Awan Vs Jingga (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 9 January 2018

Hari ini adalah hari pertama Jingga melaksanakan Ospek di kampusnya. Tentu dengan segala perlengkapan yang dibawanya, yang mampu membuatnya mengatakan bahwa perlengkapannya saja sudah sangat aneh apalagi dengan Ospek yang harus dihadapinya dengan para senior.

“Hey! gimana bisa lo nyebut diri lo senja?” tanya seorang senior ospek pada Jingga sambil memandangnya penuh sindiran dan tawa.
“Aku?” tunjuk Jingga pada dirinya sendiri.
“Iya, apa alasan lo bisa nyebut diri lo senja?”
“Karena namaku Jingga. Dan Jingga adalah langit berwarna jingga yang ada di waktu senja.” jelas Jingga tanpa peduli peserta ospek lainnya sedang memperhatikan ke arahnya.
“Aneh” respon sang senior sambil memberikan senyum sindiran.
“Apa yang aneh? bukannya itu nama yang bagus?!” bergumam dan melirik kesal pada seniornya.

“Oke, sekarang para senior boleh memilih satu peserta ospek untuk dijadikan murid didikkannya. Dan peserta itu harus menuruti semua peraturan senior yang menjadi mentornya” jelas ketua panitia ospek.
“Ketua.. aku memilih Senja!” teriak seorang senior dari arah belakang yang membuat peserta ospek lainnya melihat kearah belakang secara bersama.
“Oke, senior Awan. Kamu didik dia dengan baik!” jawab ketua ospek.
“Awan! jangan lo ajak dia kencan. Apalagi ngebuat dia jatuh cinta sama lo” teriak salah satu senior lainnya dari kejauhan.
“Tenang kawan, gue gak akan ngebuat dia jadi teman kencan, tapi gue akan ngebuat dia jadi teman hidup gue. Hahaha” puas dengan tawanya tanpa peduli dengan pandangan sinis Jingga ketika mendengar kata-kata dari senior yang memilihnya.

Tak lama setelah itu, para peserta ospek dengan para mentornya memperkenalkan diri satu sama lain. Tidak terkecuali Jingga dengan senior yang memilihnya.
“Sekarang gue mentor lo, jadi apapun yang gue suruh, lo harus ngikutin tanpa ada alasan apapun.”
“Iya.” jawab Jingga singkat menatap sinis pada Awan.
“Kok ngejawabnya gitu?”
“Emangnya harus kayak gimana?”
“Yang sopan sedikit bisa kan?”
“Iya.. kakak senior”
“Bagus!” senyum Awan puas.

“Perkenalkan diri lo!” pinta Awan.
“Namaku Jingga.”
“Terus?”
“Apalagi? ya udah itu aja.” ucap Jingga ketus.
“Sebutin tanggal lahir lo, alamat rumah lo, hobi lo, makanan dan minuman favorit lo! apa aja tentang diri lo lah!” jelas Awan tegas.
“Sorry ya, lo mentor gue atau apa? gak penting banget deh kalo lo harus tau sampe segitunya. Tau nama aja udah lebih dari cukup” Jingga semakin dibuat kesal dengan segala pertanyaan yang diberikan Awan padanya.
”Apa? lo berani ngelawan gue? tadi lo nyebut diri lo dengan sebutan lo gue” Awan tersenyum menyindir seakan ditantang oleh Jingga.
“Kenapa? takut?” tatap Jingga tajam.
“Apa? takut? bukan gaya gue!”
Jingga memalingkan wajahnya dari Awan.

“Besok lo harus pake kacamata” perintah Awan.
“Kalo gue gak mau?”
“Silahkan berhadapan dengan ketua ospek. Lagian lo kan anak baru, gak usah ngelawan bisa kan?”
Jingga diam tanpa memandang wajah Awan yang sedang menjelaskan padanya.

“Hey! lihat gadis di sana!” tunjuk Awan pada seorang mahasiswi dari kejauhan.
“Siapa dia?”
“Dia pacar gue. Cantik kan? dia mahasiswi tercantik dan berpestasi di kampus ini.” Puji Awan bangga dengan kekasihnya.
“Terus?”
“Ya, gue cuma mau kasih info ke lo aja”
“Emang penting buat gue?” sindir Jingga.
“Penting”
“Pentingnya?”
“Lo ini” Awan menggerutu kesal.

Beberapa hari setelah usainya ospek. Jingga menyusuri koridor kampus menuju kelasnya. Tiba-tiba Awan menghentikan langkah Jingga dan berdiri tepat di hadapan Jingga.
“Hey.. selamat pagi mahasiswi baru” senyum Awan menghentikan langkah Jingga.
“Sorry.. siapa ya?” Jingga langsung memalingkan wajahnya dan melanjutkan langkahnya.
“Sombong amat. Hey.. hey..” Awan menarik tas yang dipakai Jingga sehingga membuatnya terhenti.
“Jangan tarik tas gue!”
“Berhenti dulu” cegah Awan memegang kedua pundak Jingga dari arah belakang.
“Apa sih?”
“Gue kangen”
“Apa?” Jingga terkejut hingga membuatnya membalikkan badannya.
“Hehehe… akhirnya berhadapan sama gue juga”
“Enggak kok, bercanda.”
Lalu Awan melangkah lebih dulu dari Jingga menyusuri koridor tanpa mempedulikan Jingga lagi.

Setelah beberapa bulan Jingga menjadi mahasiswi di kampus ini, Awan semakin dekat dengannya.
“Jingga…” teriak seseorang dari kejauhan yang mampu membuat Jingga sakit telinga karena teriakkannya.
“Siapa sih yang manggil nama gue segitunya” Jingga mencari asal suara berisik itu.
“Hey! gue yang manggil lo” Awan melangkah mendekati Jingga yang terlihat bingung dengan kehadirannya.
“Kenapa lo keliatan bingung?” senyum Awan yang sedikit mendekati wajahnya ke wajah Jingga.
“Enggak apa-apa” Jingga diam.
“Hari ini ada acara gak?”
“Kenapa?”
“Kita pergi nonton” ajak Awan tersenyum.
“Gue ada acara hari ini”
“Acara apa?”
“Gak penting juga lo tau”
“Ya udah, kita pergi” menarik tangan Jingga dengan cepat.
“Gak bisa”
“Ya udah izin dulu sana, ke pacar lo. Bilangin lo mau pergi nonton sama kakak lo. Pasti diizinin”
“Gue gak punya pacar. Dan lo mau ngaku sebagai kakak gue?” ungkap Jingga tersenyum menyindir.
“Iya, kan kalo pacar gue udah punya. Hehehe”
“Kenapa gak ajak pacar lo aja nonton?”
“Pacar gue… gue maunya nonton sama lo!” paksa Awan menarik tangan Jingga agar lebih mendekat padanya.
“Enggak. Nanti gue dikira selingkuhan lo lagi” melepaskan tangannya dari genggaman Awan.
“Dia gak akan cemburu”
“Mana bisa gak cemburu”
“Ayolah” rayu Awan lagi sambil meletakkan sebelah tangannya ke bahu Jingga untuk merangkulnya.
“Gak mau”
“Ayolah” senyum Awan yang mengusap lembut rambut Jingga.
“Apaan sih, gak usah ngusap rambut gue” Jingga berusaha menyingkirkan tangan Awan dari rambutnya.
“Sekali ini aja” Awan iseng mengikat rambut Jingga.
“Tangan lo ini bisa diem gak?”
“Bisa, kalo lo mau ikut nonton”
“Iya.. iya..” jawab Jingga.
“Oke” Awan kembali mengusap rambut Jingga dan tersenyum bahagia.

Cerpen Karangan: Ringga Beria
Blog: beriallingga.blogspot.com

Cerpen Awan Vs Jingga (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Teacher My Love

Oleh:
Pagi itu Tiara lagi-lagi telat kesekolah, dengan sekuat tenaga Tiara berlari menuju kelasnya, dan begitu sampai dikelasnya Tiara kaget melihat ada guru baru yang sedang mengajar dikelasnya. Tok.. tok..tok..

Ketika Sahabat jadi Cinta

Oleh:
Dina Bergegas menyetater motor kesayanganya untuk segera melaju ke rumah Reno, sahabat dekatnya sedari duduk di bangku SD. Ia Berencana melakukan belajar Fisika bareng di rumah Reno. Belajar bersama

A Little Story About Love

Oleh:
Cinta pertama. Cinta pertama adalah secuil kisah yang pernah terjadi di hidupku. Ada senang, sedih, kecewa—semua bercampur menjadi satu. Hal yang paling kuingat adalah kisah manisku dengan dirinya, satu-satunya

Bukan Cinderella

Oleh:
“Dan mereka hidup bahagia selamanya. Tamat.” Hmm selalu aja kata-kata itu yang aku baca dari sebuah dongeng sejak aku kecil. Heran, kenapa penulis dongeng suka banget sama kata-kata itu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *