Apakah Dia Alvin?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 7 July 2017

Siang itu, Alvin, Nandin, Yusi, Yuli, dan Aku baru saja pulang dari acara perkemahan tahunan sekolah, Kami duduk di bangku kelas 12 IPA SMA. dan, kami tinggal di kampung yang sama. Kami pun pulang menuju rumah kami masing-masing, Aku sangat Capek, tidak kusangka acara perkemahan kali ini begitu melelahkan dibandingkan acara perkemahan tahun lalu, Pekerjaan ini begitu melelahkan, sampai-sampai menyebabkan Yuli terkena dehidrasi ringan.

Sesampainya Aku di rumah, ibu terlihat begitu khawatir, Ketika aku mengucapkan salam…
“Assalamu’alaikum…”
“Waalaikumsalam… Anii…” Ibu segera memelukku sekencang-kencangnya.
“Ada apa bu?” tanyaku pada ibu.
Ibu terlihat begitu tegang, matanya merah, seperti menahan sebuah tangisan, ketika itu, aku begitu heran, dalam otakku penuh tanda Tanya besar.

Tidak lama kemudian Ibu pun menangis. Entah ada apa dengan Ibu, tetapi aku terus berusaha untuk bertanya apa yang terjadi dengan Ibu sehingga ibu harus menangis kejar seperti ini.
“Ada apa ibu? Kenapa ibu menangis? Cerita dong bu… Ada apa?” ujarku pada Ibu.Tapi ibu tidak merespon apa-apa, Ibu terus menangis.
“ibu… jangan mengis terus dong bu… ayo ceritain semua hal yang terjadi selama aku gak ada dirumah… ayo bu…” Aku berusaha merujuk Ibu, tapi ibu tetap tidak mau berbicara.
“ayolah bu… toloong…” sekali lagi aku memohon pada Ibu untuk bicara, tetapi tetap saja, Ibu tidak mau bicara, lama-lama Aku semakin tegang, aku begitu takut.
“Ibu.. Tolong, jangan buat aku takut… ceppat kasih tahu Aku bu… apa yang terjadi?” iiih… tiba-tiba rasa takutku hilang begitu saja, aku jadi sangat kesal, kenapa ibu tetap tidak mau bicara.”
“Haah…” Aku mencoba menghela nafas sejenak.
“ya Sudah… aku ke Kamar dulu…” Aku merasa Jengkel, atas sifat Ibuku yang seperti ini.

Ketika Aku meninggalkan ibu di ruang tamu, tiba-tiba Ibu pun segera berlari menuju kamarku. Dan Akhirnya, Ibu pun menceritakan semuanya kepadaku.
“Ani… Maafkan ibu yah nak..” Nada bicara ibu yang terisak-isak.
“Baik bu… tapi ada apa bu? Sampai-sampai ibu menangis seperti ini?” Tanyaku pada Ibu dengan lembut.
Ibu menarik nafas “jadi begini… waktu tadi, ibu baru saja pulang dari pasar, ternyata, ketika ibu sampai di rumah, gembok pintu depan terlepas dan rusak, rumah kita kebobolan maling…” kata ibu, sambil tersendu-sendu.
“Haah… Astagfirullohal’azhiim… ya Allah…” Aku pun begitu terkejut.
“oh yah ibu.. ada barang yang hilang?” tanyaku pada ibu.
“Banyak… uang ibu, perhiasan-perhiasan ibu, jam tangan hadiah ayahmu,..”
“surat-surat penting?”
“Alhamdulillah… itu sih enggak hilang, sudah ibu amankan di tempat-tempat dimana tidak ada orang yang tahu..” Kata Ibu dengan lemas.
“Kenapa ibu tidak menelepon Ayah?” tanyaku
“Hp ibu dicopet ketika itu, ibu sedang menunggu Gojek, ibu sedang mengetik pesan untuk ayahmu. Kemarin, tetapi… yah itulah Takdir..”
“Astaghfirulloh…” kataku.
Ternyata hal itulah yang membuat Ibuku sangat sedih, tetapi Aku heran kenapa ada orang yang sampai sehina itu? Maling seenaknya, nyopet seenaknya. Subhanallah, inikah akhir zaman?
“Ya Sudah, Ibu tenang saja, Aku akan ambilkan minum dan segera telepon ayah ya…”

Waktu terus berjalan, dan hari semakin senja, ketika itu ada sebuah pengumuman dari ketua RT kampung kami bahwa malam ini akan diadakan pengajian di Mushola kampung, Aku pun memutuskan untuk mengikuti acara tersebut. Aku pun segera bersiap-siap untuk pergi ke sana.
Sesampainya di sana…
“Eh Alvin… lagi apa di sini?” Tanya ku
“Ini lagi mempersiapakan segala materi untuk acara pengajian nanti malam..”
“Ooh gitu… boleh dibantu?”
“Hmmm… Boleh..”
“Apa yang harus aku perbuat?” tanyaku pada Alvin
“Tolong bersihkan halaman depan dan samping Mushola aja…”
“Boleh… di mana sapunya?”
“Itu di samping meja itu…” kata Alvin
“OKe-oke..”
Aku pun bertugas untuk membersihkan halaman mushola, ketika itu aku pun membicarakan hal yang terjadi pada ibuku Kepada Alvin.

“Sungguh Aku sangat capek mendengar semua ini, banyak sekali keluhan yang dirasakan oleh masyarakat tentang penyelewengan sosial ekonomi ini, kalau terus seperti ini, kapan negara kita akan Maju? Kita Cuma butuh berpikir.” Gumamku.
“Eh… ada apa Nii? Kok ngomong sendiri…” Tanya Alvin.
“Itu loh.. tadi pas Ibu aku lagi pergi ke Pasar… rumah aku kebobolan maling.”
“Hah… Kebobolan Maling… Astaghfirullohal’azhim… kok bisa?”
“yaah… Sudah Takdirlah Ganteng… kaseeep…” jawab Aku dengan begitu geramnya.
“Ya udah… sabar aja… Eh iyah makasih loh udah dipuji… Hehe..”
“Ih apa sih orang main-main aja kok…”
“Ah, jangan main-mainin hati Aku Dhong…” kata Alvin lebay
“Ih Alviiin… mau AKu Pukul…?”
“eh Jangan-jangan…hish.. Garang banget… cocok jadi pelatih pramuka.” Ujar Alvin.

Tiba-tiba Yuli datang bersama Yusi.
“Chie-cieeeeeeee… cinta di sebelah Kiblat nih…” sahut Yuli
“Ih betul tuh… modus aja lagih… berlagak di depan musholah…” sambung Yusi
“hahahahahahaha” Yuli dan Yusi tertawa terbahak-bahak.
“Ih apaan sih kaliaaan…” kata Aku.
“gak apa-apa lagi Anii… ” sambung Alvin.
“Achchieeeee…” Sorak mereka berdua.
“apa sih Alviin… ya udah… Assalamualikum…” Aku Kesal. Aku pun segera pergi dari sana.
“jiah DIA pergi… SalTing nieeeh… Hahahahaha” kata Yusi dan Yuli.
Sumpah, Aku kesel banget. Ya Udah aku akui, bahwa Alvin itu… boleh lah dibilang pemuda yang paling ganteng di kampung aku menurut Aku. Tapi, jangan dibuat gini juga kali. “Subhanallah…”

Ani Suri Lestari, nama yang manis, sumpah gue udah naksir sama Dia, semenjak Dia jadi teman sekelas gue di kelas X IPA3, sesuai namanya, dia gadis yang manis, cerdas, dan yang paling penting Dia Religius, peduli, dan sifat yang gue suka yaitu Ani yang pemarah. Gue selalu bertanya, apa nanti kita akan sejodoh? Tapi itu pemikiran yang gila, belum tentu juga dia suka sama Gue. Yang Gue takut, dia akan berpikir bahwa gue ini Cowok yang Playboy. Gue suka sama kepribadiannya, boleh dibilang, dia itu… cewek type gue, Muslimah. Gue selalu berjanji akan terus melindungi Dia.
Sore itu, Dia sempat marah sama Gue, di depan Mushola kampung, berhubung nanti malam akan ada acara pengajian Dia datang ke sana, minta tugas dari gue. Yaah gue suruh dia sapu halaman musholah aja. Dia marah karena dia dipermainkan oleh Yusi dan juga Yuli, mereka bersorak, bahwa seolah-olah kita berdua ini sedang bermesraan di samping mushola. Yah Jelas… Dia jadi Agresif. Ani…
Oh iyah, kayaknya… malam ini gue gak bisa ikut acara pengajian ini, Gue harus pergi ke rumah Om gue malam ini, Gue harus menemani Om gue pergi Keluar Kota. Dan Gue harus pergi malam ini juga.

“iiih sebel banget… dasar Alvin yang kurang hajar…” Gumamku.
Tidak terasa, waktu sudah menginjak maghrib, waktu pengajian itu pun semakin dekat. Aku pun segera melaksanakan Solat maghrib berjamaah bersama dengan ibuku dan Adik-adikku.

Detik demi detik terus berlalu, waktu pengajian itu pun akan segera dilaksanakan ba’da Isya sekitar pukul 19.45. setelah melaksanakan Solat Isya, Aku pun segera bersiap-siap untuk pergi menghadiri acara penagjian tersebut. Aku mencoba uantuk mengajak Ibu. Tetapi Ibu trauma akan hal yang telah terjadi tadi siang. Aku mengajak adik-adikku pergi bersamaku, tetapi Ibu melarangnya, Ibu butuh ditemani. Aku mencoba untuk tidak menghadiri acara tersebut dengan alasan itu, tetapi ibu pun melarangku, aku harus tetap pergi menghadiri acara tersebut.
Aku pun pergi menuju mushola kampung, tiba-tiba di tengah perjalanan ada sekumpulan anak-anak remaja yang mencegat jalanku menuju ke sana,
“Hai neng… mau kemana niih?” Tanya salah satu orang di antara mereka. Aku terus diam, terus berjalan mereka tidak mau kalah, mereka terus mengejarku. Sampai-sampai aku tersandung di jalan.

“Ibu… saya mau pergi dulu yah…” kata Gue
“Oh iyah, hati-hati aja di jalan… yang nak…” respon ibu
“Assalamu’alaikum bu..” Pamit gue
“waalaikumussalam… banyak-banyak solawat,do’a di jalan…”
“insyaallah Bu…” Jawab gue sambil masang topeng plus helm sebelum gue berangkat
Malam ini Gue harus pergi ke rumah om Gue. Di perjalanan, gue ngeliat seorang cewek yang dikejar pemuda brandalan. Bergegas, gue turun dan berusaha nolong Dia…

“Tolong…. ya Allah…” Teriakku.
Tiba-tiba, ada seorang pemuda turun dari motornya yang besar, Dia membuka helmnya. Dia memakai Topeng, sempat aku berpikir bahwa Dia adalah Bos dari geng brandalan ini. Tetapi, Aku sudah Salah Paham, ternyata Dia malah menyelamatkanku.
“Heeeyyy…” sahut Dia dengan suara yang begitu tebal. Tubuhnya tinggi besar, Dia memakai jaket hitam ketat. Udah kayak superhero gitu deh. Tapi rasanya aku kenal dengan postur tubuh orang ini. Aku berfirasat bahwa dia adalah…
“Heh siapa Loh? Berani lu sama kita yaah!” respon para brandalan itu. Kepada pemuda itu.
“Siapa Takut!!!” Suaranya Cool… tapi rasanya Aku kenal suara itu.
“Hey semua… Lawan Dia!!” Seru ketua brandalan itu.

Ternyata Dia itu Ani. Tanpa waktu lama, gue harus selamettin dia tanpa sepengetahuan Dia untung aja make topeng plus jaket anti peluru yang baru bokap gue beliin bulan lalu, dan tinggal lepas helm aja.
“Heyyyy…” Sahut Gue, dengan Suara yang begitu tebal yang Gue Buat.
“Heh siapa Loh? Berani lu sama kita yaah!” respon para brandalan itu.
“Siapa Takut!!!!”
“Hey semua… Lawan Dia!!” seru ketua brandalan itu.
Huh… udah lama gue gak berantem, di sini gue bakal keluarin jurus-jurus sialt gue ke mereka yang udah berani ngerendahin harga diri orang lain.
Sumpah gue, suka banget moment ini, satu persatu mereka kabur, lari ketakutan, dan tinggal satu orang lagi si ketua brandalan ini.

“Gimana? Enak? Mau lagi??” Tanya Gue ke ketua brandalan itu. Ketika dia Udah jatuh terlentang, rasanya gue udah gak taha, sarung tangan ini udah gak bisa nahan, buat mukul muka ketua penjahat ini.
“ampun-ampun-ampun… pak, ampun pak… saya minta maaf pak… saya minta maaf pak…”
“Okeh… sekarang gue Ampuni loh… tapi kalo lu, terus berusaha buat ngelecehin Muslimah ini atau yang lain… lu bakal tau akibatnya…”
Dasar ketua Brandalan aneh.

Tiba-tiba Ani berlari dan menghampiri gue, dia Meluk Gue…
“Kamu…” Sahut Ani
“Terimakasih…banyak…” Ani bertrimakasih sama gue.
“Astaghfirullohal’azhim…” sahut gue
“astaghfirullohal’azhimYa Allah maaf pak maaf, saya udah meluk bapak…”
“astaghfirullohal’azhim…”
“lagih juga gak apa-apa… Assalamu’alaikum…” gue bergegas langsung naik ke motor gue, sumpah gue gak nyangka, dia bakal meluk gue. Ani…

Di sini terjadi kegaduhan dan perlawanan, pemuda bertopeng itu membelaku habis-habisan, entah siapa pemuda itu, aku pun bangun, dan berdiri menonton mereka. Dan mengabadikan kejadian ini dengan membuat video di hp-ku, dan akan kulaporkan penjahat-penjahat itu ke kantor polisi.

Pertarungan semakin mereda, satu persatu brandalan kabur dari arena pertarungan, sampai-sampai ketua brandalan itu pun akhirnya kalah, dan meminta maaf padanya dan padaku. Aku sangat senang pada pemuda itu, Aku berterimakasih banyak padanya sampai-sampai, tidak sengaja aku memeluknya, “Astaghfirullohal’azhim…” sahut pemuda itu.
“Astaghfirullohal’azhiim… maaf pak maaf saya udah meluk bapak… ya Allah… astaghfirulloh…” kata Aku. Aku begitu lancang, aku sangat kaget ketika Aku sadar sedang memeluknya. Ya Allah, Ampuni dosa-dosaku ya Allah.
pemuda bertopeng menaiki motor besarnya itu, lalu Dia meresponku
“lagi juga gak apa-apa… Assalamu’alaikum” Dia pun segera pergi dengan motornya itu.
“Astaghfirullohal’azhim…” Aku gak percaya dengan semua ini. Ya Allah…

Di sinilah, pertama kali, Aku baru merasakan apa itu Asmara, sekalipun Aku tidak tahu seperti apa orang yang kupeluk itu, yang pasti, aku yakin Dia adalah orang yang Aku kenal.
Rasanya aku kenal dengan postur tubuh dan suaranya… tetapi siapa Dia?
“Apakah Dia Alvin?”

Cerpen Karangan: Bagja Putra
Facebook: Adenbagjaputra

Cerpen Apakah Dia Alvin? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri MOS

Oleh:
Hai namaku Lyla Putri baru saja ini aku tamat SMP. Hari ini tepatnya tanggal 10 Juli aku mempersiapkan segala pakaian untuk melakukan mos seperti sepatu sebelah putih sebelah hitam

Man With Red Jacket

Oleh:
Aku berdiri di depan pintu kelas, sekolahku masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang saja. Mungkin aku yang terlalu cepat tiba di sekolah. Tiba-tiba pandanganku terfokus pada suatu objek.

Hay Dev (Untold Stories)

Oleh:
Sejatinya aku bingung mau bercerita tentang apa, karena memang sudah sering kuceritakan baik dalam catatan pribadi maupun di berbagai linimasa media sosial. Oh iya aku adalah seorang mahasiswa perantauan

Alfian Dalam Kenangan

Oleh:
Kala rindu tak lagi mau mengerti, jauh menusuk relung hati. Malam pun tak peduli, hamparan kegelapan tanpa satu pun bintang menerangi. Merenungi laranya hati, aku rindu kau pencuri hati.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *