Apalah Arti Menunggu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 24 February 2017

Ini adalah kisahku, kisah dimana semua menjadi serba salah kisah yang membuatku menjadi bodoh, kisah yang membuatku tau apa itu cinta yang sesungguhnya bukan cinta yang semu.

Waktu terus berlalu…
Perkenalkan namaku Sarah, aku siswi di SMA Negeri 1 Surabaya. Aku selalu berkorban demi orang yang aku cintai alias BUCIN (budak cinta), memang aneh aku ini. Kenapa aku rela berkoban untuk orang lain padahal sebenarnya orang lain itu tidak pernah tau apa pengorbananku untuknya. Memang jadi budak itu melelahkan apalagi budak cinta lebih parah lagi. Sekarang ini pun aku jadi budak cinta, meskipun aku tau betapa lelahnya tapi tetap saja aku lakukan, meskipun aku tau bagaimana akhirnya nanti.

Sekarang ini aku jatuh hati pada seseorang, orang itu adalah arka, dia cowok yang biasa tapi dia beda tidak seperti yang lainnya menurutku dia itu lebih baik. Sebenarnya aku ini merasa kalau sebenarnya arka juga suka padaku, sehingga saat dia Tanya padaku apakah aku menyukainya atau tidak, aku menjawab YA tanpa keraguan apapun, namun saat aku Tanya apakah dia juga menyukaiku atu tidak dia malah menyuruhku untuk menunggu jawabannya. Namanya juga bucin jadi aku nurut saja.

Keesokan harinya, aku langsung berbicara dengan arka lagi, lalu saat aku menyakan apakah dia menyukaiku atau tidak dia menyuruhku untuk menunggunya lagi, padahal sudah jelas kalau dia menyukaiku. Apa susahnya tinggal bilang “Ya, aku juga suka kamu!!”, untuk kedua kalinya aku menurut saja padanya. Namun saat aku berjalan pulang dari sekolah aku melihat bisma berjalan cepat menuju ke arahku dengan membawa sebuah payung, karena siang itu hujan turun dengan derasnya di kota Surabaya.

“nih, payung jangan hujan hujan!!” kata bisma sambil memberikan payung padaku dengan nafas yang masih tidak teratur
“eh nggak, nggak usah bis…!!” tolakku
“pake aja, daripada nanti lo mesuk angin..!!” suruhnya
“tapi bis…?!” aku merasa tidak enak
“udah pakek aja!!” suruhnya sambil memberikan panyung warna biru laut padaku, akupun menerimanya dengan rasa tidak enak pada bisma.
“ya udah bis kita jalan berdua aja biar kita nggak kehujanan…!” saranku
“kita?” kata bisma heran
“iya kita emang kenapa?” jawabku yang tidak tau apa maksud bisma.
“I iya deh kita jalan berdua…” turut bisma
“nah gitu dong…” seruku

Dalam perjalanan aku berbicara banyak dengan bisma, termasuk tentang orang yang aku suka, siapa lagi kalau bukan arka
“Eh bis, gue kan udah cerita tentang orang yang gue suka, sekarang gentian lo dong yang cerita tentang orang yang lo suka!!!” suruhklu
“apaan sih ra, gue tu kalo suka sama orang pasti cinta gue itu bertepuk sebelah tangan alias ketolak terus, nanti gue malah jadi bucin kayak elo…!” ejek bisma
“Yeee, apaan sih, tapi pasti adakan orang yang lo suka?” tanyaku dengan gaya kekepoanku yang khas
“KEPO!” jawabnya singkat
“biarin, pasti orang yang lo suka itu bangga sama elo…” kataku
“kenapa?” Tanya bisma
“karena lo itu baik, sederhana, dan lo itu polos” jawabku singkat jelas dan padat
“emang iya, makasih loh ya…” katanya dengan so sokan
“ih gue serius tau!!!” kataku
“gue juga serius tau…” sahut bisma
“jadi siapa orang yang lo suka?” tanyaku yang kesekian kalinya
“nanti lo juga pasti tau” jawab bisma
“nanti, nanti kapan…?” tanyaku dengan sangat kepo
“pada waktunya, tunggu aja…!!!” suruhnya dengan enak
“apa tunggu, sampai kapan gue harus nunggu, selama ini mungkin hidup gue ditakdirkan buat menunggu, gue capek bis…!!!” kataku frustasi pada bisma
“hahaha… emang dasar lo itu bucin!!” bisma malah menimbalinya dengan gurauan

Tanpa sadar aku sudah ada di depan rumah, sedangkan bisma malah berlari tanpa menggunakan payung yang telah dia berikan padaku, bisma itu terlalu sederhana bahkan sangat sederhana dengan sifat humornya, terkadang aku senyum senyum sendiri mengingat tingkah laku bisma yang begitu polos. Lalu aku berjalan menuju kamar untuk istirahat

Telah lama aku bersabar
Demi cinta wujudkan sebuah harapan
Namun kurasa cukup ku menunggu
Semua rasa tlah hilang…
Lagu raisa yang berjudul ‘apalah artinya menunggu’ selalu aku putar dan selalu ada dalam setiap hariku, karena kupikir lagu itu cocok untukku yang selalu menunggu, namun apalah artinya menunggu? semua tidak ada gunanya. Sedang asik asik dengerin lagu tiba tiba ada pesan masuk di hpku ternyata itu dari arka…

“hai” pesannya singkat, tapi udah buat aku berharap
“ada apa?” tanyaku
“gak papa” jawabnya singkat
“eh ar, jadi perasaan lo ke gue itu gimana?” tanyaku polos
“jika aku suka kamu kenapa, dan kalo aku nggak suka kamu kenapa?” tanyanya
“ya gak papa, kalo kamu nggak suka aku aku akan menjauh dari kamu, jadi cepet jawabnya..!!!” kekepoanku mulai memuncak
“jadi sebenarnya orang yang aku suka itu bukan kamu…!” tulisnya yang sungguh membuatku menjadi patung, terngangah melihat pesan yang dia kirim
“gak papa kok…” balasku dengan menahan emosi, aku menyesali kenapa aku bisa sebodoh itu? aku menangis, itu adalah jawaban yang jujur tegas namun menyakitkan, apakah dia tidak mengerti betapa lelahnya aku menunggu untuknya, sekarang aku yang bodoh atau dia yang tidak punya hati? Saat aku menyesali perbuatanku selama ini kepada arka, ada pesan dari bisma

“hai bucin..?” lagi lagi dia membuatku tersenyum
“ada apa bis?” tanyaku
“gue ada di depan rumah lo nih, lo di mana?” jawab bisma yang sontak membuatku menghapus air mataku dan beranjak dari ranjang. Aku berjalan ke luar rumah dan benar saja sudah ada bisma di sana
“he bis, lo ngapain di situ?” tanyaku, sontak bisma lalu menengok ke arahku
“eee… ya nungguin lo lah apalagi?” jawabnya polos, lalu aku menyuruh bisma untuk masuk namun dia tidak mau masuk, dia malah meminta payung yang tadi.

“gue ke sini cuman mau ambil payung gue…” katanya
“ya ampun, dasar pelit gue kira payung itu buat gue…” kataku sambil berjalan ke dalam untuk mengambil payung milik bisma.
“nih udah gue kembaliin, jadi pulang sana!!” usirku
“oh.. jadi ngusir ya, enggak gue nggak mau pulang” katanya sambil duduk di teras rumahku, lalu aku duduk di sampingnya

“jadi gimana hubungan lo sama arka?” tanyanya yang terlihat serius
“arka nggak suka gue bis…!” jawabku polos
“emang ya lo itu bucin” ejeknya
“gue nggak tau bis sebenarnya salah gue itu apa sih, apa gue yang bodoh ya, padahal gue udah nunggu lama buat nunggu jawabannya, gue kira dia suka gue, tapi semua nggak seperti yang gue harap bis…” curhatku
“tapi sampai sekarang lo masi suka sama arka?” tanya bisma
“ya iyalah, gue masih suka sama arka..” jawabku seperti orang bodoh
“ya udah kalo gitu gue pulang dulu ya…” pamitnya
“eh tunggu bis..!!!” hadangku
“apalagi? tadi ngusir gue, sekarang malah ngehadang gue…” tanya bisma kesal
“eh bis jadi cewek yang lo suka itu siapa?” tanyaku kepo
“cewek yang gue suka nanti lo pasti tau sendiri, ya udah gue pulang dulu ya…!!” katanya sambil berlari menjauh dariku. Aku yang sendirian di teras rumah senyum senyum sendiri melihat tingkah bisma yang sederhana dan polos.
Tanpa kusadari rasa sedihku hilang berubah menjadi senyum yang menghangatkan jiwa, apakah ini karena bisma?

Hari terus berjalan, hingga pagi pun tiba…
Seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan mood yang bagus, kehidupanku di sekolah berjalan dengan begitu lancar, namun serasa ada yang kurang, benar sekali bisma tidak masuk sekolah. Waktu terus berjalan hingga lima hari sudah bisma tidak masuk sekolah, meskipun aku sudah tanya teman teman bisma, namun mereka tidak tau bisma ada di mana. hingga saat pulang sekolah, hujan turun dengan sangat deras, aku tidak bawa payung dan aku tidak tau harus meneduh di mana, dan saat ini aku teringat dengan bisma, lalu tiba tiba ada seseorang yang datang memayungiku, kupikir itu bisma namun dugaanku salah, orang itu adalah arka, tidak tau kenapa orang yang saat ini aku inginkan adalah bisma bukan arka. Padahal orang yang ku suka adalah arka, apa mungkin aku mulai ada perasaan dengan bisma?

“eh arka…?” tanyaku heran
“sini biar aku payungin biar kamu nggak basah trus sakit..” kata arka
“ya udah ayo!!” turutku dengan senang, padahal aku sudah dibuat sakit olehnya namun sekarang dia membuatku terbang. Saat aku berjalan dengan arka, aku melihat bisma, dia berjalan di sampingku tanpa menyapaku, dia hanya terus berjalan tanpa mempedulikan aku, jadi bisma tadi masuk sekolah? tanpa pikir panjang aku lalu memanggil nama bisma yang sedang berjalan di depanku
“bisma..!!!” teriakku yang sontak membuat arka jadia menengok padaku
“siapa ra…?” sahut arka yang heran
“em.. itu ada temen aku..” jawabku linglung
“siapa bisma ya…?” tanyanya yang sontak membuatku terkejut
“eng, nggak jadi..” jawabku sekenanya
“lebih baik kamu temenin bisma deh, soalnya dari kemarin dia itu menyendiri mulu, nggak kayak biasanya…” kata araka mengejutkanku. Sejak kapan bisma menjadi pendiam, apa yang sebenarnya terjadi pada bisma? kekepoanku mulai memuncak
“emmmm… ka aku ke bisma dulu ya…!” kataku pada arka sambil berlari menuju arah bisma

“BISMA!!!” panggilku namun bisma seolah tidak meresponku
“Bisma lo kenapa?” tanyaku sambil terengah engah
“gue nggak papa kok…” jawab bisma dengan gaya polosnya, namun seolah dia menahan kesedihan dalam matanya, meskipun dia mencoba tersenyum namun aku tau ada kesedihan di matanya
“kemarin lo kemana aja, kok gue nggak liat lo sama sekali?” tanyaku
“gue nggak kemana kemana kok, mungkin lonya aja yang terlalu sibuk…” jawabnya santai
“ohhh… jadi gue yang terlalu sibuk, hehehe maaf ya…” kataku sambil senyum senyum tanpa dosa
“jadi gimana hubungan lo sama arka..?” tanyanya
“hubungan gue sama arka, masih aja gue bucin…” jawabku jujur
“emmm… tapi siapa cewek yang lo suka..?” tanyaku pada bisma
Namun seketika itu juga suasana menjadi hening, hanya terdengar suara derasnya hujan

“jujur selama ini cinta gue itu nggak pernah terbalas. Tanpa gue sangka orang yang gue suka malah dengan mudahnya dia mengatakan jika dia suka sama orang lain dan itu bukan gue, padahal gue berharap banyak sama dia, namun ternyata semua berbalik…” kata bisma serius
“emang siapa orang itu bis, kok tega banget sih sama elo, lo kan baik, bodoh orang itu jika menyia nyiakan kebaikan lo bis…” tuturku
“orang itu adalah lo SARAH…!” jawab bisma sangat serius
“apa?” tanyaku pada diri sendiri, yang menyesali betapa bodohnya aku jika selama ini perhatian yang bisma berikan itu lebih dari sahabat
“gue juga suka lo bis..!” kataku pada bisma
“apa, kemarin lo bilang lo masih suka sama arka, dan sekarang dengan mudahnya lo bilang suka gue, trus arka ke mana?” kata bisma dengan nada tinggi, aku yang mendengarnya hanya bisa menagis
“sarah lo itu masih terlalu polos untuk tau apa arti cinta yang tulus dan sejati…!” tutur bisma sambil menjauh dariku dan memberikan payung warna biru muda kepadaku. Aku lalu menjatuhkan payung itu dan membiarkan bajuku basah karena hujan. Aku menangis di bawah hujan menyesali betapa bodohnya aku. Tak lama kemudian bisma berbalik dan berlari menuju ke arahku
“sarah lo ngapain sih hujan hujan, nanti kalo lo sakit gimana, kenapa lo nggak pakek payung itu?” tanya bisma peduli padaku, dia lalu memayungi dan menuntunku menuju ke depan rumahku
“bisma gue tau, menunggu orang yang kita suka untuk mengungkapkan perasaannya pada kita itu melelahkan, bahkan saat kita sudah susah payah berkorban untuknya, namun orang itu menyia nyiakan perasaannya untuk orang lain yang bahkan tidak pernah berkorban untuk dia, jadi maafin gue bis, gue yang telah menyia nyiakan perasaan elo…” kataku pada bisma, bisma lalu memberikan pelukan hangat padaku di bawah derasnya hujan
“bisma maafin gue..!!!” kataku
“tentu saja” jawabnya.

Sekarang aku tersadar
Cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu
Bila kamu tak cinta lagi
Tak perlu ku menunggu sebuah cinta yang semu.

“I LOVE YOU”

TAMAT

Cerpen Karangan: Serly Deviyanti
Facebook: Quen Qhoyemi Yemi

Cerpen Apalah Arti Menunggu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jerrot Makin Melorot (Part 2)

Oleh:
WANITA JAHAT Matahari yang menyorot begitu panas suasana saat aku baru saja sampai di rumah sehabis pulang sekolah di hari sabtu. Kejadian 2 hari yang lalu yaitu saat aku

Kenyataan Buat Tarin

Oleh:
“Sudah lama menungguku?“ tanyaku yang baru saja sampai di halte tempat bus yang akan membawa aku dan Dika ke kampus. “Tidak kok, Tarin. Ayo naik, tuh bisnya sudah hampir

Cinta Sebatas Patok tenda

Oleh:
“Pagi, Bel,” sapa Reihan. “Hei.. pagi juga,” jawabku. “Mau ke mana?” tanya Reihan. “Mau ke kantin. Kalau kamu mau ke mana?” tanyaku balik. “Aku juga mau ke kantin. Kita

Melepasmu

Oleh:
“Semakin ku menyayangimu, semakin ku harus melepasmu dari hidupku.. Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini, kita tak mungkin trus bersama..” “Gue sayang sama lu vi”, kata Ryan ke

He (The Wall)

Oleh:
“Kota ini masih tetap sama”, ucapnya dalam keheningan kami. “Yep, tidak ada yang berubah”, jawabku. Masih tetap memandangi jalanan perkotaan, menyeruput secangkir coffee latte hangat di tanganku. “Begitu juga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *