Apakah Jodoh Itu Menemukan Jalannya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 26 March 2016

Namanya Hajar, umur 21 Tahun, mahasiswa tingkat akhir yang berjuang untuk menyelesaikan skripsinya, walaupun demikian ia masih terhalang dua mata kuliah yang harus diprogram ulang, tidak hanya sebagai seorang Mahasiswa, Hajar adalah seorang pewaris perusahaan besar yang berlokasi di Kota Malili Kabupaten Luwu Timur. Hari itu mentari mulai meninggi Hajar memacu mobilnya menuju suatu apartemen yang terletak di sudut Kota Makassar, jarak dari kampus menuju apartemennya cukup jauh harus melewati Pantai Losari dan sebuah rumah sakit.

Hajar mengarahkan mobil klasik keluaran tahun 1977 yang dikendarainya menuju gerbang Apartemen yang dikenal sebagai Apartemen 11, karena Apartemen ini menjulang hingga lantai 11. Hajar sendiri menempati slot kamar Apartemen nomor 11 di lantai 02. Hajar memarkirkan mobilnya dan bergegas menuju kamarnya, sesampainya di lantai dasar Hajar berpapasan dengan seorang perempuan cantik berumur 27 tahun yang sedang menggenggam jemari anak kecil bermata biru. Hajar dengan sopan mengulas senyum dan berbasa-basi sebagaimana sesama penghuni Apartemen.

“Selamat pagi nyonya Dimitriv,” sahut Hajar.
“Selamat pagi dek Hajar,” Nyonya Dimitriv membalas sapaan dan senyuman Hajar.
“Dek Hajar dari mana? Kok tidak ngampus?”
“Oh itu.. saya sih baru tiba dari kampus, tapi saya putuskan pulang karena melupakan sesuatu yang penting nyonya Dimitriv,”
“Oh.. apa itu dek Hajar?”
“Smartphone saya Nyonya Dimitriv, yah saya merasa gundah gulana kalau tidak membawa Smartphone,” Hajar memandangi sejenak anak bermata biru itu dan kembali mengalihkan pandangannya ke Nyonya Dimitriv.

“Nyonya Dimitriv.. Tuan Dimitriv belum kembali yah?” Puput sejenak memerhatikan wajah buah hatinya sebelum menjawab pertanyaan Hajar. “Yah mungkin suami saya masih sibuk,” sahut Nyonya Dimitriv datar.
“Yah memang tidak mudah memliki pasangan seorang Diplomat Muda,” Hajar kemudian menyalami Puput dan mengusap kepala kecil anak bermata biru itu.
“Hei jagoan kamu itu harus menjaga Ibumu yang cantik, laki-laki harus kuat, saya pamit dulu nyonya Dimitriv,” Hajar melangkahkan kakinya yang jangkung menuju kamarnya, sesampainya di sana ia bergegas mengambil Smartphonenya dan menghubungi seseorang, wajahnya penuh ketegangan.
“Kok tidak diangkat?!” sahut Hajar ia kemudian mengirim pesan kepada seseorang yang telah dihubungi sebelumnya.

Mentari begitu terik, pendingin ruangan kurang mampu menahan hawa panas Kota Makassar yang menyelinap melalui celah-celah jendela ruang kelas, Hajar kurang fokus mengikuti mata kuliah yang telah diprogram ulang, sedari tadi matanya hanya memandang smartphonenya serasa menunggu sebuah pesan dan sesekali memandang ke luar jendela melihat awan yang membiru. Hajar tidak menyadari bahwa ia sedang diawasi oleh seseorang. 120 menit terasa cepat berlalu, Hajar melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kuliah ia sejenak berdiri di dekat jendela memandangi lalu lalang kendaraan di Jalan AP. Pettarani Makassar.

“Oeh Hajar apa yang kau lakukan di situ?” teriak seseorang dari jarak agak berjauhan. Hajar tersadar dari lamunannya ia menoleh mencari siapa gerangan tuan pemilik suara yang memanggilnya, “Hajar sebelah sini?!” sekali lagi sahut orang itu dan melangkahkan kakinya perlahan menuju Hajar yang berdiri terpekur di dekat jendela.
“Kamu Ridwan rupanya, apa yang kamu lakukan di sini Ridwan?”

“Apa yang ku lakukan?! Ya barusan kuliah-lah bukannya kita mengulang mata kuliah yang sama?! Kamu tuh yah sedari tadi di ruang kelas hanya melihat hp-mu.. tunggu pesan dari Desti yah? Cih kamu tuh ditinggal kekasih jadi lembek, galau, dan suka melamun?” Ridwan mencibir sikap nelangsa sahabatnya satu ini. Hajar hanya kembali terpaku memandang kendaraan yang lalu lalang melalui jendela gedung perkuliahan berlantai 17, tidak menggubirs cercaan sahabatnya itu.

“Hajar, kamu itu tampan.. bukan saya ralat perkataanku.. lebih tepatnya pria cantik seperti artis-artis Negeri Gingseng itu, kulit putih mulus, wajah sendu, mata teduh, tinggi 180 Cm dengan berat 72 Kg. Dan senyuman yang memikat, ditinggal perempuan kamu jadi cengeng begini,” Ridwan hanya menggeleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang satu ini, terkadang Ridwan begitu heran sebegitu cinta matinyakah Hajar kepada Desty? Padahal Hajar salah satu pria terpopuler di kampus ini, namun sayang jika cinta sudah menerpa hati makin nelangsa jika ditinggal kekasih. Hajar hanya menghela napas dan memandang langit yang mulai kelabu sama halnya hatinya yang nelangsa, ia masih mengingat kejadian malam itu, kejadian yang membuat hati Hajar pilu.

Malam itu di salah satu cafe di sudut Kota Makassar, Daarna cafe. Hajar dan kekasihnya duduk di dekat jendela, wajah Hajar memancarkan kebahagiaan menikmati suasana romantis bersama kekasih. “Desty tumben kamu menemuiku, biasanya Tetta’ mu sungkan sekali mengizinkanmu ke luar malam-malam sama saya,” sahut Hajar yang tak henti-hentinya memandangi wajah cantik Desty. “Hajar sebenarnya Tetta’ lah yang menyuruhku menemuimu malam ini ada pembicaraan penting yang harus ku sampaikan kepadamu,” sahut Desty, matanya menyiratkan kegundahan, Hajar menatap dalam-dalam sepasang bola mata sendu milik Desty, Desty memalingkan wajahnya ia tak sanggup menatap sepasang bola mata milik Hajar yang mampu meluluhkan hatinya.

“Hajar,” sahut Desty begitu lirih, kepalanya tertunduk, Hajar menggenggam jemari lembut Desty.
“Kenapa Desty?” sahut Hajar.
“Aku… aku,” sahut Desty terbata-bata, matanya berkaca-kaca, “Aku.. aku dijodohkan Hajar.. Tetta’-ku menjodohkan saya dengan anak sahabatnya, ia tidak merestui hubungan kita selama ini Hajar,” sahut Desty dengan berlinang air mata, Desty berlari ke luar meninggalkan Daarna cafe. “Desty tunggu..!!!” seru Hajar, ia relfeks mengejar Desty, seorang pramusaji mencoba menghentikan langkah Hajar, namun niat Pramusaji itu urung ketika melihat Ridwan sang pemilik cafe memberikan kode untuk membiarkan Hajar meninggalkan cafe ini.

Langkah kaki Hajar terhenti melihat Ayahanda Desty, Muhammad Fathanah telah berdiri bak benteng posesif, “Nak Hajar saya tidak merestui hubungan kalian, anak saya harus mendapatkan pendamping yang memiliki darah kebangsawanan yang sama, walaupun kamu bermaksud manggalli cera’ saya tak peduli, saya harus menjodohkan anak saya dengan anak sahabat saya, kami berdua sudah berjanji menikahkan anak kami masing-masing,” Fathanah memacu mobilnya, Desty hanya menangis berlinang air mata, kasih antara dua insan kandas karena perjodohan bernuansa darah.

Hajar dan Ridwan duduk memandang perkebunan teh di kaki bukit Gunung Bawakaraeng, Kota Malino. “Yah Hajar sebaiknya kamu menenangkan diri, ikhlaskanlah kepergian Desty, namun Hajar.. yakinlah bahwa jika Desty adalah jodohmu maka Tuhan akan membuka jalan yang tak disangka,” sahut Ridwan yang kemudian meninggalkan Hajar sendirian memandang keindahan ciptaan Tuhan.

“Bos laki-laki itu cantik yah bos,” sahut salah satu waiters Pasabean Malino High Land cafe.
“Kamu itu jangan ganggu dia, dia itu lagi galau ditinggal pacar, sebaiknya kita layani saja para tamu, kamu tahu kan sekarang banyak pengunjung,” sahut Ridwan yang sedang asik berjibaku dengan mesin Kopi. “Bos.. ada seseorang yang mencarimu bos,” satu Pramusaji dalam seragam bewarna merah menghampiri Ridwan.
“Siapa?” tanya Ridwan yang kemudian melirik dan mengumbar senyuman kepada seorang perempuan paruh bayah yang berdiri berdampingan dengan pegawai Pasabean Malino High Land cafe. “maaf Ananda, betul ananda adalah teman dari Hajar?” sahut perempuan itu.
“Oh betul Ibu, kalau boleh tahu Ibu ini siapa yah mencari-cari Hajar?”
“saya Ibunda Hajar,” sahut perempuan itu.

“Oh Ibunya Hajar toh, mari Tante saya antarkan bertemu Hajar,” Ridwan mengantar Ibunda Hajar bertemu anaknya, mereka bertiga bersama-sama duduk di taman belakang Pasabean Malino High Land cafe. Kini Perempuan paruh baya itu duduk berhadapan dengan anaknya Hajar, Ridwan menyela momen antara anak dan ibu dengan menanyakan sebuah pesanan untuk kedua orang itu. “Maaf Tante, Tante mau minum Kopi atau?”
“Berikan Hajar Americano, sedangkan saya pesan Caffelatte,” sahut Ibunda Hajar singkat.
“Baik Tante kalau begitu saya pamit dulu,”

“Hajar,” sahut perempuan paruh bayah itu dengan nada penuh kasih sayang.
“Iya Ibu kenapa ibu kesini.. Ibu mau membujuk saya untuk pulang dan menjodohkan saya dengan gadis yang tak ku kenal?” sahut Hajar yang berbicara tanpa memandangi Ibundanya. “Bukan begitu Nak.. Ayahmu sakit Nak, ia tak henti-hentinya memanggil namamu, sudah seminggu Ayahmu maddang Nak,” Ibunda Hajar menitikkan air matanya, Hajar terenyuh mendengar kabar dari Ibundanya, memang hubungan antara Hajar dan Ayahnya begitu renggang sejak enam bulan lalu ia bertengkar perihal rencana konyol ayahnya menjodohkannya dengan gadis yang tak dikenal di saat Hajar telah menjalin kasih dengan Desty.

Malam itu seluruh keluarga besar Puang Aqil berkumpul di kamar utama tempat Puang Aqil biasanya beristirahat, semua mata memandang pilu kepada Puang Aqil seolah mereka semua dapat merasakan bahwa waktu semakin dekat memanggil Puang Aqil. Hajar duduk bersimpuh di sisi ranjang Puang Aqil menggenggam jemari ayahnya, didampingi Ibundanya dan dua saudaranya, sang kakak Arham dan sang adik Novy. “Anakku Hajar, maafkan Ayah jika selama ini Ayah memiliki salah, tapi Nak.. Ayah mohon kepadamu Nak.. terimalah perjodohan ini.. menikahlah dengan anak sahabat Ayah, beliau telah banyak berjasa bagi keluarga kita Nak,”

Hajar hanya tertunduk lesu, matanya berkaca-kaca mencoba menahan tetesan air mata yang telah membendung. Hajar menatap mata sendu Ayahnya ia mengangguk kecil mencoba mengikhlaskan hatinya, menerima takdirnya, takdir bahwa ia harus berpisah dengan Desty, takdir ia harus menikah dengan gadis yang tak dikenalnya dan takdir ia harus melepaskan kepergian Ayahnya. Seulas senyuman tersungging di wajah renta Puang Aqil, matanya perlahan terpejam, kini ia telah pergi meninggalkan sang istri, dan ketiga anaknya, Hajar berduka langit pun membasahi bumi, malam itu dingin menyelimuti hati seolah alam berempati dengan hati Hajar yang remuk redam.

Kini Hajar, Arham, Novy, dan Ibunya berdiri di pusara makam Puang Aqil seluruh pengantar jenazah satu persatu pulang ke rumahnya masing-masing, Hajar duduk memandangi pusara ayahnya, “Ayah.. saya akan mengikhlaskan segalanya akan ku tunaikan wasiatmu,” sahut Hajar disertai isakan tangis tersedu-sedu. Di tengah kesedihan keluarga Puang Aqil seorang pria paruh baya turun dari mobil mewah bersama anak dan istrinya, menghampiri ibunda Hajar dan menyalaminya.

“Maafkan saya Anri’ Nurhidayah, terlambat tidak bisa menghantarkan Aqil ke tempat peristirahatannya,” sahut pria paruh bayah itu. “Tidak apa-apa Daeng kehadiran daeng ke Luwu sudah cukup bagi kami, mudah-mudahan suami saya bisa tenang di alam sana,” sahut Nurhidayah Ibunda Hajar kepada sahabat Puang Aqil. Nurhidayah memanggil ketiga anak-anaknya yang masih larut dalam kesedihan untuk bertemu dengan sahabat Ayahnya, Muhammad Fathanah dan Istrinya Resky Jayanti serta anak semata wayangnya yang begitu cantik Desty Juwita.

Cerpen Karangan: Ilyas Ibrahim Husain
Facebook: Ilyas Ibrahim Husain
Twitter: @adilbabeakbar

Cerpen Apakah Jodoh Itu Menemukan Jalannya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Edelweis

Oleh:
Lagi-lagi aku harus meninggalkan pelajaran. Selalu, di setiap pagiku di sekolah, aku dilanda rasa khawatir dan cemas, sehingga membuat sahabatku Masya ikut cemas karenaku. Pagi ini jam 09:25, aku

Reuni Mia

Oleh:
Aku menghela nafasku. Setelah menempuh perjalanan selama lima jam akhirnya aku sampai di rumah masa kecilku. Ya, aku sudah menyelesaikan kuliahku, hanya tinggal menunggu wisuda saja. Untuk mengisi waktu

My Twin Sister

Oleh:
“Hoam…” uapku setelah bangun tidur di pagi hari. Pagi ini ku rasakan sejuk sekali. Tapi yang ku lihat setiap hari sama tidak ada bedanya, tidak ada warna-warna indah, yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *