Antara Cinta dan Kebohongan


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 16 July 2013

Cinta adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Cinta pulalah yang melengkapi hidup manusia. Dengan cinta kita bisa merasakan rasa sakit dan juga rasa senang. Aku adalah Eni Saraswati, murid di SMA Bintang. Saat ini aku sudah menginjak kelas 2. Orang mengenalku sebagai anak yang sopan, pandai dan juga pendiam. Aku menjalani hidupku tidak seperti kebanyakan anak lainnya, aku tidak suka pergi jalan-jalan di malam minggu, aku juga jarang tahu tentang hal-hal yang berbau modis, ya bisa dianggap aku ini kuper alias kurang pergaulan.

Saat ini aku tidak suka dengan kehidupanku, aku mulai bosan hidup seperti ini. Aku butuh cinta. Cinta? apakah orang sepertiku butuh cinta? rasanya janggal jika aku ngomong soal cinta. Mungkin aku tidak pantas untuk mengenal dan merasakan apa itu cinta. Tapi anggapan itu sering membuat aku uring-uringan sendiri. Aku butuh seseorang untuk bisa aku ajak curhat. Tapi aku sadar dengan keadaanku saat ini. Mana ada lelaki yang mau denganku. Jangankan mau menjadi pacarku, bahkan melirik aku pun mereka tak mau. Tapi hal inilah yang membuat aku melakukan hal yang bodoh.

“Anterin gue ke warnet sa.” Pintaku pada Sasa
“Emang ada perlu apaan en kok mau ke warnet?” jawab Sasa
“Udah deh, ntar juga kamu tahu sendiri. udah ah ayo cepetan keburu malem.” Jawab ku

Aku meminta Sasa untuk menemaniku pergi ke warnet. Dan Sasa pun mau. Sesampai di warnet, aku dan Sasa memasuki bilik dan mulai untuk menyalakan komputer. Sasa pun bertanya kepadaku untuk apa ke warnet, dan aku hanya diam saja.
Aku membuka situs yahoo, dan berniat untuk membuat email baru. Aku sudah selesai membuat sebuah email. Tapi aku tidak menggunakan namaku sendiri untuk membuat email itu.
“En, loe mau ngapain sih kok bikin email segala? trus kok nggak pakai nama loe sendiri?” tanya Sasa penasaran.
“Gue mau bikin facebook sa,” jawabku singkat.

Aku pun melanjutkan pekerjaanku dan mulai membuka facebook untuk membuat akun disitu. Setelah semuanya selesai, aku pun menambahi sebuah foto yang menurutku menarik untuk dipasang disitu, dan juga segala tetek bengek profil yang aku isi, tentu saja berbeda dengan kepribadianku sendiri.
“Gue mau bikin fanpage tentang fenomena di alam sa, dan gue gak mau identitas asli gue ketahuan. makanya gue bikin facebook baru biar bisa nampung ni fanpage.” Jelasku pada Sasa.
“Owh gitu tow, bilang dunk dari tadi, kan gue biar gak bingung.” Jawab Sasa
Itulah tujuan utamaku membuat facebook ini, sebelum akhirnya aku menyalah gunakannya.

Setelah aku membuat facebook itu, aku semakin ketagihan untuk terus membuka facebook baruku itu. Aku seperti dibutuhkan dan di cari oleh orang-orang, terutama lelaki. Mereka semua berebut untuk dapat berkenalan denganku, bahkan mereka juga tidak segan-segan untuk meminta nomor handphone ku. Entah kenapa aku merasa senang melakukan itu. Tujuan utamaku untuk membuat facebook itu aku lupakan, dan beralih untuk menggunakannya sebagai pribadiku.
- Hai boleh kenal gak ni
- Siapa ya?
- Aku edo.. boleh tau namamu?
- Udah jelas gitu kok nama ku
- Iya deh maya. kamu asli mana?
- Surabaya
- Boleh minta nomor hapemu?

Begitulah. Aku sedang chatting dengan seseorang di facebook. Dia mengaku bernama edo. dan meminta nomor hapeku. Awalnya aku enggan untuk memberi nomor hapeku, tapi akhirnya aku memberinya juga, ya itung-itung buat temen smsan aja.
Hari-hari aku lewati begitu saja. Tapi ada yang menarik bagiku. Edo. Iya, lelaki itu kini menemani hari-hariku. Aku senang karena aku bisa mengenalnya. Ia baik, sopan, dan kelihatannya polos sekali. Tapi aku takut, karena aku bukanlah aku yang sebenarnya. Aku hanya orang yang tertutup topeng yang palsu, topeng yang selama ini aku pakai dan tak pernah aku melepaskannya barag sedikitpun. Semuanya aku jaga begitu rapat, seperti pintu yang ditutupi baja yang kokoh. Aku tak tau apakah yang selama ini aku lakukan benar atau salah.

Pagi ini aku berangkat sekolah seperti biasanya. Sasa sudah menungguku di depan kelas, sepertinya ada hal yang ingin ia tanyakan padaku.
“en, kok loe kayaknya gak bersemangat gitu? apa ada masalah di rumah?” Tanya Sasa penasaran
“enggak ada.” Jawabku singkat
“aku yakin pasti ada. Gue udah kenal loe itu lama. Udah deh gak usah ada yang loe sembunyiin dari gue.” Ungkap Sasa
“sa, loe kan tahu gue, loe juga tahu gimana keadaan gue. Menurut loe pantas gak kalau gue ditembak cowok?” ungkapku lirih
“so what? kenapa enggak gitu loh. Loe juga berhak ngrasain cinta. Emang loe ditembak cowok? siapa? kok loe gak cerita ama gue sih?” Tanya sasa penasaran
“gak ada yang perlu diceritain.” Jawabku singkat
Aku pun meninggalkan Sasa di luar kelas dan menuju ke tempat dudukku. Pelajaran pun dimulai, membuat aku sejenak melupakan pernyataan edo semalam kepadaku lewat sms.

Aku tak bisa menyangkalnya. Aku mencintai edo. Sungguh mencintainya. Tapi pergolakan batinku ini tak henti-hentinya terus mengusikku. Edo tak tau siapa aku sebenarnya. Jika aku berterus terang, apakah ia masih mau menerimaku? aku takut jika pada akhirnya nanti ia malah mencaci maki aku kalau tahu siapa aku sebenarnya. Tapi aku tak kuasa menahan rasa di hatiku.
“aku sungguh mencintaimu en, aku gak pernah ngrasain cinta kayak gini sama cewek. Aku pengen kamu jadi cewekku. Kamu mau apa nggak?” Tanya edo lewat telepon.
“tapi aku…” jawabku
“tapi kenapa en? apa kamu gak yakin ama aku? aku janji bakal bahagiain kamu, walaupun aku gak pernah ketemu kamu, tapi aku yakin cintaku ini gak salah. Aku gak salah mencintai kamu,” jelas edo padaku.
Kamu gak tau apa yang sebenarnya aku rasain do. Aku mencintaimu tapi aku gak bisa buat nerima kamu. batinku
“hallo en, kamu masih dengerin suara aku kan?” Tanya edo memastikan
“eh ii.. ya do denger kok.” Jawabku agak gagap
“gimana jawaban kamu?” tanyanya
“hmm iya aku mau do.” Jawabku
Aku akhirnya menerima cintanya edo. Hah aku tak tau apakah keputusan aku untuk menerima cintanya benar atau salah. Tapi aku juga tak ingin memungkiri perasaanku sendirinya, aku mencintai edo. Setulus hatiku

Aku merasa senang edo selalu memperhatikan aku. Oh tuhan aku benar-benar nyaman dibuatnya. Apa yang harus aku lakukan buat ini semua. 5 bulan sudah aku menjalani hubungan dengannya. Ya meskipun kita memang gak pernah sekalipun bertatap muka. Edo berkali-kali meminta aku untuk mau bertemu denganku. Tapi aku selalu menolak dengan alasan apapun itu. Karena memang aku gak bisa bertemu dengannya. Ia tak tau apa alasan aku yang sebenarnya. Aku masih menutup rapat rahasia ini.

Aku masih ingat. Hari itu adalah hari rabu. Hari dimana aku harus memutuskan hubungan aku dengan edo. Sepertinya edo mulai curiga terhadap aku. Ia mulai bertanya siapa aku sebenarnya. Namun aku masih bisa menguasai diriku dan mencoba bersikap tenang, walau dalam hati aku merasa was-was kalau sampai tahu yang sebenarnya. Aku tahu cepat atau lambat ia akan sampai pada kesimpulan ini. Dan aku memang harus menyiapkan mentalku.

Pada malam harinya aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Aku sudah tak sanggup lagi harus terus-menerus menyakiti hatinya. Aku mengakui bahwa aku bukanlah maya khairunnisa, tapi aku eni saraswati. Dan aku tidak tinggal di Surabaya. Melainkan di semarang. Aku menceritakan semunya kepada edo. Aku takut jika aku berkata seperti ini ia akan membenciku dan tidak mau mengenalku. Oh tuhan aku tak tahu apakah dia itu malaikat, hatinya benar-benar baik dan lembut, dan aku malah menyakitinya. Sungguh bodoh diriku ini menyakiti hati sebaik dirinya. Aku ikhlas jika ia membenciku, karena aku pantas mendapatkan itu. Tapi aku senang karena bisa mengenal orang seperti dia. Terimakasih edo, untuk semua yang telah kamu curahkan kepadaku.

Cerpen Karangan: Mutmainah Ummi Hidayati
Facebook: Mutmainah Ummi

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Cerpen Galau

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply