Bagai Bulan Dan Matahari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 26 May 2016

Banyak orang awam berpendapat jika bulan dan matahari tak akan pernah ditakdirkan untuk bertemu tapi nyatanya argumen itu terpatahkan, bukti nyatanya adalah ketika aku dipertemukan denganmu dalam satu bulatan langit.

Namaku rembulan, senja ini aku tengah beranjak untuk pulang selepas dari aktivitas rutinku menjadi mahasiswi kedokteran di salah satu universitas negeri, tak sengaja ku lihat lelaki yang sebaya denganku tengah menyeberang santai sembari bertelepon ria. Truk besar pengangkut barang yang melintas hendak saja mengenai sekujur tubuhnya. Beruntungnya aku sempat mendorong tubuh laki-laki itu dengan spontan, hingga akhirnya aku dan dia berada di pinggir trotoar. Tak sempat ucapkan apa pun dia pergi meninggalkan aku yang begitu berharap akan dirinya. Ya tak bisa ku pungkiri bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama, pada laki-laki yang entah siapa namanya. Akankah takdir berminat untuk mempertemukan aku denganmu kembali suatu hari nanti?

Di halte bus yang berada di sekitar tempat pertemuan pertamaku dengan laki-laki gagah perkasa nan rupawan itu, aku harap Tuhan berkenan untuk mengizinkan kembali dalam mempertemukan aku dan dia setiap kali aku termenung memaku di sudut penantian. Rinai hujan yang semakin deras membuatku terlena dalam fatamorgana cinta namun sayangnya khayalan semu itu harus terhenti ketika seseorang sontak membuatku terkejut.

“Hai! Sendirian saja?” Ucap seseorang yang tengah duduk di sampingku.
“Eh, hai!” Jawabku sembari anggukan kepala.
“Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Hmm.. Iya.”
“Terima kasih telah menolongku beberapa waktu lalu, maaf tak sempat berbicara padamu karena ketika itu aku tengah terburu-buru.”
“Iya sama-sama. Tak apa, aku mengerti.”
“Namaku Sunny. Siapa namamu?”
“Aku Rembulan, senang berkenalan denganmu.”
Laki-laki itu hanya menanggapi dengan anggukan dan senyuman terindah yang pernah aku lihat. Mata sayunya mampu membuatku terhipnotis akan keindahan rupanya. Membuatku terlena dan tak ingin berpaling menatap wajah rupawannya.

Makin hari aku dan Sunny semakin dekat, kami selalu menghabiskan waktu senggang bersama dengan gelak canda dan tawa. Hingga pada akhirnya aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaan terdalamku pada Sunny di sebuah cafe hari ini setelah sekian lama aku bertahan memendam hal itu seorang diri. Sunny, sosok yang bagai sang raja mentari nan gagah perkasa, cahayanya yang terang benderang mampu membuat orang di sekitarnya bersinar riang gembira.

“Sun, hmm.. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan rahasia terpendamku padamu, bahwa sejujurnya aku mencintaimu dari awal pertemuan kita. Aku tahu ini hal bodoh. Maaf aku tak mampu membendung rasa ini lagi, rasanya semua ingin meluap tepat di hari ini dan aku hanya ingin kau mengetahuinya. Itu saja.”
“Rembulan, sebelumnya aku minta maaf. Aku tak bisa menerima kenyataan itu sekarang,” Ucap Sunny sembari menggenggam erat tanganku.
“Mengapa? Karena di matamu aku hanya perempuan murahan yang tak punya harga diri di hadapan laki-laki yang baru aku kenal beberapa bulan lalu, iya kan?”
“Maaf aku harus pergi. Suatu saat akan tiba waktu yang tepat dimana kamu akan mengetahui semua alasanku,” Ucap Sunny yang perlahan melepas genggamanku dan hendak pergi meninggalkan aku yang terisak pedih.

Sunny, mengapa ketika itu kau tinggalkan aku tanpa alasan. Kau bilang aku akan tahu pada akhirnya nanti, tapi kapan? Sampai kapan aku harus menunggu waktu itu? Sekarang sudah dua tahun semenjak kejadian itu tapi aku tak pernah tahu bagaimana keadaanmu. Sunny, seseorang yang dulunya mampu menyinariku hingga membuatku berpendaran, sekarang hanyalah Sunny yang membuat sinarku redup bahkan lebih gelap sebelum aku menemukan dirimu. Sunny yang dulunya aku anggap mampu membuat orang di sekitarnya riang gembira, sekarang hanyalah Sunny yang telah membuatku terluka karena kehilangan.

Pagi ini dengan gelar statusku yang baru menjadi seorang dokter ahli syaraf, aku ditugaskan untuk mengecek kondisi salah satu pasien yang mengidap penyakit ataxia yang dideritanya selama tiga tahun terakhir. Ataxia adalah penyakit yang menyerang otak kecil dan tulang belakang yang dapat menyebabkan gangguan pada syaraf motorik. Penderita akan kehilangan kendali terhadap syaraf-syaraf motoriknya secara bertahap. Awalnya mungkin penderita hanya akan merasa lunglai saat berjalan, lalu penderita akan sering terjatuh hingga akhirnya penderita tak dapat melakukan apa pun seorang diri.

Sesampainya di Ruang rawat inap aku terkejut melihat kondisi Sunny yang tampak letih layu menemani seorang perempuan yang terbaring lemah karena mengidap penyakit ataxia. Perempuan itu bernama Pertiwi, kulit putih bersihnya menambah kesan indah dalam rupanya yang elok bak bidadari.

“Permisi!” Ucapku
“Eh.. Rembulan? Kamu…” Sunny.
“Maaf tolong ke luar sebentar, saya ingin mengecek kondisi pasien,” Potongku.

Setelah mengecek kondisi Pertiwi, ku langkahkan kaki ke luar ruang rawat inap. Pandanganku langsung terarah pada Sunny yang terduduk lesu di Ruang tunggu. Sekarang aku tahu alasannya, Sunny begitu mencintai perempuan itu, buktinya dia rela dan sanggup menunggu perempuan itu sampai kapan pun, terlihat dari wajahnya yang begitu letih dan sendu.

“Rembulan?” Panggilnya menghampiri diriku yang masih berdiri mematung.
“Ya,” Ucapku sembari mengalihkan pandangan dari wajahnya.
“Selamat atas gelar dokter yang kamu sandang sekarang, aku bangga padamu. Kau masih ingat aku kan?”
“Terima kasih. Tentu saja aku ingat.” Kau orang yang mampu membuat perasaanku porak poranda bagaimana bisa aku lupa denganmu.
“Maaf aku hilang di hadapanmu begitu saja seperti pertemuan pertama kita.”
“Tak apa. Maaf, aku harus pergi.” Aku harus pergi karena aku tak ingin kau melihat bagaimana kekecewaan yang tergambar di raut wajahku. Aku tak ingin kau melihat betapa lemah dan tak berdayanya aku lantaran hancurnya hatiku saat ini. Seseorang yang sedari dulu aku harapkan nyatanya juga sedang mengharapkan orang lain.
“Silahkan!”

Rembulan, sebenarnya aku juga mencintaimu. Melihat kebaikan dan kelembutan yang ada pada dirimu ketika awal pertemuan itu mampu membuat hatiku luluh lantah tapi aku tak bisa mengakui hal ini padamu begitu saja karena keluarga dari perempuan yang menjadi pasienmu saat ini menitipkannya padaku. Aku diharuskan tetap menjaga dan berada di sisinya lantaran menurut mereka hanya aku satu-satunya orang yang mampu membuat hidupnya lebih berarti. Kau tahu kan bahwa takdir tak akan pernah bisa kita ubah, nyatanya kita harus menerima bahwa bulan dan matahari tak akan pernah bersatu untuk selamanya, seperti kau untuk malam dan aku untuk siang. -Sunny

Tak apa kau tak membalas cintaku. Aku sadar bahwa pada akhirnya bulan dan matahari hanya ditakdirkan untuk saling bertemu dalam waktu yang singkat dan bukan ditakdirkan untuk bersatu selamanya dalam satu garis lurus cakrawala karena aku tahu hal tersebut bisa saja merugikan banyak orang. Aku akan merelakan dirimu menyinari sang bumi yang lebih membutuhkan cahaya utamamu dan mengikhlaskan kepergianmu demi kepentingan orang banyak. Aku yakin akan ada sesuatu atau seseorang yang Tuhan ciptakan untuk membuat aku lupa betapa pedihnya rasa sakit. -Rembulan

“Cinta sejati bukan sebatas hidup semati tetapi cinta sejati adalah yang mampu ikhlas merelakan orang terkasih bahagia bersama pilihannya.”

Cerpen Karangan: Andina Ilma Darmawan
Blog: andinaid.blogspot.co.id
Facebook: Andina Ilma Darmawan

Cerpen Bagai Bulan Dan Matahari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


July in Love

Oleh:
Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB dini hari saat aku terbangun dari lelapnya tidur malam ini. Suara penggorengan yang beradu dengan spatula milik abang nasi goreng saat itu yang membuat

Kertas Rahasia Untukmu

Oleh:
Tak seorang pun mau dekat-dekat dengannya karena ia dianggap aneh, si culun yang pendiam devina anida. banyak teman yang menjauhinya, hanya beberapa orang saja yang mau berkomunikasi dengannya, itu

Kau, Sajak dan CYMK RGB

Oleh:
Satu, dua kuhitung hari-hari yang akan datang. Sudah sekitar sebulan lebih hal ini terus aku lakukan. Entah, belum ada rasa bosan. Hari demi hari masih terasa menyenangkan. Masih membuatku

Semua Demi Persahabatan Kita

Oleh:
Aku Sherly dan sahabatku Dilla sudah bersahabat cukup lama, dari mulai SD hingga sekarang dan kami baru menginjak bangku SMA. Pada waktu hari pertama sekolah secara tidak sengaja Dilla

Operasi Outlone (Part 2)

Oleh:
Satu penjaga masuk. Tasim berjalan pelan ke belakang penjaga yang masih diam berdiri. Dengan stun gun, ia arahkan ke lehernya. Dia gemetar lalu pingsan. Ia seret badannya ke semak-semak.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *