Arif Part 2

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 5 June 2012

Hari itu, aku merasakan lelah. Sudah 5 bulan aku tidak lagi ketempat mas arif bekerja. Mas arif pun mengerti, hingga tidak banyak menggangguku kecuali dengan sms setiap malam itu. Aku tahu diva pun menanyakan aku, bukan mas arif yang menyampaikan, melainkan mas botak. Kedekatanku pada mas arif, membawaku akrab juga pada mas botak dan mas gondrong. Aku harus menyelesaikan penelitianku, walau bagaimanapun, aku bertekad untuk menyelesaikan gelar sarjanaku tepat waktu. Hingga pada suatu hari, aku memang harus mampir ke tempat mas arif.

Dengan membawa 200 lembar hasil penelitianku, untuk kugandakan dan dijilid. Dengan tergesa gesa dan raut wajah lelah, aku berjalan cepat menuju tempat mas arif bekerja. Dari jauh, mas arif sudah memandangi langkahku. Seperti menunggu titah ratu, mas arif segera menyambut tumpukan kertas yang kubawa dan mengerjakan apa yang kuperlukan. Tak ada tanya ataupun sapaan basa basi darinya. Walaupun kutahu, dari sms mas botak. Dia memergoki, bukan sekali tapi seringkali, mas arif diam memandang jalan, arah darimana aku datang. Seperti menunggu aku datang, walau aku tak kunjung datang hingga hari ini. Bahkan, aku sempat kaget, ketika mas botak bilang fotocopian tutup jam 10, dan itu karena mas arif bersikeras mau mengerjakan sesuatu. Padahal tidak ada apa apa, mas arif hanya duduk ditempat dia biasa bekerja. Menunggu hingga jam 10, dan kemudian pulang. Selalu begitu selama 1 bulan pertama aku tidak mampir ketempatnya.

Aku duduk menunggu, karena begitu lelah, aku mencoba menyandarkan kepala kemeja kaca disamping aku duduk. Walau begitu, mataku tak lepas dari mas arif. Tanpa menoleh kepadaku, dia begitu cekatan menyelesaikan permintaanku. Hanya mas botak dan mas gondrong yang sesekali mengajakku bercanda, walau aku hanya mampu membalas dengan senyum tipis. Aku sangat mengantuk, dan kepalaku penuh dengan persiapan untuk ujian akhir, dimana aku akan menghadapi lima dosen yang akan banyak mengajukan pertanyaan terkait penelitianku dan bahan ajar kuliah yang kuperoleh selama 4 tahun. Tanpa aku sadari, 2 jam berlalu, mas arif selesai dengan pekerjaannya. Aku juga baru sadar, dia mengerjakan sendiri permintaanku, padahal biasanya dia bukan bagian fotocopi. Seperti seorang asisten, dia mengerjakan hal yang rutin diperintah oleh atasannya, begitu cepat, cekatan dan dengan diam. Aku menegakkan kepala, dan memandanginya bekerja.
Hingga kemudian, tatapan kami bertabrakan. Kulihat semangat dan lelah dimatanya, semangat mengerjakan sesuatu yang kuingin dan lelah mengurus diva seorang diri. Ya ampun, aku baru tersadar, dan kemudian keluar dari lidahku
“ maaf ya mas “
Dengan senyum tipisnya, mas arif berkata “ maaf kenapa? “
Aku hanya diam. Tak mampu berkata kata lagi. Aku sadar, aku merindukan senyumnya, suaranya, diva, hari hari kami bersama. Bercanda, bercengkerama, makan siang bersama, ketika menemani mas arif potong rambut atas permintaan diva.
Hingga aku ingat, ketika bapak disalon bergurau “ ibunya mau rambut model apa untuk suaminya? Gaya brad piet “ dengan senyum mas arif menatap kami. Aku dan diva yang berada tepat disebelahnya membalas tatapan mas arif dan dengan kompak menjawab “model sule,,hahahahahahahahha” kami semua yang ada disana tertawa terbahak bahak, hanya mas arif yang tersenyum tipis sambil mengelus rambutnya yang hendak dipangkas.

Fotocopianku selesai, aku terkejut ketika mas arif bersiap hendak keluar. Membawakan 5 tumpuk jilidan skripsiku dan menuju sebuah mobil berwarna emas mengkilap. Belum habis keherananku, mas gondrong nyeletuk
“ kok diam mba? Itu loh, mau diantar sama mas arif. Masa mba mau bawa ndiri sebanyak itu “ dengan plonga plongo kususul saja langkahnya. Dengan ringan, diletakkannya skripsiku dibaris kedua mobilnya. Aku hanya diam kaku, mana kutahu selama ini mas arif bisa membawa mobil. Dengan cepat kemudian, mas arif membukakan pintu depan untukku, dengan bingung akhirnya aku masuk juga. Hingga akhirnya, kami bersama dalam satu mobil. Ac mobil yang sejuk mengantarku dalam buaian tanpa aku sadar. Mas arif hanya diam saja, sepertinya konsentrasinya hanya mengemudi menuju kampusku. Hingga kemudian
“ lind, linda. Kita sudah sampai “ dengan lembut mas arif membangunkanku. Sambil berucap istigfar, aku terbangun walau belum sadar sepenuhnya. Dengan panik kubuka pintu hingga akhirnya aku jatuh. Mas arif langsung keluar dari mobil, mencoba membantuku sambil menyodorkan air putih. Akhirnya aku terduduk dikursi depan mobil mas arif,
“ maaf ya mas “ aku berucap maaf untuk kedua kalinya.
Tanpa mempedulikan perkataanku, mas arif bergegas membuka pintu belakang mobil, ketika hendak mengangkat tumpukan skripsiku tanganku dengan cepat aku memegang tangan mas arif. Kami berdua terdiam, aku tak pernah sekalipun menyentuhnya, walaupun kami telah satu tahun belakangan dekat. Tak jua saling bergandengan tangan bila berjalan bersama sama, tangan kami bertemu tepat dikedua tangan diva. Diva yang menyatukan kami. Walau jemari kami tak pernah sampai. Hingga sekian detik kami habiskan dengan menikmati kejadian itu, dan kemudian dengan pelan mas arif melepas tanganku
“minta maaf untuk apa?” sambil meletakkan kembali skripsiku, mas arif tepat menghadap didepanku. Sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak memeluknya, sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak menangis, karena berbulan-bulan aku tahan rindu yang meledak dalam dada kepadanya, kepada diva dan hari hari kami bersama. Sekuat tenaga aku menahan teriakan dalam dada, yang ingin berkata, aku sayang padamu mas.

“ tar malam aku jemput. diva kangen sama kamu katanya. Kita makan malam sama sama ya”
aku hanya mengangguk pelan namun sungguh senang luar biasa. Aku tak sanggup menggeleng, walau sebenarnya harus. Diam diam, selama beberapa bulan ini, aku mencoba menghapus rasa sayang pada mas arif. Aku takut, jika terlanjut mencintainya, aku takkan sanggup membawanya kekehidupanku. Apa kata keluargaku, anak yang mereka banggakan ini bersama pria beranak satu dengan usia terpaut jauh. Sekuat hati, hingga aku hampir gila. Jika saja aku tak disibukkan dengan skripsi, dan pada akhirnya aku kembalikan pada Tuhan YME. Terserah kepadanya akan dibawa kemana hubunganku dengan mas arif.

Kupandang mas arif dari belakang, yang dengan langkah ringan membawa tumpukan skripsiku. Tak bisa kutahan hati ini, ingin memeluk mas arif dari belakang. Memanggilnya ayah, seperti diva.

bersambung . . .

Cerpen Arif Part 2 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hari Pertama di Bulan Desember

Oleh:
Drrrttt… Sebuah pesan singkat berisi promosi dari operator membuatku terbangun, dengan terkantuk-kantuk kulihat jam menunjuk angka 01.28 dan kuyakinkan diriku bahwa saat ini orang-orang sedang berenang dengan indahnya di

Aku Ingin Pulang

Oleh:
Ada yang bergerak, meriak-riak bahkan bergemuruh. Padahal setengah jam kami lalui tanpa satu kata pun, tapi bising itu masih jelas memadati indera pendengaran. Mungkinkah itu rindu yang mencoba tuk

Figuran

Oleh:
Hari Pertama Hai Fian, Apa kabar? Kalimat ini biasanya ditanyakan oleh seseorang kepada kawan yang sudah lama tidak ditemuinya. Tapi nggak apa-apa kan saya menanyakan pertanyaan ini ke kamu?

Pertemuan Tertunda

Oleh:
Seperti biasa tepatnya malam minggu, aku menghabiskan waktu bermain di layar monitor, sebagian para remaja menghabiskan waktu malam minggunya dengan mengupdate status di jejaringan sosial seperti facebook dan twitter,

Cinta Lain Kali (Part 2)

Oleh:
Dua hari setelah aku mengalami kesialan yang luar biasa, aku harus bersekolah. Seperti biasa, aku berangkat sekolah naik angkot, ku nikmati pagi dan mengumpulkan semangat untuk menjalani hari ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

10 responses to “Arif Part 2”

  1. Ririen says:

    Part 3 nya kpn dibuat?

  2. tika says:

    Part 3 nya mana??penasaran neeh??

  3. rahmi says:

    Alhaamdulilah responnya positif. Part 3 nya sudh jadi. Tapi masih mikir endingnya mw gimana. Kalian mau ending mreka bersama atau tidak ya?seharusnya gimana

  4. Asih Debilwan says:

    Tolong dong lanjutan nya, suka banget cerpen ini

  5. Asih Debilwan says:

    Pengenya sie mrka bersama

  6. rahmi says:

    part 3 sudah pernah saya kirim ke sini tapi mungkin masih nunggu proses moderasi. semoga segera ya
    trims respon + nya
    *hug

  7. Asih de bilwan says:

    Part 3 kok blm ad . Bsa d bca dmna selain d Web ini?

    • rahmi says:

      nanti segera saya publish ya…mungkin dblog saya. atau akun facebook khusus cerpen
      sebenarnya lagi tahap editing goes to novel

  8. melta says:

    mba kapan part 3 nya keluar, pengen tau kelanjutannya,,:):)

Leave a Reply to Ririen Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *