Apakah Engkau Kiriman Tuhan, Untuk Menggantikan Posisinya (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 January 2016

Tanpa terasa, besok ulang tahun Nela. Sekali lagi, aku pura-pura sakit, agar dapat segera pulang ke rumah. Sedangkan Sadam, sengaja tidak pergi ke sekolah untuk membeli perlengkapan surprise Nela. Sempat suatu pertanyaan terlintas di benakku, “Seorang Sadam? Siswa berprestasi? Bolos hanya untuk seorang cewek yang dia suka?” Aku janjian dengan Sadam di rumah Nela. Setelah sampai di rumah Nela aku segera membuka pintu rumah Nela.

“Eh? Aku kira kita acaranya di luar rumah? Kenapa kunci rumah Nela ada di kamu?”
“Tadi, aku nyuruh Citra ngajak Nela ke kantin. Jadi kunci ku ambil dari tasnya.”
Tanpa basa- basi, Sadam segera masuk. Aku mengajak Sadam masuk ke kamar Nela, karena ruang tamu Nela terlalu luas untuk diberikan dekorasi. Setelah selesai mendekorasi dan menunggu beberapa menit, terdengar beberapa percakapan dari luar.

“Eh kayaknya aku lupa kunci rumahku di laci sekolah.” kata Nela ke Lisa dan Citra.
“Hah? Jadi kita harus kembali ke sekolah? Malas ah.” Jawab Citra.
“Ini pintunya bisa kebuka?” Lisa pura-pura tidak tahu bahwa memang pintu itu sudah dari tadi terbuka.
“Masa aku lupa buat kunci pintu? Aneh.” Nela heran melihat pintunya bisa terbuka.
“Ayomi pale masuk Nela? Aku kehausan.” Ajak Citra. Nela dan Lisa segera ke kamar, sedangkan Citra berpura-pura ke arah dapur. Setelah mereka membuka pintu kami pun langsung bernyanyi.

“Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday. Happy birthday Nela.”

Setelah Nela meniup lilin yang tertancap di kue yang dipegang Sadam, terlontar pertanyaan dari mulut Nela, “Kenapa Sadam ada di sini?” Sadam hanya membalas pertanyaan Nela dengan senyumaan serta melirik ke arah tembok, seakan ada hal yang ingin diperlihatkan kepada Nela di tembok itu, “I LOVE YOU NELA.” balon-balon huruf yang tertempel di dinding tersebut membuat Nela mengerti.

“Nela, maukah kamu menjadi kekasihku?” Nela hanya tertawa kecil, lalu mengiyakan pertanyaan Sadam.

Tak butuh waktu lama untuk mengenalkan Sadam ke orangtua Nela. Orangtuanya pun telah mempercayakannya kepada Sadam. Sebuah pesan singkat dikirim Nela untuk Sadam.
“Sayang, besok aku latihan marching band. Bisa jemput? Soalnya Citra ada acara keluarga, jadi dia tidak bisa antar aku.” Tanpa menunggu waktu lama, terdengar suara handphone Nela. Ternyata balasan dari Sadam. “Iya bisa kok sayang. Kamu anggota marching band? Kamu bagian apanya?” Segera Nela membalas pesan singkat dari Sadam.
“Oke makasih sayang. Aku bagian majoretnya.” Sadam membalasnya, “Oke sayang. Tidur sana, biar bangunnya cepat.” Nela hanya membacanya tanpa membalasnya lagi. Segera Nela merebahkan badannya dan tertidur.

Handphone Nela berdering. Nela mengangkat telepon Sadam, terdengar suara Sadam, “Aku ada di luar, sayang..” Nela segera ke luar rumah dan mengunci rumahnya.
Tak terlihat motor Sadam yang parkir depan rumah. Tiba-tiba sebuah kaca mobil terbuka, “Sayang?” terdengar teriakan Sadam dari dalam mobil. Nela segera masuk ke dalam mobil, dan duduk di bagian kursi tengah mobil.

“Kenapa kamu duduk di situ?”
“Sudah terlanjur duduk di sini, di sini saja yah?”
“Kamu kira, aku sopir kamu?” Kata Sadam dengan suara yang meninggi.
“Kamu kenapa bentak aku? Memangnya salahnya aku di mana? Aku kan cuman mau duduk di sini.” Dengan mata berkaca-kaca, Nela menjawab pertanyaan Sadam.

“Kamu tidak menghargai usaha cowok kamu? Aku usaha minta dibelikan mobil oleh orangtuaku, supaya cewek yang aku sayang tidak kepanasan. Lalu balasan untuk aku cuman begini?”
“Yang suruh kamu beli mobil siapa? Aku tidak butuh mobil kamu.”
“Kamu boleh turun, kalau kamu tidak suka.”

Nela hanya menangis, ke luar dari mobil dan tanpa mengatakan apa-apa. Sadam tidak mencoba untuk menahan Nela, justru dia sangat kesal dengan sikap Nela. Sadam teringat oleh Neneng, dia mengirimkan pesan singkat kepada Neneng. Sadam ingin bertemu sekarang dengan Neneng di taman. Sesampai di taman. Neneng langsung bertanya, mengapa Sadam memanggilnya ke sini.

“Ada apa, Dam?”
“Aku marahan sama Nela.”
“Hah? Kenapa?”
“Kemarin aku itu sebenarnya ulang tahun.” belum sempat Sadam melanjutkan perkataannya Neneng sudah mengambungnya.
“Kamu marah sama Nela hanya karena dia tidak memberimu surprise seperti yang kamu lakukan saat dia birthday?”

“Jangankan surprise, ucapan saja tidak ada. Tapi bukan itu yang membuatku marah.”
“Kalian kan baru saja pacaran, tidak mungkinlah dia mau tahu semua tentang kamu? Lalu apa yang membuatmu marah?”
“Aku usaha ngebujuk ke orangtuaku agar membelikanku mobil untuk kado ulang tahunku, tapi? Dia malah tidak suka, aneh kan? Awalnya dia sempat naik, tapi dia malah duduk di belakang? Aku dianggap sopir atau apanya dia?”
“Memangnya kamu tidak nanya ke Nela, mengapa dia tidak mau duduk di depan?”
“Aku lupa, emosiku sedang tidak stabil.”

“Harusnya kamu nanya dulu. Sebenarnya Nela pernah kecelakaan saat SD, waktu SD dia pindahan dari Bandung. Waktu di Bandung, dia dijemput tantenya saat pulang sekolah. Tapi karena tantenya cape banget pulang kantor jadi tidak terlalu fokus bawa mobilnya, dan di situ mobilnya malah jatuh dari jembatan. Tantenya meninggal. Dia lihat semua kejadian itu dan sampai sekarang dia masih trauma. Coba saja kamu cek di bawah poni Nela, masih ada bekas luka yang agak menonjol.”

“Astaga. Pulang yuk? Aku antar, aku mau langsung minta maaf hari ini.”
“Kamu pulang duluan saja, aku bawa motor ke sini.”
“Bye.” Aku segera berangkat menuju rumah Nela, semoga dia mau memaafkanku.

Setelah tiba di rumah Nela. Aku segera mengetuk pintu Nela. Setelah Nela ke luar, dengan spontan Sadam memeluk tubuh Nela dan berbisik, “Aku minta maaf.” Nela meneteskan air matanya. Nela melepas pelukan Sadam dan berkata, “iya tidak apa-apa, aku yang salah, tidak cerita masalah ini ke kamu..” Sadam hanya tersenyum dan pamit pulang.

Setelah beberapa menit kepulangan Sadam, orangtua Nela akhirnya datang. Karena orangtua Nela kelelahan, mereka hanya menyapa Nela dan langsung masuk ke kamar. Nela sudah terbiasa dengan sikap mereka. Tidak mau ambil pusing, Nela menelepon kami untuk datang ke rumahnya untuk datang ke rumah, buat ngumpul-ngumpul. Sekitar setengah jam kemudian, kami semua sampai di rumahnya Nela. Karena kami sudah terbiasa ke rumahnya, kami tidak mengetuk pintu dan langsung masuk.

“Itu bungkusan apa, Neng?”
“Tadi aku singgah membeli tahu isi.” kataku.
“Bagi dong.” Nela meminta tahu isiku, sambil membuka bungkusan itu.
“Jangan, aku hanya membeli 3 biji tahu isi. Aku sangat lapar.” sambil memukul tangan Nela.

Baru kali ini aku melihat Nela tidak memaksaku. Ada apa dengan Nela?
Terdengar sebuah ketukan dari luar kamar. Tanpa dipersilahkan masuk, orang tersebut langsung membuka pintu dan masuk ke kamar. Ternyata orang itu adalah Ibu Nela.
“Nela kamu dipanggil oleh Ayahmu, untuk menyatukan berkas-berkasmu. Agar nantinya, apabila berkas tersebut dibutuhkan, dapat lebih mudah ditemukan.”
“Baiklah.”

Nela pergi menuju kamar orangtuanya bersama ibunya. Setelah beberapa menit kemudian Nela kembali ke kamarnya. Terlihat jam dinding mulai menunjukkan pukul 10 malam.
“Hei?!” Nela mencoba mengagetkan kami semua.
“Ada apa?” Tanya Lisa.
“Kalian belum mau pulang? Ini sudah pukul 10 malam.”
“Ya sudah. Kami pulang dulu yah.”

Baru kali ini kami disuruh Nela pulang cepat. Biasanya Nela memaksa kami untuk bermalam di rumahnya. Tapi sekarang? Ini aneh. Setelah kami sampai di rumah masing-masing, aku segera tidur agar tidak telat ke sekolah esok hari. Handphone yang berada di samping telingaku tiba-tiba berdering, menyentakkanku dari tidurku. Siapa yang menelepon tengah malam begini? Ku raih handphone dan ternyata mama Nela yang meneleponku.

“Halo tante? Ada apa?” Hanya suara tangisan yang aku dengar. Setelah lama-lama akhirnya Ibu Nela mulai berbicara.
“Kamu di mana Nak? Bisakah kamu ke sini? Rumah tante kebakaran.” Kata Ibu Nela sambil tersedu-sedu.

Tanpa membalas pertanyaan Ibu Nela, aku langsung menutup teleponku dan bergegas ke rumah Nela. Di perjalanan ke rumah Nela aku mencoba menghubungi Lisa dan Citra agar datang ke rumah Nela. Setelah beberapa saat, aku sampai di rumah Nela. Tidak lama kemudian kedua temanku sampai di rumah Nela. Kami bertanya-tanya di mana Nela? Kami segera menghampiri Ibu Nela. Mencoba menenangkan Ibu Nela, dan bertanya, “Nela di mana, tante?” Ibu Nela mencoba menjawab pertanyaan kami.

“Nela masih ada di dalam, Nak. Kemarin kamarnya baru selesai direnovasi. Dia sengaja ingin membuat kamarnya menjadi kedap suara. Mungkin, dia tidak mendengar suara kami dari luar.” Ibu Nela tidak bisa menghentikan isak tangisnya. Kami mencoba memeluk Ibu Nela. Terus mencoba menenangkannya. Tiba-tiba seseorang ke luar dari dalam rumah yang kebakaran itu, ternyata ia adalah Nela, ia berjalan ke luar rumah tersebut dengan penuh luka bakar, seketika itu ia pingsan dan di bawah ke rumah sakit PT. Vale.

Keesokan harinya, ia menulis surat untuk ibunya, “aku mohon, aku ingin sekali dijenguk oleh teman-teman dan guruku satu sekolahan.” Ibunya langsung mengabulkan permintaannya. Akhirnya, orang satu sekolahan datang mejenguknya, tidak terkecuali dengan Sadam. Kami lupa mengabari Sadam mengenai masalah yang menimpa Nela, dia sangat sedih melihat keadaan Nela. Nela meneteskan air mata melihat Sadam, dia menulis sebuah surat kepada Sadam, “Sadam, aku mohon jangan tinggalin aku.” Hanya senyuman yang tulus dipancarkan oleh Sadam. Akhirnya, orangtua Nela memutuskan membawanya untuk operasi plastik di Singapore.

Kami mendapat telepon dari orangtua Nela, bahwa Nela sudah selesai operasi plastik. Sekujur tubuh Nela berwarna soft pink seperti orang barat, itu semua akibat operasi plastiknya. Setelah aku menerima kabar ini, aku segera menceritakan kabar ini kepada Sadam, Sadam menyambutnya dengan perasaan bahagia. Seketika perasaan bahagia itu lenyap, saat kami mendapat telepon dari singapore. Nela telah tiada. Tangis kami pecah, Sadam tidak kuasa mendengar hal itu. Ia langsung berlari seperti orang kebingungan, ia tidak bisa menahan tangisnya. Setelah Nela kembali ke Soroako, ia langsung dikebumikan. Sadam menatap batu nisan Nela, dan tidak bisa berhenti menangis.

Beberapa tahun kemudian, Sadam telah kuliah Semester 5. Saat itu belum ada seseorang pun yang dapat menggantikan posisi Nela. Dia teringat sesuatu tentang Nela, “marching band.” Ia berniat melihat anggota marching band yang sedang latihan. Ia segera menuju ke tempat latihan tersebut. Setelah duduk di atas tribun penonton, ia melihat sesuatu yang ganjil. ia bertanya- tanya di batinnya, apakah itu Nela? Setelah mereka selesai latihan, ia menghampiri orang yang dianggapnya Nela. Ia mengajukan beberapa pertanyaan ke wanita itu.

“Hai?” Sapanya ke wanita tersebut. Awalnya wanita itu malu mendengar sapaan Sadam. Tapi Sadam menimpa pertanyaan kepada wanita tersebut.
“Aku Sadam, kamu siapa?”
“Munela Anaqiah. Biasa dipanggil Nela.”
“Nela? di mana posisi kamu di marching band?”
“Aku di bagian colour gath.”

Sadam berpikir sejenak. Ia memikirkan Nela Anggraeni. Wanita di hadapannya sangat mirip dengan Nela yang dulu ia kenal. Nama serta parasnya hampir mirip. Ia bertanya di dalam batinnya, “Apakah Engkau Kiriman Tuhan, Untuk Menggantikan Posisinya?”

Cerpen Karangan: Dewi Fortuna Nasir
Facebook: Cindyana Turut

Cerpen Apakah Engkau Kiriman Tuhan, Untuk Menggantikan Posisinya (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malam Pengantin Di Kota Cinta

Oleh:
“Aku ingin kita merasakan sensasi malam pengantin di Kota Cinta. Berjanjilah, May!” Pintanya di Facebook. Tentu saja aku sangat mau, sudah lama hal itu ku impikan tapi… Aku mendesah,

Bukan Benci, Tapi Takut

Oleh:
Aku tetap menahan kakiku untuk tetap berdiri di depan pintu kelas. Fikiranku berputar-putar dari itu ke itu saja. Aku merasa gelisah setelah rombongan teman-temanku mengatakan bahwa aku berhasil menjuarai

Persahabatan Singa dan Zebra

Oleh:
Di sebuah hutan, hiduplah seekor singa dan zebra. Mereka telah bersahabat sejak lama. Akan tetapi, zebra tidak pernah menganggap bahwa singa adalah sahabatnya. Sang zebra selalu menganggap dirinya paling

Hidupmu Adalah Hidupku

Oleh:
Sore itu langit begitu gelap dengan hembusan angin menerbangkan dedaunan. Ya hari begitu mendung pertanda hujan deras akan membasahi bumi. “bener nih lo nggak mau nginap?” Tanya ku sekali

Kita dan Hujan

Oleh:
Ku kumpulkan segala rasa pada ujung jemari Tak memberikan celah sedikitpun untuk membuang rasa yang tak pernah ku mengerti Walau dirimu hanya bayang semu dalam setiap mimpiku Hujan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *