Apakah Engkau Kiriman Tuhan, Untuk Menggantikan Posisinya (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 14 January 2016

Masa Orientasi Siswa akhirnya berakhir. Kini, kami akan memulai rutinitas layaknya anak SMA. Aku bersekolah di SMA YPS (Yayasan Pendidikan Soroako). Orangtuaku sengaja memasukkanku ke sekolah ini, sekolah ini satu-satunya sekolah yang bersaraf internasional dan fasilitas sekolah yang lebih memadai di desaku. Aku dapat lebih mudah menemukan teman karena asal sekolah kami yang lebih dominan dari SMP YPS.

“Nenengg!!” Teriak seseorang memanggil namaku dari arah gerbang sekolah dan segera menghampiriku.
Namaku Salsabila Zahra biasa dipanggil Neneng oleh teman-temanku. Kata orang, aku itu berwajah cantik dan berwarna kulit sawo matang.
“Kenapa kamu memanggilku?” Jawabku sembari menghentikan motorku.
“boleh aku nebeng sampai ke parkiran?” pinta Lisa.
“Iya, ayo kita cepat-cepat ke kelas agar kita bisa duduk paling depan.” Kataku.
Mukhlisa Saruni. Salah satu sahabatku di SMP kelas 3. Biasa dipanggil Lisa. Kulit yang sawo matang, postur tubuh yang mungil, sikap yang masih kekanak-kanakkan, serta gigi kelinci yang imut bagaikan bayi kecil yang masih perlu banyak panduan khusus.

Kami memang sengaja janjian untuk datang lebih awal, agar bisa duduk di depan. Maklum, kami berdua sudah sangat di kenal di SMP karena keleletan otak kami yang sulit memahami pelajaran. Tapi, kami ingin berusaha agar bisa lebih baik di jenjang SMA.
“Kita sekelas Neng, Lisa?” Sahut Nela dan Citra.
“Menurut anda?” jawabku dengan muka angkuh.
“Hahahaha. Nela, Kita duduk di belakang Neneng dan Lisa saja.” Tarik Citra dengan cepat.

Citra Rezki Bakti. Dipanggil Citra. Cewek tomboi. Berkulit putih, pemalas, tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitar dan sok keren ala pria.
“Kamu jangan duduk di situ, Nela. Aku tidak suka dekat-dekat sama kamu.” Kataku, sambil mengejek.
“Kalau aku mau? Kamu mau buat apa?” Ucap Nela dengan nada genit.
“Ya sudah kamu duduk saja di situ, calleda.” genit. Dengan suara mengejek.

Nela Anggraeni. Dipanggil Nela. Pemarah, emosi yang sangat mudah dipancing, cerewet, akan tetapi bila tidak ada dia, suasana terasa biasa saja.
“Senang rasanya dapat sekelas lagi dengan kalian.” Ucap Nela.
“Iya, tapi kenapa kita bisa satu kelas lagi?” Tanyaku.
“Hahaha. Kertas lintas minat kalian, yang kalian kumpul di aku saat mos dulu, aku mengganti lintas minat kalian semua. Maafkan aku, hahaha.”
“Astaga Nela, jadi lintas minat apa di kelas ini?” Tanya Lisa.
“Ekonomi sama Bahasa Inggris.”
“Ya sudahlah, mau diapakan lagi?”

“Pulang sekolah, kalian mau ke mana?” Tanya Nela.
“Pulanglah.” Jawab Lisa.
“Kita tidak usah pulang ke rumah dulu, kita pergi ke pantai sampai magrib saja, baru malamnya aku traktir kalian semua makan bakso.”
“Aku sih tidak apa-apa, karena aku tinggal di rumah Nenekku, tapi kalian? Orangtua kalian tidak melarang pulang malam?” kataku.

“Yah paling mereka dimarahin, tapi tidak sampai dibunuh kan?” Jawab Nela.
“Enak banget bicaranya” kataku.
“Kamu pergi yah Lisa, please?” Pinta Nela.
“Iya aku usahakan deh, kamu Cit?” Tanya Lisa.
“Jelas pergilah.” Jawab citra dengan yakin.

Menurut kebanyakan orang, Nela adalah cewek nakal, susah diatur, dan sombong. Tapi dia tidak nakal seperti kebanyakan orang yang berpikiran buruk tentang dia. Dia bersikap seperti itu karena ingin melepas kesepian yang dialaminya di rumah, orangtuanya yang sangat sibuk membuat dia seperti itu. Akan tetapi, bila Nela ke luar rumah, dia tidak pernah sekali-kali untuk jalan dengan cowok. Dia bersikap seperti itu supaya orang-orang merasa, hidup yang dialami Nela bahagia, akan tapi mereka salah. Selain itu, telah banyak cowok-cowok ganteng yang telah mengejar-ngejarnya karena parasnya yang cantik, rambut panjang, dan senyumnya yang indah, tapi dia belum berminat untuk menjalin hubungan yang serius. Sampai suatu hari…

Bel sekolah akhirnya berbunyi, pelajaran telah usai. Wajah-wajah ngantuk yang tersirat di muka teman-temanku kini segar kembali bagaikan pakaian yang ke luar dari laundry. Kami bergegas membereskan tas kami. Setelah kami berempat sampai di parkiran kami pun pergi menuju tempat-tempat yang kami ingin kunjungi sedari tadi. Terlihat muka Nela yang begitu senang, yang membuat hati kami lebih tenang. Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat.

“Pulang yuk” rayu Lisa.
“Cepat banget? Ini baru 9 pukul malam, bentar saja.” Nela memohon.
“Aku takut dengan orangtuaku.” Mata Lisa berkaca- kaca.
“Ya sudah kita pulang saja, kasihan Lisanya, si anak Mama.” Ujarku ke Nela.
“Neneng! tidak usah cari masalah deh, kalau tidak mau pulang, ya tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.” Lisa berkata dengan nada tinggi.
“Sudah-sudah, jangan bertengkar. Ayo kita pulang. Neneng kamu sama Nela saja. Saya sama Lisa, nanti kalian malah berkelahi di atas motor.” Citra mencoba menenangkan situasi.

Keesokan harinya kamipun bertemu kembali di sekolah.
“Ih kenapa biru tanganmu Lisa?” Tanyaku.
“Tidak usah sok baik, toh nyatanya kamu hanya pura-pura baik ke aku.” kata Lisa, sinis.
“Kenapa Lisa? Aku apain kamu sih? Sinis banget.”
“Tidak usah pura-pura lupa. Haha.” Lisa tertawa jahat.
Nela dan Citra hanya bingung melihat kami bertengkar. Akhirnya Citra tersadar.

“Sudahlah, bicarakan baik-baik saja. Apa kalian tidak cape bertengkar? Kenapa tanganmu Lisa?” Tanya Citra.
“Aku kan sudah bilang, kemarin tidak mau ikut dengan kalian, tapi apa? kalian semua memaksa. Beginilah jadinya, aku dapat pukulan dari Ayahku.”
“Maafkan aku Lisa.” Aku memohon.
“jangan ganggu aku, berulang kali kalian giniin aku. Cape, Neng.”
“Aku mohon Lisa, maafkan aku.” Sambil memeluk tubuh mungilnya.
“Ya sudah, semuanya telah terjadi. Mau diapakan lagi?” Akhirnya kami sudah bermaafan. Kami sudah menjalani hari demi hari seperti biasanya, sebagai sahabat. Aku yakin persahabatan kami akan abadi. Walau nantinya akan banyak hambatan di depan sana.

Waktu berlalu begitu cepat. Hujan, petir, badai telah kami lalui bersama. Tanpa terasa kami telah kelas 2 SMA. XI MIA III. Begitu bahagianya kami, saat mengetahui ternyata kelas kami tidak di rolling. Aku berjalan tergesa-gesa menuju ruang guru.
“Neneng!” Tepuk seseorang dari belakang.
“Kenapa, dam?” Dengan muka heran aku menatap Sadam.
“Hmm… anu.. eeeh.. itu anu?” Dengan muka pucat, sambil menggenggam celana sekolahnya.
“Yah? Apa? Katakan, aku sedang terburu-buru.” Aku mendesaknya.
“Ada orang ku suka.”

“Lalu? Mau curhat? Aku tidak punya waktu mengurus, urusanmu. Lagi pula, aku bukan saudaramu, bukan teman ataupun sahabatmu? Bukan juga teman kelasmu. Kita hanya mengenal nama, tidak lebih.” Menatap Sadam dengan sinis.
“Masalahnya.” belum sempat Sadam melanjutkan omongannya, aku sudah memotongnya duluan.
“Masalahnya hanya, kamu harus mencari orang lain untuk cerita masalahmu. Bukan aku.”
“Sahabatmu ku suka.” Teriak Sadam. Untungnya, pelajaran masih berlangsung, tidak ada siapa pun selain aku dan Sadam di situ.

“Hah? Siapa? Pasti Lisa atau Citra?”
“Kenapa kamu berpikirnya begitu?”
“Mana mungkin orang seperti kamu menyukai, Nela? Satu sekolahan kan pernah membuat isu-isu yang tidak benar terhadap Nela.” Seakan menyindir Sadam.
“Tapi, waktu Nela di pojokan, aku tidak ikut ambil bagian. Ku mohon, aku sangat ingin menjadi pelindungnya. Aku ingin dia lebih bahagia.”
“Apakah kamu serius? Awas kalau kamu mengecewakan sahabatku.”
“Iya, aku janji. Berikan aku nomor hp-nya, buruan.”

“Tunggu.” Sambil mengeluarkan hp-ku dari saku baju.
“Sebelum ada guru lihat, ditangkap itu hp-ku, gagal PDKT-nya kalau sampai terjadi.”
“Ini.” Memberikan nomor hp Nela.
“Oke. Terima kasih. Diluan yah.” Kata Sadam dengan senyum kecil.
Sadam Rifki Bakti. Dipanggil Sadam. Dikenal sebagai siswa berprestasi. Kelas XI MIA I. Tidak hanya itu, parasnya yang sedap dipandang. Badannya yang tinggi, berkulit putih, rambut jambulnya, hidung mancung, yang membuat para kaum Hawa di sekolah menjadi agresif seketika, apabila Sadam lewat.

Setelah aku dari ruang guru, aku langsung berlari kecil menuju kelasku. Semoga guru fisika sudah datang. Aku sangat senang apabila terlambat di mata pelajaran fisika, karena…
Sesampai di depan kelas aku mencuci tangan di wastafel. Segera melangkahkan kaki untuk masuk.
“Silahkan segera masuk dan tutup pintu dari luar.” Suasana kelas yang begitu hening langsung dipenuhi oleh tawa yang pecah, tidak terkecuali oleh sahabat- sabahatku.
“Terima kasih, Pak.” Aku segara menutup pintu dari luar. Aku mengitari koridor sekolah. Berharap ada seseorang yang dapat ku temani untuk berbincang.

“Nenengg!” sapanya.
“Eh Sadam? Kenapa lagi?”
“Aku dikeluarin dari jam pelajaran kimia, karena lupa membawa tugasku, kebetulan ketemu kamu. Kamu ngapain di luar kelas?”
“Tadi jam pelajaran fisika aku disuruh tutup pintu dari luar, karena telat.”
“Ayo ke taman sekolah? Masih ada 1 jam selesai pelajaran ketiga.”
“Yuk.”

Sesampainya di taman sekolah sejenak kami diam. Aku mulai memecahkan keheningan di antara kami.
“Sadam, kapan rencana mau dekati Nela?”
“Bentar malam, rencana juga mau secepatnya nyatakan perasaanku.”
“Oh ya? Kapan?”
“Mungkin minggu depan?”
“Saranku, 2 minggu depan saja. Karena ulang tahunnya Nela.”

“Bagus juga. Di mana kita merayakannya?”
“Rumahnya Nela saja?”
“Nanti ada orangtuanya? Aku malu.” Kata Sadam dengan cemas.
“Kata Nela, minggu depan orangtuanya ke luar kota, baliknya bulan depan.”
“Baiklah, kita di rumahnya saja.”

Tidak lama kemudian, seseorang menepukku dari belakang. Sadam hanya tersenyum melihat wanita tersebut.
“Nela? Kenapa kamu ada di sini?” Kataku.
“Aku sengaja izin ke toilet, aku ingin menemanimu. Tetapi ternyata kamu sudah ditemani dengan dia, aku kembali ke kelas lagi yah?” Pinta Nela.
“Eh jangan.” Secara spontan Sadam menarik tangan Nela. Nela hanya menatap tangannya, lalu langsung melepaskannya. Aku melihat pundak Nela yang semakin lama, semakin menjauh.

“Sadam? Hahahaha.” Setelah Nela pergi, aku tidak kuasa menahan tawaku.
“Kenapa sih?”
“Kenapa kamu tarik tangannya? Hahaha.”
“Spontan, Neng. Aduh malu-maluin banget.”

Ting, tong! Jam pelajaran telah berakhir. Aku segara kembali ke kelas, tanpa berpamitan dengan Sadam. Setelah tiba di kelas, segera ku bereskan tasku. Segera ku tarik tangan Lisa sambil berpamitan sama teman-temanku. Di perjalanan pulang, aku menceritakan semua tentang Sadam dan Nela. Lisa senang sekali mendengar kabar tersebut. Aku memohon kepada Lisa untuk menyampaikan hal tersebut kepada Citra secara diam-diam, esok hari.

Bersambung

Cerpen Karangan: Dewi Fortuna Nasir
Facebook: Cindyana Turut

Cerpen Apakah Engkau Kiriman Tuhan, Untuk Menggantikan Posisinya (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kamu dan Mamahmu

Oleh:
Gemericik suara hujan ditambah dengan tiupan angin yang menggoyangkan daunan, bagaikan lagu merdu yang menghipnotis diri ini untuk semakin terlelap. “TOK.. TOK.. TOK..”. Antara sadar dan tidak, aku seperti

Ketidaksengajaan Rasa

Oleh:
Hari minggu adalah hari yang dinanti-nanti oleh semua pelajar di indonesia, karena hari weekend merupakan hari bebas dari pelajaran yang memabukkan itu menurut Tasya Anggraini, seorang siswa SMAN 1

Cinta Yang Terbalas

Oleh:
Aku mencintainya dalam diam. Aku sadar ini salah, tapi akan lebih salah jika aku mengutarakan padanya. karena aku tidak ingin mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya, karena aku pernah mengutarakan

My Angel

Oleh:
Aku hanya seorang lelaki biasa, tak hebat dan tak luar biasa bahkan nyaris tak punya kelebihan. Sebut saja aku Dicky, aku seorang bungsu dari dua bersaudara. Keluargaku berantakan, orangtuaku

Sebuah Rahasia

Oleh:
Hari masih pagi sisa-sisa embun malam masih menetes di pucuk daun. Gerbang pintu sekolah terbuka lebar. Beberapa anak ku lihat mulai memasuki gerbang sekolah. Ku lempar pandangan ke sudut-sudut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *