Arloji Cinta Najwa (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 1 December 2017

Matahari yang masih tampak di sebelah timur, langit yang mulai membiru menghiasi pagi itu. Pagi yang indah untuk bersantai, ah sangat disayangkan sekali. Wanita itu lebih memilih bangkit dari ranjangnya menuju dapur.
“Ma… Ma…” teriak Najwa lembut memanggil ibunya. Namun tidak ada jawaban.
“Pada ke mana sih… hmmm” rometnya.

Seperti biasanya, najwa selalu menyibukkan dirinya untuk membereskan rumah bila libur tiba. Mencuci, memasak, menyapa, membereskan rumah itulah rutinitas najwa setiap weekend. Seperti yang ia kerjakan hari ini.

Sore itu mendadak cuaca kurang bersahabat. Baru saja najwa berfikir akan keluar untuk jalan-jalan tiba-tiba hujan pun turun.
“Yaaah… hujan. Astagfirullah aladzim.. apa yang kamu fikir wa…? Hujan itu rahmat” ia baru tersadar bahwa yang diomelkan itu salah.

Karena merasa bosan, najwa pun berjalan menuju kamarnya. Setelah mengunci pintu ia langsung merebahkan badannya di atas kasur dan memandangi langit-langit kamarnya. Bola matanya bergerak kesana kemari memperhatikan sudut demi sudut ruangan itu, yang tampak hanya gantungan-gantungan mungil dan beberapa foto yang terpajang rapi di kamarnya.
Semuanya tampak serba hijau, dan ini sengaja di dekornya agar suasana ketenangan ada di ruangan itu. Yaaaa… ketenangan …

Rasanya sangat sulit sekali ia dapat bila di luar rumah. Mungkin aneh kedengarannya, tapi itulah kenyataannya. Karena teman-teman yang najwa miliki hampir semuanya banyak bicara, tetapi itu justru yang membuat najwa senang bergaul dengan mereka. Walaupun blak-blakkan, tapi mereka apa adanya.

“Tok… tok… tok..” terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Iya.. Sebentar” sahut najwa. Segera ia bangun dari tempat tidurnya dan membukakan pintu. Ternyata itu adiknya.
“Ada apa? Menganggu saja..” tanya najwa.
“Tidak ada, apa yang kakak lakukan? Aku ingin masuk ah” jawab ana dan mencoba masuk ke kamar kakaknya, namun tidak diizinkan.
“Ah… tidak tidak, kamu tidak boleh masuk, main jauh-jauh sana” ucap najwa sambil terus mencoba menghalangi adiknya.
“Ayolah kak.. izinkan aku masuk..” rengeknya mencoba merayu sang kakak.
“Tidak…” najwa menyangkal.
“Hem.. pasti kakak lagi liatin foto mas abid kan?” Sambil senyum-senyum nggak jelas.
“Ayo ngaku…” Ana terus saja menggoda kakaknya.
“Tidak Ana… sudah sana..” karena merasa kesal dengan adiknya ana, najwa langsung menutup pintu kamarnya.

Kakinya maju beberapa langkah dan kembali berbaring di atas kasur empuk itu.
Najwa menolehkan kepalanya melihat ponsel miliknya. Wajahnya tampak murung setelah beberapa saat mengotak atik ponsel berwarna hitam di genggamannya. Ponsel itu pemberian lelaki berkulit hitam manis yang sudah hampir tahun dekat dengannya. Senyumannya yang memikat selalu mengacaukan fikiran gadis itu.
“Abid… Abid..” ucapnya lirih sambil tersenyum.

Suasana yang awalnya hening berubah jadi riuh seketika. Lamunannya pecah berhamburan ketika mendengar kedua adiknya sedang bertengkar.
“Oh tuhan… apa lagi ini?” ucap najwa geram.
Selaku anak sulung, najwa sangat berperan di hadapan adik-adiknya. Menjadi contoh dan menjadi penengah apabila ada keributan di antara kedua adiknya.

“Eh.. ehh.. ehh.., ada apa si ribut banget?” najwa mendekati adik-adiknya yang tengah bertengkar.
“Rafi tu kak.. dia menggangguku terus” jawab Ana.
Ya tanpa diberi tahu pun najwa sudah memahami tingkah kedua adiknya. Memang si bungsu ini senang sekali menganggu adik-adiknya termasuk najwa sendiri.
“Sudah.. sudah…, mandi sana, sudah sore” ucap najwa
“Nggak mau, wek…” Rafi bertingkah menggoda kakak sulungnya.
“Apa? Tidak mau? Haaa.. sini kamu… “ najwa membalas menggoda adiknya.
“Whaaa… larii…”
Najwa hanya menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah laku adik bungsunya itu.

Hari pun semakin gelap. Dingin yang menusuk jelas terasa di malam itu. Seperti biasa, najwa selalu keluar untuk melihat bintang dari teras rumahnya. Malam ini najwa tak sendiri, sebuah boneka kucing di pelukannya tampak menemani.
5 Menit sudah berlalu, namun gadis itu seperti tidak menikmati malam itu. Ia tampak seperti orang kebingungan dan tengah mencari sesuatu.

“Ke mana bintang itu…?” najwa terusa saja melongok-longok ke atas langit. Mencari sebuah bintang yang menghilang pada malam itu di antara berjuta-juta bintang yang bertaburan, bagaimana mungkin gadis itu mampu mengenali bintang yang tampak kecil dari posisinya. Apa makna sebenarnya makna bintang itu bagi najwa?
“Bintang itu adalah inspirasiku
Semangat bagi diriku
Aku ingin menjadi orang yang bersinar meski
Hidup dalam banyak masalah.
Ibarat bintang yang tetap terang walau
Berada di tengah kegelapan malam”
Itulah yang ada di atas lembaran buku hariannya.

“Huah…” Najwa wajahnya lesu karena tak melihat bintang kesayangannya. Najwa beranjak ke dalam rumah.
Jam dinding sudah menunjukkan Pukul 21:49 WIB. Namun najwa masih juga belum bisa memejamkan matanya. Diambilnya buku diari miliknya dan sebuah pulpen.
“Malam yang hening tanpa ada kebersamaan di antara kita…
Aku tak tau, entah apa yang tengah kau lakukan di kejauhan sana…
Jarak telah menjadi pembatas besar bagi kita
Kini…
Aku hanya mampu berpasrah dalam doa…
Agar sang pemilik hati menjagakan dirimu…
Hatimu…
Hingga saatnya tiba, dimana kita akan saling menjaga”
Najwa meluahkan segala isi hatinya di atas buku hariannya itu. Hampir semua yang ia alami diceritakannya dalam buku itu.
“Huah…” lagi-lagi najwa tampak menguap. Tanpa sadar ia pun terlelap dalam tidurnya.

Najwa berjalan di sebuah taman yang hijau dan disertai bunga-bunga indah bagai aksesoris pelengkap taman itu.
Aroma harum tercium sejuk melenakan. Siapapun yang berada di sana pasti akan merasakan ketenangan yang luar biasa. Najwa melangkahkan kakinya lurus menyusuri jalan kecil berpagar bunga mawar di tengah taman. Sungguh indah tempat itu, sampai-sampai rasa lelah pun tak pernah terfikirkan oleh gadis itu. Beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti tepat di depan ayunan yang berada di pinggir jalan itu.
Tanpa lengah, ia menempatkan dirinya duduk di atas ayunan itu, perlahan-lahan gadis itu mengayunkan kakinya sampai ia merasa seperti terbang di awang-awang.

Dari kejauhan, najwa melihat seorang gadis kecil berlari mendekati dirinya. Parasnya anggun bagai bidadari kecil yang turun dari surga.
“Bunda…” teriak gadis kecil itu yang semakin mendekat pada najwa.
“Iya sayang, kemarilah…” sahut wanita itu.
“Assalamualaikum Bunda” anak itu tiba di hadapan najwa.
“Waalaikumsalam putriku” suara merdu bagai senandung di senja hari terdengar menyahut salam sang buah hati. Najwa merendahkan tubuhnya dan mencium kening gadis kecil itu. Najwa dan syifa bermain dan menghabiskan waktu bersama. Kehangatan yang begitu dalam tampak dari keduanya.

Di bawah pohon yang rindang di pojok taman mereka berehat. Najwa tampak tengah membelai rambut syifa yang sedang berbaring di atas pangkuannya.
“Bunda…” suara halus kecil itu membawa bahagia.
“Iya sayang…” sahut sang ibu.
“Apakah ayah menyayangiku?” najwa terkejut karena syifa tiba-tiba menanyakan hal itu.
“Mengapa syifa menanyakan hal itu” Najwa mencoba mencerna pertanyaan putrinya.
“Syifa merasa ayah tidak menyayangi syifa lagi” ucap gadis itu mendadak murung.
“Tidak sayang, ayah sangat menyayangi Syifa”. Najwa berusaha menyenangkan putrinya. Walaupun sebenarnya ia ragu akan hal itu.
“Benarkah Bunda?”
“Tentu Sayang, syifa kan putri ayah dan bunda satu-satunya. Sudah pasti ayah menyayangi Syifa, seperti bunda menyayangi syifa. Syifa tidak bolah berburuk sangka pada ayah ya nak” sambung najwa.
Syifa berlari kegirangan, najwa hanya mampu tersenyum ketika melihat putri cantiknya itu tertawa riang.
“Bisakah kau merasakan ini mas?, putrimu tengah merindukanmu”. Batinnya berkata seraya meneteskan air mata.

“Teng… Teng… Teng..” lonceng dari jam besar yang terpajang di dinding itu jelas mengagetkan najwa.
“Astagfirullahal adzim.. ternyata Cuma mimpi..” Pandangan najwa mengarah pada jam dinding besar itu yang kini mengarah pada angka 3. Segera ia bangun dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud.
Sujud demi sujud diselingi dengan air mata yang membanjiri pipinya. Doa demi doa terucap lembut di penghujung sholatnya.

“Ya Allah… di atas Sajadah inilah hamba mendekatkan diri kepada-Mu, di atas sajadah inilah hamba bersimpuh memohon belas kasihan dari-Mu. Ampunilah dosa-dosaku”. Kini air matanya tak lagi terbendung. Suara isak memilukan semakin jelas terdenggar menggores kalbu.

Pagi yang cerah untuk menjalankan rutinitas seperti biasanya. Kakak dari dua adik itu terlihat sedang sibuk menyiapkan dirinya untuk bekerja.
“Maa… Najwa pergi dulu. Assalamu’alaikum..”
“Iya, Walaikumsalam” jawab ibunya acuh.
“Iyuuh… najwa hanya menghela nafas panjang yang jelas terasa getir di kerongkongannya. Semua ini berlangsung sejak konflik antara najwa dan abid terjadi. Kasih sayang dari orangtua terhadap anaknya pun tak lagi ia rasakan. Najwa semakin jauh dari keluarganya.

Tepat di depan restaurant besar najwa turun dari taxi yang telah mengantarnya.
“Selamat pagi pak..” Najwa selalu ramah menyapa rekan-rekannya seperti sekarang dan baru saja menyapa seorang security penjaga restaurant.
“Pagi kembali Neng” sahut sang security dengan senyum yang merekah.
Najwa terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam restaurant. Setelah mengganti pakaiannya dengan seragam kerja, najwa langsung menuju dapur untuk memulai pekerjannya sebagai seorang koki.

Hari pun semakin siang dan cuaca pun terasa semakin panas. Dahaga sesakan menjadi musuh yang mencoba menganggu.
“Ya… tolong dong, air dingin di kulkas” Najwa meminta bantuan pada seorang rekan kerjanya karena dia tidak bisa mengambil sendiri.
“Air putih atau sirup wa?” yaya bertanya.
“Em.. air putih aja deh”. Setelah beberapa saat berfikir najwa memutuskan untuk diambilkan air putih.
“Siip.. nih minumnya” yaya memberikan segelas air putih dingin pada najwa.
“Makasih ya..”
“Iya.. sama-sama..”

Semuanya tampak sibuk dengan pekerjannya masing-masing. Begitu juga najwa yang tengah sibuk memasak pesanan.
“Najwa” seorang lelaki menghampiri najwa. Dan itu adalah Pak Herman, pemilik Restaurant tersebut.
“Iya pak. Ada yang bisa saya bantu?” Dengan sopan najwa menjawab sapaan atasannya.
“Iya, sebelum pulang nanti, kamu antarkan dulu pesanan catering untuk acara pertunangan pelanggan kita”. Ucap pak herman.
“Baiklah pak” jawab najwa singkat.
“Bagus, ini alamatnya”. Selembar kertas berupa alamat diberikan pada najwa. Pak Herman pun berbalik dan langsung meninggalkan dapur.

Jam kerja najwa pun telah usai.
“Wa, kamu mau pulang bareng aku nggak?” Yaya menawarkan tumpangan pada najwa.
“Makasih yaa.. aku diminta Pak Herman untuk mengantarkan catering pada pelanggan”. Jawab najwa.
“Oh.. aku ikut ya?” sambung yaya.
“Boleh..”
Tanpa mengulur waktu, najwa dan yaya pun langsung bergegas menuju alamat yang diberikan pak herman. Alamat itu tertuju pada sebuah hotel megah berbintang 5 di Jakarta.

Tamu yang berdatangan semakin ramai, jarum jam sudah pada angka 8. Saatnya acara dimulai. Para tamu undangan di persilahkan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.
“Silahkan menikmati…” Najwa berkeliling mengantarkan minuman dari meja ke meja para tamu yang ada.
“Baiklah saudara-saudara, malam ini kalian semua akan menjadi saksi pertunangan kami berdua”, tampak dari kejauhan seorang pemuda berdiri gagah menggandeng seorang wanita cantik di sampingnya.
“Sepertinya aku pernah mendengar suara itu” Najwa berkata pada Najwa.
“Ah.. Masa? Mungkin hanya perasaanmu” balas yaya.
“Tidak ya… benar aku mengenalinya. Suara itu seperti tidak asing bagiku”. Najwa terus meyakinkan yaya bahwa dia mengenal suara itu.
“Sudahlah wa, mungkin kamu kelelahan”.
“Tidak, aku akan memastikannya”.
“Najwa, tunggu..!”

Dengan penuh keyakinan, najwa melangkahkan kakinya sampai dia tiba di depan pemuda itu. Dan tidak salah dugaannya, najwa mengenal jelas pemuda itu.
Itu adalah Abid, kekasihnya. Tapi yang tidak ia mengerti, lelaki itu tengah berdiri gagah menggandeng seorang wanita bernama nurul di sampingnya. Dan mengenai pertunangan itu, begitu terpukulnya hati gadis itu melihat lelaki yang dicintainya bertunangan dengan wanita lain.
“Mas Abid…”
“Selamat Ya… terima kasih”. Dengan senyuman yang disertai tetesan bening di kelopak matanya. Dan najwa mengulurkan tangannya, mengucapkan kata selamat pada Abid.

Cerpen Karangan: Novi Yanti
Facebook: Najwatul Husna

Cerpen Arloji Cinta Najwa (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lelaki Misterius

Oleh:
“Dreett.. Dreett.. Kring.. Kring…” Dering alarm berbunyi dengan kerasnya. Waktu menunjukkan pukul 06.00. Rita meraba-raba kasurnya yang berbentuk kubus dengan ukuran yang tidak terlalu luas. Dirabanya dari kanan hingga

Pria Gila Yang Menanti Senja

Oleh:
“Aku senang melihatnya, aku bisa berbisik pada angin dan angin akan menyampaikan bisikanku itu pada senja, semoga orang yang ku nantikan dapat mendengar bisikanku itu.” Temaram lampu di sudut

Cinta Yang Tersakiti

Oleh:
“Teettt…” bel istirahat berbunyi semua siswa berhamburan ke luar kelas termasuk aku. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku dan ternyata itu Angga. “Angga kamu ngagetin aja sih.” Kataku sedikit

Sang Barista

Oleh:
Kegilaanku akan kacang dan coklat selama ini membuatku menjadi salah satu pelanggan setia sebuah cafe yang tidak jauh dari rumahku. Meskipun cafe itu tidak memiliki banyak pengunjung di tiap

Hujan Saksinya

Oleh:
23:45 mataku masih saja belum mengantuk, masih terbayang senyum manisnya tadi siang di sekolah. Kata sahabatku dia menyukaiku, tapi entahlah. “Aduh Qilla, apaan sih lo. Udah tidur besok lo

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *