Apakah ini Cinta? (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 October 2019

“Kamu…” Sasa berdiri dari duduknya dan perlahan melangkah kearah Ridho dan berhenti beberapa langkah dari hadapan Ridho “Kamu kenapa bisa disini…”
“Aku bersama Henni…”
“Kamu sekarang bersama Henni? Apa Kamu tidak tahu kalau satu tahun lalu itu Arya dan Henni membuat satu rencana untuk memisahkan Kita demi…”
“tentu saja Aku tahu itu”
“Kamu tahu itu, tapi kenapa…” Sasa terlihaat sangat bingung “Aku tidak bisa mengerti semua ini” Sasa terus menatap Ridho dengan tatapan bingung.
“Kamu harus tahu satu hal, perbuatan Arya satu tahun yang lalu itu bukan suatu rekayasa untuk memisahkan Kamu dari Aku, tapi itu semua dilakukannya demi Kamu, Arya tidak mau Kamu terluka lebih dalam karena Aku”
“Aku masih tidak mengerti” Sasa berucap pelan “Apa maksudnya kalau Aku bisa terluka lebih dalam karena Kamu?”
“Karena Sebelum Aku dekat dengan Kamu Aku sudah dulu jadian sama Henni” Ridho memberi penjelasan “tapi karena satu hal hubungan Aku dan Henni retak gara-gara Aku cemburu akan keakraban Henni dan Arya, Aku marah dan berniat membalas sakit hatiku. Jadi Aku berusaha mengambil simpatimu karena Aku tahu Kamu adalah orang yang disukai Arya”
Arya yang mendengar itu menjadi sangat tidak enak hati, Henni mengawasi Rihdo dengan tatapan haru, Henni tahu apa yang diucapkan Ridho adalah kebohongan, Ridho rela berbohong demi menutupi kesalahannya.

“Jadi maksudmu, Kamu memanfaatkan Aku untuk membalas Arya begitu” Sasa terlihat sedikit emosi, Sasa mulai memahami semua itu.
“Ya, Aku mau memanfaatkan perasaanmu karena Aku tahu, dengan begitu Arya pasti akan terluka dan lebih terluka lagi kalau Dia tahu ternyata pujaan hatinya terluka oleh permainanku”
“Permainan, apa maksudmu itu” Sasa memotong ucapan Ridho.
Ridho tersenyum tipis lalu melanjutkan ucapannya “Permainan itu adalah Aku pura-pura mencintaimu dan saat cintamu begitu mendalam maka Aku akan memutuskanmu dengan begitu Kamu akan terluka, dengan otomatis Arya juga akan terluka karena Aku tahu Kamu adalah orang yang sangat berarti baginya, tapi sayang sebelum semua itu terjadi, Arya sudah menggagalkan rencanaku itu, Dia mempermalukan Aku, Aku tentu saja tidak terima, akhirnya terpancing untuk memutuskanmu… yah sayang sekali, tapi sudahlah, toh yang terpenting Aku bisa kembali lagi ke orang yang benar-benar Aku cintai”
“Jahat…” Sasa merasa lemas, selama ini Dia membenci Arya, selalu bilang Arya adalah orang yang sangat jahat tapi kenyataan yang ada semua itu kebalikannya, orang yang dicintainyalah yang jahat.
“Jahat sekali…”

Rihdo dengan sikap yang angkuh menghampiri Henni dan menarik tangannya “Ayo kita pergi…” Ridho perlahan mendekati Arya dan berbisik pelang “Semoga Kamu dan Dia bisa seperti dulu, Aku sudah berusaha, untuk itu Aku berharap Kamu bisa memaafkan kesalahan Henni”
“Ya, Aku tahu, tanpa kamu lakukan ini pun, sedari tadi Aku sudah memaafkan Henni” Arya menghela nafas.

Ridho menggandeng Henni dan beralalu tanpa kata, Sasa tetap terdiam, Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Raisya ikut merasakan apa yang dirasakan Kakaknya, Raisya cepat memegang bahu kakaknya karena Sasa terlihat lemas dan mau terjatuh lalu perlahan membantu kakaknya untuk berdiri “Kak, sudahlah, yang terpenting sekarang semua sudah terungkap dan kenyataanya adalah Arya tidak bermaksud jahat kepada Kakak”
“Aku malu Sya…” Sasa menatap dengan tatapan penyesalan kearah Arya “Aku sangat Malu…”

“Sepertinya Rujak itu enak sekali…” Arya berucap pelan, Arya sengaja mengalihkan pembicaraan karena Dia tidak mau Sasa larut dalam rasa bersalah.
Sasa dan Raiysa saling pandang, mereka mengawasi Arya, Arya balas mengawasi mereka dan dengan enteng Dia melanjutkan ucapannya “Rujak itu pasti Kamu beli di Mang Udin di pojok sekolah kita kan? wah, sudah lama sekali tidak menyentuh rujaknya Mang Udin.. hm kurang lebih sudah satu tahunlah kira-kira”
Sasa melangkahkan Kakinya menghampiri Arya dan duduk di samping pembaringan Arya dan berucap pelan “Kamu pasti sakit…”
“ya tentu saja, Kamu tidak lihat Kakiku yang diperban itu, melihatnya saja sudah ngeri apalagi rasanya”
“Bukan itu yang Aku maksud, yang Aku maksud… selama ini, Kamu pasti sakit atas sikapku, Maafkan Aku…” Sasa menunduk “Aku sebenarnya malu untuk ketemu Kamu, Aku…”
“Sa, dengar, Yang sudah ya sudahlah, saat ini adalah yang terpenting, Aku juga malu sebenarnya, semua rahasiaku sudah terbongkar oleh Ridho”
“Rahasia? Rahasia Apa” Sasa pura-pura tidak mengetahui itu “Bukannya kemarin Kamu dengan jelas mengungkapkannya, jadi ada rahasia apa lagi” entah kenapa saat ini sasa merasakan jantungnya tiba-tiba berdebar, di lain pihak Arya terlihat tersenyum masam dan mencoba mengalihkan pembicaraan “Sa, Sudahlah, kita lupakan saja itu”
“Kakak ini pura-pura bego atau bego benaran sih, rahasia yang dimaksud Arya tentu saja Rahasia hatinya yang menyukai Kakak, Benarkan Ar?”
“Haduh, Anak kecil ini selalu bikin orang nggak enak saja” Arya terlihat jadi Kaku dan tidak tahu harus berbicara apa.
“Jadi apa yang kamu katakan kemarin dan dikatakan Ridho itu benar?” Sasa bertanya pelan dan menatap penuh arti kearah Arya.
“itu… ya… sebenarnya Aku yakin Kamu juga pasti sudah tahulah perasaanku sedari dulu, jadi tidak usah kita…”
“Sedari Dulu, Sekarang bagaimana?” Sasa kembali bertanya pelan.
“Tetap sama, Perasaan itu masih sama seperti dulu…”
“Memangnya Sejak kapan Kamu menyukaiku” Sasa terlihat malu dan pipinya terlihat merah merona, Arya mengawasi sesaat lalu menjawabnya “semenjak awal ketemu Aku sudah menyukaimu”
“Begitu…”
“Ya begitu..”

“Sebenarnya Aku juga menyukaimu…” Sasa menekan perasaannya.
“Benarkah…” Arya terkejut dan tanpa sadar Dia langsung duduk dan meringis menahan sakit saat Kakinya terayun “Aduh…”
“Sudah kamu berbaring saja” Sasa terlihat kuatir, Dibelakang Raisya mengawasi dengan tatapan cemburu…. ‘Mereka ini, apa mereka menganggap Aku ini tidak ada, apa’ Batin Raisya kesal.

“Memang Sejak kapan Kamu mulai menyukaiku” Arya bertanya dengan wajah sedikit meringis.
“Itu, Aku tidak tahu pasti, tapi yang pasti sejak kecelakaan itu, Aku sangat menguatirkan keadaanmu, Aku belum pernah merasakan begitu resah dan sangat takut akan kehilangan seseorang seperti ini dan Aku semakin menyukaimu saat tahu Kamu begitu banyak berkorban demiku dan Rela kumusuhi selama satu tahun dan Rela…”
“Jadi… Kamu benar-benar..” Arya memotong ucapan Sasa,
“Ya, Aku Suka Sama orang yang bisa melinduingi Aku dan penuh rasa tanggung jawab dan itu semua ada di Kamu
Jadi kita bisa mencoba untuk” Sasa berhenti sesaat lalu “Kamu ini kok bego sekali sih, Aku cewek, mana bisa kalau Cewek yang harus memulai ucapan itu”
“Jangan mau Ar, Aku saja, Aku juga menyukaimu” Tiba-tiba Raisya menceletuk dari belakang “Pacaran sama Aku saja, Ok”
“hadeh, anak kecil ini” Arya mengawasi Raisya.
“Aku bukan Anak kecil, Usiaku sudah lima belas tahun, Ar, daripada harus mencoba pacaran ngabisi waktu aja lebih baik pacaran benaran sama Aku…”
“Raisya Kamu ini..” Sasa mendelik kearah adiknya “Kamu kok norak gitu”
“siapa yang norak, Pokoknya Kakak tidak bisa jadian Sama Arya, Arya harus jadian sama Aku”
“Kamu…”
“Kita bisa bersaing, dan sekarang kita bisa Tanya sama Arya untuk memilih siapa”

“Arya, Sekarang Kamu pilih siapa Aku atau Adikku yang norak ini” Sasa terlihat marah dan tidak menyangka Adiknya bisa menjadi musuhnya dalam hal mendapatkan cinta.
“dari dulu Aku sudah menyukaimu untuk apa Lagi Aku perjelas”
“Kamu dengar itukan, Dia memilihku” Sasa terlihat puas akan jawaban tegas dari Arya.
“Ya sudah, kalau begitu kalian resmi aja pacarannya dan tidak usah seperti orang bego begitu”
“Maksudmu…”
“ya pacaran saja untuk apa mencoba pacaran, lucu sekali, masa pacaran saja pakai coba-coba, suka ya suka untuk apa lagi ragu”
“Kamu ini bercanda untuk mempermainkan Kakak ya?”
“Tidak, Siapa bilang Aku lagi bercanda, Aku serius menyukai Arya tapi kalau kakak dan Arya sudah resmi jadian ya Aku mundur, tapi kalau hanya mencoba untuk pacaran lebih baik Arya pacaran sama Aku saja”
“Kamu…”

“Aku mau rujak…” Arya mencoba melerai dengan mengalihkan topic pembicaraan dari kedua bersaudara itu tapi Sasa malah menatap tajam ke arahnya.
“Rujak saja di pikiranmu itu” Sasa mendelik ke arah Arya “Sekarang Kamu pasti lagi besar kepala karena direbutkan dua cewek cantik kan”
“Siapa yang besar kepala? kalau besar Kaki sih iya, tu lihat kakiku besar kan”
“Kamu aih” Sasa yang kesal itu jadi merasa lucu saat mendengar pembelaan dari Arya dan menutup mulutnya untuk tertawa, Raisya juga ikut tertawa.
Perlahan ketegangan itu mencair dan Raisya juga tidak terlihat memaksakan kehendaknya karena Dia tahu Arya tentu saja menyukai Kakaknya dan Dia hanya merupakan anak kecil dimata Arya.

Arya menatap Sasa dan perlahan mengenggam tangannya “Aku sangat beruntung hari ini, bidadari yang sudah lama Aku tunggu akhirnya mau menemuiku dan yang lebih membuatku bahagia adalah bidadari itu mau membuka hatinya untukku, Aku pasti akan cepat sembuh, karena Aku tidak sabar untuk mengajak Bidadari itu berkeliling kota”
“cih, Gombal, nih makan rujaknya”

“uhuk…”
“Kakak ini jahat sekali” Raisya cepat mengambil air dan membantu Arya untuk meminumnya, Sasa melihat itu semakin cemburu.
“Sya, Kamu baik sekali Aku akan pertimbangkan apa yang Kamu katakan tadi…” Arya berucap sambil menatap Raisya hal ini dilakukannya untuk menggoda.
“Kamu berani…” Sasa menjentikan jarinya kearah Kaki Arya otomatis Arya kesakitan “aaaaa…” tapi kesakitan itu terasa membahagiakan bagi Arya karena Dia tahu saat ini Sasa benar-benar sudah menjadi kekasihnya.
“Ya. ya… Aku hanya bercanda”
Sasa mengawasi Arya sesaat lalu berucap tegas “Mulai saat ini Kamu adalah Pacarku dan ini bukan mencoba pacaran tapi kita Pacaran secara resmi dan Kamu Raisya jangan menggoda pacar Kakakmu, ngerti”
“Ya.. ya ya, Aku ngerti, selamat deh kalau begitu”
Sesaat kemudian Arya berkata pelan “Saat ini Aku betul-betul mau makan rujak, Boleh…”

Arya dan Sasa saling memandang, di mata sasa kini tidak terlihat lagi kebencian, kebencian itu sudah berubah menjadi cinta, beban itu berakhir, benci itu hilang, rasa cinta itu mulai tumbuh di dalam hatinya, dan Arya sangat berterima kasih akan Ridho, Arya tahu apa yang diucapkan Ridho tadi merupakan karangannya saja yang pasti saat ini Arya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Arya berjanji di dalam hati ‘Aku akan menghargai semua ini, Sa, Aku akan selalu menjagamu serta menemanimu baik dikala suka ataupun Duka ini janjiku’

Di lain tempat, tepatnya dibangku taman rumah sakit terlihat Henni menyandarkan tubuhnya di pundak Ridho “Terima kasih, Kamu baik sekali. Dho”
“Sudahlah, Hen, tidak usah dibahas lagi…”
“Aku tahu semua yang Kamu ucapkan tadi merupakan kebohongan, saat ini pasti kebencian Sasa sudah jatuh kepundakmu, seharusnya Akulah yang musti bertanggung jawab bukan Kamu”
“tidak apa, tidak apa-apa yang terpenting saat ini Kamu masih bersamaku”
“Ridho Aku…”
“Ini adalah cinta, cinta tidak perlu dipertanyakan yang pasti cinta itu adalah disaat kau rela melakukan apapun untuk seseorang, begiitulah cinta”
“Ridho Aku…”
“Masa lalu kita lupakan saja yang terpenting saat ini kita masih bersama, kita hargai kebersamaan saat ini jadi masa lalu biarlah menjadi pelajaran untuk kita dimasa yang akan datang, Ayo Kita pulang dan saat ini kita doakan semoga hubungan Sasa dan Arya menjadi lebih baik
“Ya, semoga mereka lebih dekat…”

Apakah ini Cinta?
Cinta tidak perlu dipertanyakan
Asal Kamu mau berkorban demi seseorang
Itu pastilah Cinta…

T A M A T

Cerpen Karangan: Jainal Hariadi
Blog / Facebook: jainal hariadi

Cerpen Apakah ini Cinta? (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Dibalik Jendela Kelasku

Oleh:
Kawan namaku Vania Amaira Putri. Aku sih biasa dipanggil sama teman-teman Vani. Temen-temenku bilang aku tuh orangnya bawel, ribet, suka heboh sendiri, tapi baik kok, katanya sih aku tuh

Berakhir Kata

Oleh:
Seperti sebuah kata yang bergantung pada kata-kata selanjutnya, seperti itu pula aku bergantungan padamu. Selalu ingin di sampingmu, meski aku tak pernah tahu tentang kejelasan perasaanmu terhadapku. Masih mengambang

Modus Tipis

Oleh:
“Nik, aku denger-denger dari temen-temenku, Arga kemarin kecelakaan lho,” beritahuku kepada Nikka, sahabatku yang menyukai Arga. “Hah? Apa? Kapan? Di mana? Kok bisa?” tanya Nikka dengan segala kekhawatirannya. “Kemarin.

Cinta Koin

Oleh:
Lagi-lagi aku dihukum, aku disuruh hormat bendera hanya ditemani sekeping koin yang berada di samping kaki ku, terlihat sangat bening, tapi di sisi lainnya kotor sekali, aku rasa itu

Perjodohanku

Oleh:
“Sudah aku utarakan dari kemarin-kemarin, An. Meski aku mencintaimu sekalipun, aku tetap tidak akan pernah menyatakannya padamu. Aku tidak akan kalah dengan mencintai siapapun.” Gadis di depanku ini benar-benar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Apakah ini Cinta? (Part 4)”

  1. dinbel says:

    keren banget cerita nya. good job deh untuk pengarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *