Apa Sih Cinta? (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 June 2016

“Hargai cinta yang datang, agar tak ada penyesalan. Waktu terus berjalan tanpa kau sadari. Jadikan dia sebagai kenangan indah.”

“Gue gak tau kenapa Vino kayak gitu.” bisik Chika, mereka kini menunggu gurunya datang.
“Lo mesti taulah sebabnya.” kata Chika.
“Gue gak tau.” sergah Driana.
“Dia cemburu.” kata Chika, sambil membuka buku bahasa indonesia.
“Cemburu? sama Bayu? gak mungkin.” kata Driana sambil tertawa.
“Makanya jangan lo PHP in dianya, kasihan. Lo tolak aja langsung.” kata Chika.
“Entahlah, gue masih belum tau perasaan gue.” kata Driana.
“Lo mesti ngomongin ke dia, nanti lo kena karma tau rasa lo. Kalo lo gantian di PHP in gimana.” kata Chika.
“Ye, gue mana mau begitu. Nanti gue bakal ngobrol deh sama dia.” kata Driana.
Pulang sekolah Driana menyuruh Chika pulang duluan.
“Vin, lo baik baik aja kan?” kata Driana.
“Gue baik kok.” kata Vino, cuek.
“Oh, gue mau ngomong sama lo.” kata Driana.
“Ngomong apaan?” kata Vino.
“Tentang perasaan gue. Maaf ya Vin gue nyuruh lo nunggu jawaban dari gue. Tapi jujur gue gak ada rasa sama lo.” kata Driana.
“Santai Dri. Gue gak maksain perasaan lo.” kata Vino tulus.
“Lo gak marah sama gue kan?” kata Driana.
“Ya enggaklah, ngapain gue marah sama lo. Perasaan cinta itu siapa sih yag bisa maksa. Kalo gue cinta sama lo bukan berarti gue harus maksa lo buat cinta sama gue. Gue udah seneng kok lo pernah singgah di hati gue.” kata Vink sambil mengacak rambut Driana.
“Kita tetep temen kan?” kata Driana.
“Always, Dri. Forever with you.” kata Vino.
“Ya udah gue balik ya.” kata Driana.
“Gue bakal anter lo.” kata Vino.
“Gak usah Vin. Entar lo repot, lagian gue bakal dijemput mama gue.” kata Driana.
“Oke. Tapi lain kali lo harus bisa.” kata vino.
“Minggu gue free.” kata Driana.
“Gue tagih entar.” kata Vino.

Driana bahagia pertemanannya denan Vino tidak retak. Kini dia menuju halte depan sekolah. Mamanya sudah menunggunya.
“Mama, udah lama nungguin?” tanya Dri sambil memakai seatbelt .
“Ya kira kira 5 menit yang lalu.”
“Sorry ma. Aku ada yang penting tadi.” kata Driana.
“It’s okay honey.” kata mamanya Driana.

Di rumah Driana segera ganti pakaian lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur. Seakan dirinya ingin terus terusan tidur karena rasa lelah yang melandanya.
Tak lama Driana terlelap, dala mimpinya ada wajah Bayu yang sedang tertawa. Entah kenapa dia menjadi gelisah, dan akhirnya terbangun dari bunga tidurnya.

“Mikir apa gue, sampe ngimpi tuh orang.” kata Driana pada dirinya, dia memukul kepalanya dengan boneka teddy bear nya.
“Honey, kamu dicariin nih.” suara mamanya membuat Dri benar benar sadar sepenuhnya dari tidur.
“Siapa ma?” kata Driana. Dan Driana yang melihat orang yang duduk di sofa kaget dan terkejut.
“Lo? ngapain lo disini?” kata Driana.
“Ya gue main. Masa gue tau rumah lo tapi gak main.” kata Bayu.
“Ini temen kamu Dri, kok kamu gak pernah ajak ke sini.” kata mamanya Driana.
“Iya tan, saya temennya Dri. Kalau tante ngijinin saya mau ngajak Dri jalan jalan tan.” kata Bayu sopan.
“Baik tante ijinin. Tapi pulangnya jangan malem malem.” kata Mama Nadine.
“Emang lo mau gue ngajak kemana?” kata Driana.
“Gak usah bawel. Yuk ikut.” kata Bayu.
Di dalam mobil Driana hanya melihat ke arah luar jendela, tanpa peduli sama Bayu.
“Lo suka tempat yang kayak gimana?” kata Bayu.
“Kan lo yang ngajak, gue serah lo aja.” kata Driana.
“Oh iya gue lupa bawa sesuatu. Ke rumah gue dulu ya.” Kata Bayu
“Up to you.” kata Driana cuek.
Ternyata rumah Bayu dekat dengan rumah Driana. Rumahnya besar dan bagus.
“Ayo masuk dulu, Dri.” kata Bayu.
“Gue nunggu di mobil aja.” kata Driana.
“Yaudah, lo tunggu sini. Jangan kabur, gue gak lama kok.” kata Bayu.
“Siap.” kata Driana.

Tak lama Bayu sambil membawa kamera dslr.
“Lo mau bawa kamera?” kata Driana.
“Siapa tau ada yang bagus nantinya, buat koleksi foto.” kata Bayu.
Bayu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil menyetel lagu all of me, Driana menikmati lagu itu sampai selesai dan berlanjut pada lagu human.
“Kita udah sampai.” kata Bayu.
“Lo bawa gue ke danau ini.” kata Driana.
“kenapa? lo gak suka?” kata Bayu.
“Gue suka. Banget malah. Udah lama gue gak jalan jalan ke tempat outdoor.” kata Driana.
Disana mereka menikmati keindahan danau yang airnya tertimpa sinar matahari, dengan suasana tenang dan damai.
“Lo liat sini deh.” kata Bayu, yang sudah siap dengan kameranya.
“Liat apaan?” kata Driana, lalu Bayu tak menyiakan kesempatan itu.
“Lo moto gue, dan gue belum siap. Gue jelek entar.” kata Driana.
“Gak kok cantik.” kata Bayu, sambil melihat hasil fotonya.
“Apa, tadi lo bilang apa?” kata Driana.
“Gue bilang cantik, danaunya yang cantik, bukan elonya.” kata Bayu.
“Oh… gue kirain. Lo muji gue.” kata Driana.
“Enggaklah, lo entar ngefly.” kata Bayu.
Driana yang kesal, mulai terfikir niat jahilnya, dia mencripati air danau yang dangkal itu ke arah Bayu.
“Lo nantangin gue?” kata Bayu, yang membalas menciprati air ke Driana.
Mereka seperti anak kecil, bermain air hingga baju mereka basah.
“Yuk pulang. Udah jam segini.” kata Bayu.
“Iya.” kata Driana, sambil bersedekap. Dia kedinginan.
Bayh mengambil jaket di bagasinya dan memberikannya pada Driana.
“Nih, lo pake biar lo gak masuk angin.” kata Bayu.
“Thanks, Bay.” kata Driana.

Di dalam mobil yang sunyi, tak terasa Driana tertidur, dan kepalanya kini berada di bahu Bayu yang sedang menyetir.
“Kenapa sih Dri, lo gak peka peka. Dan lo bikin gue selalu pingin ngeliat lo. Gue sayang sama lo.” kata Bayu, namun pernyataan cinta itu bagaikan angin lalu, karena Driana tak mendengarnya.
Sesampainya di depan rumah Dri. Bayu ingin membangunkan Driana.
“Dri, udah nyampe.” kata Bayu pelan.
“Oh udah nyampe ya.” kata Driana sambil mengucek matanya.
Driana keluar dari mobil, “o iya Bay, makasih ya buat hari ini.” kata Driana sambil tersenyum.
“Sama sama Dri.” Kata Bayu.
Hati Driana kini sedang bahagia, kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan selama ini, entah kenapa saat ini bayangan Bayu ada di dalam fikiranya, kenapa jantungnya seakan tak normal lagi, berdetak cepat, selalu berasa perasaan aneh dan sulit dijelaskan. Mungkinkah Driana sedang jatuh cinta?

“Ketika cinta datang aku tidak tau harus bagaimana, haruskah aku menyembunyikan perasaanku.”

Driana tak bisa tidur, sejak pulang bersama Bayu hatinya tak karuan.
Tiba tiba ada pesan masuk di ponselnya.
“Dri.” isi pesan, dari nomornya baru.
“Ini siapa?” balas Driana.
“Lo belum tidur ya?” isi pesan dari nomor itu.
“Belum lah, kalo gue tidur sms lo ga bakal gue bales. Siapa sih.” omel Driana.
“Masa lho gak kenal gue.” balas nomor itu.
“Lo secret admire gue ya.” kata Driana.
“Haha, lucu lo. Gue Bayu, baru aja kita ketemu.” ternyata itu nomornya Bayu.
“Bayu? Lo dapet nomor gue dari mana?” kata Driana.
“Relasi gue banyak, jadi susah ceritanya. Lo kok belum tidur ini jam 10 lho.” pesan dari Bayu.
“Gue nggak ngantuk.” kata Driana.
“Yaudah, gue tidur dulu.” balas Bayu.
“Yaelah, tega lo. Gue gak bisa tidur lo malah ninggalin tidur.” kata Driana.
“Lo gak bisa tidur karena mikirin gue kan.” sms Bayu membuat Driana terdiam, tebakan Bayu benar, kenapa tiba tiba dia takut ya.

Lama Driana tak membalas pesan Bayu. Dan ponselnya berbunyi, ada panggilan masuk.
“Halo, Dri.” sapa Bayu.
“Ngapain nelpon?” kata Driana gugup.
“Lagian lo gak bales sms gue. Lo kangen kan sama gue.” kata Bayu.
“Enggak tuh, gue ngantuk. Gue tutup ya telponnya.” kata Driana.
“Yee, tadi katanya gak ngantuk. Lo bikin pulsa gue abis nih.” kata Bayu.
“Lagian pulsa limit pake acara nelpon.” kata Driana.
“Yang penting gue bisa denger suara lo.” kata Bayu.
“Kenapa emang suara gue?” kata Driana.
“Suara lo merdu.” kata Bayu.
“Tumben lo muji gue.” kata Driana.
“Merdu merusak dunia, kalo lo mau tau.” kata Bayu.
“Oata ya.” balas Driana.
“Yaelah sok imut.” kata Bayu.
“Emang gue imut.” kata Driana.
“Buruan tidur. Besok kan masih sekolah. Ketemu di mimpi ya.” ucap Bayu, entah mengapa Bayu bersikap sangat berbeda dari Bayu pada umumnya, di sekolah ia di kenal cuek dan dingin, tapi kalo bersama Driana dia manis, perhatian, peduli, meski dia kadang gengsi jadi menyelinginya dengan candaan.
“Oke kita terusin berantemnya dalam mimpi ya.” kata Driana.
“Good night.” kata Bayu.
“Too.” balas Driana, selepas itu panggilan terputus.
Entah kenapa Driana senyum senyum sendiri sambil memeluk boneka teddy nya.
“Kenapa sih Bay, lo bisa bikin gue kayak begini, kenapa lo bisa singgah di hati gue. Gue gak mau sakit hati, kalo gue nantinya dapet penolakan dari lo Bay.” keluh Driana pada dirinya.

Malam itu bintang bersinar menghiasi malam, dan menerangi cinta kedua insan yang belum menyatakan perasaannya karena takut akan gagal.

“Cinta itu membuat kita selalu terfikir padanya, dan kita tidak bisa memungkiri hal itu.”

Driana senang hari ini adalah hari jumat, yang artinya bakal pulang pagi, dengan seragam rapi dia siap untuk ke meja makan, mamanya yang kini menjadi ibu rumah tangga memasak makanan untuknya dan ayahnya, entah kenapa senyum Driana merekah pagi ini.
“Pagi ma, pa.” sapa Driana.
“Pagi honey.” kata mamanya.
“Pagi, Dri.” kata Ayahnya.

Driana mulai makan, nasi goreng buatan mamanya agak keasinan namun hal itu tak dirasakannya, yang ada dalam fikiran nya ia senang bisa mendapat kebahagiaan ini.
“Keasinan deh kayak nya.” kata mamanya Driana.
“Enggak kok ma, ini udah enak.” kata Driana dengan cengirannya.
“Ini agak asin, tapi ya tetep aja enak kok.” puji ayahnya Dri.
“Ma, pa, Driana berangkat dulu ya.” kata Driana.
“Kamu bareng Chika?” tanya Mamanya.
“Enggak ma. Aku bareng temen.” kata Driana.
“Ati ati ya honey.” ucap mamanya.

Ternyata ada seseorang yang menunggu Driana di depan gerbang rumahnya, dia adalah Bayu Gintara.
“Lo udah lama nunggu?” tanya Driana.
“Enggak, baru aja. Yuk langsung masuk aja.” kata Bayu.
Sebelumnya Bayu mengirim pesan ke Driana kalau dia akan menjemput Driana. Driana hanya menyetujuinya, dan memberitahu Chika untuk tidak menjemputnya.
“Lo nggak kerepotan sampe jemput gue?” kata Driana di dalam mobil.
“Enggak, gue seneng malah. Ada temen ngobrolnya. Jadi gak berasa sendiri.” kata Bayu.

Di sekolah Driana turun dari mobil dan ingin ke kelas sendirian, namun Bayu mengikutinya.
“Kita jalan nya agak jauhan ya, gak enak kalo ada yang liat.” kata Driana.
“Emang kenapa pada liat, mereka kan punya mata.” kata Bayu dengan entengnya.
“Ya nggak enak aja, entar ada gosip yang murahan.” kata Driana.
“Kalo lo dengerin kata orang nggak ada habisnya. Biarkan mereka berkreasi.” kata Bayu.

Akhirnya mereka jalan beriringan, dan berpisah saat di depan kelas Driana.
“Lo belajar yang bener ya. Jangan mikirin gue terus.” kata Bayu.
“Apaan sih lo.” kata Driana.
Temen temen Driana yang tau kejadian itu pun tak menyiakan waktu untuk tidak mengganggu, “cie cie Driana, udah pacaran aja.” kata Ayu, teman sekelas Driana.
“Sama kakak kelas, cakep lagi.” kata Gita, teman sekelas Driana juga.
Mendengar itu Driana malu.
“Bukan, kalian salah paham. Kita nggak pacaran kok, cuma temenan.” kata Driana.
“Dri, pacaran kan berawal dari temenan.” kata Bayu.
“Cie cie Dri. Kode tuh dari kak Bayu.” kata Gita.
“Udah ah. Lo mah bikin malu gue. Sono pergi ke kelas lo.” kata Driana, lalu masuk ke kelas.
“Dri, kenapa sih tadi di luar ribut ribut.” kata Chika yang sedang duduk.
“Gak ada apa apa.” kata Driana.
“Lo bareng Bayu ya?” kata Chika.
Driana hanya menjawab dengan anggukan.
“Akhirnya lo bisa jatuh cinta Dri.” kata Chika sambil menengadahkan kedua tangannya.
“Jangan lebay lo.” kata Driana.
“Lo utang ceritanya banyak sama gue. Pulang sekolah lo harus bareng gue. Sahabat macem apa lo, soal ginian gak lo kasih tau ke gue.” kata Chika.
“Iya, gue bakal cerita.” kata Driana.

Saat istirahat Driana dan Chika berada di kantin. Mereka memesan bakso dan es teh, di saat mereka sedang makan, Vino datang.
“Dri, Bayu sakit.” kata Vino.
“Sakit? sakit apa? orang tadi baik baik aja.”
“Tadi dia main basket sama kelas lain, lo tau kak Rendi kan, jadi dia kayak main curang, sampe Bayu jatuh, terus tadi di bawa ke uks, mungkin dia bakal dipulangin.” kata Vino.
“Terus gue mesti gimana?” kata Driana.
“Lo tengokin sono, siapa tau ada di UKS.” kata Chika.
“Kayaknya udah dipulangin atau di bawa ke rumah sakit.” kata Vino.
“Ya udah entar gue bakal nengokin deh. Lo ikut nggak?” kata Driana pada Chika.
“Gue anter lo deh.” kata Chika.
Pulang sekolah Driana dan Chika menuju rumah Bayu.
“Vino udah gak ada rasa sama lo Dri?” tanya Chika.
“Kita temenan kok.” kata Driana.
“Apa dia tau kalo lo deket sama Bayu?” tanya Chika lagi.
“Gue gak tau. Chik, entah kenapa gue ngerasa aneh kalo deket Bayu. Entah kenapa gue suka ngomel dan adu mulut sama dia, tapi hati gue ngerasa nyaman.” kata Driana.
“Berarti lo udah jatuh cinta sama dia Dri. Jadi?” kata Chika.
“Jadi apa?” tanya Driana bingung.
“Jadi lo bakal ngelakuin apa?apa lo bakal ngungkapin perasaan lo?” kata Chika.
“Gue gak tau, gue kan cewek, gak pantes kalo nembak.” kata Driana.
“Ya jadi lo bakal nunggu dia nembak lo?” tanya Chika.
“Gue gak tau.” Ucap Driana.

Sesampainya di rumah Bayu, Chika duduk di mobil dan menyuruh Driana masuk sendiri. Driana memaksa Chika untuk menemaninya tapi Chika tidak mau.
Driana mengetuk pintu, tak lama ada sosok perempuan yang seumuran mamanya, “mau cari siapa?” tanya perempuan itu.
“Bayu nya ada tan?” tanya Driana.
“Bayu masih di rumah sakit, ayahnya masih disana. Ini tante juga baru pulang.” kata Mamanya Bayu.
“Di rumah sakit mana tan?” tanya Driana.
“Di rumah sakit International hospital. Kamu Driana ya?” kata Mamanya Bayu, Danisha.
“Iya, kok tante bisa tau?” kata Driana bingung.
“Ayo masuk, nanti kamu tau.” kata Danisha.

Danisha membawa Driana ke sebuah kamar, kamar itu kamar yang cukup besar dengan dekorasi laki laki. Tapi yang membuat Driana tertegun ada beberapa fotonya. Foto dimana Driana tak tau kapan diambil foto itu, ada juga fotonya saat MOS, itu sudah 1 tahun yang lalu.
Kenapa foto foto dirinya bisa ada di kamar Bayu.

“Saya tau kamu dari foto di kamar anak saya. Saya kira kamu pacarnya anak saya.” kata Danisha.
“Saya sama Bayu temenan, Tan.” kata Driana.

Driana yakin kalau cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Tapi yang membuat Driana kecewa, kenapa Bayu tidak menceritakan kalau dirinya telah mengenal Driana jauh jauh hari.

Cerpen Karangan: Almira Zahra
Facebook: Almira Zahra
Hi…
My name Almira
I like write and imaginate

Cerpen Apa Sih Cinta? (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Happy Ending

Oleh:
“Melody Sinaga Hanggono, hari-hari aku lalui sambil terus menunggu, kapan kamu datang? Minggu-minggu aku lalui dengan rasa takut, kalau-kalau harapan di hatiku buat tunangan sama kamu, berubah kalau cowok

Kutu Beras

Oleh:
Rabu, sembilan maret pukul tujuh lewat dua menit. Hari ini libur, horrayy!! Tapi tugas yang sangat menumpuk, pekerjaan yang menggantung di mana-mana, belum lagi masalah-masalah lain yang muncul di

Menunggumu

Oleh:
Tiga tahun yang lalu, di sini, di bawah pohon kiara payung, di tanggal yang sama, waktu yang sama, serta suasana yang sama, aku menunggu kedatanganmu. 23 Juli, pukul 15.00,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Apa Sih Cinta? (Part 3)”

  1. ardianwirananda says:

    Kenapa ga terus terang aja. Kan bisa saling tau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *