Antipodes

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 September 2016

“Kalian yakin, bakalan nunjuk Arka untuk memimpin rapat bareng itu kapten band?,” tanya Rio di tenah musyawarah seluruh anggota basket.
“Dia kan kaptennya!,” jawab Rendy sebagai asisten Arka.
“Kenapa nggak lu aja, Ren?!,” tanya Rio.
“Kalau ada Kapten kenapa harus gue? Sama aja dong gue nggak ngehargai Arka! Iya nggak guys?!,” tanya Rendy memastikan kepada teman-teman yang lain.
Dan, mereka menganggukkan kepalanya seraya berbisik setuju untuk menunjuk Arka sebagai pemimpin rapat untuk acara Warriors (Turnamen Basket) sebagai tuan rumah.
“Masalahnya, dia itu…”
“Kenapa sama Arka?,” tanya Rendy penasaran saat Rio sengaja memutusnya.
“Tahu ah! Gue cabut dulu!”
“Yaelah! Ini anak bener-bener dah! Belum juga jawab, udah maen pergi aja!”

Rio keluar dari basecame. Ia berlari mengililingi sekolah untuk mencari Arka. Mulai dari ruangan band, kolam renang, lapangan tenis, lapangan bulu tangkis, perpustakaan, taman, dan ruangan latihan dance. Ia tidak menemukan sahabatnya sama sekali.
Hingga akhirnya, langkah kaki Rio terhenti saat melihat Arka tengah bermain basket dengan cucuran keringatnya. Dari kejauhan, Rio dapat melihat keseriusan Arka dari sorotan matanya. Bagaimana tidak? Arka tengah berlatih menjadi point guard. Posisi terberat dalam sebuah tim basket. Dimana, ia harus bisa menembak dari segala sisi dan juga tempat selama ada kesempatan.

“Arka!,” teriak Rio dengan melambaikan tangannya.
Arka membalas teriakan Rio dengan angkatan dagu tanda ‘apa’.
“Sini!,” balas Rio.
Tanpa berkata, Arka berjalan ke arah Rio dengan santai. Bajunya yang basah kuyup karena keringat terlihat begitu jelas dari kejauhan. Begitu juga dengan dadanya yang six pack serta punggungnya yang sudah terbentuk.
“Ada apaan?”
“Anak-anak setuju nunjuk lo untuk memimpin rapat bareng sama kapten band itu.”
“Kenapa harus gue, sih? Lo kan tahu kalau…”
“Iya gue tahu kalau lo itu introvert. Tapi, masak iya gue harus bilang sama anak-anak kalau lo adalah orang yang introvert?!,” ucap Rio memutus perkataan Arka.
“Terus sekarang gimana?,” tanya Arka kebingngan dengan sorotan mata yang penuh dengan kekhawatiran.
“Kalau udah bulat begini keputusannya, gue nggak bisa nyangkal untuk nolongin lu, Ka! Masalahnya, ini keputusann bersama! Lagipula, elu kan kaptennya! Jadi, gue peringatkan aja kalau lu siapkan bahannya untuk besok. Okay?!”
“Yah… bantuin lah!”
“Iya. Gue bakalan bantuin elo buat nyiapin bahan presentasinya. Sekarang, lo bisa lanjutin itu latihan! Gue ada acara! Ntar gue balik ke sini! Kita cari bahannya hari ini juga! Bye!,” kata Rio dengan menepuk lengan Arka lalu pergi dari hadapan Arka.
“Thank you Brother!,” seru Arka mengiringi langkah Rio dengan sedikit larinya.

Rio menolehkan kepalanya. Kemudian, mengangkat kedua ibu jarinya. Menunjukkan kalau ia akan melakukan pinta Arka dengan baik. Sambil menunggu Rio kembali, Arka meneruskan latihannya. Ia berlatih dengan sekuat tenaganya. Air galon yang tersedia juga sudah hampir habis karena tenaga Arka yang terbuang. Hingga akhirnya, Rio kembali dengan nafas terengah dan wajah yang penuh dengan kekawatiran.

“Lu kenapa, Ri?”
“Mitra kita minta presentasi sekarang, Ka! Kita belum punya bahannya sama sekali. Boro-boro bahannya. Konsepnya aja kita nggak punya!”
“Ya… Tuhan… tolonglah umatmu ini!,” gumam Arka dengan melempar bola basketnya ke arah ring meski tidak masuk.
“Udah deh! Apa kata nanti aja! Yang penting, lu PD di depan anak-anak band itu! Jangan gerogi! Anggep mereka ilang! Ibaratnya, lu belajar gila! Ngomong-ngomong sendiri!,” ucap Rio masih dengan nafas terengah.

Tanpa membuang waktu lagi, Rio dan Arka berjalan menaiki tangga untuk sampai di aula atas. Dan benar saja, ia sudah di tunggu oleh kapten band Pro Techno sebagai mitranya. Begitu juga personil yang lainnya.
“Kenalin! Ini kapten basket kita! Arkana Aditya!,” ucap Rio menyapa para personil.
“Arka!,” panggil kapten band terkejut.
“Felly!,” panggil Arka lirih.
“Kalian, saling kenal?,” tanya Rio.
Felly dan Arka tidak menjawab. Mereka berdua hanya menganggukkan kepalanya. Berkomunikasi melalui tatapan mata. Itulah yang mereka lakukan saat itu. Felly Anggi Wiraatmaja, yang biasa berkomentar dan berkicau saat ia berhadapan dengan lawan bicaranya hanya bisa terdiam dalam bisu saat ia harus berhadapan dengan Arka.
Bahkan, hal tersebut membuat Billy, Bram dan Riska heran dengan perilaku yang tidak pernah mereka kenal. Namun, sesi itu terlewati saat Rio mengingatkan bahwa mereka harus memberikan presentasi konsep hasil kerja untuk pengumpulan laporan dalam pembentukan proposal.

“Apakah maksud kamu, band kita akan tampil sebagai pembukaan?,” tanya Bram yang masih tidak mengerti dengan penjelasan Arka. Mengingat, Arka menjelaskan kepada mitra kerjanya dengan terbata-bata karena gerogi sekalipun ia berusaha menutupinya.
“Tidak! Ia bermaksud untuk menampilkan kita di akhir sebagai sesi ucapan selamat kepada para juara dan peserta!,” sahut Felly memperjelas saat ia menyadari tatapan mata Arka yang menyiratkan sesuatu, namun tidak dapat tersampaikan karena sifat alamiah dirinya.
Karena merasa memiliki kelengkapan data dari kedua belah pihak, Rio dan juga personil band yang lainnya memutuskan untuk menutup rapat yang dipimpin oleh Felly.

“Bisakah kita berbicara sebentar?,” tanya Arka kepada Felly saat mereka berdua telah keluar dari ruangan rapat.
“Bicaralah!,” pinta Felly.
“Ikutlah denganku!,” kata Arka dengan menarik lengan Felly yang tergelantung bebas.
Dengan langkah tergesa, Arka membawa Felly untuk menaiki tangga agar sampai di atap bangunan gedung sekolah. Hingga akhirnya, sampailah mereka di sana.
“Kenapa kau ada di sini?,” tanya Arka dengan tatapan matanya yang tajam.
“Haruskah aku bilang bahwa takdir yang membawaku ke sini? Atau perubahan niatku setelah bertemu denganmu?”
“Mksudmu?”
“Kenapa kau lari dariku? Apa salahku hingga kau meninggalkan aku tujuh tahun yang lalu? Apakah kau pikir aku bahagia dengan kepergianmu? Apakah kau pikir aku telah lupa dengan semua yang pernah kita lakukan bersama? Tidak, Arka! Aku ingin bertanya satu hal padamu mengenai hubungan kita. Kenapa kau meningalkan aku?!”
“Karena kau terlalu sempurna untukku!”
“Apa?”
“Yah.. kau terlalu sempurna untukku, Felly Anggi Wiraatmaja!”
“Beritahu aku, bagaimana caranya agar aku tidak sempurna! Jangan diam dan pergi dengan sesuka hatimu! Aku juga ingin kau hargai sekalipun kau pergi! Arka, apakah aku pernah berharga di hatimu?,” tanya Felly ragu di tengah-tengah bentakannya.
“Yah! Kau berarti! Tapi, perpisahan tetaplah perpisahan! Karena kau dan aku, ‘berbeda’! Kau tahu, perbedaan kita begitu jauh Felly. Melebihi curamnya jurang dan juga tingginya langit dan bumi! Kau..”
“Kau introvent dan aku tidak? Apakah itu maksudmu?,” tanya Felly menyela penjelasan Arka.
Arka hanya bisa terdiam saat Felly telah mengetahui maksudnya. Felle mamajukan langkahnya. Begitu juga dengan Arka yang memundurkan langkahnya terdorong oleh langkah Felly. Hal tersebut membuat Arka ketakutan dengan mata Felly yang tengah menatapnya selayak tatapan singa yang menerkam mangsanya.
“Aku tidak pernah menyerang lawan jenisku dengan cara seperti ini. Tapi, perlu kau tahu Arka! Kau telah memuat aku seperti ini! Jadi, jangan pernah menghalangi langkahku! Karena aku tidak akan segan-segan menepis tanganmu dengan cara yang lebih kasar!,” ucap Felly tajam dengan nafasnya yang berderu tajam. Sama seperti matanya.
Arka tidak menjawab caan Felly. Melainkan, ia memajukan langkahnya dengan cepat dan memeluk Felly dengan begitu erat. Sangat erat. Bahkan, saat Felly berusaha melepaskan diri, ia tidak mampu menyaingi lengan Arka yang kekar. Semakin Felly memberontak, semakn erat Arka mendekap Felly salam pelukannya.

“Aku memang bodoh! Aku memang gila! Dan aku memang membutuhkanmu! Tatapanmu menyadarkan aku untuk berbicara! Deruan nafasmu mendogkrak relung hatiku untuk berteriak! Dan suaramu, memaksaku untuk mengucapkan satu kata! Bahwa, aku mencintaimu! Masih mencintaimu! Sama seperti dulu!”
Seketika Felly terdiam dalam geraknya saat ia berusaha melepaskan diri. Tak lama dari itu, Felly marasakan matanya terasa panas. Dadanya terasa lebih sesak dari sebelumnya. Jantungnya, berdegup dengan begitu kencang. Begitu pula dengan air matanya yang mengalir deras dari sudut matanya yang tidak sanggup lagi membendung rasa rindu yang terus menggebu dalam perlawanan Felly untuk menerima kenyataan itu.
“Jangan pernah pergi sekalipun kau mampu untuk pergi! Di sinilah bersamaku dengan kelemahanmu! Karena aku mencintaimu bukan karena basketmu. Melainkan introventmu, Arka!,” ucap Felly lirih di dalam dekapan Arka dengan membalas pelukan Arka.
Arka membelai kepala Felly dan menggesernya ke tengkuk leher. Ia memeluk Felly dengan kecupan ringan di kepalanya. Dengan gumaman hati, ia tidak akan pergi lagi.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Antipodes merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tulang Rusukku

Oleh:
Jika memang dirimulah tulang rusukku Kau akan kembali pada tubuh ini Ku akan tua dan mati dalam pelukmu Untukmu seluruh napas ini Ya itulah sepenggal lirik lagu band Last

Dunia Dimana Kamu Tidak Pernah Ada

Oleh:
Aku tidak memiliki tujuan apa pun dalam hidup ini, aku hanya memiliki naluri untuk bertahan hidup, meski sekarang hatiku diisi oleh kekosongan, tapi aku tidak pernah ingin lenyap begitu

Maafkan Aku (Part 1)

Oleh:
Cerita ini tentang persahabatan, persahabatan yang dimulai saat kami masih SMU tepatnya di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur, sebuah kota nan indah yang dibelah oleh sungai Mahakam. Begini ceritanya..

Cintaku Bersemi di Rumah Sakit

Oleh:
Trriiikk… Triiikk… hssss… Hujan angin ini membanjiri hatiku. Tuhan… aku merindukannya, tapi mungkinkah dia juga merindukanku. Dimas Prayoga Adistira. Seorang lelaki yang kucintai sejak kelas 1 SMA. Tapi sampai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *