Awan Kelabu di Langit Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 18 August 2017

Saat mentari mulai menampakkan dirinya pada dunia, para ayam pun mulai memperdengarkan suara indahnya, saking indahnya aku malas bangun dari mimpi-mimpi indahku. Ya, hanya dalam mimpi aku bisa melihat senyuman dan mendengar canda tawanya karena di dunia nyata ia masih enggan untuk bertemu denganku. Kudengar suara para ayam itu semakin keras. Aku terbangun dari tidurku, bukan karena kokok-kokok ayam itu aku terbangun, namun karena temanku Adit yang sedari tadi berteriak-teriak menyuruhku untuk bangun.

“Apa sih? Pagi-pagi udah nyuruh bangun.” Ucapku sambil menarik selimut lagi.
“Kamu kebangetan Rei, seharusnya kamu berterima kasih udah dibangunin, mama kamu sms aku nih.” Ucap Adit kesal dan memberikan hpnya padaku.
Perasaanku mulai tak karuan, aku benar-benar resah. Dengan perlahan aku membaca pesan singkat dari mama.
“Adit, tante minta tolong sampaikan pesan tante pada Reinan, saat ini tante dan Naomi dalam perjalanan ke Palembang, kemarin sore sebelum buka puasa Wulan adiknya Reinan yang ada di Palembang kecelakaan dan sampai sekarang kabarnya Wulan masih dalam keadaan koma di rumah sakit, tante sudah menghubungi Reinan namun tak ada jawaban darinya.”
Tubuhku terasa kaku setelah membacanya, kesedihan mulai datang menghampiriku. Sayup-sayup suara Wulan masih terngiang-ngiang di kepalaku. Saat itu ia meneleponku dan berkata,
“Bang Reinan, kapan ke Palembang? Sudah enam tahun kita tidak pernah bertemu.”
Aku tak sampai hati mendengar kabar tentangnya dari mama. Aku pun mengambil hpku dan saat kulihat ternyata sudah ada tiga puluh panggilan tak terjawab dari mama dan dua panggilan tak terjawab dari si dia.

Perasaanku benar-benar seperti menghukum diriku sendiri sehingga sesaat pun aku tak bisa tenang. Aku mencoba meminta izin pada kapolres agar aku bisa menyusul mama dan Naomi ke Palembang, namun kapolres tidak memberiku izin. Hatiku semakin kacau, bagaimana pun juga aku sangat menyayangi keluargaku.

Mama kembali meneleponku memberi tahu bahwa ia dan Naomi sudah sampai di Palembang, papaku yang bekerja di Medan pun sudah sampai di Palembang. Hanya aku yang tak bersama mereka, namun mama juga memberi tahu bahwa papa juga dirawat karena tak sampai hati melihat kondisi Wulan. Memang papa sudah lama menderita sakit jantung, namun hal itu membuatku semakin resah.

Hari ini aku tidak fokus untuk bekerja. Saat mengatur lalu lintas hampir saja aku ditabrak oleh sebuah truk. Memang malu, seorang polisi lalu lintas hampir ditabrak oleh sebuah truk, namun aku tak bisa mengendalikan perasaanku.

Saat sore tiba Naomi meneleponku, kali ini ia bicara diiringi dengan suara tangisannya.
“Abang, mama demam badannya panas, saat ini mama hanya tidur di rumah oma. Naomi sendirian jagain Kak Wulan. Abang kapan ke sini?”
“Abang belum dapat izin dek, adek jangan nangis. Banyak berdo’a sama Allah.” Hanya kata-kata itu yang bisa kuucapkan padanya karena aku tak tahu harus berbuat apa. Kupandangi langit yang semakin lama semakin gelap. Teman-temanku seasrama pun sudah tampak berbaring di tempat tidurnya masing-masing. Bagaimana pun juga aku harus menyusul keluargaku ke Palembang. Aku pun kembali menemui kapolres untuk meminta izin padanya. Mana tahu, kali ini hatinya terbuka untuk memberiku izin.
“Baik saya izinkan, tapi ingat Cuma dua hari!” Tangkasnya.
Aku berfikir sejenak, dari tempatku ke Palembang menghabiskan waktu sebelas jam di perjalanan. Tapi demi keluargaku akan kuusahakan yang terbaik untuk mereka.

Aku mulai mengendarai mobilku dan menghabiskan waktu malam di perjalanan tanpa bisa tidur. Ini memang perjalanan yang melelahkan bagiku. Dengan penuh perjuangan, akhirnya aku sampai juga di Palembang. Dari kejauhan Naomi tersenyum padaku dan berlari untuk menghampiriku.
“Abang, akhirnya abang datang juga, mata abang kok sembab?” Tanya Naomi dengan penuh perhatian.
“Abang nggak tidur semalam dek.” Jawabku dengan tenang.
“Naomi bangga punya abang sehebat abang.” Ia kembali tersenyum padaku. Lalu, ia membawaku ke ruangan dimana Wulan dirawat. Sesampai di sana aku melihat Wulan berbaring lemah, ia menoleh padaku.

“Bang Reinan.” Ucapnya dengan nada yang lemah.
“Kaki Wulan patah bang.” Sambungnya lagi. Aku duduk di sampingnya dan berkata,
“Nanti, kaki Wulan pasti sembuh. Jangan sedih ya dek.”
“Tolong pijitin tangan Wulan bang!” Ucapnya manja padaku. Tanpa basa-basi lagi aku pun memijit tangannya perlahan. Ia tersenyum padaku dan mulai bercerita.

“Waktu itu, Wulan habis membeli buka puasa buat oma, lalu Wulan berhenti di lampu merah. Dari jauh Wulan melihat sepeda motor dari arah belakang yang melaju kencang ke arah Wulan, benar-benar kencang bang dan karena kencangnya itu tak bisa ia mengeremnya lagi, Wulan tak bisa menghindar ketika ia benar-benar menabrak motor Wulan dari belakang, saat itu lidah ini terasa kelu untuk berteriak, Wulan jatuh dari motor dan semuanya menjadi gelap, tak ada cahaya lagi. Dan tadi pagi Wulan dengar dari Naomi kalau orang yang menabrak Wulan itu telah meninggal dunia malam tadi.”
Aku mengangguk mendengarkan ia bicara, tanpa disadari air mata ini ikut menetes.
“Bang Reinan cengeng.” Ejek Naomi menertawakanku. Aku buru-buru menghapus air mataku karena malu.
“Abang, Kak Afra dari tadi sms Naomi nanyain abang terus.” Ucap Naomi.
“Kamu udah bilang kan sekarang abang di Palembang?” Tanyaku.
“Udah, kata Kak Afra cepat sembuh ya Kak Wulan.” Kata Naomi yang membuat Wulan tersenyum.
“Siapa Kak Afra? Pacar Abang?” Tanya Wulan tanpa berkedip padaku. Aku menjadi malu dan salah tingkah di hadapan adikku sendiri.

Tak lama kemudian, oma dan mama datang, sepertinya mama belum sehat total namun ia memaksakan dirinya untuk bertemu dengan anak-anaknya. Apalagi dengan Wulan karena kami jarang bertemu dengannya. Wulan sejak kecil tinggal di Palembang dengan oma, itu permintaan oma pada mama karena oma tak punya teman di Palembang, ia ingin salah satu cucunya tinggal bersamanya.

Tak terasa dua hari telah berlalu, sudah saatnya aku kembali untuk bekerja. Keluargaku pun juga ikut denganku termasuk Wulan. Mama ingin membawanya pulang dulu sampai kakinya sembuh. Papa sepertinya juga sudah agak sehat dari sebelumnya. Aku sangat bahagia bisa berkumpul dengan mereka semua karena sekian lama kita hidup terpisah-pisah.
Hingga suatu hari mama memintaku membawa Wulan pergi berobat, semua keluargaku juga ikut mengantarnya. Sampai di tempat tujuan, aku menerima sebuah pesan singkat dari Afra.
“Abang, maaf sebelumnya. Mungkin ini akhir dari hubungan kita.”
Aku sangat kaget setelah selesai membacanya dan jantungku berdebar saat itu juga.
“Coba jelaskan alasannya agar abang bisa mengerti.” Balasku.
Sudah lama kutunggu, beberapa saat kemudian ia baru membalas pesan dariku.
“Aku nggak mau abang selingkuhin, ngaku aja abang selingkuh kan dengan Sella?”
Aku benar-benar tak mengerti kenapa ia berkata seperti itu padaku, Sella hanya kuanggap adik dan tentu saja bukan kekasihku. Aku berupaya untuk menjelaskan itu padanya, namun ia tak mempercayai kata-kataku. Ulah cemburu, ia tetap teguh dengan pendiriannya mengakhiri hubungan ini. Aku benar-benar kecewa dibuatnya, seharusnya ia mempercayaiku bukan orang lain. Aku kenal sekali akan dirinya yang begitu lembut, namun saat ini kurasa hatinya benar-benar keras sekeras batu. Ia terlalu memperturutkan emosinya tanpa bisa mengontrolnya.

Di hadapan Naomi, aku mencuci wajahku dan meminum air. Hal ini membuat Naomi bertanya-tanya apa yang terjadi padaku.
“Abang nggak puasa?” Ucapnya melihat tingkah lakuku.
Aku tak menjawab pertanyaannya, aku hanya diam memandangi dirinya dengan sinis.
“Wanita munafik.” Ucapku dengan lantang sembari melemparkan hp yang ada di tanganku. Naomi menangis melihat sikapku, aku tahu dia takut melihatku seperti ini. Namun, hatiku begitu sakit karena seseorang yang sangat kusayangi telah membuat hatiku terluka.

Di perjalanan pulang aku tak bisa mengendalikan emosiku yang dari tadi telah memberontak. Jiwaku terasa begitu lelah, hatiku begitu remuk dan fikiranku sangat berkecamuk. Aku mengendarai mobilku terlalu kencang dan membuat keluargaku melontarkan beribu pertanyaan pada diriku, aku tak menjawab satu pun pertanyaan dari mereka, semua kuanggap angin yang sedang berhembus di telingaku.

Setelah sampai di rumah, keluargaku mulai turun dari mobil kesayanganku ini dan mengajakku untuk masuk. Namun, aku tak menghiraukan perkataan mereka, aku kembali mengemudikan mobilku dengan kencang. Arah yang ku tuju saat ini adalah Padang Panjang dimana tempat Reva beristirahat dari semua permasalahan di dunia ini. Dua tahun yang lalu ia kecelakaan hingga maut menghampirinya. Afra adalah seseorang yang menurutku memiliki banyak kesamaan dengan Reva dan aku berharap Afra dapat menggantikan Reva dalam hidupku. Namun kenyataannya aku salah, dia tak bisa memahamiku dengan baik.

Sesampai di tempatnya Reva, aku duduk di samping timbunan tanah yang telah menyelimuti tubuhnya. Aku seperti orang gila berada di tempat ini dan kembali menyalakan sebatang rokok. Ini selalu kulakukan saat stress menemani hidupku. Selama ini Afra selalu melarangku untuk merokok, namun saat ini aku telah bebas dari yang namanya Afra.
Aku tahu saat ini keluargaku ditimpa kecemasan yang luar biasa setelah mendapati kabar bahwa aku tidak berada di asrama polisi, bahkan hpku masih dipegang oleh Naomi semenjak aku melemparnya tadi siang.

Gerimis membasahi tubuhku sedikit demi sedikit dan pada akhirnya menjadi basah kuyup. Namun hal itu tidak membuatku beranjak dari tempat ini. Aku tak menghiraukan saat petir datang menyambar, yang aku tahu bahwa hatiku sangat merindukan kehadiran sosok Reva. Andai saja ia masih hidup, ia pasti akan menyeka air mataku. Kupandangi langit yang mulai menggelap, awan-awan kelabu mulai menutupi semua langit yang berwarna biru seperti kesedihan yang kurasakan saat ini. Tak ku rasa setitik bahagia pun yang masih tertinggal di hatiku.

Aku berjalan menuju ke arah mobilku, langkahku terasa sangat berat saat ku langkahkan kakiku ini. Aku berencana untuk pulang ke asrama untuk menghapus kecemasan orang-orang di sana. Aku masih mengemudikan mobilku dengan kencang, fikiranku kacau, penglihatanku mulai mengabur, aku benar-benar lelah menghadapi problematika hidupku. Tak sengaja aku menabrak trotoar yang membuat tubuhku terlempar dari mobil, terasa seperti terbang, namun disaat sampai di bawah aku tak bisa melihat apa-apa lagi.

Perlahan aku bisa melihat sedikit demi sedikit cahaya lagi. Aku melihat mama menangis di sampingku.
“Abang, Naomi tahu kalau abang diputusin oleh Kak Afra, tapi kenapa abang bisa senekat ini? Ingin mengakhiri hidup karena ditinggal olehnya? Padahal Kak Afra sms lagi bahwa ia minta maaf dan ia tak jadi mengakhiri hubungannya dengan abang.” Ucap Naomi padaku.
“Muak.. seenaknya ia minta maaf.” Jawabku ingin menoleh ke arah Naomi, namun leherku terlalu sulit untuk digerakkan.
“Abang, tulang leher abang retak dan kaki abang patah. Semalam kami terkejut saat seorang polisi memberi kabar bahwa abang kecelakaan.” Ucap Naomi sembari mendekatiku.
Aku tak kuasa menahan air mataku, tak masalah jika orang-orang berkata bahwa aku polisi yang cengeng, aku tak peduli lagi. Ini karena beratnya beban hidupku, bukan beban hidup, tapi aku sendirilah yang mengukir kisahku menjadi sangat memilukan seperti ini.

Hari-hari ku lewati di atas empuknya kursi roda. Aku tak bisa bebas berjalan kesana kemari lagi. Semenjak kejadian itu, Afra selalu menghubungiku untuk meminta maaf dariku. Aku tahu dia menyesal, namun hatiku masih seperti awan kelabu, meskipun jika disuruh jujur aku pasti menyatakan bahwa aku masih sangat sayang pada Afra, namun aku ingin dia bisa mengerti apa yang aku rasakan, belajar dari kesalahannya dan menjadikan ini cobaan dalam cintanya dengan diriku agar cinta ini menjadi lebih kuat dan tangguh menghadapi segala tantangan berikutnya dan tak akan mudah rapuh seperti kejadian yang lalu.

Cerpen Karangan: Mei Defrita Ratna Sari
Blog: meidefritaratnasari.blogspot.co.id

Cerpen Awan Kelabu di Langit Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah

Oleh:
Terlihat kerinduan dari wajah Nabil yang tengah memeluk erat tubuh ayahnya. Delapan tahun yang lalu, sejak ayah dan ibunya bercerai Nabil tidak pernah tahu bagaimana keadaan ayahnya bahkan walau

False Conclusion

Oleh:
Terkadang aku suka membandingkan hidupku dengan orang. Dan malah suka menyalahkan keadaan. Padahal tak seharusnya aku merasa seperti itu. Diusiaku yang ke delapan belas aku mulai diajarkan oleh Allah

Matahari Inara

Oleh:
Pernahkah kamu merasakan hidup yang tak sebenarnya hidup? Dimana tubuhmu masih mampu berdiri tegak, dan kakimu masih menapak tanah – tapi sukma entah melayang ke mana. Detak jantungmu berdenting

Jimat

Oleh:
Akhirnya aku berangkat juga ke Jakarta. Bersamaku kubawa segudang harapan. Bekerja dengan penghasilan yang cukup banyak, menutup semua kebutuhan keluargaku di kampung, menabung untuk masa depan, dan yang jelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *