar-benar tidak bisa mengatakan semuanya. Aku belum siap. Biar saja semua jadi rahasiaku sendiri.

Hari-hari terus kujalani dengan kerahasiaan, begitu juga dari orangtuaku.. aku tak kuasa memberitahukannya pada mereka, aku takut mereka hancur, aku harapan mereka satu-satunya. Sampai suatu hari ketika aku akan berangkat menuju tempat praktek, kakiku benar-benar sakit, begitu sakit. Tak kuasa aku melangkahkannya. Aku terjatuh, terduduk, terus kupegangi kakiku. Bahkan aku tak membeli obat penghilang rasa sakitnya. Lara menghampiriku dan dengan inisiatifnya menelfon vano. Aku kecewa dengan sikap lara yang dengan lancangnya menelfon vano, aku marah-marah pada lara dan memaksa mencoba untuk berdiri tapi aku malah pingsan. Yang aku tau ketika aku tersadar aku sudah berada di rumah sakit. Aku benar-benar takut dokter akan memberitahukan tentang penyakitku kepada vano. Dan ternyata ketakutanku menjadi kenyataan. Rivanno mengetahui semuanya, Lara dan Tante Via juga.

Dengan wajah tertekuk dan mata berkaca-kaca Vano menghampiri ranjang rawatku, menggenggam tanganku, dan menatap dalam mataku, duduk ditepi ranjang.
“kenapa sya? Kenapa kamu ga pernah certain ke aku.. ini bukan masalah main-main sya. Ini menyagkut nyawa kamu. Tapi kamu malah nyimpen semuanya sendiri.”
“Vano.. (aku mencoba duduk, dan mengangkat wajah vano). Aku ngga mau bikin kamu khawatir, aku ngga mau nyusahin kamu. Bilang sama aku kalo kamu belum kasih tau orangtua aku kan van? Kamu belum kan?”
“gimana bisa aku ga kasih tau sya. Jelas mereka harus tau, sekarang mereka sedang dalam perjalanan.”
Kulepas genggaman tangan vano. Sekarang apa? Aku harus bagaimana? Sebentar lagi pasti aku akan melihat uraian air mata bunda dan kesdihan ayah.

***

3 minggu kujalani hari-hari di rumah sakit, ditemani infus dan semua obat-obatan penghilang rasa sakit ini. Ayah, Bunda dan Rivanno juga tak pernah beranjak sedikitpun. Aku sedih melihat mereka seperti ini. Terlintas dalam pikiranku saat itu untuk menyuruh vanno meninggalkan aku. Dan aku katakana padanya, responnya sungguh mengejutkan.
“apa sya? Kamu nyuruh aku tinggalin kamu? Kamu sadar ga sya dengan apa yang kamu minta itu? Haa? Kamu bener-bener ya.. kamu pikir gampang? Kamu pikir aku bisa?”
“Van.. liat aku, liat.. aku tu ga berguna, aku Cuma bisa tiduran di sini, bahkan mungkin sebentar lagi aku cacat, kaki aku harus di amputasi dan perlahan seluruh tubuhku akan mati rasa, lumph van.. apa yang mau kamu banggakan dari aku. Aku udah ancur van.. di luar sana masih banyak wanita sempurna yang bisa bahagiain kamu. Ga seperti aku yang akan segera cacat. Kamu tau aku ga akan sembuh vano. Semua kemo ini obat ini hanya ngurangin rasa sakit aku, bukan untuk nyembuhin aku. Setiap harinya kamu hanya buang-buang waktu disini, ngurusin orang sakit kaya aku, kamu harus mikirin masa depan kamu van. Ga usah pikirin aku lagi.” Air mataku berurai mengatakan semuanya pada Vanno. Namun aku memang harus begitu, aku tak ingin mengecewakan orang yang aku sayangi dengan ketidakberdayaanku. Bahkan untuk berjalan pun sekarang aku harus di bantu. Bagaimana aku bisa membahagiakan vanno. Terlalu egois jika aku tetap mempertahankan vano.
“Sya.. denger aku sya.. kalau kamu kehilangan kaki kamu.. aku akan jadi kakimu, yang aka nada untuk kamu kapanpun, kemanapun kamu ingin pergi. Aku ga akan ninggalin kamu, bagaimanapun keadaanmu. Semuanya ga masalah sya. Aku syang sama kamu. Aku mophon jangan pernah kamu ngomong kaya gitu ke aku sya. Aku yakin kamu bisa sembuh. Aku yakin tuhan sayang sama kita sya. Dia ga akan ambil kamu dari aku.”
Kata-kata vano membuat air mataku semakin deras terurai. Aku tak sanggup melihat matanya. Ia memelukku dengan erat. Terasa ia sangat menyayangiku dan sangat takut kehilanganku. Tapi apalah dayaku, kemungkinan aku akan meninggalkannya sangat besar, bukan tak mungkin aku akan mati.

**

Semakin hari aku memang merasa kematianku semakin dekat, tubuhku semakin melemah, sebelum aku meninggalkan mereka semua aku ingin sekali melihat senyum mereka. Aku ingin bertemu dengan semua yang kusayangi. Ayah, ibu, Vano, dan Lara.

***

Hai… aku Rivanno.. aku akan melanjutkan tulisan Raisya.. setelah hampir 2 bulan Raisya di rawat di rumah sakit, Pada sabtu kemarin tepat sehari sebelum 5 tahun hari jadi kami Raisya meninggalkan kami semua. Raisya pergi dengan senyuman. Ia senang bisa pergi dengan tenang, karena sudah melihat senyum dari semua yang ia sayangi. Meskipun semua itu hanya senyum palsu.

Masih ku ingat jelas kata-katanya padaku semalam sebelum ia meninggalkanku selamanya. Dengan wajahnya yang pucat ia mengatakan semua itu dan meneteskan air matanya, itu kali terakhir aku menghapus air mata dipipinya dan itu juga kali terakhir aku menatap dalam matanya dan memeluk hangat tubuhnya.

“Rivanno.. maafin aku.. selama ini aku memang banyak egois.. selama ini kamu pasti sering aku marah-marahin yaa.. kadang aku terlalu takut kehilangan kamu, maksih ya selama ini kamu sangat sabar sama aku, aku beruntung banget bisa kenal sama pria sebaik dan sesabar kamu, Tuhan benar-benar sayang sama aku. Oiya.. besok anniversary kita ya.. kita mau rayain dimana? Kamu mau aku bikini kue lagi? Hehehe.. ” aku hanya bisa mendengarkan kata-katanya. Tak ada sedikitpun kata yang bisa aku katakana padanya. Tak tau mengapa aku hanya terpaku menatapnya.

“Vano… aku sudah merasakan semuanya, mungkin sebentar lagi. Aku ingin, jika aku pergi nanti antar aku dengan senyuman yang tulus dari hatimu, senyum dengan keikhlasan dan seluruh kasih sayangmu. Agar aku pun tenang disana vano. Aku tak ingin kamu melepasku dengan air mata dan kesedihanmu. Aku mau kamu tetap melanjutkan hidupmu..?”

**

3 hari setelah pemakaman Raisya. Lara datang kerumahku dan mengantarkan sebuah kotak. Itu milik raisya. Lara bilang itu ia temukan saat ia beres-beres barang-barang Raisya. Kotak itu brisi foto-fotoku bersamanya, semua tiket dan struk belanja dan makan kami selama ini, aku tak menyangka ternyata ia menyimpan semuanya, sejak awal kami bersama. Dan ada sebuah kertas dengan tulisan namaku, dan kubuka ternyata memang sebuah tulisan untukku dari Raisya. Mungkin itu ia tulis ketika ia baru menyadari penyakitnya itu.

Rivanno..
sedikitpun tak ada sesal dihatiku untuk mengenalmu
kau yang ajarkan aku tentang arti cinta sejati
tentang arti sebuah kehidupan dan kasih sayang
tak ada hari membosankan untukku selama kau bersamaku
Rivanno..
hatiku hancur ketika aku mengetahui kenyataan ini
aku takut vano.. aku takut..
sebenarnya aku ingin berbagi denganmu..
namun aku juga tak ingin membuatmu khawatir
aku tak ingin menyusahkanmu..

Rivanno..
aku benar menyayangimu dengan segenap hatiku
aku benar-benar takut akan berpisah denganmu
aku takut sendirian disana
apa egois jika aku ingin kamu terus menemaniku?
apa salah jika aku ingin selalu dekat denganmu?
Rivanno..
aku tak ingin semuanya terlalu singkat
aku ingin mendampingimu
menikah denganmu, menjadi ibu dari anak-anakmu
menyiapkan srapan untukmu
merawatmu ketika sakit
tertawa denganmu, menangis denganmu
Rivanno..
aku sedih..aku hancur
saat aku menolak kedatanganmu saat itu
namun aku tak ada cara lain
Rivanno..
aku mencintaimu dengan segenap hatiku
tak ada keraguan dihatiku
namamu terukir indah dihatiku
kubawa kau dikeabadianku
aku selalu menyanyangimu..
jika aku pergi nanti
antar aku dengan senyumanmu
dan semua kasih dan sayangmu

Raisya Anindita – Rivanno

Cerpen Karangan: Annisa Rahmawaty
Facebook: Annisa Rahmawaty (Neng Ieycha)

Cerpen Antar Aku Dengan Senyuman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menyayangimu Tapi Tak Bisa Memilikimu

Oleh:
Dera sedang duduk di halaman belakang rumah sambil memandangi bunga yang tumbuh subur, hujan baru saja berhenti. dia selalu sedih setiap ingat sosok pria gagah, cool dan keren yang

Cinta Bersemi Di Pramuka

Oleh:
“Nanda tunggu, pulang sekolah sekarang ngumpul pramuka kata Kak Nida, Ngumpulnya di kelas 8,” ucap seorang perempuan sambil memegang pundakku. “Oh iya Pril, Kan katanya jam 2 ngumpulnya, jam

Terjebak Nostalgia

Oleh:
Malam sunyi, aku termenung sambil menatap jalanan kosong, aku mendengarkan semua lagu di Iphone-ku dengan memakai headset, tibalah lagu kesukaanku, yaitu lagu Raisa- Terjebak Nostalgia, aku pun memulai Nostalgiaku

Tiga Puluh Tujuh

Oleh:
Hari ini aku harus bisa melupakan dia, harus bisa! Harus bisa! Aku membaca mantra rutinku sebelum memulai aktivitasku pagi ini. Aku menarik napas panjang, hari ini aku harus mengurangi

Lika Liku Impian Khayal

Oleh:
Semerbak wangi bunga di taman yang menghiasi lika-liku kehidupan. Di bawah sinar rembulan saat heningnya malam. Aku hidup bagaikan daun yang tak mengenal ranting. Impian yang ku khayalkan semuanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *