Antara Cinta Dan Luka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 4 April 2018

The day i first met you,
You told me, you’d never fall in love,
*Demi Lovato – Give Your Heart a Break

Langit sore hari ini tampak mendung. Tak lama lagi pasti hujan. Sama seperti perasaanku kini yang mulai muram. Suara khas Demi Lovato tadi terasa menggema di earphoneku. Membuatku kembali teringat akan kejadian itu. Disaat pertama kalinya aku lihat dia menangis di depanku.

“Aku takut, Nit. Aku hanya tidak ingin mimpi buruk itu kembali terulang,” desah Farel. Bulir-bulir air mata kini jatuh membasahi pipinya. Aku tidak menyangka Farel yang kukenal sangat ceria dan begitu humoris itu, bisa menjadi serapuh ini. Selama ini Farel memang sangat pintar menutupinya. Walaupun sebenarnya aku tau selama ini dia sangat terluka. Ingin rasanya aku obati lukanya itu. Tapi aku sadar, itu tidak akan mudah. Butuh waktu yang lama untuk Farel mengistirahatkan hatinya.

Perlahan aku hapus air mata itu. Aku tatap matanya yang memancarkan kesedihan yang teramat jelas.
“Mau sampai kapan kamu terikat dengan dengan masa lalu? Kamu lupa, ada aku di sini. Beri aku kesempatan untuk menghapus lukamu itu, Rel.” lirihku.
Farel menggelengkan kepalanya. Aku mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Pernahkah kau ditinggal pergi oleh kekasih yang sangat kaucintai? Bagaimana perasaanmu karena itu? Aku tau, pasti tidak akan mudah bagi Farel untuk melupakan semua itu. Tapi apa salah jika aku ingin memilikinya? Menghapus semua kesedihannya?
“Maaf, Nit. Aku nggak bisa. Please, jangan paksa aku!” desahnya lagi dengan lirih.

Aku terdiam. Permohonan Farel tadi menghantamku telak. Dari dulu aku mencintainya. Sangat mencintainya lebih dari siapapun. Tetapi disaat aku ingin menyatakan perasaan ini, aku tau, itu sudah terlambat. Farel kini telah resmi menjadi milik orang lain. Saat itu Farel begitu bahagia. Wajahnya terlihat sangat cerah. Senyumnya pun begitu manis dan sumringah. Tetapi, semua itu hilang seketika. Wanita itu pergi menginggalkannya tanpa alasan yang jelas. Meninggalkan seribu kenangan yang telah mereka lalui bersama. Itulah yang membuat Farel kini menjadi berubah. Dia menjadi lebih pendiam dan tidak mau didekati siapa pun. Bahkan kepadaku pun, teman dekatnya dari kecil, dia tidak mau berbicara. Sering kulihat dia menyendiri di kelas. Wajahnya selalu tampak pucat seperti mayat hidup. Senyumnya yang manis dan sumringah itu lenyap seperti ditelan bumi. Farel memang sangat mencintai wanita itu. Bahkan sampai sekarang pun, Farel masih tetap mencintainya. Andai saja dia tau, sampai detik ini aku masih mengharapkannya. Walau kepahitan yang selalu kudapat, tetapi aku yakin, suatu saat nanti dia akan berada dalam dekapanku. Aku yakin itu.

“Kringg… kriinggg!!!”
Tidak terasa handphoneku berbunyi. Aku tersentak kaget. Semua lamunanku tadi menjadi buyar seketika. Kulihat layar handphone, tertera nama Farel di sana. Keningku berkerut. Tumben Farel telepon, ada perlu apa ya? Mendadak jantungku berdegup dengan kencang. Seperti mau lepas dari tempatnya. Tanpa ba bi bu lagi segera aku angkat telepon itu.
“Ya Farel, ada apa?”
“Ehmm… Nit, nanti malam kamu ada waktu tidak?” tanya Farel di ujung telepon.
“Enggak, Rel. Ada apa memangnya?”

Sejenak suara telepon mendadak hening. Terdengar suara helaan nafas Farel dari ujung telepon.
“Aku mau mengajakmu makan malam nanti di Cafeteria. Jam 7 aku jemput ya. Kamu harus udah siap-siap, oke?”
Lagi-lagi keningku kembali berkerut. Jantungku kembali berdetak kencang untuk yang kedua kalinya. Farel mau mengajakku makan malam? Aneh.
Dari suara Farel tadi, sepertinya dia tidak sedang bersedih. Suaranya terdengar lebih rileks dan santai. Berbeda dengan sebelumnya yang selalu terdengar serak dan begitu tertekan. Apakah mungkin dia sudah melupakan semua mimpi buruknya?

“Hallo, Nita! Kamu mendengarku tadi?” tanyanya lagi.
“Ohhh… eh, iya Rel. Bisa kok. Aku tunggu ya,” jawabku dengan gugup.
“Oke, sip. Nanti aku kabari lagi ya. Oh iya, jangan lupa nanti malam kamu dandan yang cantik ya? Aku nggak mau jemput kamu dengan mata belekan kayak waktu itu. Masa aku udah ganteng-ganteng gini, kamunya malah belekan? Kan enggak lucu, hehehe.”
Tanpa sadar, sebelah alisku terangkat naik. Farel tertawa? Ini sungguh keajaiban. Baru kali ini aku dengar dia tertawa di telepon.

“Nita? Nita!? Halo? Haloo!!?”
“Ehh… iya Rel,”
“Kok dari tadi kamu diem aja? Kenapa? Kamu sakit?” tanyanya sedikit khawatir.
“Enggak. Aku gak papa kok.”
“Beneran?” tanyanya lagi memastikan.
“Iya. Beneran, Rel. Aku gak papa.” balasku lagi dengan suara meyakinkan.
“Ya syukur lah, kalo kamu gak papa. Ya udah, itu aja ya Nit. Oh ya, kata-kataku tadi jangan sampai lupa. Hehe, bye!” ucapnya lagi dan langsung memutuskan pembicaraan.
Dengan bingung aku tatap layar ponselku. Belum juga dijawab, udah diputusin aja teleponnya! Huh, dasar Farel!

Yap, sudah kuduga hari ini Farel benar-benar aneh. Tidak biasa-biasanya dia mengajakku makan malam di luar. Kecuali jika ada sesuatu yang ingin dia bicarakan, pasti kami akan janjian bertemu. Tapi kurasa akhir-akhir ini, tidak ada hal yang serius menimpa Farel. Ada apa sebenarnya?

Perlahan kutengok jam dinding. Jam 4 lewat 5 menit. Masih ada 3 jam lagi waktu untukku bersiap-siap. By the way, nanti malam aku pakai baju apa ya? Diingat-ingat, tidak ada stok baju bagus di lemariku. Semuanya hanya baju khusus untuk di rumah. Sebenernya ada sih beberapa baju untuk jalan. Tetapi semenjak berat badanku bertambah 3 kg, jadinya baju-baju itu tidak aku pakai lagi sampai sekarang. Apa masih muat ya?

“Hei, Nit. Tadi telepon dari siapa?”
Aku menoleh. Kulihat Gabriel berdiri di depan pintu kamar seraya menggarukkan rambutnya yang tidak gatal. Wajahnya terlihat kusut dan rambutnya pun acak-acakkan. Pasti baru bangun tidur, pikirku.
“Farel.” jawabku singkat.
“Mau ngapain lagi dia?” tanyanya dengan raut wajah kesal menahan amarah.
“Katanya dia mau mengajakku makan malam nanti jam 7,” sahutku dengan santai. Aku tidak mau beradu mulut dengan Gabriel kali ini. Aku tau, dia masih menyimpan dendam pada Farel. Gara-gara tidak terimanya dia waktu aku ditolak oleh Farel. Menurutnya, Farel itu pengecut. Tidak bisa menerima kenyataan. Tidak bisa kusalahkan, memang benar pernyataan Gabriel. Tapi walaupun begitu, sangat sulit bagiku untuk melupakannya. Sekali kau mencintai seseorang, mau bagaimana pun dia menyakitimu, tetap saja rasa itu akan terus ada. Tidak akan pernah hilang sampai kapan pun.
“Terus kamu mau?” tanyanya lagi seraya melangkah masuk ke kamar dan duduk tepat di sampingku.
Aku hanya mengangguk pelan sembari melihat nama Farel di daftar kontak handphoneku. Aku masih memikirkan Farel. Dari tadi hatiku gelisah. Sama sekali tidak tenang.

“Sudah aku bilang, jauhi Farel! Dia itu bukan laki-laki yang baik untukmu!” tegasnya seraya menatapku dengan tajam.
Aku menghela nafas panjang. Selalu saja seperti ini!
“Sudahlah Gabriel, ini keputusanku. Aku tidak bisa menjauhinya!”
Aku pandangi Gabriel dalam-dalam. Aku akui, dia memang kakak yang baik. Setiap saat selalu berusaha memikirkan kepentinganku. Ya seperti inilah contohnya. Dia selalu mengingatkanku untuk menjauh dari Farel. Tapi aku selalu melanggarnya. Aku tau niatnya baik, tapi inilah perasaanku. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku ingin Gabriel juga mengerti.
“Tapi kamu yang terluka, Nit! Kau adikku! Aku hanya tidak ingin adikku sendiri di sakiti oleh laki-laki pengecut seperti dia!” bentaknya lagi dengan penuh amarah.
Aku hanya diam dan memalingkan muka. Sama sekali tidak menggubris perkataannya tadi. Aku sudah lelah berdebat dengannya setiap kali membicarakan soal ini.

Tiba-tiba saja Gabriel bangkit dari tempat duduknya. Emosinya yang tadi meluap-luap, kini sudah kembali mereda. Aku perhatikan raut wajahnya yang berubah. Kelihatan sekali, dia sangat kecewa padaku.
“Baiklah jika itu maumu. Aku tidak akan memaksa. Tapi kau harus ingat, jangan lagi kau sakiti dirimu sendiri hanya demi dia! Kalau sampai aku tau dia menyakitimu lagi, lihat saja, pasti akan kubuat perhitungan dengan dia!” ucapnya lagi dengan ketus lalu melangkah ke luar kamar.
Aku tertegun. Aku pandangi dirinya yang kini berada di luar pintu kamar. Gabriel mengizinkanku pergi bersama Farel? Ini bukan mimpi kan?

“Terima kasih Gab,” ucapku dengan pelan lalu tersenyum kecil.

Cerpen Karangan: Hernita Sari Pratiwi
Facebook: Hernita Sari Pratiwi

Cerpen Antara Cinta Dan Luka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Merangkai Bingkisan Kalbu

Oleh:
“Ju, jangan di kamar terus! Sekali-kali liburan gitu. Jangan belajar terus, nanti capek lo!” “Nggak Ma, Juania masih banyak tugas.” Liburan memang tak ada di mata Juania. Baginya waktu

l Had To Choose Who

Oleh:
Akhir-akhir ini si ganteng bersaudara, tak lain Justin Bieber dan adeknya Luke hemmings yang famous banget di Heatman University tempat aku menuntut ilmu sekaligus jalan untuk menyongsong masa depan

Cinta Di Langit Perkemahan

Oleh:
Dinginnya pagi kini makin terasa saat hembusan angin yang menyelinap di balik jendela. Aku pun terbangun dari tidurku oleh tiupan angin yang menyerka hingga ke tulang rusuk. Dengan mata

Cinta Itu Memang Buta

Oleh:
Nama ku Rani, aku gadis berusia 16 tahun yang dari usia 10 tahun aku tidak bisa meelihat dunia lagi, karena kecelakaan yang merenggut fungsi Mataku. Beruntung teman-teman di komplek

Cinta Anak SMK

Oleh:
Move on. Dua kalimat yang memiliki banyak arti, susah dilakukan, dan sangat sensitif bagi kaum remaja saat ini, khususnya remaja putri. Haha gue hanya tersenyum saja saat melihat celotehan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *