Bandung In Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 June 2016

Semenjak kejadian itu aku tak pernah menangis lagi, hanya tersenyum yang bisa aku lakukan.

Saat itu aku sedang duduk di taman bunga di kampus indahku, ya ITB.

“Hai Lili?” Tanya bagas sahabatku sejak aku di Bandung ini. Dia orang yang pertama bertemu denganku saat aku kesepian di kota ini, sampai akhirnya kami bersahabat kurang lebih selama 4 tahun ini.
“Hai baba” sahutku dengan panggilan kesayangan itu.
“Kamu masih saja memanggilku dengan sebutan itu.” Bagas cemberut.
“Tuan Bagas Nata Dirga, namaku itu Putri Maharani Lizka, tadi kau sebut namaku dengan panggilan Lili. Jadi aku balas dendam Baba,” mencolek dagu pria tampan itu sambil berlari dan menjulurkan lidah.
“Baba kau payah, ayo kejar aku kalau kau bisa.” Kataku dengan nada mengejek.
“Aku akan menangkapmu, Liliput!” Teriaknya dari kejauhan.

“Yeyy, dapat juga kamu liliput!” Bagas memelukku dari belakang.
“Baiklah aku menyerah, aku haus. Baba, belikan aku es krim itu.” aku menunjuk ke penjual es krim keliling itu.
“Ayoo, lili..” kami menghampiri penjual es krim itu.

Aku dan Bagas, banyak yang mengira kami adalah sepasang kekasih, haha itu tak pernah terpikir di benakku.

“Kau mau yang mana, yang coklat apa stroberi?” Tanya bagas
“Aku mau dua duanya” kataku sambil tertawa.
“Dasar kau rakus, tapi tak pernah gemuk, aku heran.” sambil memencet hidung mancungku

Aku duduk berdua di taman kembali sambil memakan es krim itu, aku menyandarkan kepala ku ke bahu pria tampan itu.

“Makanlah es krim mu dengan benar, kalau tidak aku akan memanggilmu dengan sebutan badut.” Ujarnya sambil mengelap bibirku dan mencolekkan es krim ke pipi ku
“Kau yang membuatku seperti badut, Baba.” Aku cemberut.
“Sudah sini jangan marah lagi, aku akan bersihkan” katanya

Aku melihat mata mahluk Tuhan yang tampan ini, aku rasa aku jatuh cinta utuk pertama kalinya.

“Kenapa bengong, jangan melihatku seperti itu, aku memang tampan” katanya tertawa
“Iya kau tampan, bahkan sangat tampan, Baba. Seperti kera” jawabku sambil tertawa.
“Sudah ayo kita pulang sudah hampir gelap” dia menarik tanganku

Di rumah, aku sendirian karena bunda belum pulang dari butiknya.

“Ting ting… tung ting tungg..” suara handphoneku berbunyi.
“Halo, sayang bunda agak telat pulangnya, mungkin sekitar jam 10 malam nanti, bunda ada banyak tugas nak.” Kata bundaku
“Iya bundaa, bunda hati hati ya jangan lupa kecilkan AC nya , aku gak mau bunda kedinginan.” kataku
“Iya sayang, bunda belum sempat masak, jadi kamu delivery aja gak apa apa kan?” Tanya bunda
“Iya bunda gak apa apa, rani ngerti bunda pasti lelah” kataku
“Ya sudah, bunda kerja dulu ya, love you rani..” kata bunda
“Loo.. tut tut” belum sempat aku menjawab bunda mematikan telpon nya

Ini sudah pukul 8 aku hanya berdiam di kamar, sambil mengobrol di salah satu media sosial dengan Baba sahabat tampanku.

Aku menghampiri telepon rumah, aku berniat akan memesan makanan untuk malam ini. Namun..

TING TING
Aku membuka pintu, ternyata ada Bagas datang membawa tiga bungkus nasi kotak. Aku langsung menarik bungkusan itu dan segera membawa nya ke dapur.

“Liliput, kau tidak akan mempersilahkan aku masuk dulu?” Teriak bagas.
“Ayo cepat masuk, kau seperti baru pertama kali ke rumahku saja.” Jawabku

Aku mempersiapkan makanan itu diatas meha makan dan langsung memakan makan itu dengan lahap.

“Kita ke ruang tamu saja, aku sudah selesai makan, dan aku sudah kenyang. Kau tau saja aku sedang lapar”. Kataku dengan muka polos

Kami berjalan menuju ruang tamu. dan di ruang tamu..
“Ran, aku ingin bicara sesuatu sama kamu” kata bagas terlihat serius.
“Tumben kamu memanggilku tidak dengan sebutan liliput? Ada apa bilang saja” kataku
“Aku akan ikut ayahku keluar negeri, aku akan pindah kesana. Dan kita sepertinya tidak akan bertemu lagi ran, aku akan menetap disana.” Katanya dengan sedih.
“Hah? Apa kau bilang? Lalu bagaimana denganku?” kataku hampir meneteskan air mata.
“Maafkan aku ran, aku tidak bisa melawan kehendak ayahku. Ini bukan inginku, aku kesini untuk berpamitan kepadamu.” Tegasnya

Air mataku menetes setelah 4 tahun lamanya aku tidak menangis karena adanya dirinya. Aku teringat kepergian ayahku..

“Kau tahu, selama 4 tahun ini aku tidak pernah ingin menceritakan hal ini lagi, sekarang aku teringat kembali. Saat aku duduk di bangku kelas 3 SMP ayahku meninggal. Saat itu aku pikir dunia ku telah hancur, aku sangat kehilangan, aku menangis tiap saat, akhirnya bunda mengajakku pindah ke kota ini, bunda berpikir aku akan terlihat lebih baik jika ku tidak terus memikirkan kematian ayahku, ya aku lebih baik selama 4 tahun ini.. namun sekarang saat aku sudah menemukan seseorang yang aku sayang, kau malah ingin pergi, apakah aku akan kehilangan dirimu, seburuk itukah hidupku.. Aku mencintaimu Baba.” Aku mengungkapkan isi hatiku

Bagas terkejut, mendengar perkataanku.

“Ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan, Aku juga mencintaimu liluputku” bagas memelukku

Aku melepaskan pelukan itu dan aku berkata “jika kau ingin pergi, maka pergilah. Ini takdir ku untuk tak pernah bahagia bersama orang yang kucinta” teriakku sambil menangis.

“Aku tidak akan ikut ayahku, aku akan tinggal di kota ini, aku mencintaimu, maukah kau jadi kekasihku?” tanyanya penuh harap
“Aku mau” memeluk bagas

Terimakasih Tuhan, akhirnya aku dan bagas berpacaran sampai saat ini, Kau memberikan aku kebahagian setelah masa masa penuh duka, aku sangat bahagia karna di pertemukan dengan bagas di kota ini..,

Bandung In Love

Cerpen Karangan: Meriza Dewi
Facebook: Izza
Hai saya Meriza Dewi, sekolah di SMPN 1 Talang Padang, Lampung Indonesia. Bagi yang ingin menjalin tali silaturrahmi dengan saya silahkan di :
Facebook : Izza
Twitter : @merizadewi25
Ask.fm : @merizadewi19
Instagram : @merizadewi25
Selamat membaca cerpen karyaku 🙂

Cerpen Bandung In Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhir Dari Penantian (Part 1)

Oleh:
Dia tak pernah peduli dengan amarah ayah, yang penting aku tidak lagi sedih. Dia juga tidak peduli dengan sikapku yang nakal dan selalu menjahilinya, yang penting aku tidak menangis

Ketika Kebaikan Mendatangkan Ujian (Part 2)

Oleh:
Kring, kring, kring. Bunyi suara jam weker membangunkanku dari tidurku. Matahari menyilaukan pandanganku saatku membuka mata. Aku melihat ke arah jam, jam menunjukkan pukul enam. Biasanya Kakak selalu membangunkanku

Beach Pangandaran

Oleh:
Weekend minggu kedua dari libur semesteran. Gak ada yang seru dari liburan kali ini. Sahabatku, Alice, liburan ke Sydney. Sedangkan aku? Harus seneng dengan keadaan ini. Aku tinggal bareng

Sendiri

Oleh:
Darimu aku belajar Mencintai bukanlah perkara yang mudah Terlebih, mencintai sendirian Ya. Sendirian. Hanya aku yang mencintainya Dari semua pria yang pernah kukenal, aku hanya tertarik pada satu orang

Jangan Bohong Kak

Oleh:
Aku punya kakak. Dia tinggi dan tampan. Dia segalanya bagiku. Sejak orangtuaku meninggal, aku hanya bergantung padanya. Dia selalu melakukan hal yang benar. Dia sempurna. Kadang, jika aku punya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bandung In Love”

  1. regita cahyani says:

    Cerpennya ada banyak kalimat yang salah pengejaannya. Alurnya ada yang tidak teratur, tapi baguslah..:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *