Awan Vs Jingga (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 9 January 2018

Beberapa hari setelah kejadian itu, Jingga bersikap seolah menjauh dari Awan.
”Kenapa lo selalu meluk gue seperti ini?” Jingga tidak membalikkan badannya karena tidak ingin Awan tau kalau dirinya sedang menangis.
“Karena gue sayang lo Jingga.”
“Lo bohong. Lepasin gue!”
“Jangan menjauh dari gue! gue gak suka.”
“Gue benci lo. Gue harus menjauh dari orang yang gue benci!”
“Oke.” Awan melepaskan pelukkannya dan membiarkan Jingga pergi.
“Gue terima apa yang lo mau. Gue mau tau sampe kapan lo bertahan.”

Setelah beberapa minggu berlalu, Jingga tetap menjauh dari Awan. Awan hanya melihat Jingga sekilas tanpa menyapanya seperti dulu. Situasi ini disadari oleh Mentari. Semenjak Awan tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Jingga, Awan terlihat murung. Bahkan tidak tersenyum dan tertawa seperti dulu.

“Jingga…” panggil Mentari yang kini duduk disebelah Jingga.
“Iya.”
“Bukannya aku mau ikut campur, Apa kamu sama Awan udah gak komunikasi lagi?”
Jingga diam.
“Aku tau, pasti kalian lagi ada masalah. Tapi.. aku gak bisa ngelihat Awan terus seperti ini. Sejak dia gak pernah komunikasi lagi sama kamu, dia terlihat murung. Aku gak kenal Awan yang sekarang. Aku pikir dia harus komunikasi lagi sama kamu. Kalian kenapa? apa aku boleh tau?”
“Aku gak apa-apa. Mungkin aku emang udah gak bisa komunikasi lagi sama Awan. Lagian aku gak begitu dekat dengan Awan. Kamu kan pacarnya, seharusnya kamu lebih tau kenapa dia jadi gitu.”
“Ya, seharusnya aku tau. Tapi Awan gak mau cerita sedikitpun.”
Jingga diam karena tidak tau harus merespon apalagi.

“Malam ini aku dan Awan akan pergi kencan. Tapi… kali ini aku beri kesempatan itu buat kamu.”
”Maksud kamu?” Jingga tampak kebingungan dengan pernyataan Mentari.
“Ya, aku gak akan pergi kencan. Tapi aku membiarkan Awan pergi.”
“Terus dia kencan sama siapa?”
“Kamu. Ya, kamu yang akan kencan dengannnya. Aku mau kamu selesaikan apapun itu masalahnya dengan Awan. Tenang, aku gak cemburu. Aku percaya Awan. Dia sering cerita tentang kamu ke aku. Baginya, kamu itu seperti anak kecil yang butuh dilindungi.”
“Apa? dia bilang aku anak kecil? awas nanti kalo ketemu denganku.”
“Kamu datang ya malam ini, aku akan beritahu Awan.”
“Tapi, apa dia mau datang, kalo ternyata aku yang datang?”
“Pasti dia akan datang.”
“Tapi… aku…”
“Aku yakin kamu bisa.”
“Aku… aku gak bisa kayak dulu lagi.”
“Demi Awan.”
Jingga mengangguk setuju.

Malam pun tiba. Saat dimana Jingga akan datang untuk menggantikan Mentari kencan dengan Awan malam ini.
“Di mana dia?” Jingga melihat ke sekeliling restaurant untuk menemukan Awan.
“Itu dia. Tapi apa aku gak salah, datang untuk menggantikan Mentari. Apa Awan tau kalo aku yang akan datang.” Jingga sedikit ragu.
Jingga melangkah perlahan menuju Awan yang nampak seperti menanti seseorang.
“Awan..” sapa Jingga sedikit ragu.
“Kenapa lo ada di sini? gue lagi nunggu Mentari.” Beberapa menit kemudian Awan menerima pesan dari Mentari yang isinya dia tidak bisa datang pada kencan kali ini. Sebagai gantinya, Jinggalah yang akan menggantikannya.
“Gue…” Jingga bingung ingin menjawab apa.
“Ya, gue tau. Mentari yang minta lo kesini. Kenapa lo pergi? bukannya lo benci gue?” Tanya Awan menatap tajam mata Jingga.
“Gue… iya gue salah… seharusnya gue gak datang dan menggantikan Mentari. Maaf, kayaknya gue harus pulang.” Jingga berlari Karena merasa salah telah datang.
“Terserah! gue gak peduli. Silahkan pergi!” Ucap Awan sesaat setelah Jingga pergi.
“Tapi gue gak yakin, dia bisa pulang sendiri. Dia pergi ke mana?”
Awan melihat Jingga sedang duduk sendiri menundukkan kepalanya.
“Kenapa lo di sini? lo bisa sakit dengan cuaca dingin dan pakaian seperti itu.”
Awan membuka blazzernya dan memakaikannya kepada Jingga.
“Lo nangis lagi? wajar kalo gue nganggep lo anak kecil. Bahkan lo gak bisa sedikitpun nahan air mata lo. Beda sama Mentari.”
Jingga semakin terisak dalam tangisnya.
“Jingga… jingga…” Senyum Awan dan meletakkan kedua tangannya di pipi Jingga.

“Gue gak akan pernah bisa bandingin lo sama Mentari. Lo tetap Jingga. Keras kepala, tapi mudah tersentuh hatinya.” Awan tersenyum kembali sambil mengusap lembut pipi Jingga dari air matanya.
“Jujur, gue tersiksa saat lo terus berusaha menjauh dari gue. Gue ngerasa kesepian. Mungkin ini terdengar konyol. Lo… Jingga…” perkataan Awan terhenti saat menyadari Jingga yang kini sedang menatapnya juga.
“Gue suka sama lo Awan. Lo yang udah ngebuat gue jatuh cinta. Lo selalu beri perhatian lo sama gue.”
“Gue sayang sama lo. Tapi gue gak bisa suka sama lo.”
“Iya, gue tau. Tapi kenapa lo terus meluk gue? gue gak suka. Kenapa bukan Mentari?”
“hmm… jadi lo… oke, gue sering meluk lu karena gue sayang sama lo. Dan gue gak pernah sekalipun meluk Mentari.”
”Kenapa?”
“Pernah sekali gue mau meluk dia. Dan dia udah menjauh duluan. Dia gak suka kalo gue peluk dia. Atau dia akan marah sama gue. Dan yang gue takut, dia bilang putus kalo gue berani meluk dia. Gue harus gimana? gue sayang banget sama dia. Seorang lelaki akan bersikap manja dengan kekasihnya kalau udah ngerasa sangat nyaman.”
Jingga diam kembali.

“Gue meluk lo. Gue yang selalu ngusap rambut lo. Gue gak pernah lakuin semua itu sama Mentari. Gue udah nganggap lo seperti adik gue. Gue gak salahkan?”
“Gue gak tau harus jawab apa. Tapi perhatian lo itu bisa ngebuat gue jatuh cinta sama lo.”
“Seperti ini?” tiba-tiba Awan mengusap lembut rambut Jingga, memeluknya erat. Setelah melepaskan pelukkannya, Awan mencium kening Jingga perlahan.
“Awan…” Jingga tampak gugup dengan perlakuan Awan kali ini.
“Apa?” Awan tersenyum dan meletakkan tangannya dibahu Jingga untuk merangkulnya.
Jingga menggelengkan kepalanya dan membalas dengan tersenyum.
“Jangan menjauh lagi dari gue.”
Jingga tersenyum kembali.

“Gue suka kalo lo senyum gini.”
“Tapi lo gak suka gue!”
“Apa? bilang sekali lagi? gue akan cium bibir lo!”
“Awas kalo berani lakuin itu!” ucap Jingga mengepalkan tangannya dihadapan wajah Awan.
“Wah.. lo ngancam gue? gue gak takut”
Jingga menginjak kaki Awan dengan high heelsnya dan pergi menjauh dari Awan yang mungkin akan membalasnya.
“Aww.. anak kecil satu ini!” pekik Awan menahan sakit.

Sejak saat itu, semua kembali seperti semula. Antara kekasih dan seseorang yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Bagaimana bisa Awan memilihnya.

Cerpen Karangan: Ringga Beria
Blog: beriallingga.blogspot.com

Cerpen Awan Vs Jingga (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tears Of The Phoenix (Part 3)

Oleh:
Buummmm.. Gunung itu meledak memancarkan kepulan asap hitam yang tebal menjulang tinggi ke angkasa. Prilly ikut terlempar ke atas langit lalu terjatuh di antara awan-awan putih di sekitar sana.

Bumi Perkemahan (Part 1)

Oleh:
Bersaksi cinta di atas cinta Dalam alunan tasbihku ini Menerka hati yang tersembunyi Berteman di malam sunyi penuh doa Terdengar dering Hp dari kamar Wianda yang berada di lantai

Wrong Way

Oleh:
“ketika perasaan mengambil alih segalanya bersama ego lalu mengambil keputusan yang salah” Rendy Brian P.O.V Kemarin tanggal 11 November 2015 jam 11.10 WIB aku menyatakan perasaanku kepada seorang gadis

Beautiful Dusk Sky

Oleh:
Pagi ini aku masih bersahabat dengan selimut dan kasur, tak ada pelangi atau matahari yang menghiasi langit tetapi hanyalah rintikan hujan yang masih cukup deras, rintikan hujan itu terus

Khayalan Si Bungul 1 (Sebuah Nama)

Oleh:
Namaku adalah Jimmy Sujana. Aku orang yang paling terkenal di seluruh kota. Aku seorang yang tampan, baik hati, dan kaya. Tepat hari ini, aku berjalan di sebuah taman dimana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *