Arloji Cinta Najwa (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 1 December 2017

Seketika suasana menjadi hening membisu. Hanya terdengar alunan musik melow yang mengisi malam itu. Najwa dan Abid seolah-olah menjadi pelukan dalam pementasan drama yang menarik semua mata untuk melihatnya.
Abid masih belum berkata apa-apa. Wajahnya pucat membeku. Najwa membalikkan badannya dan berlari meninggalkan semua orang yang ada di tempat itu. Ayunan langkahnya semakin laju seperti berlari dalam mimpi buruk yang menghantui.
“Najwa… tu…” belum sempat Abid mengejar Najwa, langkahnya dihentikan oleh Nurul yang menarik lengan Abid.
“Udah.. nggak usah dikejar, apaan sih! Malu dong, banyak tamu nih…” timpal nurul sambil menarik paksa lengan abid untuk kembali ke podium utama dan meneruskan acara yang sempat terhenti.

Di sudut ruangan, najwa duduk dan memeluk erat boneka kesayangannya. Kamarnya terlihat berserakan. Foto-foto yang biasanya terpampang rapi di dinding-dinding itu sekarang tergeletak tak beraturan di atas lantai. Barang-barang yang ada, habis dihempasnya untuk melampiaskan kekecewaannya pada Abid.
Najwa tak berfikir apa yang terjadi di tempat itu setelah kepulangannya, dipecat pun dia rela karena telah meninggalkan pekerjaannya begitu saja, dia sudah sangat kecewa. Abid, lelaki yang sangat ia percaya ternyata hanyalah seorang pembohong besar. Yang bisanya hanya mengumbar janji palsu.

Dua hari telah berlalu dan najwa tak kunjung keluar dari kamarnya. Dia terus mengurung diri dari kamarnya.
Yaya yang ikut bersama najwa malam itu, kini merasa khawatir dengan rekannya yang sudah 2 hari tidak masuk kerja.
“Ting tong.. ting tong..” terlihat seorang gadis berdiri di muka pintu rumah najwa.
“Assalamu’alaikum…” tidak ada satu orang pun yang menjawab.
“Permisi, ada orang?” untuk kesekian kalinya yaya mencoba menyapa sang pemilik rumah, namun tidak ada juga jawaban dari dalam.

Yaya memutar langkah meninggalkan rumah najwa. Belum genap 10 langkah, yaya lalu menghentikan ayunan kakinya. Perasaannya masih tidak enak. Yaya merogoh tasnya dan mengambil handphone untuk mencoba menghubungi najwa.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi” bukan najwa yang menjawab, tapi malah suara operator yang semakin membuat yaya khawatir.
“Iyuuh…” yaya mendesah lemas.
Tak tahu apa yang harus dilakukan lagi, yaya kembali mengayunkan langkah kakinya menjauh dari rumah najwa.

Sejak kepulangannya dari Acara pertunangan Abid dan Nurul, najwa sering kali terlihat melamun, begitu juga dengan malam ini, najwa terlihat murung. Dengan pandangan yang jauh entah ke mana ujungnya.
“Bunda…” suara mungil itu terdengar memecah keheningan malam.
Najwa menolehkan kepalanya dengan raut wajah terkejut.
“Syifa…” najwa menyahut dengan wajah girang.
“Kenapa bunda bersedih?” tanya gadis kecil itu sambil menyapu air mata yang tanpa sadar jatuh di pipinya.
“Empp… Bunda tidak kenapa-kenapa sayang..” senyum manis najwa terlempar pada syifa mencoba menyembunyikan kesedihannya.
“Bunda jangan berbohong, apa ayah menyakiti bunda lagi?” syifa terus bertanya.
“Tidak Sayang, tidak…” najwa mencoba meyakinkan syifa.
“Syifa tau Bunda, ayah tidak pernah menyayangi kita” Syifa meninggikan nada bicaranya.
“Syuuutt.. Syifa tidak boleh bicara seperti itu, ayah selalu menyayangi kita nak, hanya syifa bidadari kecil ayah..” Najwa menyangkal pernyataan putrinya.
“Tapi Bunda… Tidak mungkin ayah menyayangi kita, ayah telah memilih wanita lain bunda… ayah tidak sayang kita!” Syifa nampak geram.
Najwa terdiam, hatinya bagai dilanda puting beliung yang memporak porandakan seluruh isinya.
“Iya kan bunda? Benar kan yang Syifa katakan?” najwa hanya menunduk lesu mendengar ucapan putrinya. Bibirnya tak lagi mampu berkata apa-apa. Butiran bening melintas di pipinya.

“Najwa… bangun… bangun nak…” terdengar suara seorang wanita paruh baya menggoyangkan tubuh mungil najwa.
“Mama… apa yang mama lakukan di sini?” Najwa heran melihat ibunya yang sudah ada di sampingnya.
“Kamu Ketiduran najwa, itu… kamu menangis? Kamu kenapa?” tanya sang ibu.
“Ah.. tidak ada apa-apa ma, najwa hanya mimpi buruk”. Jawab najwa singkat.
“Ya sudah… masuk sana. Nanti kamu ketiduran lagi” ibunya berlalu meninggalkan najwa sendiri di teras. Sedangkan najwa masih tetap diam tak bergerak sedikitpun dari posisinya.
“Apa tadi aku Cuma mimpi?” tapi mengapa semua itu seolah-olah nyata” hatinya serontak bertanya-tanya. Kebingungan melanda ketenangan hatinya.

“Kring.. kring.. kring..” Alarm jam weker mengejutkan najwa.
“Huahh…” najwa menggeliat seolah tak ingin bangkit dari tidurnya. Badannya lesu, satu aktifitas pun tak ingin ia kerjakan hari ini.
“Ada sms masuk.. ada sms masuk..” Ponsel najwa berdering menandakan ada pesan baru. Tangannya bergerak mengambil ponsel di samping tubuhnya.
“Najwa” saat dibukanya, ternyata pengirimnya adalah Abid.
Najwa hanya mengabaikan pesan dari Abid.

Beberapa saat kemudian, panggilan masuk terlihatdi layar ponsel najwa. Bukan menerima panggilan itu, tapi najwa malah melihatnya begitu saja. Kepalanya ia tutup dengan sebuah bantal, awalnya ia mengira Abid tidak akan pernah menghubunginya lagi, tetapi dugaannya salah. Abid terus saja meneleponnya.

“5 Panggilan tak terjawab” tulisan itu tertera jelas di layar ponsel najwa. Dan lagi-lagi Abid menelepon. Najwa merasa penasaran, sebenarnya apa yang ingin dibicarakan pemuda itu. Gadis itu merijek panggilan dari Abid, dan memilih membalas pesan singkatnya.
“Iya…” jawab najwa singkat.
“Kenapa lama sekali?”
“Nggak papa kok”
“Maaf ya…” najwa heran dengan ucapan maaf dari Abid. Dia tidak mengerti maksud dari maaf itu.
“Untuk apa?” tanya najwa penasaran.
“Untuk kejadian beberapa waktu lalu” lanjut Abid.
“Sudahlah mas, aku sudah melupakannya. Aku sadar aku tidak cukup baik untukmu”. Tak disangka, air mata menjadi pembuka paginya. Najwa mencoba menenangkan diri, kejadian yang dia lihat cukup menjadi sembilu dalam dadanya.
“Bukan begitu najwa, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Aku tak ingin menjadi beban dalam hidupmu”. Najwa terdiam, air matanya terus membanjiri pipi gadis itu. Ia semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan Abid.
Hatinya memberontak.
Ia merasa tidak terima Abid mengatakan hal itu.
“Kenapa kamu nggak pernah paham-paham hal itu. Aku capek terus-terusan jelasin ke kamu, aku tu sayang sama kamu. Tapi kamu nggak pernah ngerti sama rasa ini. Kamu egois mas!!”
“Haaah!!!” Najwa membanting ponselnya. Ia seperti orang gila yang berbicara sendiri, tangisnya semakin meledak-ledak saja. Dadanya sesak karena menahan sakit di hatinya.

“Kak.. Kak Najwa..” panggil ana dari luar. Tetapi najwa tak menjawab, walau sebenarnya dia tahu adiknya sedang menunggu.
“Kak… kakak keluar dong.. sudah 3 hari kakak tidak makan nasi, nanti kakak sakit” Ana tampak mengkhawatirkan kakak satu-satunya itu.
“Kakak tidak lapar” ucap najwa.
“Tapi kak…”
“Sudahlah Ana, kamu makan sendiri saja sana” najwa membantah ucapan adiknya. Dia tetap saja bersikeras tidak mau makan. Kini tak lagi terdengar suara adiknya di balik pintu. Suasana menjadi hening kembali.

Wanita itu masih terisak-isak. Tubuhnya kurus, matanya sembab, dan wajahya putih memucat.
Najwa menatap Arlojinya. Waktu menunjukkan Pukul 08.00 Malam. Dengan langkah sempoyongan, najwa keluar menuju teras rumahnya, hatinya merasa terhibur melihat jutaan bintang bertabur di atas kepalanya.
“Dik..”
Serontak Najwa merasa kaget. Ada seorang pemuda berdiri di belakangnya.
“Apa yang kau lakukan di sini mas?” suara lembut terdengar dari mulut gadis itu.
“Aku ingin meminta maaf padamu”. Pemuda itu melanjutkan ucapannya.
“Sudahlah, mas. Aku tidak ingin mengingat itu. Kau terlalu berharga untuk aku benci”. Jawab najwa dingin. Suasana kembali hening, tidak satu kata pun terlontar dari mulut keduanya.
“Najwa, kau mau ke mana?” teriak Abid pada Najwa yang tiba-tiba pergi. Merasa khawatir, Abid mengikuti langkah gadis itu yang mengarah ke halaman belakang. Najwa berdiri di samping sepetak tanah kosong dengan sebuah kayu menancap di atasnya.
Najwa tersenyum miris. Senyuman itu ia tujukan pada Abid.
“Minta maaflah pada putrimu mas, karena dia yang tidak memahami dirimu, dia yang kecewa padamu”.
Abid melangkah dengan uraian air mata yang lama-kelamaan semakin deras.
“Apa? Putriku?” ucap abid setelah terduduk lesu di samping sebatang kayu yang tertancap di atas tanah.
“Iya mas, dia putrimu yang selama 7 bulan tidak engkau ketahui, dia yang selama 7 bulan ada di dalam rahimku, selalu bersama ku disetiap kesedihanku. Kau tak pernah tau akan semua itu kan? Kami tersiksa dengan sikapmu yang egois.” Najwa memberanikan dirinya untuk berbicara yang sebenarnya terjadi. Bibirnya bergetar seakan ungkapan itu adalah beton yang berat.
“Ti.. tidak mungkin. Kenapa kau tidak pernah jujur padaku najwa?” Abid semakin terpukul mendengar ucapan gadis itu.
“Aku tidak punya keberanian untuk itu mas, lagi pula bukankah kamu memang tidak pernah peduli pada diriku mas?” timpal najwa.
Abid hanya terdiam, dia mulai shock. Seperti ada palu besar yang menghantam kepalanya.

“Aku keguguran pada saat usia kandunganku 7 bulan, dokter mengatakan bahwa rahimku lemah. Aku terlalu stress sehingga kandunganku tidak bisa dipertahankan lagi” Jelas najwa dengan terbata-bata karena menahan sakit dalam dada.
“Iyuhh… Tuhan… betapa besar dosaku. Tanpa kusadari, aku telah membunuhnya yang tidak bersalah”. Abid meratap di atas makam putrinya. Penyesalan begitu tampak di wajahnya.
“Percuma mas.. putriku sudah tiada. Tangisanmu tidak akan mengembalikannya. Walaupun dia tidak pernah kuharapkan di dunia ini, tapi dia putriku, Hatiku seperti jatuh di atas jejeran tajamnya duri, tubuhnya yang mungil, kulitnya yang bening, sampai-sampai terlihat urat-uratnya. Tapi mengapa dia terpejam. mngapa mas mengapa??!!” Tangisnya meledak-ledak. Abid yang tadinya duduk, seketika berdiri dan memeluk najwa.
Pemuda itu mencoba menenangkannya, dia mengerti apa yang najwa rasakan saat ini dan kemarin. Karena sekarang Abid juga merasakannya.
“Maafkan aku Najwa… maafkan. Aku siap menerima hukuman dari Tuhanku. Aku siap menerima resikonya. Tapi aku tidak siap dibenci putriku” Abid mencoba tegar dihadapan najwa. Pelukannya semakin ketat seolah dia tak ingin melepaskan gadis itu. Dia sadar akan kesalahannya. Dan dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.

Tangisan najwa pun mulai mereda. Dan abid mulai melonggarkan pelukannya, dia mencium kening gadis itu dengan penuh perasaan.
“Kita tidak akan pernah mendekati jalan haram itu lagi.. maafkan aku najwa. Kita akan hidup bersama. Aku tidak akan melepasmu lagi. Aku berjanji” ucap Abid sambil mengusap lembut rambut panjang najwa.
Najwa hanya terdiam lemah. Nafasnya masih terengah-engah karena habis menangis. Sekali lagi lelaki itu menatap wajah najwa, dan najwa pun membalas tatapannya dengan senyuman kecil dari bibirnya. Tangannya menunjuk pada sesuatu di kejauhan sana seolah ingin memberi tahu abid tentang apa yang dia lihat.

Senyuman kecil juga terlihat di wajah Abid ketika dia melihat ke arah yang ditunjukkan najwa, seorang gadis kecil dengan sebuah pita di kepala tersenyum manis kepada mereka. Perlahan anak itu berbalik dan menjauh hilang ditelan gelapnya malam. Abid tau, itu adalah bayangan putrinya yang sudah tenang melihat ayah dan ibunya.

Tiga Bulan kemudian, Abid dan Najwa menggelar acara resepsi pernikahan mereka. Dan nurul, wanita yang sempat bertunangan dengan Abid turut hadir pada acara itu. Nurul tampak menggandeng seorang lelaki dan ternyata itu suaminya. Mereka menikah sebulan sesudah pertunangannya itu batal.

Gaun putih yang dikenakan najwa, semakin mempercantik dirinya. Setiap tamu yang datang tak lantas memuji kecantikannya.

1 tahun 5 bulan kemudian…
Najwa dikaruniai seorang putra dan seorang putri. Kelahiran anak kembar itu menjadi kebahagiaan yang paling berharga bagi keduanya dan juga kerabatnya.
“Masa Lalu Yang Buruk Bisa Jadi Awal Dari Masa Depan Yang Baik”

Selesai

Cerpen Karangan: Novi Yanti
Facebook: Najwatul Husna

Cerpen Arloji Cinta Najwa (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Usang Dari Samudra

Oleh:
Aku meletakan sebuah surat yang dibungkus dengan amplop coklat dan dihiasi pita pink di atas meja kerjaku. Amplopnya sudah usang warnanya. Tadi sepulang kerja, aku sengaja mengambilnya dari dalam

Persahabatan yang Sempat Terputus

Oleh:
Pagi yang cerah bersama kabut dan air embun membuat hati merasa gembira.rasa gembira itu ada di dalam hati tiga remaja ini.mereka adalah tika,aliya,dan iva. Mereka bertiga sudah sahabatan sejak

Hanya Ragaku Yang Mendua

Oleh:
Di bawah tangga jembatan layang aku duduk bersamanya. Di gelaran tikar usang yang sudah menipis dimakan waktu. Rasanya aku sekarang tidak duduk di atas tikar, tapi lebih tepatnya di

Cinta Yang Aneh

Oleh:
Pagi ini mentari menampakkan keindahan dan kehangatannya lagi. Aku terbangun dari tidur, kulihat jam menunjukkan pukul 05:00. Aku pun bergegas mandi karena akan pergi ke sekolah. Setelah aku siap

Kenapa Harus Gue?

Oleh:
Lamunan Rahma buyar ketika terdengar derit pintu kamarnya terbuka. Di lihatnya sahabatnya telah berdiri di depan pintu. “Ngelamunin apa sih non?” “Menurut lo?” “Oh ya gue tau si cowok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *