Awal Kehancuran

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 October 2017

Sunyi malam mengheningkan kegelapan sang malam, kehampaan yang terasa membuat kehidupan kosong tak berarti. Waktu terus berjalan menunjukan sisa kesunyian malam akan hilang, hilang terbawa akan bumi yang terus berputar mengelilingi alam kehidupan nyata.

Lembaran surat yang kubaca kini telah tersimpan di atas meja belajar, air mata ini tak henti mengalir membasahi wajah yang selalu berseri merona. Pena yang tergores dalam surat yang kubaca membuat surat itu tak dapat terbaca kembali, hanya goresan hitam yang terlihat jelas dalam surat yang ia beri.

Jarum jam dinding pun kini menunjukan pukul 04:30 WIB menandakan adzan subuh berkomandang membangunkan para jiwa islami untuk segera bersujud ke hadapan-NYA. Dan tiba kini ku berdiri segera pergi mengambil air wudhu untuk bersembahyang dan berdoa meminta pertolongan atas apa yang kini menimpa pada diri dan kehidupan ini. Jiwa ini menangis menahan segala yang menimpa diri dan kehidupan yang kujalani, tak ada seorang pun yang tahu akan keadaan yang kurasakan saat ini.

Waktu pajar kini ku berada dalam ruang kosong, bersama kehampaan hati yang telah kau kosongi, dalam ruang kosong ini kupejamkan kedua mata ini, kini ku kembali mengingat semua yang pernah kita jalani, kini ku kembali mengingat semua yang pernah kita lakukan bersama, hingga kini semua telah menjadi suatu kenangan yang tak kan bisa kulupakan begitu saja.

Jemari ini enggan lagi mengenggam alam kehidupan, sebagaimana mesti apa yang harus kulakukan sebagai sosok yang berjiwa. Hanyalah diam dan tak ingin bicara yang kuinginkan saat ini, hanyalah sendiri dan tak ingin seseorang membuyarkan lamunanku padanya.

“assalamualaikum, re buka pintunya!! Ini aku resa, tolong bicaralah denganku!”
Benar pada apa yang kuinginkan saat ini, hanyalah diam dan tak ingin bicara, hanyalah sendiri dan tak ingin ada seorang pun yang mengganggu. Kulihat pintu kamar ini bersuara, menandakan seseorang ingin melewatinya dan memasuki ruang yang ia tutupi. Dan kulihat jemari ini bergerak ingin membuka pintu kamar ini, akan tubuh ini yang lemas dan tak berdaya menahan tubuh ini untuk berdiri, menahan tubuh ini untuk tetap diam dan terbaring. Hanyalah suara ini yang bisa kuperbuat, bicara pada sosok yang berada di balik pintu yang ingin kubuka.
“kumohon bicaralah denganku! Aku tahu apa yang kau rasakan saat ini, maka dari itu bicaralah padaku atas apa yang kau rasakan!”
“aku akan bicara padamu, tapi mohon tunggulah sampai aku benar-benar kuat untuk bicara”
“baiklah aku akan menunggumu”
Deraian air mata-pun kini mengalir membasahi kembali wajah ini, perih yang amat parah yang kurasa menusuk ke dalam jiwa yang terdalam dan menusuk ke dalam dada yang paling dalam yang terasa.

Kembali kupejamkan kedua mata ini, dan kembali kubayangkan sosok jiwa yang telah hilang. Sosok yang dulu tak pernah menjadikan diri ini tak berdaya, dan sosok yang dulu tak pernah menjadikan jiwa ini menangis membasahi wajah ini.

Waktu terus berputar, kini ku kembali membuka lembaran surat yang telah kau tulis dan yang telah kubaca berulang kali. Perih yang amat parah yang kurasa, sakit yang membuat dada ini sesak hingga ku tak mampu lagi bernafas dengan lega. Air mata ini kini mengalir membasahi kedua pipi yang dulu begitu kau jaga.

“re kumohon bukalah pintu kamarmu! Biarkanlah ku berada di sisimu! Biarkanlah ku menemanimu!”
Suara itu kini kembali membuyarkan lamunanku tentang sosok yang telah hilang entah kemana, kini ku kembali dalam kesadaranku yang bermula. Kuhapus air mata ini dengan kedua punggung tanganku, mencoba untuk tetap tegar pada sahabatku yang rela menemani kesendirianku saat ini. kuambil lembaran surat ini untuk kutunjukan pada sahabatku, biarkan beban ini tak kupendam dengan sendiri, biarkan beban ini tak kurasakan sendiri, dan biarkan orang lain terlibat dalam menangani masalah yang terjadi dalam kehidupanku saat ini.
“tunggulah sebentar, aku akan segera menemuimu!”
“baiklah, aku tunggu kau keluar”

Kini ku berada dalam ruang kosong, bersama sahabat yang telah sabar menanti kedatanganku. Kembali ku meneteskan air mata ini, dengan segera kupeluk tubuh sahabat yang kusayangi, sahabat yang telah kuasingkan beberapa hari yang lalu. Maafkan atas kekhilafanku yang telah membuatmu cemas, yang telah membuatmu takut akan kejadian yang menimpa pada diri ini, maafkan diri yang tak mampu menahan segala cobaan yang menimpa diri ini.

“maafkan aku sa! Aku tak bermaksud membuatmu cemas akan hidupku”
“sudah cukup, aku telah merasakan apa yang kamu rasakan saat ini”
“aku tak tahu apa yang harus kulakukan sa, aku takut, sungguh aku sangat takut akan hal ini”
“tenangkan dirimu, biarkan masalah ini berjalan dengan ketenangan, bukan berjalan atas ketakutan yang dalam. Serahkan semuanya pada yang maha kuasa, lebih baik kita meminta pertolongan pada-Nya ”
“aku takut akan keadaannya sekarang sa”
“mintalah pertolongan pada yang maha kuasa, berdoalah sesuka hatimu. Setelah itu datanglah padanya, mintalah penjelasan yang sebenarnya tentang apa yang telah terjadi”

Kembali kini ku berada dalam ruang kosong, untuk bersembahyang dan meminta pertolongan kembali pada yang maha kuasa, kini ku meminta agar apa yang telah terjadi padanya hanyalah kebohongan, bukan kenyataan seperti apa yang tertulis dalam surat yang telah kubaca berulang kali. ‘ya tuhan, aku memohon dan meminta pertolongan atas apa yang terjadi pada diri ini dan dirinya, aku memohon jadikanlah ini hanya kebohongan, jangan jadikan ini kenyataan yang kutakuti’ itulah doa yang kupinta pada tuhan yang maha kuasa. Semoga Engkau menjawab doa-doa yang kuinginkan.

Aku berjalan mencari sosok yang terlintas dalam benak ini, membawa surat yang kuterima, membawa surat yang ingin segera kutunjukan padanya, dan kini ku berada tepat berada di depan sosok yang selalu tersimpan dalam benak ini. air mata ini tak dapat kubendung kembali, dan kini telah menetes bahkan telah mengalir di pipi ini. sungguh aku tak kuasa melihatnya kembali, kini ku tak mampu melihatnya dengan penuh rasa gembira yang amat terasa, hanyalah kebencian yang tertanam dalam dada ini, hanyalah rasa kebencian yang kurasa. Ingin rasanya aku memeluk kembali tubuh yang berada tepat didepanku, namun rasa kebencian itu tak dapan kutahan kembali.

“kenapa kau datang ke rumahku? Apa yang terjadi pada dirimu, dan kenapa kau menangis tanpa aku tahu sebabnya?”
Kuberikan surat yang telah kuterima padanya, dan kini surat itu berada di kepalan kedua tangannya. Ia langsung membaca surat itu dengan cepat, bahkan ia tak menunggu aku berbicara sepatah kata pun. Ia kini membaca surat itu dengan keras.
Dalam surat itu berisi

‘tinggalkan Reza secepatnya, jangan ganggu kami!
Kumohon, biarkan reza hidup bahagia bersamaku dan anak dalam rahimku saat ini
Aku sedang mengandung darah dagingnya kini,
Ia membutuhkan ayahnya, ia membutuhkan kasih sayang dari ayahnya,
Apa kau tega melihat anak ini tanpa kasih sayang dari ayahnya?
Maka dari itu, biarkan kami bahagia menjalani kehidupan ini’

Deraian air mata ini tak sanggup kubendung kembali, aku menangis tersedu mendengar surat yang ia baca, ku tak berdaya, ku lemas mendengar apa yang tertulis dalam surat itu yang menyangkut kekasih yang paling kusayangi.

“aku gak menyangka kamu seperti itu, sungguh aku tak menyangka. Kukira kamu sosok laki-laki sejati, laki-laki yang malu pada tuhan yang maha kuasa, ternyata aku salah mengira”
“dengar re, aku, aku tak”
“cukup, aku tak mau mendengar penjelasan omong kosong dalam mulutmu, aku benci sosok sepertimu”

Ku berlari menjauh dari dirinya, ku berlari sejauh dari keberadaanya kini. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, ku tak tahu kemana arah yang harus kutuju. Ingin rasanya aku berlari dari dunia ini, ingin rasanya ku berlari dari kehidupan ini tanpa membawa beban yang kurasakan saat ini. perih yang amat parah yang kurasa tak kuasa aku menahannya. Tak dapat ku mengetahui bahwa ia mengejarku, ia kini mengejarku yang terus berlari menjauh dari dirinya.

“dengerin penjelasan aku re, aku mohon”
“apa lagi yang harus kamu jelasin? Semua udah cukup dan jelas bahwa kamu bukanlah laki-laki yang aku harapkan kembali, bukanlah laki-laki yang sejati.”
“semua dalam surat itu bohong re, aku mohon percayalah padaku. Semua yang tertulis dalam surat itu hanyalah kebohongan yang dibuat-buat oleh wanita itu”
“aku gak percaya apa yang kamu omongkan, aku gak percaya”
“terserah, yang jelas aku tidak pernah melakukan hal hina seperti itu, kumohon percaya padaku. Aku sangat menyayangi dirimu. Ingatlah wanita itu tak menginginkan kita untuk bersama.”
“aku tak tahu harus percaya pada siapa, aku takut za, aku takut akan kehidupan ini”
“aku akan melindungimu, kumohon percayalah padaku, aku akan menjagamu re”
“jangan pernah kau tinggalkan aku lagi”
“aku akan selalu bersamamu, maafkan aku untuk beberapa hari ini tak mengabarimu karena urusan duniaku sesaat, maafkan”

Ya tuhan, doa-doa yang kuucapkan Kau kabuli, terimakasih Engkau telah mendengar dan mengabulkan doa-doaku, kini aku paham dan mengerti dengan apa yang harus kulakukan pada saat itu, tapi kini semua sudah terjadi dan tak akan pernah kulakukan kesalahanku yang telah mempercayai semua yang belum benar keberadaannya. Maafkan aku reza aku telah mempercayai orang yang tak kuketahui, maafkan aku yang telah menuduhmu berbuat hina. Kini ku akan menjaga hati dan perasaan ini, kini ku akan menjaga bibir ini agar tak mengucapkan kata-kata yang hina di mata-Nya.

selesai

Cerpen Karangan: Seli Nurdianti
Facebook: Selly Nurdianty

Cerpen Awal Kehancuran merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Emak, Gue Jadi Artis!

Oleh:
“Mak, liat deh tuh!” kataku seraya menunjukkan jari ke arah televisi. “Apaan sih?” timpal Emak yang penasaran. “Itu loh mak acara di tipi. Noh, emak liat kan? Duh mak,

Pacarmu Belum Tentu Jodohmu

Oleh:
Di tengah pagi yang gelap, terlihat seorang pemuda dengan semangat menancap gas motornya melewati guyuran hujan. Pemuda itu tak mempedulikan guyuran air hujan yang mengenai wajah dan tubuhnya, yang

Dilema Cinta (Part 1)

Oleh:
Jreng.. Jreng.. Alunan gitar yang membawa ku terhanyut dalam kesedihan mendalam. Ditemani dengan rintikan air hujan yang sengaja mengajakku bercanda pada malam yang sunyi ini. Ku petik senar gitar

I Found You, Ciderella

Oleh:
“Nih!,” ucap Leo kepada Arka dengan menyerahkan selembar kertas. “Apaan?,” tanya Arka mendongkakkan kepalanya dengan menerima kertas yang di bawa oleh Felly. “Lu bakalan jadi ketua dalam penyelenggaraan hari

Abadi Sepanjang Masa

Oleh:
Sebut saja namaku Nisa, saat ini aku sedang menjalani kuliah semester pertama di salah satu Universitas Swasta terbaik di Surabaya. Sedangkan kedua orangtuaku tinggal di Mojokerto, karena memang tempat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *