Bahagiaku Bertaruh Nyawa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 12 June 2019

Nizdhan, mahasiswa hukum di salah satu universitas negeri terbesar di Makassar, selain itu saya juga hobi bermain game online di ponsel ataupun di komputer.

Juli 2016, Saat itu sedang libur semester, saya pulang ke daerah asal kira-kira tiga jam perjalanan dari Makassar kalau menggunakan sepeda motor. saya mempunyai banyak waktu luang untuk bermain game. Kebetulan juga baru dirilis game android Pokemon Go yang banyak diminati orang. Saya penasaran dengan gamenya dan mencoba bermain juga. Ternyata saya juga suka karena dulunya saya penggemar film anime pokemon saat masih kecil. Keliling kota naik motor sampai ke daerah gunung hanya untuk mencari pokemon.

Pokemon Go.. yah game yang sangat saya suka dulu sekaligus yang mengubah hidup saya sampe seperti sekarang. Dari yang sangat damai penuh canda seketika berubah menjadi sangat kacau dengan konflik perasaan. Bahagiaku hilang hidupku berantakan setiap hari menjalani hidup penuh drama dengan topeng bahagia yang selalu saya pakai saat keluar dari kamar agar semua terlihat baik-baik saja. Dengan kehidupan begini seringkali saya ingin mengakhiri hidup. Tidak pernah terpikirkan saya akan menjalani kehidupan sekejam ini.

Game yang mengandalkan komunitas ini sudah pasti akan dibentuk group chat room. Yah, awalnya biasa saja chatingan, kenalan sesama pemain, bercanda, tentukan tempat dan waktu untuk ngumpul. Seiring waktu semakin ramai orang yang bergabung di group chat. Anggota yang ada saling mengundang temannya yang bermain game ini untuk bergabung. Di situ saya kenalan dengan seorang cewek sebut saja Rika, saya memang orangnya ramah dan baik ke semua orang dan mudah berkenalan. Semakin lama semakin dekat.

Satu hari saya ajak Rika pergi tangkap pokemon bersama “yuk ke pantai, cafe tempat anak anak ngumpul”, kataku di chat BBM. “Tidak bisa, saya lagi sakit”, jawabnya. “Sakit apa?” Tanyaku lagi. “Demam, flu, batuk, bisa minta tolong belikan obat trus bawa ke rumah?” Kata rika. “Ok, tunggu saya langsung ke sana”. Jawabku dengan terburu-buru ambil kunci mobil lalu ke apotik, sambil di jalan bertanya alamat rumahnya di mana.

Sampai di depan rumahnya dia sudah menunggu di teras bersama temannya yang kebetulan menginap di sana. “Nih obatnya”. Sambil kujulurkan tangan ke dalam selah pagarnya karena sudah terkunci. “Oh iya, makasih, nih kenalin temanku, dia main pokemon juga”, jawabnya sambil menyuruh bersalaman. “Nizdhan…”, “sevti” jawabnya dengan senyum. Di sinilah awal berubahnya kehidupanku semenjak kenal dia karena tidak tau dari mana, kenapa, tiba-tiba saat itu juga muncul perasaanku yang suka ke Sevti. Dia juga biasa disebut Ndeng, panggilan akrabnya, seorang mahasiswi ilmu pemerintahan di kampus yang berbeda dengan saya tetapi tetap di kota yang sama. Tidak lama saya langsung pamit.

Besok magribnya Ndeng chat saya minta diantar pulang ke rumahnya karena jam itu sudah tidak ada angkot. Ok, saya antar dia pulang. Karena baru kenal mungkin masih malu, dalam mobil di perjalanan dia diam saja mendengarkan saya dan Rika bicara. Saya ajak Ndeng cerita ternyata orangnya lucu, nyambung, dan mudah akrab juga. Sampai di rumahnya tanpa turun dari mobil saya langsung pamit karena sudah malam dan lumayan jauh dari kota. Lalu saya antar Rika juga kembali ke rumahnya, setelah itu saya langsung pulang juga. Malam itu, di chat, saya bilang ke Ndeng kalo saya suka dia dan hasilnya ditolak. Ok, karena memang suka dia, saya tetap berusaha perjuangkan.

Suatu hari Ndeng keluar kota menjenguk ibunya yang sedang sakit dan berobat di sana sekalian berlibur karena memang sedang libur semester. Selang Beberapa hari di sana, “Ndeng, saya sayang sama kamu”, saya katakan lagi perasaanku ke dia tetap masih di tolak. “Saya sudah punya pacar dari dulu walaupun sekarang memang sudah jarang komunikasi tapi belum ada kata putus”, katanya. Ok saya mundur.

Semakin hari bukannya melupakan Ndeng, perasaanku masih tetap sayang ke dia bahkan semakin bertambah. Saya semakin kacau karena saya sangat sayang dia tetapi tidak bisa menerima perasaanku.

Satu Minggu kemudian saya mengetahui kabar Ndeng benar putus dengan pacarnya. Dan lagi karena masih mempunyai perasaan yang sama saya nyatakan cinta lagi ke dia, tetapi masih ditolak. “Mau fokus jaga mama yang sakit, sama selesaikan kuliah” kata Ndeng. Saya sudah pasrah, saya menyerah, saya lupakan pokemon Go, saya menyesal pernah main game itu karena dari situ saya berkenalan dengan Ndeng dan mendapat perasaan sakit hati kecewa begini.

Sambil tetap memiliki perasaan sayang ke Ndeng, saya kembali fokus ke kuliah, masuk semester penentuku gagal atau lulus. Saya kembali ke Makassar. Di sini saya tinggal di kost, Ndeng juga begitu, kostnya tidak jauh dari tempatku. Setiap hari masih chat sama Ndeng, kadang bercanda, kadang serius juga membahas perasaanku, sesekali kukirimi dia pulsa dan uang buat makan, dan untuk ulang tahunnya saya memberi kado boneka Doraemon besar, dia sangat suka dan senang. Saya juga bahagia karena bisa membuat dia bahagia.

Bertepatan masuk Minggu final, saya yang sangat sayang setiap hari berharap bisa diterima tiba-tiba tau Ndeng punya pacar dengan melihat di status BBMnya dan itu bukan saya. “itu siapa? Pacar kamu?”, Tanyaku di chat dengan cemas. Dan ternyata benar. “Iya, namanya juga perasaan tidak bisa dipaksakan”, balasannya dengan anggapan biasa-biasa saja tanpa memperdulikan perasaanku dia skip hati saya yang begitu mencintai dan menjaganya selama ini untuk orang lain. Hancur sudah saya, semua sudah tidak beres, benar-benar kacau, saya mengurung diri di kamar, tidak pernah masuk kampus, final tes tidak hadir, Gagal kuliah, Dan sudah berpikir untuk mati karena sudah Hancur semua dan tidak ada lagi harapanku. Sebotol obat nyamuk cair sudah saya genggam di dalam kamar kost untuk diminun mengakhiri semua. Malam itu tutup botol sudah saya buka, tiba-tiba mamaku menelepon “nak, final sudah selesai? Kapan pulang?”, Katanya dalam telfon. “Iya sudah selesai, Besok lusa mungkin pulang”, jawabanku. Setelah menelepon, saya kembali terdiam kemudian menutup lagi botol obat nyamuk itu dan membatalkan untuk mengakhiri hidup. Saya kasihan dengar suara mama yang berharap anaknya pulang ke kampung.

Desember 2016, libur semester, saya pulang lagi ke kampung dan Mulailah topeng saya pakai untuk menutupi diriku yang sebenarnya dari orang-orang terdekat di kampung dan hidup dengan penuh kebohongan, selalu ceria, penuh canda membuat ketawa dengan tingkah lucu yang sering saya lakukan, seolah semua baik-baik saja karena itu harus saya lakukan demi teman-teman yang menjadikan saya orang terpenting saat berkumpul. Tanpa saya, tidak ada satupun rencana bepergian atau liburan yang akan terwujud. Kumpul bersama juga kalo saya tidak ada pasti akan cepat bubar kerumah masing-masing. Jadi ok, saya lakukan, menutupi kesedihan demi kebahagiaan teman-teman saya. Di rumah selalu bertingkah biasa-biasa saja seolah tidak ada yang terjadi. Barulah saya melepas semua topeng saat berada di dalam kamar dan kembali ke kesedihan, menanggung sendiri semuanya tanpa ada yang tau, saya tidak ingin dikasihani, ditertawakan, dihakimi dengan apa yang ku perbuat dan kualami. Saya pikir lebih baik diam. Satu-satunya orang yang tau kehidupanku adalah Ndeng, itu juga tidak semua kuceritakan. Hanya kesedihan yang kuberi tahu kepadanya. Saya tetap masih berkomunikasi dengan dia meskipun ini semua karena dia tetapi saya masih tetap sayang dan bahagia saat dia ada di dekat ku. Saya bertahan karena Ndeng tidak meninggalkanku, saya selalu hawatir tentang dirinya jadi kupikir kalau saya mengakhiri hidup, siapa yang bisa menjaganya, menolong saat kesusahan, saat membutuhkan. Hanya saya yang selalu dia cari disaat seperti itu. itu yang ada dalam pikiranku.

Selang waktu berlalu kami sering bertengkar karena Ndeng juga sudah mulai bosan dan ilfil melihat kelakuanku yang selalu mengemis-ngemis cinta kepadanya, mengganggunya dengan sering menelepon berkali-kali karena tidak dijawab atau chat yang selalu saya kirim terus (spam) karena dia sering mengabaikan saya, tidak pedulikan saya yang selalu ada untuk dia. Saya hanya ingin dia selalu ada menemani saya karena hatiku bahagia saat dia ada atau saat bisa mendengar suaranya. Lama mengalami perlakuan yang seperti itu, saya mulai capek, harga diriku sudah tidak ada, dan sangat kecewa tidak dihargai. Saya berpikir keras ingin melupakan, semua akun medsos yang berteman saya hapus, sampai blokir agar tidak lagi melihat dia, tetapi hatiku tidak bisa, hatiku tetap ingin bersama Ndeng. Walaupun sudah tidak berteman, Saya masih selalu mencarinya untuk sekedar cari tahu kabarnya, apakah dia baik-baik saja atau tidak?. Saya selalu peduli padanya, yah, hatiku memang sudah terlalu sayang kepadanya. Sholat tengah malam yang terakhir kali kulakukan saat berdoa memohon kesembuhan bapak 8 tahun lalu kembali kulakukan untuk memohon hatinya terbuka bisa menerimaku, juga berdoa untuk dia tetap dibawah lindungan Tuhan, selalu terjaga dan baik-baik saja. Setiap hari kulakukan dalam sebulan lebih. Tetapi tidak ada yang terjadi. saya mulai menyerah, pasrah dengan kenyataan tidak bisa bersama Ndeng

Setelah satu bulan di 2017. Saya memulai lagi semua. Memperbaiki hubungan dengan Ndeng. Satu persatu akun medsosnya saya invite lagi. Di BBM ternyata dia menerima lagi. Hatiku bahagia saat dia kembali lagi, bisa menghubunginya lagi. Seperti biasa dia juga yang memang orangnya baik, kami langsung lagi kembali akrab. Saat itu saya tahu kalo dia sudah tidak bersama lagi pacarnya tetapi saya tidak pernah membahasnya. Yang kulakukan hanya melanjutkan lagi perjuanganku untuk mendapatkan hatinya. yah, perasaanku masih tetap sayang ke Ndeng. Saya juga tidak mengerti, kenapa saya masih tetap sayang ke dia padahal berkali-kali sudah membuatku kecewa dan sakit hati.

Saya tidak lagi kembali ke Makassar karena terkena penyakit maag yang parah sampai dokter bilang harus dirawat di rumah sakit. Tapi saya tidak mau dan berusaha meyakinkan bahwa saya baik-baik saja. Dan itu berhasil. Saya tinggal istirahat di kampung.

Dua Minggu sebelum masuk bulan puasa Setelah mulai sembuh saya pergi ke Bulukumba beli kalung untuk dia. Yah, namanya juga dia tidak pernah bisa terima saya, selalu mengabaikan perasaan dan usahaku lalu memilih orang lain tanpa peduli sama sekali. Ternyata Ndeng punya pacar lagi dan itu polisi. Saat itu saya pasrah. Orang seperti saya yang jelek tidak ada yang bisa di banggakan, mana mungkin bisa bersaing sama polisi. Tetap saya mengemis-ngemis, “kenapa Ndeng? Kenapa tidak bisa lihat perasaanku, saya selalu berusaha mati-matian bahagiakan setahun inu, kenapa tidak pernah sedikitpun hati Ndeng terbuka untukku?”. Jawaban dari Ndeng tetap sama. “Namanya juga perasaan”. Ok. Saya pasrah, saya menjauh dari dia, saya blokir semua sosmed. Bukan untuk meninggalkan dia. Tetapi supaya saya tidak melihat apapun itu postingan dia bersama pacarnya. Soal kalung saya tetap kasi, bawakan ke rumahnya dan titip ke adiknya.

Saat itu saya terpuruk lagi, semangat hidup hilang, makan sambil menangis, setiap jam 2 malam sampe subuh saya keluar rumah bawa mobil tanpa tujuan. Kadang di pelabuhan, pantai Marina, pantai seruni. Pokoknya yang sepi untuk berteriak dan menangis, kadang terlintas untuk mengakhiri hidup lagi. Saya cari cara agar mati tetapi orangtua saya tidak malu. Saya tidak bisa gantung diri atau minum racun. Karena itu akan membuat malu keluarga saya. Jadi saya cari jalan lain yaitu pake penyakit Maag kemarin. Saya buat kambuh. Bertepatan bulan puasa Maag saya kambuh lagi, setiap habis makan sahur itu juga hanya sedikit pasti muntah. Kebanyakan setiap hari selama bulan puasa saya muntah darah, Buang air besar juga darah tanpa ada yang tau. Kupikir sedikit lagi saya bisa mati wajar. Ternyata gagal Dan masih hidup sampai sekarang. Saya tidak tau apa rencana Tuhan. Bahagia sudah tidak pernah ku rasakan, hanya perasaan sakit hati yang ada, dan Tuhan juga tidak pernah menghilangkan perasaan sayangku ke Ndeng, tidak juga mau bukakan hati Ndeng untuk bisa menerima saya. Jadi Tuhan maunya apa?

Beberapa Minggu setelah lebaran saya dapat kabar Ndeng putus lagi dengan pacarnya. Bodohnya saya kembali menghubunginya. Saya pikir kalo bukan saya siapa lagi yang bisa jaga dia, perhatikan dia, sayang dia, orangtuanya jauh hidupnya bagaimana. Tidak mungkin saya bisa lihat dia kesusahan sendiri. Kadang lagi saya beri uang buat makan, buat belanja, buat dipegang sekedar isi kantong. Karena saya selalu ingat kata mama saya “Nak. bilang kalo tidak ada uang. Tidak baik kalau kantong kosong tidak ada apa-apa terus kau tidak di rumah”, kata mamaku. Itu juga selalu kulakukan untuk Ndeng karena memang perasaan sayangku masih sama seperti pertama kali saya jatuh hati padanya. Saya selalu anggap dia orang paling berharga di hidupku karena memang kenyataan begitu.

Kemudian saya coba lagi menyatakan cinta ke Ndeng, saya siapkan semua. Saya buat box yang berisi foto-foto Ndeng dan di tengahnya saya simpan cincin untuk dia. Yah, mungkin kali ini sudah mulai bisa terima walaupun sedikit. Dia hanya bilang minta waktu dulu untuk berfikir. Tapi entahlah saya tidak berharap banyak. Saya tidak mau memaksa dia untuk terima saya. Dan sampai sekarang 28 Agustus 2017 belum ada kata dari Ndeng untuk terima perasaan saya.

– 27 Agustus 2017

Malam Minggu, entah kenapa setelah kemarinnya semua baik-baik saja saya bahagiakan dia 2 hari. Senang bisa melihat senyumnya bisa bersama dia di dalam mobil sambil pegang tangan dan rambutnya. Kemarin baru kurasakan lagi bahagia, ternyata bahagiaku ada sama Ndeng. Tetapi semua sudah berubah lagi, telepon tidak diangkat, chat juga tidak dibalas, yah mungkin dia sedang bahagia dengan orang lain sampai bisa lupakan saya, abaikan saya. Saya hanya bisa bersabar melihat orang yang kusayang memperlakukan saya begini. Saya tau kuotanya mungkin tidak ada. Saya juga takut menelepon karena mungkin tidak di angkat. Dia juga tidak pernah cari saya SMS atau CM di nomorku seperti biasa kalau tidak punya kuota.

– 28 Agustus 2017

Jam 3 pagi… Di pantai lagi, menenangkan pikiran yang selalu tentang Ndeng, sdh 2 hari tidak ada kabar ke saya. Mungkin dia abaikan saya tapi saya rindu.

Akhirnya saya menyerah, pasrah dan menyerahkan semua kepada Tuhan. Tuhan tau perjuanganku, usahaku seberapa keras untuk kebahagiaan ku yang ada pada Ndeng. Biarlah saya hidup dengan kesedihan. Saya tidak bisa memaksakan kehendak, memaksakan hati Ndeng untuk menerima saya. Waktu akan menjawab semua. Saya berharap dan selalu berdoa Ndeng bisa membuka hatinya untuk saya, memberi saya kesempatan bahagia bersamanya.

Kalaupun akhirnya Tuhan tidak membukakan hati Ndeng untukku. Saya akan menyerah untuk hidup yang penuh kesedihan dan sakitnya perasaan ini. Saya hanya berdoa kepada Tuhan “lindungi ndeng, titip dia, beri terus kebahagiaan, jangan ada yang sakiti dia. Jaga selalu Ndeng”. Karena saya mungkin sampai di akhir hidupku tetap sayang kepada Ndeng. Saya yakin juga dia tidak akan lagi bertemu dengan hati yang menyayanginya setulus hatiku.

Cerpen Karangan: Nizdhan
Blog / Facebook: Nishpu Ramadhan

Cerpen Bahagiaku Bertaruh Nyawa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Key of The Black Sphere

Oleh:
“Demon mulai membanjiri Black Sphere. Mereka memerangi kaum kami. Cresill. Kaum berdarah campuran. Aku dan Jeremy berhasil keluar dari sana demi melakukan serangan dari luar agar dunia kami tetap

Dokter Cinta Dan Idolaku

Oleh:
Di bawah rintik hujan malam itu Nina pergi meninggalkan fahmi. Fahmi hanya bisa menatap kepergian Nina. Sesekali Nina melihat ke belakang dan dilihatnya Fahmi yang menatap kepergian Nina tanpa

Si Buruk Rupa Mencari Cinta (Part 1)

Oleh:
Doni adalah laki-laki yang memiliki wajah yang biasa-biasa saja dia sudah sering menerima penolakkan dari wanita yang dia sukai. Tapi, dia tidak pantang menyerah. Dia terus berusaha mencari pasangan,

Dihantui Oleh Sahabatku

Oleh:
Aku membuka BBM (Blackberry Messenger) dan langsung membuka kontak Sally, teman perempuanku yang kusukai diam-diam. Aku ingin menyatakan cintaku kepadanya dan aku meminta dia menjadi pacarku. Soalnya, sudah lama

First Love First Hurt

Oleh:
Jam masih menunjukkan pukul 4:30 pagi, dengan malas ku buka mataku yang masih belum ingin beranjak dari mimpi-mimpi indah, tanganku segera meraba-raba mencari handphone yang sepertinya tidak ku pindahkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *