Antara Cinta dan Cita Citaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 January 2017

Namaku Agnes, usiaku 17 tahun. Dilihat dari usiaku saja kalian pasti sudah tau bahwa aku masih duduk di bangku sekolah. Dan itu memang benar, aku duduk di kelas XII SMA. Menurut teman-temanku aku anak yang pintar, rajin dan ambisius. Aku akui apa yang mereka katakan memang benar, tapi menurutku aku adalah anak yang biasa-biasa saja karena aku sendiri tidak tau akan jadi apa aku suatu hari nanti. Aku memang punyai mimpi yaitu menjadi orang yang sukses, sukses apa ntahlah aku juga tidak tau. Untuk mempertahankan prestasiku memanglah tidak mudah apalagi hidup di zaman sekarang. Semua remaja, pelajar kebanyakan diuji oleh perasaan cinta. Berpacaran dan pergaulan lainnya. Bahkan aku pernah mengalaminya. Akan aku ceritakan kepada kalian masa-masa sulitku. Dimana aku nyaris menyerah untuk mengejar mimpiku, aku nyaris menyerah untuk melanjutkan hidup ini. Ini terjadi 6 bulan yang lalu.

Aku masih duduk di bangku kelas XI, semester ll. Aku mendengar ada siswa baru di kelas sebelahku, tapi aku tidak peduli. Wajar saja jika ada siswa baru dan hal itu sudah biasa terjadi di setiap sekolah. Tapi kali ini berbeda, teman-temanku selalu menyanjungi anak baru ini. Katanya dia anak yang keren tinggi, putih dan pintar. Tidak ada hal lain yang mereka bicarakan kecuali anak baru ini.

Pada saat istirahat aku berencana pergi ke perpus. Dalam perjalanan menuju perpus aku melihat anak laki-laki yang berjalan dengan tergesa-gesa dan di tangan kirinya memegang buku dan lembaran kertas, sampai-sampai salah satu kertasnya ada yang terjatuh. Aku mengambilnya dan berusaha mengembalikan kepada anak itu. Aku berusaha memanggilnya tapi aku tidak tau namanya karena aku juga tidak melihat wajahnya. “hei kau…” panggilku dia tidak mendengar dan terus berjalan kenudian aku memanggilnya sedikit lebih dekat “hei kau..!” dan anak itu berbalik.
“ya?”
“apa ini milikmu?” tanyaku
“oh benar”
“tadi terjatuh”
“benarkah? terima kasih banyak” ucap anak itu
Aku hanya mengangguk
“aku harus pergi sekarang, sekali lagi terima kasih banyak” lanjutnya
“tidak masalah”
Dia berbalik dan langsung pergi. Aku tidak tau siapa dia, wajahnya asing aku tidak pernah melihatnya. Apakah dia anak yang dibicarakan oleh teman-temanku, anak baru itu? lagi pula ciri-cirinya juga sama. Tapi, untuk apa aku peduli, lebih baik aku pergi ke perpus untuk membaca buku. Lagipula aku merasa bosan di kelas karena teman-temanku selalu membicarakan anak baru itu, dan sekarang untuk apa aku memikirkannya? masa bodoh.

Keesokan harinya, pada saat pulang sekolah aku terkejut bis sekolah sudah tidak ada di tempatnya, ternyata bus itu sudah berangkat tetapi tidak terlalu jauh jadi aku bisa mengejarnya. Aku mengejarnya sambil memanggil pak supir yang sedang mengemudi untuk berhenti, tapi pak supir tidak mendengarnya, aku terus berusaha mengejarnya. Kemudian anak laki-laki yang aku temui kemarin mengulurkan tangannya padaku dan mengisyaratkan aku untuk mengulurkan tanganku juga. Aku mengulurkan tanganku dan berlari sedikit lebih cepat ternyata berhasil. “terima kasih” ucapku dengan berusaha mengatur nafasku. “tidak masalah anggap saja semuanya impas, bukankah kemarin kau juga menolongku?”. “oh ya.. baiklah berati kau tidak punya hutang kepadaku” candaku. Sejak saat itulah aku mengenal anak baru itu, oh ya bukan lagi, bukan anak baru namanya adalah ‘Leon andi pretama’ menurutku dia anak yang humoris dan mudah bersosialisasi. Pada saat di bus aku dan leon saling bercanda. Kami bukan seperti anak yang baru kenal yang bicaranya masih kaku antara satu sama yang lain, tapi seperti sahabat yang sudah kenal sejak lama. Dan sejak saat itulah aku dan leon menjadi teman baik. Bahkan teman-temanku heran, bagaimana bisa? aku adalah anak yang sama sekali tidak peduli pada saat teman-temanku membicarakan tentang leon anak yang pintar. Jika mereka bertanya mengapa aku bisa begitu akrab, aku akan menjawabnya, itu berawal dari pertemuan yang kebetulan saja.

Sudah 2 bulan lebih aku dan leon berteman baik sejak dimana aku dan dia bertemu di bis sekolah. Hampir setiap hari aku dan leon bertemu di perpustakaan. Aku membaca novel sedangkan leon belajar matematika, karena dia memang suka pelajaran matematika. Terkadang aku dan leon bermain kuis cepat tepat, hal itu untuk mengasah otak kami. Terkadang aku membacakan cerpen sedangkan leon yang mendengarkannya. Pernah terjadi dimana saat itu aku membacakan cerpen untuk leon. Dia mendengarkannya dengan patuh, bahkan aku mersa aneh. Karena aku merasa dia bukannnya mendengarkanku tapi malah memandangiku dan menatapku. “kau mendengarkanku kan?” tanyaku “ya, aku mendengarkannya”. “tapi, kenapa kau tersenyum seperti itu?”. “tidak apa-apa, ceritanya juga bagus, sudah lanjutkan” kata leon. “mm, baiklah” aku melanjutkan membaca cerpen itu. Tapi sunnguh aneh, aku merasa senang atau bagaimana ketika leon menatapku seperti itu… akh sudahlah apa yang aku pikirkan? tidak mungkin itu terjadi padaku.

Seperti biasa aku bermaksud pergi ke perpus untuk mencari novel baru. Pada saat tiba di perpustakaan aku melihat leon bersama perempuan lain, ia adalah rina teman kelas leon. Kemudian entah mengapa langkah kakiku berhenti untuk melangkah. Aku mengurungkan niatku untuk pergi ke perpus. Aku merasa sedikit kesal karena tidak mendapatkan novel, jadi aku merasa bingung apa yang akan aku lakukan karena biasanya aku membaca novel ataupun cerpen di perpus. Tapi apa memang itu alasannya? aku kesal, apa karena tidak mendapatkan novel, lagipula siapa yang mengurungkan sendiri untuk masuk ke perpus padahal hanya tinggal satu langkah untuk masuk ke perpus. Atau bukan itu alasannya, apa karena leon bersama perempuan lain atau…, ya ampun apa yang aku pikirkan sebenarnya? sudahlah lupakan semuanya, lagipula apa masalahnya denganku.

Sudah 3 minggu aku dan leon jarang bertemu, ya karena aku memang tidak pernah pergi perpus, entah kenapa aku malas pergi ke sana semenjak leon dan rina. Tapi apa hubungannya aku dengan mereka? bukankah perpus luas dan aku bisa duduk dimana saja yang aku mau? ya tuhan bantulah aku… apa yang terjadi denganku sebenarnya?

“hai angel” lusi sahabatku memetikkan jarinya di depan wajahku “hm.. ada apa?” aku kebingungan. “kau kenapa?”. “tidak, aku tidak apa-apa” jawabku bohong. “dari tadi kau melamun” “hm..benarkah?”. “kau ini sebenarnya kenapa? belakangan ini kau sering melamun dan lihat nilai ulanganmu memburuk”. “buruk?”. “kau tidak menyadarinya? coba lihat 50, 70, 65 bukankah ini buruk jika dibandingkan dengan nilai ulanganmu yang biasanya mendapatkan nilai 90 bahkan 100” “ini sudah biasa, belakangan ini aku malas untuk belajar” jawabku ringan. “kenapa apa kau ada masalah?”. “hei angel” sekali lagi lusi memetikkan jemarinya di depan wajahku “tuh kan kau melamun lagi”. “hm?” aku kebingungan seperti orang bodoh. “angel, jika memang ada masalah ceritakan saja, aku kan sahabatmu”. “sudah aku bilang tidak ada masalah”. “bohong!, ayolah ceritakan saja mungkin aku bisa membantumu”. Tiba-tiba air mataku menetes membasahi pipiku, aku menceritakan semuanya kepada lusi dan berharap agar dia memberikan saran. “apa?!” lusi terkejut mendengar pernyataan yang sebenarnya dariku. “angel kau mencintai leon?” aku hanya mengangguk sambil mengusap air mataku. “dan kau menjadi seperti ini hanya karena dia?”. “kenapa lus?” tanyaku heran. “angel, jika memang rina dan leon itu jadian, sudahlah biarkan saja, tapi jangan sampai kau lemah seperti ini dan mempertaruhkan pelajaranmu”. “jadi itu saranmu untukku?”. “bukannya aku tidak mendukungmu, tapi apa boleh buat itu hak leon, tapi jangan sampai kau mengorbankan cita-citamu yang merupakan mimpi besarmu untuk menjadi orang sukses” penjelasan lusi panjang lebar. “aku rasa hidup ini tidak ada artinya lagi”. “ya ampun kau ini, sudahlah itu terserah kau, kau memilih cinta atau cita-cita? kau sendiri yang menentukan”. Lusi meninggalkanku, sedangkan aku sendiri merasa sedih dan bingung manakah yang harus aku perjuangkan cinta ataukah cita-cita?

Aku melihat perpustakaan tidak ada yang menjaga dan tidak ada seorangpun di sana. Aku memasukinya, aku duduk di bangku pojok rak buku, tiba-tiba air mata membasahi pipiku, mengingat hari demi hari tidak ada yang berubah dari diriku, nilaiku anjlok dan aku sedih aku tidak bisa memperbaikinya. Akibat menangis mataku terasa berat, aku tertidur di perpustakaan. “neng-neng bangun” pak jono penjaga perpustakaan membangunkanku. “ini sudah bel masuk” lanjutnya. “oh terimakasih pak sudah dibangunkan” ketika aku terbangun aku merasa ada yang kurang, oh ya lembaran kertas diaryku hilang. “pak jono apa bapak melihat lembaran kertas di sini?”. “tidak, bapak tidak melihatnya”. “Oh baiklah”. Di mana lembaran kertas yang aku bawa tadi? kenapa tidak ada, apakah ada guru lain yang membawanya? ya ampun padahal kertas itu, sudahlah, lembaran itu tidak penting entah dibuang ataukah dibakar aku tidak peduli.

Tidak lama lagi, perayaan perpisahan kakak kelasku, kelas XII akan dilaksanakan di sekolah ini, sebagai adik kelas aku juga ikut berpartisipasi dalam merayakannya. Aku ikut dalam paduan suara, sedangkan yang lain ada yang berpidato, drama menjadi mc dan bernyanyi. Aku melihat lagi-lagi leon dan rina juga latihan di aula, mereka latihan apa aku juga tidak tau. Aku tidak peduli lagi, aku mengatakan aku tidak mencintainya pada diriku sendiri, tapi apa iya aku tidak peduli? kenapa rasanya hatiku berkata lain, ya tuhan kenapa hati ini tidak bisa dikompromi?.

Perayaan yang ditunggu-tunggu telah tiba, walaupun aku senang karena dapat ikut serta berpartisipasi, aku sadar bahwa sebenarnya yang aku tunggu adalah penampilan leon dan rina. Ini dia tiba saatnya leon dan rina tampil. Tapi kenapa hanya leon yang naik ke atas pentas dimana rina?. leon membawa lembaran kertas, sepertinya dia akan membacakan puisi. Aku mendengarkan puisi itu dengan seksama. Tunggu, apa itu? apa aku tidak salah dengar, puisi yang dibacakan oleh leon sama persis dengan pusi ciptaanku sendiri hanya saja kata leon yang tertera dalam puisiku diganti dengan kata malaikat dan seingatku puisi itu sudah hilang ketika aku tertidur di perpustakaan. Mana mungkin puisi itu sama pesis. Atau jangan-jangan leon yang mengambil lembaran-lembaran kertas itu di perpus, atau dia menemukannya di tempat sampah? jika memang begitu, aku akan merasa sangat malu karena selain berisi puisi lembaran diary itu juga berisi curahan hatiku dan perasaaku kepada leon. dan apakah puisi itu untukku? buankah namaku angel yang memiliki arti malaikat dalam bahasa inggris. Aku ingin sekali menemui leon setelah dia turun dari panggung. Namun acara ini membuatku kesulitan untuk bertemu dengannya.

“angel” ada seseorang yang memanggilku suara itu tidak asing, itu suara leon. “ya?” aku berbalik dan ternyata itu memang leon. “ini” leon memberikan lembaran-lembaran kertas diary kepadaku. Sudah kuduga.. puisi yang tadi dibacakan olehnya memang puisiku. “jadi kau..”. “ya, aku sudah tau semuanya” leon mutuskan kata-kataku sebelum aku menyelesaikannya. “sebenarnya sebelum membaca itu aku sudah tau semuanya”. “dari siapa?” tanyaku penasaran. “dari lusi”. Ya ampun lusi, kenapa dia menceritakannya..?. “angel tapi yang kau lakukan itu salah”. “aku mengerti, aku minta maaf padamu, dan aku tidak akan berani untuk memiliki perasaan itu” kataku menunduk. “bukan itu masalahnya” kata leon. “lalu apa?”. “kau memiliki perasaan padaku itu tidaklah salah, dan itu wajar, tapi apa yang kau lakukan itulah yang salah”. apa maksud leon aku juga tidak mengerti dimana letak kesalahanku? “kau seharusnya tidak mengorbankan pelajaranmu, tidakkah kau sadah bahwa itu juga akan mengancam cita-citamu”. Oh jadi itu.. baiklah aku mengerti sekarang. “karena aku juga memiliki perasaan seperti apa yang kau rasakan, tapi aku juga tidak menjadi lemah” perasaan terhadap siapa sebenarnya? “aku mencintaimu angel” dup jantungku berdegup dengan cepat, apa aku tidak salah dengar?. “aku mencintaimu saat aku pertama kali bertemu denganmu di dalam bus”. “apa?”. “itu memang angel, aku mencintaimu”. “mm aku pikir kau adalah pacar rani, bukankah kalian sering bersama?”. leon tersenyum keci “hm, rina adalah sahabatku, dan alasan mengapa aku sering dengannya di perpus, karena dia mengajariku untuk persiapan olimpiade matematika”. Penjelasan leon panjang lebar.

“ngomong-ngomong, maukah menjadi pacarku?”. aku terkejut mendengar pertanyaan dari leon, apa yang seharusnya aku jawab?. “mm.. baiklah tapi kau taukan kalau aku…”. “tenang saja, kan jangan khawatir, aku akan terus menghormatimu jadi kita berpacaran sebatas berpegangan tangan oke?”. “oke!” leon mengerti bahwa aku adalah siswi yang begitu taat dengan agamaku”. Aku sangat malu dan juga senang, semuanya menjadi satu. “Mm ngomong-ngomong karya tulismu di diary bagus juga” puji leon, “kau ini apa apaan sih” kataku karena malu. “iya, itu benar angel, kau pandai membuat puisi dan kata-kata yang kau gunakan dalam curhatan itu sangat bagus” pujinya sekali lagi “kenapa kau tidak menjadi seorang penulis saja?” lanjutnya. “penulis? tapi aku tidak tau dan”. “sudah itu mudah biar aku yang akan mengajarimu” leon memutuskan kata-kataku sebelum aku meneruskannya, dan dia menawarkan diri untuk menjadi guruku. Aku lupa jika leon adalah anak yang selalu dibicarakan oleh teman-temanku karena kepandaiannya. Jadi aku tidak perlu khawatir. Aku yakin dia bisa membantuku. Aku menghela napas “mm… baiklah, kapan kita mulai?”

Sudah 3 bulan aku dan leon berpacaran. Kami saling mendukung untuk tetap bersemangat dalam menggapai mimpi kami. Oh ya sampai saat ini aku masih menekuni kegiatanku dalam hal membuat cerpen, dan saat ini aku juga memulai untuk membuat novel pertamaku, leon aku jadikan sebagai guruku. Sekarang aku sudah bisa menjawab teka-tekiku sendiri. Jika ada orang yang bertanya kepadaku tentang cita-citaku, aku tidak tidak perlu ragu lagi aku akan akan menjawab aku akan menjadi penulis yang sukses. Dan jika ada yang bertanya kepadaku dalam hal apa yang akan aku perjuangkan cita-cita ataukah cinta? maka aku pun akan menjawab keduanya, selama itu baik untukku.

Cerpen Karangan: Dwi Putri Utami
Facebook: Dwi Putri Utami
nama: dwi putri utami
alamat: desa tanjung, probolinggo, jawa timur
usia: 17 th
status: pelajar

Cerpen Antara Cinta dan Cita Citaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Chemistri Cinta Adit

Oleh:
“Fire, fire, fire dduduudduuud” suara BBM adit terdengar. dia masukan nomor kode HPnya dan membuka BBM, ternyata dia adalah ely nurjannah yang akrab dipanggil kak elen. Adit temukan Kak

Anime in Love (Part 1)

Oleh:
Anime Satu kata itu tidak terdengar asing di Telingaku. Ya, mungkin karena aku penggemar anime. Suka nonton film-filmnya, suka jadi cosplay salah satu karakter (nggak sering juga, sih), dan

Kawan Sejati

Oleh:
Seorang sosok wanita yang sangat baik dan rendah hati sedang mengayuh sepeda miliknya, dengan perasaan yang selalu dibawa oleh keceriaannya itu hari-harinya terasa lebih indah dan apa adanya. Riana

Cinta Yang Salah

Oleh:
Cinta sejati?, apa itu cinta sejati? apakah cinta sejati itu benar benar ada? Aku tak mempercayai lagi yang namanya cinta sejati setelah aku dikhianati oleh seseorang yang sangat aku

Mutiara Air Mata

Oleh:
“Hidup bukan untuk disia-siakan. Hidup itu untuk diperjuangkan. Sesulit apa pun Tuhan memberikan ujian, maka jalanilah dengan tegar. Jika kamu sudah tidak mampu, maka berdoalah dan minta pertolongan pada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *