Antara Aku Dan Sahabatmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 May 2016

Perempuan dan laki-laki adalah dua makhluk berbeda yang diciptakan untuk berpasangan. Guruku pernah mengatakan jika persahabatan antara wanita dan laki-laki tak akan pernah terjadi jika tanpa perasaan. Perempuan dan laki-laki yang bersahabat lama mungkin saja memiliki perasaan yang lebih pada diri mereka masing-masing hanya saja tak ingin diungkapkan dengan alasan takut merusak persahabatan mereka. Kata demi kata yang ku dengar dari temanku terus terngiang di telingaku. Di sudut kafe aku duduk sendirian menghela napas melihat pesan dari kekasih sekaligus tunanganku, entah sudah berapa kali Nattan membatalkan janjinya padaku untuk Marsya sahabatnya. Hubunganku dan Nattan sudah berjalan satu tahun dan selama itu pula aku harus rela menjadi selir di hatinya. Sakit ya sangat sakit tapi aku terlalu mencintainya hingga tak sanggup meninggalkannya apalagi pergi dari hidupnya.

Ku langkahkan kakiku menuju bioskop, sejak seminggu lalu dia berjanji menemaniku menonton dan sekarang aku menonton sendirian di sini. Seperti pasangan kebanyakan ketika kencan, aku sudah menyiapkan agenda kencan kami dan sekarang aku melakukan segala hal yang sudah aku agendakan sendirian. Makan malam di restoran pasta kesukaan Nattan itulah agenda terakhirku tapi belum aku masuk ke dalam aku bisa melihat siluet orang yang paling aku cintai di sana, ya Nattan sedang mengobrol dan tertawa bersama kedua sahabatnya Marsya dan Irgi. Hatiku rasanya sakit sekali melihat dia tertawa selepas itu ketika bersama orang lain tapi ketika bersamaku dia hanya tersenyum tipis.

Aku berjalan tak tentu arah, ku pandangi cincin cantik yang melingkar di jari manisku dan tersenyum miris. Aku mencabut cincin itu dari jari manisku lalu melemparnya dengan kesal tapi beberapa menit kemudian aku kembali mencarinya. Aku terus mencari cincin itu sampai ketemu tapi setelah itu aku membuangnya lagi. Berulang kali aku mencari dan membuangnya seperti orang gila lalu menangis terisak. Sepanjang perjalanan pulang aku terus menangis hingga membuat sopir taksi yang ku tumpangi melirikku terus menerus. Aku tak peduli apa pun saat ini yang aku inginkan hanya menangis berharap segala beban di hatiku luntur dengan tangisku. Sesampainya di rumah tangisku semakin menjadi ketika melihat kalender yang sudah ku tandai, ya 45 hari lagi adalah hari pernikahanku dengan Nattan. Akankah pernikahan itu benar-benar terwujud?

Hari minggu aku terbangun dengan kepala yang sangat amat pusing karena kebanyakan nangis. Sepi itulah kesan pertama yang bisa ditangkap dari suasana minggu pagiku. Aku hanya tinggal berdua dengan pembantu rumah tangga di rumahku karena orangtuaku hanya pulang satu atau dua kali dalam sebulan karena pekerjaan mereka. Seseorang mengetuk pintu, dengan malas aku membuka pintu dan langsung melihat penampakan Irgi yang cengengesan di hadapanku. Aku tersenyum dan mempersilahkannya masuk.

“Aku ke sini mau menyuruhmu untuk segera bersiap karena beberapa menit lagi Nattan dan Marsya akan datang ke sini menjemput kita untuk ke taman hiburan.” ucap Irgi sambil sibuk membenahi selimutku.
“Aku gak mau ikut, kalian aja yang pergi,” jawabku malas.
Irgi mendelik padaku dan mendorongku untuk ke kamar mandi.
“Gak ada penolakan, mandi dan siap-siap aku tunggu di bawah.” ucapnya tegas.

Aku menggeleng melihat sikap pria satu itu tapi akhirnya aku menuruti semua ucapannya. Aku sudah bersiap-siap dengan atasan warna abu-abu, celana jins dan sepatu plat shoes beserta tas hitam untuk turun menemui Irgi yang sibuk memasukkan makanan ke mulutnya. Aku tersenyum geli melihat sepupuku itu yang asyik dengan makanannya dan tak menghiraukan aku. Aku duduk di hadapannya dan memakan roti isi sebagai sarapanku.

“Kau sudah siap? Maaf aku makan tanpa bilang dulu habis aku belum sarapan.”
“Yah biasanya juga setiap datang kamu numpang makan.” ucapku enteng.

Irgi tertawa mendengar ucapanku, yah beginilah kami jika bertemu hanya candaan yang tercipta di antara kami. Irgi sahabat Nattan sejak kecil dan Irgi jugalah yang menjadi mak comblang hubunganku dengan Nattan. Dia sudah mengatakan segalanya tentang Nattan termasuk hubungannya dengan Marsya tapi akulah yang bodoh tetap mau bersama Nattan karena cinta konyolku ini. Tawaku langsung menghilang ketika Nattan datang menggandeng tangan Marsya ke arah kami. Aku berusaha menetralkan perasaanku dan memasang senyum menyambut mereka.

Selama perjalanan menuju tempat hiburan aku hanyalah jadi kambing congek di antara obrolan mereka. Sesekali aku hanya tersenyum menanggapi obrolan mereka, aku hanya bisa menutup mata melihat kedekatan Nattan dan Marsya yang sangat menyakiti hatiku. Di taman hiburan Nattan dan Marsya bak pasangan yang terus saja berangkulan sedangkan aku hanya orang tak terlihat di sini. Aku lebih banyak diam menunggu mereka bermain di bawah pohon sendirian menyaksikan kebahagiaan mereka merayakan aniversary persahabatan mereka yang ke-20.

Saat makan siang mereka bertiga ramai sendiri sedangkan aku hanya jadi pemanis tak penting di sini. Sejak tadi tak sekalipun Nattan menyapaku apalagi minta maaf atas pembatalan kencan kami. Aku menarik napas berat, aku sudah tak tahan lagi di sini hingga ku putuskan untuk ke luar sendiri ketika mereka bertiga sibuk makan sambil ngobrol. Aku berjalan menjauh dari mereka dan sepertinya mereka bahkan tak sadar akan kepergianku. Aku berjalan tak tentu arah hingga tak sadar menabrak seseorang. Aku minta maaf lalu berlalu tapi tiba-tiba orang itu mencekal tanganku.

“Yumina kan?” tanya orang itu ragu.
Aku menatap orang itu dan langsung kaget melihat orang di hadapanku.
“Sam?” tanyaku ragu.

Orang itu mengangguk, kami tertawa melihat perubahan kami setelah 5 tahun tak bertemu. Sam memperkenalkan aku pada saudara-saudaranya yang berlibur bersamanya, dengan cepat kami akrab dan bermain bersama. Aku, Sam dan keenam saudaranya tiba-tiba jadi akrab padahal ini kali pertama kami bertemu. Sejenak aku melupakan masalah hidupku dan tertawa bersama mereka yang masih berusia belasan tahun. Di salah satu wahana aku bertemu dengan Nattan yang menatap marah ke arahku.

Nattan menarikku menjauh dari Sam hingga genggaman tanganku terlepas dari tangan kecil Sandra adik Sam yang paling kecil. Sam menatap bingung ke arah kami, aku melepaskan tangan Nattan dan memperkenalkan Sam pada Irgi, Nattan, dan juga Marsya. Aku memperkenalkan Irgi sebagai kakak sepupuku dan Nattan serta Marsya adalah teman Irgi. Sam mengangguk sopan pada mereka dan mengucapkan selamat tinggal ketika Nattan menarik lenganku untuk menjauh. Nattan terus menyeret lenganku, tidak seperti saat berjalan dengan Marsya yang saling menggengam tangan, Nattan malah terus menyeretku hingga membuat lenganku sakit. Aku tak tahan terus diseret seperti ini hingga ku tarik lenganku agar lepas dari tangannya. Nattan menatap berang ke arahku tapi aku tak peduli dan berjalan mendekati tempat parkir.

“Tak bisakah kau bersikap dewasa sedikit? Apa yang kamu lakukan tadi benar-benar menyusahkan dan membuat panik orang lain,” Aku tak mempedulikan dia dan masuk ke mobil duduk di samping Irgi yang sibuk dengan cemilannya. Selama perjalanan kami hanya diam saja tanpa bicara apa pun sampai mobil berhenti di depan rumahku. “Mina, lain kali kalau mau pergi bilang dulu pada kami jadi kami tak khawatir.” nasihat Marsya padaku.

Aku mengangguk dan memaksakan senyumku padanya, aku pamit pada mereka bertiga. Irgi dan Marsya melambai ke arahku sedangkan Nattan hanya diam saja bahkan melirikku pun tidak. Aku berusaha memakluminya mungkin dia marah tapi tetap saja hatiku sakit melihatnya. Aku tadi sengaja memperkenalkan Nattan sebagai temannya Irgi, aku hanya bermaksud melihat reaksinya tapi ternyata dia sama sekali tak bereaksi apa pun apalagi membantahnya. Pacar orang lain ketika pacarnya hilang yang mungkin ditanyakannya adalah kabar pacarnya terlebih dahulu tapi Nattan justru langsung memarahiku begitu saja.

Seminggu setelah kejadian itu aku tak pernah menghubungi Nattan dan tentu saja Nattan juga tak menghubungiku mengingat selama kami pacaran akulah yang selalu menghubunginya terlebih dahulu. Aku sangat merindukannya tapi aku menahan diriku untuk tak menghubunginya, aku mengalihkan perhatianku pada pekerjaanku sebagai seorang guru. Melihat kalender membuatku menangis hingga ku putuskan untuk mencopot semua kalender agar aku tak pernah mengingat hari itu. Cincin yang melingkar di jari manisku kini sudah tak ada lagi, aku sudah melepasnya tapi tak berani untuk mengembalikkannya langsung pada Nattan. Sepulang mengajar aku melihat Nattan berdiri di depan rumahku. Aku tersenyum paksa padanya dan menyuruhnya masuk tanpa berani melihat langsung ke arahnya.

“Besok kita akan melakukan pemotretan prawedding, Irgi yang akan jadi fotografernya. Kita pemotretan di studio miliknya karena aku tak punya waktu untuk pergi ke tempat jauh.” aku hanya diam saja mendengarkan ucapannya, hatiku sangat sakit saat ini tapi dia sama sekali tak bisa melihatnya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kenapa diam saja? Kamu masih marah soal minggu kemarin?” Aku hanya diam, tapi dalam hatiku aku sedang mengutuk ketidakpekaannya.
“Aku minta maaf, aku kasar padamu itu terjadi secara spontan karena aku khawatir padamu. Lain kali please jangan buat aku khawatir.” ucapnya lembut sambil menggenggam tanganku.

Aku menatap ke arahnya, seketika hatiku langsung berbunga mendengar ucapan lembut darinya. Selama kita pacaran ini kali pertama dia berbicara selembut itu padaku. Tanpa pikir panjang aku langsung memaafkannya, entah kebodohan atau apa tapi hatiku kembali sembuh ketika dia memberikan perhatian padaku. Setelah dia minta maaf hubungan kami seperti biasa lagi tapi baru beberapa menit dia langsung pergi ketika Marsya meneleponnya dan bunga di hatiku kembali layu.

Sesuai janji Nattan menjemputku untuk pemotretan, dia tersenyum manis ke arahku tapi aku hanya tersenyum datar padanya. Dia mendekat ke arahku dan menggenggam tanganku, ini adalah kali pertama dia menggenggam tanganku seperti ini. Jangan tanyakan bagaimana perasaanku saat ini tentu saja luar biasa bahagia. Jika kalian mengatai aku bodoh maka memang benar aku gadis bodoh yang mudah tersentuh karena sikap manisnya dan lupa akan pahit yang selama ini aku lalui. Aku selesai berganti pakaian dengan gaun untuk pemotretan, Nattan memujiku sangat cantik dan aku hanya tersipu mendengar pujiannya. Pengambilan pertama dimulai, baru satu kali potret handphone Nattan berbunyi dan dia langsung menjauh untuk mengangkat teleponnya.

Setelah menerima telepon Nattan langsung mengganti bajunya dan bergegas hendak pergi. Dia bilang terjadi sesuatu pada Marsya dan dia harus pergi sekarang. Dia menyuruh Irgi untuk melanjutkan pemotretan dan meminta gambarnya diedit saja, dia akan dipotret belakangan. Nattan pergi begitu saja tanpa melihat ke arahku sama sekali. Aku berusaha menetralkan ekspresiku tapi aku tak sanggup membendung lagi air mataku. Rasa sakit di hatiku benar-benar sudah di ambang batas hingga aku hanya bisa menangis dan meraung meratapi nasibku. Aku tak percaya Nattan begitu tega meninggalkanku seperti ini, apa aku tak ada artinya sama sekali untuknya? Pemotretan dihentikan dan meninggalkan aku yang masih terisak di pelukan Irgi dengan gaun cantik yang masih melekat di tubuhku.

“Aku tak sanggup lagi Irgi, aku tak sanggup… Rasanya aku ingin mati saja. Aku terlalu bodoh mengharapkan dia membalas cintaku, aku terlalu bodoh karena memilih untuk tetap di sisinya.” isakku Irgi hanya membelai kepalaku tanpa mengatakan apa pun. Entah berapa lama aku menangis hingga aku jatuh tertidur di pelukan Irgi. Suara teriakan seseorang mengganggu tidurku, dengan berat aku membuka mataku dan mendapati Nattan menatap tajam ke arahku.
“Apa yang kalian lakukan? Aku menyuruh kalian untuk melanjutkan pemotretan bukannya malah tidur bersama!” teriaknya. Irgi bangkit dan melepaskanku dari pelukannya tapi belum dia berdiri Nattan sudah menonjoknya. Aku melotot tak percaya atas apa yang Nattan lakukan, aku bangkit dan melindungi Irgi dari pukulan Nattan.

“Hentikan… Apa yang sebenarnya kamu lakukan?” marahku.
“Justru itulah yang aku tanyakan bagaimana mungkin baru beberapa jam aku meninggalkanmu, kamu sudah tidur di pelukan pria lain?” Aku tak percaya dengan apa yang dia ucapkan tanpa ku sadari tanganku bergerak untuk menamparnya. Nattan melotot tak percaya padaku sambil memegang pipinya.
“Jaga ucapanmu tuan, aku tak serendah itu, Irgi adalah sepupuku dan kami bahkan berbagi ibu susu yang sama. Berani sekali kau bicara seperti itu tentang kami, apa kau pikir kau makhluk suci? Lalu bagaimana kau menjelaskan hubunganmu dengan sahabat wanitamu itu? Bukannya kau sering menginap di rumahnya?”

“Jangan asal bicara Marsya bukan orang seperti itu, sejak awal kau tahu hubunganku dengan Marsya dan kau bilang bisa memakluminya,”
“Baiklah aku minta maaf, aku minta maaf tak bisa mengerti hubunganmu dengan Marsya, aku minta maaf atas semua yang terjadi di antara kita juga minta maaf karena tak bisa melanjutkan apa yang telah kita mulai, aku juga minta maaf atas semua waktu yang kau buang untukku.” ucapku lirih.
Nattan memandangiku tak mengerti, aku mendekat ke arahnya melepaskan cincinku dan menyerahkannya pada telapak tangannya. “Maaf karena aku mencintaimu… Maaf karena menahanmu untuk tetap berada di sisiku. Semoga kau bahagia.” ucapku sambil melangkah menjauh.

Aku berlari menjauh dari studio milik Irgi dengan gaun dan dandanan acak-acakan yang ku mililiki. Aku terus berlari dengan air mata yang terus membanjiri pipiku, aku tak peduli dengan tatapan orang terhadapku dan terus berlari menuju rumahku. Berhari-hari aku habiskan untuk menangis, handphoneku terus bergetar menandakan panggilan masuk dan sms tapi aku tak ingin menggubrisnya sama sekali. Nattan, Irgi, dan Marsya datang untuk menemuiku tapi aku menolak mereka bahkan orangtuaku yang pulang tak aku gubris sama sekali hingga mereka pergi lagi dua hari kemudian. Terhitung seminggu sejak kejadian itu, aku akhirnya mau menemui Irgi untuk bicara dengannya. Irgi melihatku dengan tatapan sedih dan menarikku ke pelukannya.

“Apa tak bisa dipikirkan lagi keputusanmu? Kurang dari sebulan lagi pernikahanmu akan digelar tapi kalian malah putus seperti ini,” sesalnya.
“Tak ada lagi yang bisa ku lakukan untuk pernikahan itu, aku sudah lelah berjuang sendirian. Harusnya aku tahu Nattan tak pernah mencintaiku, harusnya aku tak meminta dia melamarku, harusnya aku sadar posisiku sejak awal,” isakku. Irgi menepuk-nepuk punggungku berusaha memberikan ketenangan untukku. Entah sudah berapa banyak air mata yang aku keluarkan tapi saat ini air mataku masih saja membanjiri pipiku.

“Apa kamu begitu mencintainya?” tanya Irgi prihatin.
“Kau pikir untuk apa aku bertahan sejauh ini jika aku tidak mencintainya? Aku mencintainya, sangat mencintainya bahkan rasanya aku mau mati tanpanya.” isakku.
Aku terus terisak hingga ada seseorang memelukku dari belakang. Aku berbalik ke arah belakang dan melihat Nattan bersimbah air mata sambil menggumamkan kata maaf. Aku berusaha melepaskan pelukannya tapi dia malah semakin mengeratkan pelukannya. Lama kami terdiam dalam posisi ini, Irgi pun sudah pergi untuk memberi kami ruang untuk bicara berdua saja. Tak satu patah kata pun ke luar dari mulut kami, hanya isakan halus dariku saja yang terdengar.

“Maafkan aku karena menyia-nyiakan kamu selama ini, aku tahu aku salah tapi tak bisakah kamu memberiku kesempatan kedua? Kalau boleh jujur aku memang pernah jatuh cinta pada Marsya tapi itu dulu, aku tak sadar perlahan aku sudah tak mencintainya sebagai wanita setelah kedatanganmu. Setelah mengenalmu perasaanku pada Marsya perlahan menghilang, setiap bersamanya aku hanya mengingatmu tapi ketika bersamamu aku tak bisa berbuat banyak karena jantungku tak bisa ku kontrol dan aku sangat gugup. Aku tak tahu seberapa dalam perasaanku padamu hingga kamu menghilang dari hidupku, tak ada pesan darimu, tak mendengar suaramu benar-benar membuatku rasanya mati.” ucap Nattan sambil terisak.

Aku hanya diam mendengar ungkapan hatinya dengan air mata yang mengalir mengiringi isakannya. Aku membalikkan tubuhku untuk melihatnya, menghapus air mata yang mengalir di pipinya dan memandang wajahnya yang tirus dan matanya yang sayu. Nattan menghapus air mataku, mencium keningku lalu memelukku dengan hangat. “Jangan pernah lelah untuk mencintaiku, jangan pernah lelah untuk mengerti aku dan jangan pernah menyimpan rasa lelahmu sendirian. Mari kita mulai lagi hubungan kita berdua tanpa ada Marsya maupun Irgi ataupun Sam yang ada hanya kau dan aku juga anak-anak kita di masa depan kelak. Aku mencintaimu dan kita akan tetap menikah di tanggal yang sudah kita tentukan.”

Aku tersenyum sambil menangis di pelukan Nattan, inikah akhir kisah cintaku? Jawabnya adalah bukan karena justru inilah awal kisah kami dimana bukan ada aku dan kamu tapi yang ada adalah kita. Yah hanya kita berdua.

The end

Cerpen Karangan: Nina
Facebook: Min Hyu Na

Cerpen Antara Aku Dan Sahabatmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Why Do We Break Up?

Oleh:
Hari begitu gelap. Sang surya telah kembali ke peraduannya. Tak ada satu pun sinar bintang terpancar dari langit malam. Hanya terdengar suara petir yang menyambar, disusul suara guntur yang

Randa Tapak (Dandelion)

Oleh:
Seperti dandelion, wanita itu rapuh. Seperti dandelion, wanita ingin diperhatikan. Seperti dandelion, wanita ingin dilindungi. Seperti dandelion yang tertiup angin, terombang ambing tak tentu arah. Fina. Gadis jelita penyuka

Sepenggal Memori Saat Holokaus

Oleh:
“Kau dan aku, jangan jadikan pertempuran ini sebagai bongkahan batu besar yang menghalangi kita untuk melihat masa depan. Aku yakin, Aris, kamu pasti bisa bertahan di Holokaus ini. Suatu

Kau Merenggutnya Dariku

Oleh:
“Hiks… hiks..” tangisku. Karena kejadian malam itu, malam dimana gadisanku direnggut oleh seseorang yang tidak kuketahui wajahnya. Perkenalkan namaku andita biasa dipanggil dita. Malam itu aku sedang di rumah

Restu (Part 2)

Oleh:
Zarah sedih, dia tetap tak mau memilih antara keluarga dan Rizki. Saat ini Dia merasakan kesedihan itu sendiri tanpa keluarga dan Rizki di sisinya. Zarah memilih sendiri tanpa harus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

6 responses to “Antara Aku Dan Sahabatmu”

  1. Novii says:

    wow. keren kisahnya. menyentuh.
    kisah awalnya sam adengan kisah saya, tapi entah apakan kisah saya akan berakhir sama dengan coretan kakak.. saya harap itu… heheee

    good luck buat seterusnya. lanjutkan kakak

  2. nina says:

    hehehe… thanks udh bca and comment coretanku…
    amin moga aja kisahmu berakhir bahagia juga…

  3. Yusi says:

    Wah keren sampe terharu bacanya hehe, semoga makin sukses bikin cerpennya 🙂

  4. ana khoirotul says:

    wah bagus banget….woooaaaaaa
    cerpennya mbak nina bagus bagus deh
    jadi suka bacanya.

  5. Evi Andini says:

    Bagus-bagus deh cerpennya kak nina. Bikin ikutan baper, huhuhu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *