Antara Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 December 2014

Dalam sebuah keterasingan aku berjalan kaku. Aku tak ingin menoleh sedikitpun ke belakang. Aku ingin terus menatap masa depan. Tapi di depan sana banyak sekali tikungan. Sebenarnya dalam hati kecilku aku merasakan ketakutan. Aku takut tersesat. Aku takut tak sampai pada tujuanku. Dan ternyata tiba-tiba kamu datang, menunjukkan jalan mana yang harus ku tempuh. Kamu memberikan arah menuju ke sana, menuju tempat terakhir di mana aku harus berhenti. Di mana aku harus berlabuh dan berhenti terombang ambing dari lautan kesepian yang sekian lama kurasa. Kamu perlahan-lahan menuntunku dengan segenap kemantapan dan suluruh keyakinanku.

Pelan-pelan raja siang merayap meninggalkan peraduannya, menuju singgasana indah milik-Nya. Langit berwarna kemerah-merahan, burung-burung beterbangan menuju sarangnya, kembali ke tempat peristirahatan malamnya. Para kelelawar bergerombol menghiasi angkasa. Oh… betapa Tuhan melakukan perhitungan yang sangat matang dengan seluruh ciptaannya. Hingga Dia hadirkan sesuatu yang sangat menakjubkan di batas pergantian siang dan malam.

Aku termangu duduk di pinggir pantai, sendirian. Ku amati setiap camar dan kelelawar yang melintas di atasku. Aku teringat pelajaran pendidikan agama di SMA dulu. Sesungguhnya dalam pergantian siang dan malam itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. “Semuanya memang benar, tapi kenapa aku terus terpuruk di sini? Terpuruk menikmati sudut hatiku yang terluka.” Batinku.

Perlahan-lahan rasa getir mendera pikiranku. Aku kalut. Aku ingin move on, tapi kenapa selalu nggak bisa. Terus dan terus stagnant, jalan di satu tempat. Satu tempat di mana hatiku tersakiti. Kembali terbayang dalam benakku betapa indah lukisan senyumnya di setiap mimpiku. Betapa menakjubkannya tawanya di setiap lamunanku. Oh… aku mencintainya. Benarkah apa yang kurasa? Dapatkah semua kusebut cinta? Gemuruh ombak kurasakan sama dengan gemuruh di hatiku. Kupejamkan mataku, aku ingin mengubur semua dalam masa laluku. Aku tak ingin terus trauma.

Petang merambat ke seluruh tubuh pantai. Rasanya aku belum ingin beranjak dari sini, dari tempatku duduk. Tapi aku cukup sadar untuk selalu pulang ke rumah sebelum malam larut. Ku hitung setiap langkah kakiku yang menapaki jalan aspal sempit menuju rumahku. Ku lihat di ujung sana ada rumahku, aku ingin segera berlabuh ke sana. Istirahat di kamar tercintaku. Dan dalam rasaku terbersit, aku pun menginginkan sebuah tempat untuk berlabuhnya hatiku.

Bel tanda istirahat terdengar nyaring. Seperti nyanyian yang akan memberikan ketenangan pada satu sudut kepenatan di otakku. Aku merasa bosan sekali dengan pelajaran metematika yang nggak pernah masuk ke dalam otakku. Pelajaran yang sama sekali tak mampu kucerna, dan selalu menjadi mimpi buruk ketika ujian hampir tiba.

“Ka, ke kantin yuk…” ajak Winda sahabatku.
“Ogah ah Win, aku mau di depan kelas aja, males banget nih”, sahutku. Dia tak peduli dengan penolakanku, tanganku ditariknya… ya… mau nggak mau akhirnya aku nurut. Wina sahabatku satunya terkekeh-kekeh. “Kamu pikir lucu Na?” tanyaku. “Hehe, woles Ka, ntar cepet tua kamu kalo judes-judes”. Ucapnya sambil tertawa girang. Aku berjalan mundur karena dikerjai mereka berdua, dan aku pun ikut-ikutan tertawa lepas. Aku bahagia punya mereka. Mereka berdualah yang selalu ada saat suka dan dukaku.

“Buuuukkkk…”, tanpa kusadari aku menabrak seseorang. Wina dan Winda nyengir kuda, mukanya lucu banget dan aku takut, membalik badanku dengan slow motion (kayak di film-film). “Oh no… ganteng banget”, pikirku. Aku pun ikut-ikutan nyengir kuda kayak Wina dan Winda. Dan sesaat aku melupakan satu tugas penting yaitu minta maaf. Aku buru-buru tersadar dari anganku yang sudah entah ke mana. “Eh, sorry ya… aku nggak sengaja. Ini lagi dikerjain ma anak-anak”, terangku. Wina mencubit lenganku dan rasanya aku semakin nyengir. Orang yang kutabrak cuma bermuka datar dan berlalu dari hadapanku.
Aku bersungut-sungut melanjutkan perjalanan ke kantin. Sementara kedua sahabatku cengengesan di samping kanan kiriku. “Gara-gara kalian tuh aku jadi nabrakin orang. Untung dia nggak minta ganti rugi. Coba kalo dia minta ganti rugi, kayak di tipi-tipi, mampus aku”, ocehku. Dan kita bertiga tertawa lepas. “Kamu kayaknya jadi korban sinetron deh Ka.”

Dan aku tak tahu kenapa kejadian yang sama terulang kembali. Tapi kali ini bukan aku yang salah.
Aku berjalan dengan setumpuk buku di tanganku dari perpustakaan sekolah. Sedikit kepayahan karena yang kubawa cukup berat. Maklum aku orangnya kecil. Aku begitu konsentrasi dengan buku yang ku pegang tanpa menyadari seseorang berlari dari arah yang berlawanan. Dan “Brraaaakkk…”, seluruh buku di tanganku jatuh berantakan. Spontan wajahku berubah menjadi sangat galak. Aku melototi orang yang menabrakku. “Sorry… gue beber-bener nggak sengaja. Lagi buru-buru nih.” Ucapnya sambil memunguti bukuku, menyerahkan padaku dan berlari. Berlalu untuk yang kedua kalinya dari hadapanku.
Sepertinya wajahku sudah melunak. Aku tak merasakan panasnya lagi. Kulanjutkan berjalan ke kelas. Dan sesampainya di kelas ternyata guru killer yang paling dibenci anak-anak sudah duduk manis di kursinya. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Aku nggak boleh masuk kelas. Kulihat sekilas Wina dan Winda memandangiku dengan gusar dan kasihan. Rasanya aku pengen mencak-mencak. Mana buku di tanganku berat banget rasanya. Yaa… orang itu yang membuat hari ini berantakan.

2 minggu kemudian….
“Ka, sepulang sekolah ada acara nggak?” tanya Wina. Aku hanya menggelengkan kepala dan kurasa itu cukup memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaan Wina. “Perwakilan kelas ada rapat nih. Tapi aku nggak bisa, aku mau ada acara sama mama, kamu yang ngumpul ya? Wakilin aku.” Pinta Wina. Awalnya aku menolak tapi mau gimana lagi. Wina sahabatku yang kusayang. Kita saling ngegantiin posisi masing-masing pada saat-saat yang genting. (tapi tidak pada posisi kencan dengan pacar)

Bel tanda pelajaran usai berdering. Aku bergegas menuju ke ruangan tempat rapat akan berlangsung. Aku memilih tempat duduk nomor 2 paling ujung depan. Cukup nyaman untuk mendengarkan ocehan dari ketuanya nanti. Dan aku berpikir informasi yang kuterima akan sangat jelas. Setelah 10 menit seluruh bangku telah terisi kecuali satu di sampingku. Tempat paling ujung. Aku cuek aja, mungkin mereka males harus berhadapan dan deket-deket sama mungkin senior yang menjelaskan di depan. Aku tak memperhatikan siapa aja yang masuk ke ruangan karena aku sibuk ngobrol dengan Rika di sebelahku. “Sini kosong ya? Boleh duduk di sisi?”, spontan aku menoleh ke arah suara itu. Dan hasilnya aku cukup kaget. Orang ini lagi kata batinku. Aku mencoba menarik bibirku membentuk sudut tumpul. “Oh iya, boleh kok.” Jawabku sedikit acuh.

Reza ketua perwakilan kelas satu tingkat di atasku mulai menjelaskan tema rapat. “Selamat siang semua”. “Selamat siang,” balas semua yang hadir dengan serempak. “Oke, langsung aja kita ke acara inti. Sebulan lagi kan ada acara ultah sekolah kita yang ke 77. Perwakilan kelas angkatan kami berencana mengadakan acara, yaitu lomba fotografer antar kelas dan pemenangnya karyanya akan dipamerin di acara ultah nanti. Dan yang menjadi ketua penyelenggara teman saya ini namanya Diga. Dia akan menjelaskan dulu gimana sistematikanya dan kalo setuju kita semua nanti jadi panitianya dan selanjutnya di atur sedemikian rupa.” Terang Reza panjang lebar, kita semua hanya mengamini saja. “Oke Ga, silahkan.” Dan Diga mulai menjelaskan jalan acara itu semua. Kita semua setuju, sepertinya acara itu bakalan mengasikkan. “Untuk paitia inti harus ada satu perwakilan dari kelas 2 dan kelas 1, untuk kelas 2 aku menunjuk kamu”, terang Reza sambil menunjuk ke arahku. “Oke Ka, Sini minta nomor hp kamu biar mudah komunikasi”, imbuhnya. Ya… mau nggak mau akhirnya kuterima tawaran ini. Harusnya Wina yang ada di posisiku.

2 minggu kemudian…
Aku menikmati termenung dalam kamar, membaca-baca buku. Tiba-tiba hp ku berdering tanda sms masuk. Buru-buru kulihat. Ternyata yang muncul nomor baru. “Karen ya?”, segera kubalas. “iya, siapa?” Sms nya masuk lagi. “wow judes banget, gue Diga. oh ya ini besok mau rapat panitia inti. datang tepat waktu. jgn mpe telat” Kuketik balasan singkat dan kukirim. “ehmmm… ok.”

Sejak saat itu aku mulai dekat dengan Diga. Setiap malam dia menghiasi mimpi-mimpiku. Aku dihadapkan pada sebuah kenyataan. Ya… aku jatuh cinta.

Dan akhirnya tibalah di acara puncak dari seluruh rangkaian acara, yaitu malam ultah sekolah. Aku merasa sangat manis dengan mengenakan dress yang lucu, membuatku terlihat imut dan mungil. Wina datang dengan pacarnya begitu pula Winda. Aku terpaksa sendirian. Duduk manis memegang satu gelas minuman.
“Ka, mau dansa sama gue?” seseorang mengulurkan tangannya. Aku kaget bukan main. Tanpa sadar aku mengangguk. Aku tersenyum manis dan berdansa dengan dia. Aku merasa ada kebahagiaan yang tiba-tiba meyusup, entah dari mana asalnya. Aku rasanya melayang ke tempat yang selalu ada di khayalku.

Acara usai dan berlalu. Tapi rasanya aku ingin berlama-lama merasakan perasaan yang membuncah di hatiku. Setiap malam aku selalu tersenyum, duduk di pantai sendirian. Merenung dan selalu terbayang Diga yang begitu perhatian. Tiap malam sms aku, ya biarpun suma satu atau dua sms saja. Dan ketika ia tak muncul aku merasa ada kehampaan yang menderaku. Sekarang aku punya 3 orang yang begitu dekat denganku, Wina, Winda, dan Diga.

Bulan demi bulan telah berlalu. Perasaan di hatiku kian membuncah dan kuncup-kuncup bunga itu kian bermekaran.

3 bulan kemudian…
“Aku pengen punya pacar Na.” Celetukku ketika sedang berdua di rumah Wina. Winda sedang ada acara dengan keluarganya dalam waktu seminggu ini. “Ya kan udah ada Diga Ka,” ucapnya sambil cengengesan menatapku. “Ya emang pengenku sama Diga Na, tapi kok nggak nembak-nembak ya? Udah seminggu dia nggak sms aku, malah nomornya nggak aktif Na,” imbuhku antusias. “Mungkin dia cari moment yang tepat Ka, dan sekarang kan udah pada sibuk try out anak-anak kelas 3.” Hibur Wina.
Aku memang tak berniat untuk mencari Diga di sekolah. Aku sadar saat ini anak-anak kelas 3 harus konsentrasi dengan ujian akhirnya. Dan mungkin apa yang dikatakan Wina benar adanya. Pintu kamar Wina diketuk dari luar. “Siapa? masuk.” suruh Wina. Ternyata pembantu Wina mengantarkan sepucuk surat yang diamplop begitu rapi. Wina pelan-pelan membukanya. Kami berdua sangat penasaran.

Surat itu…
To: Wina_Karen
Na, Ka, aku minta maaf selama seminggu nggak ada waktu buat ngumpul. Dan mungkin juga untuk selamanya. Aku yakin saat ini kalian sedang berdua. rasanya berat sekali untuk menulis surat ini. Tapi harus aku tulis, aku tahu kalian butuh sebuah kejujuran.

Rasanya aku tak sabar membaca surat itu. Aneh… surat Winda muter-muter nggak jelas.

Aku berterima kasih atas semua waktu kalian untukku. Selama hampir 2 tahun mengenal kalian adalah saat terindah dalam hidupku yang nggak akan pernah kurasakan lagi sampai kapanpun. Tapi aku memang benar-baner biadab, dan tak pantas kalian anggap lagi sebagai sahabat, terutama Karen.
Aku minta maaf… Aku minta maaf… Aku minta maaf…
Kalian pasti nggak tahu kalo aku sebenarnya sudah putus dengan Reno 2 bulan yang lalu. Setelah itu semuanya terjadi. Karen… aku merebut Diga darimu. Sebenarnya bukan mauku, tapi semua itu permintaannya. Aku sudah buta, aku buta. Aku berpacaran dengannya sejak 1,5 bulan yang lalu. Meskipun setiap malam dia selalu memperhatikanmu. Itu hanya seolah-olah saja. Itu semua bohong. Itu semua aku yang mengatur.
Sekarang aku merasakan karma dari semua perbuatanku. Aku hamil, aku mengandung anak Diga. Dan aku harus menikah, berhenti sekolah juga harus pindah dari sini. Aku akan melewatkan masa-masa depan yang selalu kita impikan bersama-sama. Aku minta maaf. Ku mohon… Aku memang pengecut. Aku nggak ingin kalian tahu aku ada di mana.
Aku minta maaf…
Winda

Kristal itu jatuh berantakan dan bergulir perlahan di pipiku. Aku menahan rasa sakit yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Marah, kesal, benci, kehilangan dan kekecewaan bercampur menjadi satu. Aku menggelepar-nggelepar, seolah sedang sekarat. Wina hanya bisa mendekapku sambil sesenggukan. Memberikan sedikit kehangatan yang tak pernah ingin kurasakan lagi. Dia pasti merasakan hal yang sama denganku.

2 tahun kemudian…
Aku masih merasakan trauma yang cukup dalam di benakku. Aku tak mau mengenal lelaki manapun. Meskipun sekarang aku telah kuliah memasuki semester 2. Wina pindah ke Sidney dengan keluarganya dan kuliah di sana. Aku pun mulai mengenal orang-orang baru. Sahabat-sahabat baru, lingkungan baru dan pergaulan baru.
Tapi untuk percaya pada seseorang menjadi hal yang sangat sulit bagiku. Aku takut menjalin persahabatan seperti di SMA. Hanya Winalah sahabat terdekatku. Apalagi untuk menjalin hubungan dengan lelaki, aku sangat ketakutan. Aku takut jatuh cinta, aku takut sakit hati. Meskipun hatiku butuh sandaran dan aku tak mau munafik. Aku butuh seseorang.

Pada suatu malam itulah kamu datang. Hp ku berdering. Satu pesan masuk dari nomor baru. “Karen ya?” “iya, siapa?” uh… rasanya seperti dejavu saat Diga pertama kali sms aku. Tapi sms selanjutnya beda. “aku Ben, boleh kenal sama kamu? Aku seangkatan sama kamu.” Terangnya. “tahu dari mana?” balasku penasaran dan acuh. Dan setelah itu semua berlanjut.

1 tahun kemudian…
Hatiku masih mati. “Ka, aku sayang sama kamu, kenapa kamu nggak pernah mau percaya sama aku? Aku pengen jadi pendamping hidup kamu. Ka… aku serius.” Ucapmu. Lambat tapi pasti aku memberikan kesempatan untukmu. “Okelah Ben, aku mau jadi pacarmu. Tapi aku butuh waktu yang lama untuk mengatur perasaanku.”

Sejak itu kubiarkan kamu perlahan-lahan memasuki hatiku yang mati rasa. Memang, aku tak merasakan hatiku untukmu. Hatiku telah diambil seluruhnya oleh Diga. Dan dibunuh oleh kebusukannya. Namun, kamu tak pernah menyerah, perlahan-lahan menghidupkannya. Perlahan-lahan kamu mengembalikan hatiku. Memberikannya satu nyawa baru. Meskipun kupahami kamu merasakan kesakitan yang panjang karenaku. Aku belajar… aku belajar mencintaimu dengan segala ketulusan yang ku punya. Aku belajar menjadi yang terbaik bagimu, menjadi satu-satunya wanita yang beruntung karena kau sayangi, karena kau cintai.

Setiap waktu kita lewati bersama-sama. Setiap dering hp ku pasti kamu. Dan seluruh waktuku selalu ada kamu. “sayaaang…” Itu sms mu yang selalu kunantikan setiap aku membuka mataku. Setiap kali aku terjaga dari mimpi ku di tengah sepinya malam. Aku bahagia punya kamu, meskipun aku belum bisa menjadi yang terbaik untukmu. “Ka, siap berangkat?” Aku selalu mendapati sms yang sama setiap hari. Sms yang sama sebelum berangkat kuliah. Tak peduli pagi itu hujan atau terik. Kamu selalu datang dengan senyummu setiap pagi. Seolah kamu tak pernah merasa letih.
“Ka, sampai kapanpun aku akan selalu menyayangimu. Aku nggak peduli dengan semua tikungan yang ada di jalanmu. Tak peduli dengan seluruh liku-likunya. Aku hanya mau kamu. Setiap saat Cuma kamu yang selalu menghiasi doa-doaku. aku ingin Tuhan mendengarnya. Memberikan lembaran cerita yang indah antara kita. Love you Ka..” kata-kata itu selalu terngiang dalam benakku. Kamu selalu ada dalam suka dukaku. Kamu selalu menjadi penenang saat masalah datang menerpaku. Kamu satu-satunya orang yang tak pernah lari ketika yang lain meninggalkanku. Kamu selalu menjadi semangat setiap saat aku mencapai titik terendah dalam hidupku.

Aku tahu kamu tak bisa membaca hatiku. Tapi aku yakin kamu merasakan hal yang sama atas hari-hari yang kita lewati. Pantai, jalanan, kampus, kantin dan semuanya akan menjadi saksi bisu dari seluruh kisah kita. Sampai Tuhan akan meminta kita kembali pada-Nya esok. Aku tak peduli dengan segala sifatmu. Sifat keras kepalamu. Aku juga tak peduli dengan semua masa lalumu. Entah orang bilang apa tentangmu. Yang aku tahu kamu memberikan apa yang tak pernah ku dapatkan.

Tak terasa 2 tahun kita menjalin rasa. Kita melewati musim yang berbeda. Aku tak ingin sedikitpun di antara kita merasa kecewa. Tahukah ketika musim hujan tiba… aku selalu mengingatmu yang tak peduli basah kuyup menyosongku dengan senyuman. Meski kadang kala kamu cemberut menahan kesal dalam hatimu. Dan tahukah ketika musim panas tiba… aku selalu mengingatmu yang tak peduli terik menyengat menyongsongku. Dan setiap malam ataupun siang yang terlewat, kamu selalu menjadi yang terbaik untukku.

Aku meminta pada Tuhan… esok antara kita jauh lebih baik. Waktu yang kita lewati lebih panjang. Lebih lama. Aku merasa sangat beruntung. Dan sampai saat ini… aku selalu berharap bisa menjadi satu-satunya makmummu, yang selalu patuh pada seluruh perintahmu. Aku terus berdoa pada-Nya… semoga kamu menjadi jodohku, menjadi penuntun langkahku menuju ke singgasana surgawi-Nya… Ku mohon… dengarlah bisikan kecil hati ini… aku ingin kamu yang terbaik… melewati liku-liku hidupku yang penuh dengan tikungan curam…

(SELESAI)

Cerpen Karangan: Alis Maharani (Sila Queen)
Facebook: Alis Maharani
lahir di salah satu kabupaten di Jawa Timur, yaitu kabupaten Pacitan yang ikut terkenal berkat SBY jadi presiden. nama dari lahir Alis Maharani. 🙂 hobby menulis dan ngayal, tidur dan makan 😀

Cerpen Antara Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mantan Kamu Pacar Aku

Oleh:
“Ra gue lulus loh masuk USU dan gue bakal ninggalin kota Jambi ini” “Wah serius, Universitas Sumatra Utara (USU) congratulatios ya buat lo Tan. Tapi gue sedih lo bakal

Istrimu Cinta Terlarangku

Oleh:
“Mas….aku ingin berpisah dengannya” demikian pesan singkat yang baru saja dia kirim, masuk ke telephone genggam ku. Lama sekali aku diam, berpikir untuk merangkai kata sebagai balasan pesan sigkat

Kekalnya Persahabatan

Oleh:
Seorang gadis terbalut jilbab putih sedang menyiram bunga. Gadis kecil itu adalah Rara. Rara duduk di kelas 5 SD. Dia mempunyai banyak sekali teman. Salah satunya adalah Syafa. Syafa

Gara Gara Cabe

Oleh:
Siang itu adalah jam istirahat pertama kami dikelas 8 ini. Tidak terasa akhirnya kami semua, K’HITS dapat naik kelas dengan nilai yang lumayan bagus, malah ada yang bagus banget.

Surat Kapten (Part 2)

Oleh:
Seraut wajah yang benar-benar kurindukan apa yang ada padanya. Ia pucat, kenapa? tubuhnya terbaring, sakitkah? Ia tak menjemputku seperti yang lainnya, tak mendekapku dan hanya tersenyum sayu padaku. Dadaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Antara Kita”

  1. affiantara says:

    Ceritanya sih cukup menarik, tapi penceritaannya masih kurang mengena menurut saya, mungkin karena ide ceritanya panjang tapi sengaja dibuat pendek kali ya 😀

    Secara keseluruhan sih masih enak dibaca 🙂

    Tetap semangat berkarya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *