Bancinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 1 July 2017

Aku segera membuka kunci kamar kosku dan segera berbaring di tempat tidurku, hari ini adalah hari yang melelahkan setelah seharian aku dan teman teman baruku mengikuti kegiatan ospek, setelah semalaman aku mengerjakan tugas-tugas ospek yang susah dan menumpuk belum lagi tadi masih dibentak-bentak oleh kakak senior karena kesalahan yang menurutku sepele, sudah menjadi tradisi kalau ospek itu selalu dibentak-bentak bahkan sampai dipukul oleh kakak senior tapi untungnya sekarang pemerintah melarangnya, ya walaupun masih ada adegan membentaki maba dengan alasan kedisiplinan.

Aku berbaring namun tidak bisa tertidur, aku masih terpikir oleh seorang kakak senior yang menolongku mengambilkan tugas ospekku tadi, kakak itu adalah kakak senior yang paling baik, ia adalah kakak panitia ospek favoritku, aku belum mengetahui namanya tapi aku hapal betul bagaimana ciri-ciri kakak baik itu mulai dari ujung rambut sampai ujung kakinya, karena sewaktu ospek aku benar-benar memperhatikannya

Setelah tiga hari ospek, ini adalah hari pertamaku masuk kuliah, aku berangkat satu jam lebih awal sebelum kelas dimulai (biasalah maba hahaha).
“namanya siapa dek?” tanya seseorang yang mebuatku kaget dan refleks membuatku langsung menoleh, tidak disangka ternyata yang menyapaku adalah kakak senior yang baik dan ganteng itu.
“Saya Aliyah Savitri kak, dipanggil Liya boleh dipanggil Fitri juga boleh, kakak sendiri namanya siapa?” tanyaku kembali, dan ini kesempatanku mengetahui siapa nama kakak ganteng itu.
“Saya Ivan Saputra, biasa dipanggil kak Ivan, dek Liya mengambil jurusan apa?”
“Saya dari jurusan Matematika kak, prodi pendidikan matematika, kak Ivan sendiri dari jurusan apa dan semester berapa?”
“kebutulan jurusan kita sama dek, sekarang kakak semester lima, saran saya untuk dek Liya lebih banyak berlatih soal-soal ya dek”
“Siap kak, terima kasih atas sarannya”
Tak terasa aku telah tiba di kampus, dengan suasana serba baru, teman baru, tempat baru dan semuanya baru, dengan perasaan senang karena tadi pagi bertemu dengan kakak senior idaman.

Setelah dua minggu kuliah aku mulai merasa ada kesulitan dengan beberapa mata kuliahku, aku berusaha mencari buku referensi untuk tambahan belajarku, aku mencari buku yang bebahasa indonesia karena semua dosen memberikan e-book berbahasa inggris.
Aku berjalan sendiri menuju perpustakaan universitas yang kebetulan tidak terlalu jauh dengan fakultasku. ”Sudah nggak terlalu paham sama materinya, bahasanya pake bahasa inggris lagi, gimana aku mau nyambung coba pas pelajaran? sialan!” umpatku kesal sembari berjalan menuju perpustakaan.

Sesampainya di perpustakaan aku mulai mencari-cari buku yang sesuai dengan mata kuliahku ditambah harus yang berbahasa indonesia, nyarinya susah banget, pas aku lagi asyik nyari buku tiba-tiba ada seseorang yang menyapaku.
“Lagi cari buku apa dek, Liya?” tanya kak Ivan yang mengagetkanku
“Ini kak, lagi cari buku tentang trigonometri, soalnya agak susah nyambung pas dikasih materi”
“Lah, ini dek banyak buku yang judulnya Trygonometry”
“tapi semuanya pake bahasa inggris, aku ini bahasa inggrisnya payah banget kak, jadi aku mau nyari yang berbahasa Indonesia”
“oh gitu, agak susah sih dek, oh ya bentar deh, sepertinya aku punya deh buku trigonometri berbahasa Indonesia, besok aku bawakan ya?”
“wah…, beneran kak, Oh iya btw aku minta no HP kak Ivan deh atau pin BBM-nya biar besok Kak Ivan nggak lupa” ucapku yang sebenarnya ada maksud lain dibalik itu semua, lumayan sambil menyelam minum air.
Kak Ivan memberikan no HP sekaligus pin BBM-nya padaku, aku langsung menyimpanya ke HPku, dan pamit untuk segera kembali ke kelas karena sebentar lagi ada jam kuliah.

Setelah jam kuliah usai aku segera mengambil HP di tasku, aku langsung teringat untuk ngechat kak Ivan, dan kak Ivan segera membalasnya, aku melangkahkan kaki untuk pulang sambil chattingan sama kak Ivan, hingga akhinya aku lupa waktu dan melihat jam menunjukkan pukul 10 malam, karena sudah ngantuk aku mengakhiri chatting dengan Kak Ivan dan tidak lupa aku mengingatkannya untuk membawakan buku-buku sekalian minjam buku yang lain dan mengucapkan Good Night padanya.

Seperti biasa aku berangkat kuliah lebih awal, sewaktu jam istirahat aku ngechat kak Ivan untuk ketemuan di perpustakaaan karena aku mau mengambil buku-buku yang akan kupinjam, Kak Ivan membalas chatku dan meng-iya-kannya, aku segera menuju ke perpustakaan dan ternyata kak Ivan sudah di sana, dengan menggendong beberapa buku.
“ini dek bukunya, kalau dek Liya ada kesulitan pada materinya, adek boleh bertanya padaku”
“wah terima kasih banyak kak, dan maaf ya ngerepotin.”
“Nggak papa, santai aja”

Semakin hari aku dengan kak Ivan semakin akrab, karena aku sering bertanya pada kak Ivan tentang materi-materi yang belum bisa aku pahami, dan aku menyadari kalau aku sekarang benar-benar menyukai kak Ivan. Suatu ketika kak Ivan mengajak aku belajar bareng ke rumahnya, tentu aku tidak menolak karena aku sudah lama mengharapkannya.
Sesampai di rumahnya, kak Ivan mengajakku masuk ke tempat belajarnya, aku merasa aneh dengan apa yang kulihat di tempat belajar kak Ivan, semua bernuansa merah muda dan terdapat banyak sekali boneka-boneka lucu, padahal warna merah muda kan warna yang identik dengan cewek.

“ini dulu tempat belajar adek kak Ivan, ya?”
“aku nggak punya adek, ini tempat belajarku dari kecil, lucu ya?”
Aku hanya tersenyum, tapi dalam hatiku aku mulai curiga kalau kak Ivan itu banci, kecurigaanku bertambah saat kak Ivan mengeluarkan kotak pensilnya yang berwarna merah muda yang coraknya bunga bunga, aku teringat bahwa selama ini temen kak Ivan juga cewek semua, aku langsung tidak bernafsu untuk belajar lagi aku segera pamit pulang.

Aku berinisiatif untuk mencari tahu tentang kak Ivan, aku langsung mencari teman ceweknya kak Ivan, dan aku bertemu dengan salah satunya di kantin.
“kak, boleh gabung gak?” tanyaku langsung duduk di sebelahnya
“oh silakan dek, btw panggil aku kak Rika dek?” sambil mengulurkan tanggannya
“oh saya Liya, kakak temennya kak Ivan kan?”
“iya dek, emangnya kenapa?”
“enggak kok kak, aku cuma pingin tahu aja kak Ivan itu orangnya gimana? Aku boleh minta tolong dijelasin nggak kak?”
“oh gitu, Ivan itu orangnya baik dek?”
“semua temen kak Ivan cewek ya kak?”
“Iya dek, dia nggak suka temenan sama cowok?”
“loh kok bisa, kak Ivan kan cowok. Maaf ya kak sebelumnya apa kak Ivan itu banci?”
“Huss… jangan ngomong gitu, Ivan itu awalnya nggak banci tapi mamanya yang membentuk karakter Ivan jadi seperti ini?”
“maksudnya kak?”
“dulu mamanya Ivan pingin punya anak cewek tetapi Allah memberikan anak cowok dan sepertinya mamanyanya Ivan tidak bisa menerima kenyataan, ia memperlakukan Ivan layaknya anak cewek, dan akhirnya jadi deh Ivan yang seperti saat ini”

Dari percakapanku dengan kak Rika tadi akau menyimpulkan kalau kak Ivan bener-bener banci, aku berpikir kok bisa ya aku jatuh cinta sama orang banci, aku tertawa geli, pada diriku sendiri.
Tapi semuanya sudah terlanjur setidaknya aku bisa menjadikan kak Ivan teman, dan siapa tau suatu saat dia akan berubah menjadi cowok normal.

Cerpen Karangan: Nurul Aisah
Blog: aisyahshortstories.blogspot.co.id
Namaku Nurul Aisah, seorang mahasiswa jurusan matematika yang hobi baca novel, sangat nggak sesuai banget kan sama jurusanku.. entahlah aku juga bingung pada diriku.

Cerpen Bancinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kotak Keadilan

Oleh:
Arden meninggalkan ruangan tersebut. Sebuah bangunan besar mirip gudang. Yang telah ditinggalkan pemiliknya bertahun-tahun lalu mungkin. Ruangan gelap penuh dusta, kebohongan dan amarah. Yang di sudut-sudutnya bergelantungan banyak sarang

Sebuah Kado Untuk Mu

Oleh:
Jangan tagih cerpenku lagi setelah ini, teruntuk engkau yang lahir pada tanggal 05 Mei 1993 silam, kini usiamu menginjak kepala dua. Semoga kau menjadi diri yang lebih baik lagi.

Matahariku Telah Pergi

Oleh:
Bulan tersenyum padaku, bintang menari-nari di atas awan, terlihat sangat bahagia. Waktu berlalu begitu cepat, tanpa ku sadari saat ini aku telah berusia 16 tahun lebih, ya sebentar lagi

Merindukanmu

Oleh:
Namaku Ita, dan sebut saja dia Adi. Awalnya aku tak pernah mengenal sosok Adi, meski dia sudah mengenalku lebih dulu. Walaupun dia selalu berusaha untuk mendekatiku. Kami satu kantor

Kenapa Harus Dia

Oleh:
ELENA POV Pagi ini aku senang sekali, karena aku sudah mendapat keluarga baru, bukannya aku tidak senang karena tinggal di panti asuhan dengan ibu Sesil, ibu panti yang sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bancinta”

  1. dinbel says:

    Lucu dech, ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *