Bagaikan Bumi dan Bintang Alpha Century

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 13 July 2014

Cinta, sebuah kata yang dapat bermakna ganda. Kadang cinta akan memberikanmu kebahagiaan sehingga kau dapat melupakan segala masalah, tertawa dan lepas dari beban. Namun, tak jarang cinta akan membawa petaka dan kesedihan bagimu. Tak bisa dipungkiri, rasa kecewa dan air mata akan ikut mengalir bersamaan dengan datangnya cinta. Ah, aku tak pernah mengerti cinta. Beberapa teman sebayaku telah beberapa kali jatuh cinta dan bergonta-ganti pasangan. Sementara aku masih betah sendiri. Bukan berarti aku tak menginginkan cinta. Aku ingin dan percaya akan cinta, tapi apalah artinya jika aku tak bisa bersama dengan orang yang kucintai?
Aku sudah terlanjur pasrah. Biarkan cinta sendiri yang menentukan sendiri, mau berpihak padaku ataupun tidak. Ungkapan “Jodoh Pasti Bertemu” merupakan pedoman bagiku. Jodoh pasti akan bertemu karena telah ditakdirkan. Yang jadi masalah adalah kita tidak tahu siapa dan kapan jodoh itu datang. Dalam kamus keseharianku, aku percaya setiap putri akan bertemu dengan pangerannya. Satu putri ditakdirkan dengan satu pangeran seperti cerita ala negeri dongeng yang selalu mama ceritakan padaku saat kecil. Walaupun aku tahu kadang kenyataan tidak segampang yang dipikirkan.

Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Jam dua belas siang. Berarti sudah satu jam aku duduk sendiri di pojok salah satu restoran bernama “Love”. Aku meminum jus alpukat yang telah lama aku pesan. Di restoran bergaya barat itu aku hanya duduk termenung seorang diri. Kuperhatikan seisi restoran penuh dengan pasangan yang sedang mabuk cinta atau orang-orang yang sedang asyik berbincang-bincang dengan teman mereka. Rasanya benar-benar menyedihkan! Padahal ini hari ulang tahunku dan aku telah mengundang lima teman dekatku untuk merayakan bersama. Setidaknya aku ingin ulang tahunku dapat berlangsung meriah dan romantis seperti sinetron di film-film. Dimana aku seharusnya dapat merayakan dengan teman-teman dan seorang cowok yang kusukai dapat membawa sebucket bunga mawar kesukaanku dan menembakku di hari spesialku ini. Ya, aku memang sangat pemimpi!

Aku langsung meminum jus alpukat itu dengan cepat. Aku tak peduli dengan kondisi sekitarku. Sesekali aku memainkan handphoneku untuk melihat ucapan-ucapan yang diberikan teman-temanku.
“Maaf ya Vin, gak bisa datang. Happy birthday ya,” kata seorang dari temanku.
Sekitar enam puluh orang yang memberikanku ucapan selamat ulang tahun. Dari teman dekat hingga teman sekelas. Sayangnya tak ada satu pun ucapan dari orang itu! Padahal aku sudah lama menginginkannya, ucapan ulang tahun dari seorang bernama Romeo. Aku tak akan pernah lupa akan wajah dan cara bicaranya yang khas. Belum lagi senyum lesung pipitnya itu membuatku semakin berdebar.

Pertemuanku dengan Romeo terjadi enam tahun yang lalu. Dari tahun pertama aku sudah tertarik akan sosok konyolnya itu. Oh ya, namaku Vina. Nama yang singkat dan sederhana seperti diriku. Aku masih tak percaya kalau dulu aku sangat culun. Rambutku selalu kubiarkan acak-acakan dengan potongan gaya bob tahun 80. Belum lagi kacamataku yang tebal seperti kaca spion mobil. Saat itu aku masih belum berpikir soal penampilan maupun dandan. Ibarat burung dalam sangkar. Aku dari dulu selalu dipaksa untuk berprestasi. Yang aku tahu bukanlah cara memegang alat-alat kecantikan tetapi bagaimana rumus-rumus pelajaran yang selalu kupelajari.

SMP Maratha, tempat dimana aku dan Romeo pertama kali bertemu. SMP Maratha terkenal dengan murid-murid yang elit dan berprestasi. Begitulah kesan orang ketika mendengar nama sekolah di Palembang ini. Memasuki lingkungan baru membuat bertekad baja hanya untuk berjuang meraih prestasi. Saat pertama kali aku masuk ke sekolah ini tak ada satu pun orang yang aku kenal. Aku bukan berasal dari sekolah dasar yang elit. Sekolah dasarku hanya sekolah biasa yang terletak di pinggiran Kota Palembang. Aku juga tidak kenal dengan satu pun orang dari sekolah lain. Aku terpaksa mengakui kalau dulu aku juga seorang yang kurang pergaulan dan tak punya teman.

Aku bisa mengenal Romeo karena kami tergabung di kelas yang sama. Seperti kebetulan bukan? Romeo sosok yang sangat berbeda denganku. Aku orang yang kurang pergaulan sementara itu, ia memiliki pergaulan yang sangat luas. Yang kutahu hampir setiap orang diangkatan kami yang mengenalnya. Aku selalu dipaksa untuk juara kelas sementara, ia bebas untuk melakukan apa yang ia suka. Seperti langit dan bumi. Aku dan ia berbeda seratus delapan puluh derajat. Namun saat itu aku masih percaya pasti ada kemungkinan, masih ada harapan.

“Minjam penghapusnya ya,” perkataan Romeo pertama kepadaku.
Aku pendiam, bahkan aku tak pernah berbicara yang tak perlu. Dari insiden penghapus aku tahu bahwa Romeo adalah orang pelupa. Buktinya setiap hari ia tak pernah absen meminjam penghapusku. Tapi, aku bersyukur karena penghapus ini aku bisa selalu memandangi wajahnya. Walaupun hanya sebentar.

Hari-hari pun berlalu. Aku sadar bahwa sebentar lagi aku dan Romeo tak akan sekelas lagi. Otomatis aku berencana melakukan pendekatan kilat. Aku sudah punya teman dekat, Maria dan Vena. Kami selalu bersama di sekolah. Tanggal 12 Februari 2008, di kantin sekolah aku pertama kali aku bercerita kepada Maria dan Vena kalau aku menyukai Romeo. Kebiasaanku menulis kegiatan di buku harian membuatku tak pernah lupa akan hal-hal penting dalam hidupku.
“Hah. Kamu suka sama Romeo?,” kata Maria dan Vena berbarengan.
“Iya. Pelanin dong suaranya. Aku takut ada temennya yang denger,” kataku.
Mereka langsung menutup mulut mereka dengan raut wajah tak percaya dan kaget. Aku tahu bahwa perbedaan aku dan Romeo seperti langit dan bumi sehingga menjadi wajar jika mereka seolah tak percaya.
“Hah. Kenapa bisa?,” tanya Vena.
“Gak tahu juga,” kataku sambil tersenyum.
“Tapi, hati-hati aja ya. Yang aku tahu dia play boy. Di sekitarnya banyak cewek-cewek cantik,” kata Maria.
Perkataan Maria membuatku tersadar akan mimpiku. Benar juga, di sekitarnya banyak cewek yang lebih berkilau dibandingkanku. Mereka lebih cantik, modis, dan sesuai dengan level Romeo. Sedangkan aku? Aku selalu memakai baju yang biasa. Bahkan, nyaris asal! Aku tak mengerti cara berpenampilan modis.
“Kamu harus berubah Vin. Maksudku penampilanmu lo,” Saran mereka.
“PENAMPILAN?,” teriakku dengan kaget.
“Bagaimana cara mengubah diriku yang tampak seperti Betty La Fea ini?,” kataku dalam hati.

Setelah percakapan di kantin, aku langsung pulang dengan membawa majalah-majalah remaja terbitan baru. Mendapatkan gambaran pakaian termodis sekarang, itulah keinginanku ketika membeli majalah-majalah ini. Aku langsung membuka dan membaca majalah pertama. Aku memperhatikan isi-isi majalah itu dengan penuh harap. Setiap lembar dihiasi dengan gambar perempuan cantik yang mungkin seumuran denganku. Bedanya mereka bisa tampil modis dan feminim. Sangat berbeda bukan denganku? Belum lagi model rambut mereka yang merupakan tren saat itu sedangkan aku selalu memotong rambutku dengan model bob tahun 80. Aku langsung memandangi diriku di kaca dan kubandingkan dengan sosok model di cover majalah itu. Kami tampak jauh.
“Model ini selevel dengan Romeo. Ya, aku harus menjadi seperti model itu,” kataku dengan tekad bulat saat itu.
“Seorang pangeran hanya akan melirik putri yang cantik,” lanjutku sambil melihat poster princess yang terpajang di dinding kamar.

Beberapa hari kemudian. Aku menunggu paketku datang di teras rumah rumah. Seorang kurir dari jasa ekspedisi tiba di rumahku. Ya, paket itu berisi alat-alat kecantikan yang telah kupesan dari salah satu toko online. Aku langsung menghampiri kurir tersebut dan mengambil paketku. Akhirnya, perjuanganku untuk menjadi cantik dapat dimulai. Aku membuka paket itu dengan tak sabar. Saat itu yang aku pikirkan hanya bagaimana secepat mungkin menggunakan alat-alat kecantikan itu.

Paket itu terbuka. Aku langsung mengeluarkan isi-isi yang ada dalam paket itu. Ada lotion untuk memutihkan kulit, sabun untuk kulit bersih dan obat untuk menguruskan badan. Sesuai keinginanku! Aku membawa barang-barang itu masuk diam-diam ke kamarku, tak ingin mamaku tahu kalau aku membeli barang-barang itu. Apalagi, kalau alasannya adalah karena cowok. Aku pasti jadi tertawaan habis-habisan oleh seluruh anggota keluargaku.

Aku membaca petunjuk pemakaian obat pengurus badan itu dengan serius.
“Semoga obat ini dapat mengecilkan pipi tembemku ini,” harapanku.
Kemudian aku meminum obat pengurus itu. Rasanya sangat pahit seperti jamu. Belum lagi baunya sangat menyengat. Aku sangat menderita, pikirku saat meminum obat pahit itu. Akhirnya, obat itu baru dapat kuhabiskan setelah berjuang selama dua puluh menit. Peribahasa “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” membesarkan hatiku. Bayangan Romeo membuatku tak mengeluh lagi.

Efek obat itu benar-benar luas biasa! Dua puluh menit setelah meminum obat itu aku langsung bolak-balik ke kamar mandi. Aku pun menjadi tak nafsu makan. Kebiasaan memakan makanan dua porsiku berkurang menjadi setengah porsi. Bahkan untuk makanan seafood kesukaanku pun tak kuhabiskan seorang diri seperti kebiasaanku.
“Kalau gini aku bisa turun dua sampai tiga kilo dalam seminggu!,” kataku girang dalam hati.

Perubahan pola dan cara makananku membuat mama dan papa sempat heran. Lucunya pada saat itu mama dan papa mengira aku sedang sakit sehingga tak nafsu makan. Mereka bahkan memasakkan hidangan-hidangan kesukaanku setiap hari. Namun, tekadku sangat bulat saat itu. Aku ingin kurus! Ya, hanya dengan kurus aku bisa menjadi cantik seperti putri-putri negeri dongeng.

Hari itu, tanggal 2 Mei 2008. Aku meminjam timbangan di ruangan kesehatanku. Beratku tinggal empat puluh lima kilogram! Berarti aku telah menurunkan lima belas kilo dari berat awalku selama satu bulan. Aku sangat senang saat itu.
“Turun lima belas kilo,” kataku girang pada dua sahabatku, Maria dan Vena.
Kedua sahabatku ikut girang. Perjuanganku ternyata tidak sia-sia. Pipiku mulai terlihat tirus, badanku juga terlihat lebih ideal. Setelah itu kami bertiga kembali dengan kelas. Di depan pintu aku melihat Romeo bersama dengan seorang cewek.
“Itu namanya Arin,” bisik Vena padaku.
Arin dan Romeo terlihat akrab. Beberapa kali kulihat Arin memegang tangan Romeo tanpa sungkan. Romeo juga tak canggung merangkul Arin dengan hangat. Gerak-gerik mereka memperlihatkan bahwa mereka tak sekedar teman. Aku cukup peka untuk mengetahuinya. Maria dan Vena mengajakku ke toilet. Aku tahu maksud mereka sebenarnya, mereka hanya tak ingin aku melihat pemandangan itu lama-lama. Kami bertiga pergi ke toilet.

Sesampainya di toilet, tiba-tiba aku menangis. Aku memang tidak bisa membohongi hatiku kalau aku terluka. Aku tak akan bisa lupa tanggal 2 Mei 2008. Ungkapan cinta memiliki dua sisi mulai terbukti bagiku, orang yang baru pertama kali mengenal cinta. Maria dan Vena mencoba menghiburku. Saat itu aku hanya berpikir menangis akan menyelesaikan masalah. Setidaknya biarkan aku menangis untuk menutup luka di hatiku

Sesampai di rumah aku terus mengurung diri dalam kamar. Tak ada keinginan sekalipun untuk keluar dari kamar. Bisa dibayangkan bukan bagaimana perasaanku saat itu? Aku belum dewasa dalam cinta dan tengah patah hati. Saat itu aku hanya tahu menangis. Bahkan, aku tak membaca buku seperti kebiasaanku setiap hari. Aku jadi orang yang sangat melankolis dan cengeng. Bahkan makanan hanya kusentuh sedikit. Mama dan Papa sangat mencemaskan keadaanku. Mereka terus memperingatiku untuk makan, walaupun hanya sedikit. Namun, sifatku yang keras kepala memang sulit untuk terpatahkan.

Aku tak tahu bahwa dengan bertindak bodoh seperti itu akan mendatangkan bencana untukku. Benar-benar tidak tahu, sampai aku dilarikan ke rumah sakit. Tanggal 9 Mei 2008, dokter menvonisku menderita penyakit maag akut. Aku pun terpaksa dirawat di rumah sakit selama seminggu penuh. Setelah menjalani rawat inap aku juga tetap harus dirawat jalan demi mempercepat kesembuhan lambungku. Menghabiskan jutaan rupiah karena alasan cinta, membuatku tampak seorang yang bodoh bukan? Tapi, itulah kenyataannya. Cinta dapat membuat orang menjadi berubah seratus delapan puluh derajat.

Beberapa hari kemudian, aku mengikuti ujian semester. Momentum itu kugunakan untuk selalu belajar dan mencoba menghadapi kenyataan. Setelah seminggu ujian, aku menghabiskan waktu liburan di Pagar Alam. Pagar Alam terkenal akan kondisi alamnya yang indah dan sejuk. Saat itu, aku hanya ingin untuk melakukan refreshing dan sejenak melupakan akan Romeo. Walaupun, aku tak yakin aku dapat melakukannya.

“Mbak..,” kata seorang pelayan kepadaku.
Aku tersadar dari lamunanku. Ternyata sudah jam satu siang. Astaga, aku baru tersadar kalau aku menghabiskan waktu satu jam hanya untuk mengingat masa laluku itu. Aku langsung cepat-cepat mengambil tas selempang berwarna merahku dan hendak membayar. Aku lalu berjalan ke tempat sebuah kasir. Di sampingku, ada laki-laki yang juga sedang membayar. Ah, itu Romeo! Aku tak tahu harus berbuat apa. Memanggilnya atau tidak? Setelah kami sekelas di tahun pertama sekolah menengah pertama, kami tak pernah sekelas lagi sampai sekarang. Walaupun kami masuk di SMA yang sama aku bahkan nyaris tak pernah bertegur sapa lagi dengannya.
Di tengah pergulatan batin itu, aku mencoba untuk menuruti kata hatiku untuk menyapanya.
“Rom.. Romeo,” kataku dengan suara pelan.
Dia menoleh dan tersenyum padaku. Aku tak tahu apakah ia sudah lupa atau tidak masa-masa ketika sekelas denganku. Setelah selesai membayar, ia pun pergi. Aku tahu bahwa aku tak ada lagi harapan, tapi mengapa aku masih berharap?
“Dua puluh dua ribu rupiah,” kata petugas kasir.
Aku lalu mengeluarkan lembaran uang dari dompetku. Kemudian aku langsung pergi dan ingin pulang. Dalam perjalananku ke tempat parkiran, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku. Dan aku tak percaya! Ternyata, yang memanggilku itu Romeo.
“Mau jalan bareng?,” katanya kepadaku.
Aku pun menyetujui.

Kami berdua berjalan-jalan di mall seperti layaknya pasangan kekasih yang tengah dimabuk asmara. Menghabiskan waktu bersama dengan orang yang disukai, kadang terasa cepat. Aku merasa hanya berputar-putar dan bermain sebentar. Namun, jam di pergelangan tanganku sudah berada di angka lima.
“Aku pulang dulu ya,” kataku padanya.
Dia menemaniku ke tempat parkir. Dalam perjalanan tiba-tiba terjadi keheningan di antara kami.
“Selamat ulang tahun ya,” kata Romeo kepadaku.
“Makasih,” kataku sambil tersenyum.
Tiba-tiba ia menyerahkan sebuah bingkisan kado kepadaku. Ia memintaku untuk membukanya. Setelah kubuka, ternyata isinya sebuah boneka beruang berwarna pink dengan simbol hati. Pada simbol hati itu tertulis “ I Love You”. Aku sedikit besar kepala, tapi aku dibuat tersadar. Aku yang sekarang masih belum ada apa-apanya dibandingkan sosok Arin.
“Boneka lucu.. ini buat aku?,” tanyaku padanya.
“Iya. Sekalian aku mau ngomong kalau aku juga cinta kamu,” katanya sambil tersipu.
“Hah, apa?,” kataku seolah tak percaya.
“Aku cinta kamu sejak enam tahun lalu,” katanya kepadaku.
“Hah? Bukannya dulu kamu jadian sama Arin?,” tanyaku padanya.
“Arin? Dia itu sepupuku tahu,” katanya sambil tertawa.
Aku ikut tertawa. Ternyata dulu yang membuatku sakit dan patah hati hanyalah kesalahpahaman. Dulu, aku sendiri yang tak mencoba untuk memastikan. Sejak kejadian itu aku mencoba terus menghindar dari Romeo. Bahkan, aku tak berani lagi menatapnya.
“Jadi apa jawabannya? Kamu mau jadi pacarku?,” tanyanya padaku.
Aku tersenyum geli. Enam tahun yang lalu berarti saat itu aku masih menjadi seperti Betty La Fea. Tapi tunggu, bagaimana bisa? Saat itu aku bahkan merasa kalau kami seperti langit dan bumi.
“Enam tahun yang lalu berarti saat itu aku masih culun banget ya,” kataku padanya.
Dia mengangguk dan tersenyum. Aku juga semakin geli melihatnya.
“Aku juga suka sama kamu sejak enam tahun lalu,” kataku kepadanya.
Kami tertawa bersamaan ketika menyadari perasaan kami satu sama lain. Apa yang menurutku jauh tetapi kenyataannya sangat dekat. Aku pun teringat akan buku astronomi yang baru kubaca semalam. Sebuah buku yang menerangkan akan Alpha Century. Alpha Century, bintang yang paling dekat dengan bumi. Kita merasa alpha century sangat jauh karena kita tak pernah merasa pernah menjangkaunya. Tetapi, pada kenyataannya bintang itu sangat dekat dan selalu dapat terlihat pada malam hari.
“Jadi apa jawabannya?,” tanya Romeo lagi kepadaku.
“Bukan lagi langit dan bumi,” kataku.
“Hah?,” tanya Romeo kebingungan.
“Tapi sekarang jadi bagaikan bumi dan bintang alpha century,” kataku.
“Aku mau menjadi pacarmu,” kataku sambil tersenyum.

Penantian selama enam tahun berujung manis. Akhirnya, aku dapat menemukan pangeran yang kuinginkan. Walaupun mengalami perjuangan dan membutuhkan waktu yang lama, tetapi lebih menyenangkan daripada tidak sama sekali. Sama seperti cerita dongeng kebanyakan, aku berharap aku dan Romeo dapat hidup bahagia selamanya.

Cerpen Karangan: Gisella
Facebook: https://www.facebook.com/gisella.liati
Penulis bernama lengkap Gisella Liati. Ia lahir di Palembang tanggal 19 Desember 1996. Saat ini penulis merupakan pelajar di SMA Xaverius 1 Palembang. Cerpen “Bagaikan Bumi dan Alpha Century” ini merupakan cerpen pertama bagi penulis. Alamat penulis berada di Komp. Sukarami Indah Blok C2 No 40 Palembang. Penulis dapat dihubungi dengan twitter @gisella_liati, email: gisellaliati[-at-]ymail.com . Terimakasih.

Cerpen Bagaikan Bumi dan Bintang Alpha Century merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Cinta ku

Oleh:
Berawal dari seorang wanita yang lugu, polos dan belum pernah mengenal apa itu cinta Gina bisa wanita itu disapa. gina wanita yang cantik itu mnurut ku, muslimah, baik dan

Cinta Yang Salah

Oleh:
Namaku Indah, usiaku 17 tahun.. umur yang kata orang dimana seorang remaja mengenal cinta. AKu duduk di bangku SMA tepatnya lagi kelas dua, tapi anehnya aku mencintai cowok yang

ich Liebe Zahra

Oleh:
“Kau suka padanya?” tanya Reizh membuyarkan anganku. “Tidak!” “Tapi, kenapa kau menatapnya begitu dalam…” “Ah, perasaanmu saja….” “Benarkah?” Reizh meledekku. “Tapi, sepertinya dia juga suka padamu.” Lanjut Reizh tersenyum.

Penantian Yang Sia Sia

Oleh:
Entah kenapa, sampai saat ini aku masih saja menunggunya di tepi sungai ini. Di tepi sungai yang penuh dengan cerita cintaku dengannya. Saat aku berdiri berdua juga bermain berdua

Serangkai Kisah

Oleh:
“Sahabat itu identik dengan mereka yang sesama jenis, sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa akan sangat susah jika laki-laki dan perempuan murni hanya sebatas bersahabat tanpa melibatkan hati di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *