Apa Harus Cantik (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 January 2016

Namaku Cika Afriska. Aku punya kakak perempuan yang nggak cantik-cantik banget, namanya Diana. Kak Diana itu, walaupun nggak cantik-cantik banget, dia punya banyak mantan pacar. Sekarang, Kak Diana sedang menjomblo, tapi kabarnya dia lagi deket sama cowok yang namanya Dika. Dika itu dulunya adalah kakak kelasku saat SMP. Saat itu, aku baru masuk kelas satu SMP dan Kak Dika menjadi kakak kelasku waktu dia kelas tiga SMP.

Ngomongin tentang Kak Dika, dia itu orangnya baik banget, lucu, dan ramah. Selain sifatnya yang baik, dia bisa dibilang ganteng sih. Tapi sayang, dia sulit banget ngelupain mantannya yang dua tahun lebih tua dari dia, kak Eca namanya. Hari ini di rumah, sepulang sekolah aku melihat Kak Diana yang sedang berada di depan kulkas. Dia mengambil banyak makanan ringan dan air putih, lalu menaruhnya di atas meja depan tv yang tengah menyala. Aku pun penasaran, untuk apa dia mengambil makanan sebanyak itu. Makanan itu kan juga milikku. Aku pun langsung memergokinya.

“Ekheemmm!!”
Kak Diana pun melihat ke arahku. “Kamu kenapa?”
“Cemilannya banyak banget dikeluarin.”
“Oh, ini buat temen-temen Kakak.”

Mendengar hal itu, aku sedikit terperanjat, “Kak Dika dateng juga?” Tanyaku, spontan.
“Dika? Hmm mungkin.” Kak Diana mengangkat bahu lalu duduk di sofa sambil menonton tv. Aku pun mengambil posisi duduk di sofa sebelahnya.
“Kakak deket ya, sama Kak Dika?” Tanyaku, sinis.
“Biasa aja sih” Jawabnya, tersenyum kecil. Melihat senyum kecil yang tiba-tiba mengembang itu, aku memiliki kecurigaan kalau Kak Diana menyukai Kak Dika.

“Kak Dika pernah bilang suka ya, ke Kakak?” Tanyaku lagi.
“Apaan sih kamu, jangan kepo masalah itu. Masih kecil banyakin belajar.” Jawabnya sambil terkekeh kecil.
“Kakak yang apa-apaan!” Ketusku, kesal. “Aku bukan anak kecil, kali. Aku kan udah kelas tiga SMP. Beda dua tahun sama Kakak”
“Kenapa sih? Sinis banget. Lagi PMS ya?”
“Apa susahnya sih tinggal jawab pertanyaan Cika.”

“Mama sama Papa ke mana?” Tanya Kak Diana mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Katanya, Papa mau pulang sore nanti, mama kayaknya nanti malam” Jawabku “Sekarang, giliran Kak Diana yang jawab!” Ujarku, memojokkan.
“Hmm.. oke, tapi Cici nggak usah bilang ke siapa-siapa ya!” Kak Diana menjulurkan jari kelingkingnya.
“Oke.” Aku pun setuju dengan membalas jari kelingkingnya. Aku langsung mengambil minuman di depanku untuk memulai mendengar cerita Kak Diana.
“Iya, sebenarnya Dika udah nembak Kakak.”

“Buuur!!” Semburan air yang dahsyat dari mulutku pun, membasahi baju Kak Diana. Mendengar hal itu, aku langsung terperanjat kaget.
“Cika!!! Baju Kakak jadi basah!” Ia pun mengambil tisu lalu mengelap bajunya. “Kamu jorok banget sih!”
“Te-terus Kakak udah jawab?”
Kak Diana tiba-tiba terdiam sejenak.

Gerakan tangannya yang dari tadi mengelap bajunya yang basah, kini ikut terhenti juga. Jadi, apa yang terjadi sebenarnya antara Kak Diana dan Kak Dika? Apa sekarang mereka sudah berpacaran? Kalau benar, bagaimana denganku? Aku tidak sabar menunggu jawaban dari pertanyaanku ini. Gerakannya yang tiba-tiba saja berhenti, membuatku semakin penasaran dengan hubungan kakakku dengan Kak Dika, orang yang lima tahun ini aku kagumi. Di tengah-tengah rasa penasaranku, tiba-tiba bunyi nada ponsel Kak Diana berbunyi keras. Kak Diana pun langsung mengangkat teleponnya dan sama sekali tidak menghiraukan pertanyaanku.

“Halo, Ta.” Kak Diana sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Beberapa menit kemudian, ia pun mengakhiri pembicaraan teleponn singkat itu.
“Ganggu aja. Kan jadi kepotong” Ujarku, kesal.
“Eeh, tadi itu dari Meta, temen Kakak.”
“Oh, si Meta cabe profesioanal itu kan?!”
“Mulai deh, Cici.” Ujar Kak Diana, merasa tidak senang aku mengatai temannya yang memang faktanya.

Dia adalah seorang cabe profesional yang setiap malamnya menelepon hanya untuk mengajak Kak Diana ke luar malam. Tiba-tiba Kak Diana pun beranjak dari sofa.
“Kakak mau ke mana?”
“Ganti baju lah. Mereka semua udah mau sampe”
Mendengar hal itu, aku pun langsung beranjak dari sofa lalu menghadang Kak Diana tepat di depannya.
“Apalagi sih, ci?” Tanya kak Dian, mencoba untuk bersabar.
“Jawab dulu pertanyaan Cici yang terakhir.”

Kak Diana pun menelekahkan kedua tangannya rapat. Like a boss. “Kamu suka ya, sama Dika?” ia mengerutkan dahinya.
“Eng-nggak. Bisa aja dong! Nggak usah pojokin Cika gitu. Cika kan cuma pengen tahu.” Ujarku, kesal.
“Kamu yang biasa!” Ujar Kak Diana, lebih kesal. “Terus kenapa kamu kepoin dia?”
“Emang nggak boleh?!” Tanyaku, dengan nada yang cukup keras.
“Ci…” Lirih Kak Diana. “Jangan berharap lebih ya, soal Dika” Kak Diana beranjak meninggalkanku.
“Jadi Kak Diana, sama Kak Dika…” Ia pun langsung berbalik ke arahku, menghentikan langkahnya.
“Iya, kita pacaran.” Jawabnya santai kemudian berlalu menuju lantai atas.

Aku agak kaget dengan jawaban Kak Diana kalau dia sudah berpacaran dengan Kak Dika. Bagaimana bisa semua ini terjadi begitu saja? Padahal Kak Diana nggak telalu cantik, ya walaupun dia hanya 1 level berada di atasku. Aku bingung, kenapa Kak Dika harus memilih Kak Diana. Padahal, dia hanya cewek manja yang suka mencari perhatian semua laki-laki. Faktanya memang begitu. Beberapa saat kemudian, teman-teman Kak Diana pun datang, tapi dari tadi aku tidak melihat Kak Dika. Hanya ada dua cewek dan dua cowok yang terlihat asing, yah dan tentu saja ada si Meta, cabe profesional dengan gaya sebumi selangitnya.

“Eh, Diana mana?” Seorang menyentuh bahuku dari belakang. Setelah aku berbalik melihatnya, ternyata itu Meta.
“Ganti baju” Jawabku singkat.
“Buatin minum dong” Katanya dengan santai. Mendengar hal itu aku pun langsung kesal, tetapi aku mencoba untuk tidak memperlihatkannya.
“Itu kan ada air putih”
“Nggak, Kakak nggak suka air putih. Buatin jus, ya”

“Dasar cabe, kamu pikir aku pembantu. Kakak? Sorry ya, aku nggak punya Kakak cabe kayak kamu!”
“kenapa?” Tanyanya, setelah melihatku terdiam melihatnya. Sayangnya, kata-kata manisku itu, hanya bisa aku ucapkan dalam hati. Yah, ekspektasi sangat menyenangan. Dan realitanya..
“Oke, kak..” Jawabku kaku, sambil tersenyum kecil.

“Aku satu ya” Timbal seorang laki-laki bertubuh besar.
“Buatin aku juga ya, orange jus” Perempuan centil di sebelahnya pun ikut menimbal.
“Sekalian, buatin semuanya. Orange jus ya, ci..” Lirih Meta si cewek cabe yang membuatku semakin kesal. Aku pun mencoba tersenyum ramah. Aku pun meninggalkan mereka dengan perasaan kesal setengah hidup.

Di dapur, saat aku membuatkan mereka jus, aku memaki-maki sendiri. Rumah ini cukup besar, tapi mama tidak pernah mau menyewa pembantu. Kami melakukan semuanya sendiri. Untuk diriku sendiri pun, aku malas membuatnya dan sekarang malah seenaknya di perintah si cabe profesional, kalau dia bukan kakak kelas SMP ku dulu sekaligus temannya Kak Diana, aku tidak akan sudi menuruti kemauannya.

“Butuh bantuan?”

Di tengah memaki-maki sendiri, seorang cowok tinggi dengan tubuhnya yang kurus, berhasil mengagetkanku. Apa dia mendengar makianku yang tidak jelas tadi? Bisa gawat kalau dia sampe mendengarnya. “E-eh, nggak usah Kak. Lagian nggak banyak kok.” Jawabku dengan senyum kaku. Tanpa berkata apa pun, dia pun langsung mengambil gelas-gelas di rak atas. Aku cukup terkejut dengan apa yang dilakukannya.

“Maaf ya, temen-temenku kayak gitu.” Ujarnya dengan ramah sambil menuangkan jus di setiap gelas.
“Eng-nggak kok Kak, mereka semua baik.”

Laki-laki itu pun tersenyum kecil. Melihat senyum kecil yang tulus mengembang di wajahnya, membuatku jadi salah tingkah. Apa setelah ini akan ada benih cinta yang akan tumbuh di antara aku dengan dia? Seperti kebanyakan sinetron alay di tv. Setelah selesai menyiapkan jus, kami pun kembali ke ruang tv. Ternyata, Kak Diana sudah ada disana dan.. oh my god, Kak Dika juga ada di sana. Dia.. tersenyum, ke arahku. Sesaat, melihat senyumnya, membuatku benar-benar tidak fokus. Hampir minuman yang aku bawa jatuh ke lantai.

“Eh..”

Hampir saja, untung ada kakak baik itu yang menopangku, sehingga aku tidak jadi terjatuh. Sadar dengan tingkahku, lagi lagi aku tersenyum kaku padanya. Aku pun meletakkan minuman itu di meja. “Adam? kamu dari mana?” Kak Diana terlihat kebingungan melihat laki-laki di sebelahku. Adam? Jadi nama kakak baik itu, Kak Adam.
“Dari dapur, Di. Bantuin Adik kamu buat jus.” Jawabnya ramah, lalu dia duduk di sebelah Kak Dika.

“Hah? Makasih, Dam.” Sejenak, Kak Diana langsung melihatku.
“Ya ampun, thank you banget ya Ci. Kamu itu emang Adik yang paling baik, paling segalanya deh.” puji Kak Diana padaku dengan tersenyum lebar. Tidak, bagiku itu bukanlah pujian. Aku pikir dia hanya mencari perhatian pada Kak Dika karena selama ini sekali pun dia tidak pernah memujiku seperti itu.

Hari ini, aku hanya menjadi penonton keributan mereka. Selain itu, dari tadi saat mencoba melirik ke arah mereka, yang aku lihat hanyalah tawa bahagia Kak Diana dan Kak Dika, ketika keduanya sama-sama saling memandang. Aku senang melihat Kak Diana bisa tertawa seperti itu, walaupun masih ada perasaan tidak rela dalam hati ini. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, teman-teman Kak Diana pun sudah berniat untuk pulang. Aku cukup bahagia karena setelah ini bukan aku lagi yang akan membersihkan rumah, tetapi dia sendiri. Aku pun tertawa puas dalam hati. Yah, lagi-lagi khayalan indah itu hanyalah ekspektasi belaka. Dan realitanya…

“Ci, tolong bersihin semuanya ya, Kak Di mau anterin temen-temen kakak ke luar” Lirih Kak Diana. Saat itu teman-temannya masih berada di rumah. Mereka ternyata masih bersiap-siap. Aku tahu, nenek sihir itu memanfaatkan kesempatan ini agar dia tidak membersihkan rumah.
“Tapi kan bukan Cika…”
“Hargai tamu dong Ci. Mereka kan tamu kita..”

Semuanya langsung melihat ke arahku dengan tatapan sinis, kecuali Kak Dika dan kak Adam yang rasanya sama sekali tidak mempedulikannya. Tetapi, hal itu ternyata salah.
“Ya udah, biar aku yang bantuin Cika, Di.” Kak Adam langsung menimbali kata-kata Kak Diana. Lagi-lagi aku terkejut dengan appa yang dikatakannya.
“Eh, nggak usah Dam, mending..”

Saat Kak Diana mencoba keras untuk menghentikan Kak Adam, nyatanya Kak Adam tidak menghiraukan itu, dia langsung membawa gelas-gelas itu ke dapur. Aku pun tersenyum bahagia melihat hal itu. Kak Diana hanya memandangku dengan kesal. Di dapur, hanya ada aku dan Kak Adam. Menurutku dia adalah orang yang sangat baik. Di dunia ini, mungkin dia orang terbaik yang pernah aku kenal. Melihatnya yang akan mencuci gelas, aku pun bertindak cepat untuk menghentikannya.

“Eh, Kak.” Panggilku dengan cepat. Kak Adam pun menoleh ke arah belakangnya dengan kebingungan. “Kakak pulang aja, biar aku yang cuci gelasnya.”
“Udah, biar aku aja. Lagian, bukan kamu yang pake gelas ini” Ujarnya ramah. Dia.. benar-benar mengerti perasaan orang lain. Dan, dia bilang aku? Kamu? Apa kita sedekat itu sampai-sampai dia bilang begitu? Aku mulai salah tingkah lagi.

Tiba-tiba, nada ponsel berbunyi. Ternyata, suara itu datang dari saku celananya. Ia pun mengeluarkan ponselnya lalu menerima telepon itu. Sejenak.. aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Dia pasti akan langsung pergi karena panggilan itu. Dan… realitanya.
“Maaf ya, ada panggilan mendadak,” True!! Huh, kenapa ekspektasi kali ini menjadi realita. Padahal aku berharap seperti biasanya, ekspetasiku hanyalah ekspektasi belaka yang bertolak belakang dengan realita.

“Iya Kak, pergi aja. Biar aku yang selesein nyucinya.”
“Maaf ya, jadi nggak enak banget”
“Santai aja Kak”

Dan yah, setelah itu Kak Adam pun pergi karena panggilan mendadaknya. Aku pun melanjutkan perekjaanku. Membuang sampah dan setelahnya, mencuci gelas.
“Butuh bantuan?”
“Nggak jadi pergi,”

Aku benar-benar terkejut setelah membalikkan badanku ke belakang. Dan tentunya karena melihat laki-laki yang berada di belakangku sekarang ini. Bukannya dia..?? Dan kenapa sekarang dia..?? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar dalam keadaan mati di tempat.

Bersambung

Cerpen Karangan: Fitria Hanaswari
Facebook: Hanaswa Fitria
Blog: fihanaswa.blogspot.com

Cerpen Apa Harus Cantik (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Sosial Media

Oleh:
Dia.. dia yang selalu membuatku tertawa. Dia yang selalu membuatku menangis bahagia. Dan dia yang selalu menemaniku dari fajar menampakkan dirinya sampai senja berlalu dan pergi. Kejadian ini bermulai

Biarkan Aku (Kembali) Jatuh Cinta

Oleh:
Sama seperti hari-hari sekolah biasanya, ketika bel istirahat berbunyi lagi-lagi sebuah buku yang menjadi temanku. Kali ini buku biografi Dante Alighieri, seorang penyair kelahiran Florence, Italia. Sudah lama aku

Menggapai Mimpi Walau Tanpa Ayah

Oleh:
Di suatu hari ada rumah yang cukup besar yang berisi dua keluarga yaitu anak dan ibu, tidak ada sesosok ayah yang dapat menjadi kepala keluarga. Mereka berdua telah berpisah

Kudapatkan Apa Yang Kumau (Part 2)

Oleh:
Esok harinya aku berani untuk menceritakan kiki pada mamahku, aku ceritakan kedekatan aku dengan kiki dan aku jujur tentang kejadian malam itu. Setelah aku ceritakan aku merasa lega banget,

Sekarang & Selamanya

Oleh:
Fadjar mulai menjelang, mentari kian menari dari ufuk timur. Tak terasa hari telah berganti sedangkan diriku masih terbaring di atas tempat tidur, menyambut datangnya sinar yang menelusup dari balik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Apa Harus Cantik (Part 1)”

  1. ayu endah yuniar says:

    kerennn,lnjutin dong cerita nya^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *