Bara Cinta Rindu


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 14 December 2012

12 Desember 2000

“Dasar wanita gak tahu diri!”teriakan Papa menyambutku di balik pintu.
Wajahnya merah padam.Napasnya memburu penuh amarah.Dengan tangan kanan terangkat ke atas.Siap menerjang Mama yang kini bersandar pada tembok dengan mata menantang tajam.
“Lalu kau ingin aku bagaimana?”teriak Mama tak mau kalah.
“Kau!”
Plaaakk……tangan papa mendarat sempurna di pipi kanan Mama.Menyisakan noda merah.
“Memangnya kau pikir aku senang hidup denganmu?”
Papa tertunduk di kursi.Mama masih berdiri tegak.Beberapa butir airmatanya menetes.
“Kita akhiri saja!”
Papa tersentak.”Apa maksudmu?”
“Aku tak bisa terima jika suamiku menancapkan pe*isnya pada wanita lain,”kata Mama lemah.
Tak ada suara.Hening.Hingga akhirnya kudengar Mama masuk dan membanting pintu kamar.Aku hanya terdiam.Selalu pertengkaran yang aku dapati.Dulu mereka melakukannya sembunyi-sembunyi.Tapi kini malah makin menjadi.Apalagi saat kecurigaan Mama terbukti.Papa punya wanita lain.Bahkan sudah memilik putri seusiaku.
Aku terlalu kecil untuk memahami.Aku masih kelas 1 SMP.Tapi aku mengerti kehidupan keluargaku tak akan sama lagi.Tak ada kedamaian tersisa.Hanya pertengkaran dan luka.

————-
20 Mei 2005

“Kok melamun?”suara Bara mengalun lembut.
Aku tersenyum tipis.
“Aku dengar kau mau melanjutkan kuliahmu ke luar negeri?”
“Sepertinya begitu!”
“Wah,bakal lama neh gak ketemu kamu.Harus tunggu liburan kuliah baru bisa ketemu!”
“Aku akan menetap disana.”
“Maksudmu?”Bara memandangku penuh tanya.
“Say…!”panggilan Cinta mengalihkan pandanganmu.
“Iya…,”jawabmu.Cinta bergelayut manja di pundakmu.
“Ke kantin yuuk!”
“Bentar ya!kamu duluan ntar aku nyusul!Aku masih belum kelar ma Rindu.”
“Tapi,”Cinta merajuk.
“Hanya lima menit.”
“Ah kamu gak asyik,”dia segera beranjak.Bibirnya manyun.

Aku hanya tersenyum getir melihatnya.Cinta.Jika ia dan Ibunya tak pernah ada mungkin hidupku tidak seperti ini.Aku kehilangan segalanya.Kedamaian keluarga.Papaku.Bahkan kini Bara.Seseorang yang dengan diam-diam telah mencuri semua hatiku.Namun kecantikan Cinta telah mempesonanya.Sikap manja dan ketakberdayaan Cinta membuatku terperosok dalam luka.

“Eh melamun lagi!”
Sekali lagi aku tersenyum getir.”Aku duluan!”
“Lo…!”
“Sudah lima menit.Cinta pasti cemberut menunggumu di kantin!”
Aku segera berpaling.Kupercepat langkahku.Tak peduli teriakanmu yang memanggil namaku.
—————-
17 Juni 2005

Sebenarnya aku tak ingin datang.Namun desakan Riri akhirnya meluluhkanku.
“Ini prom night,Rin!”
“Memangnya kenapa?”
“Ini malam terakhir kita bisa bersama-sama.”
“Malam terakhir?”
“Iya,mungkin saja kita tak bisa bertemu lagi.Kau bilang mau kuliah dan menetap di Australia,kan?”
Kugigit bibir bawahku.Menimbang-nimbang.
“Ah kelamaan mikir.Kujemput 30 menit lagi!”
Riri memutus sambungan sepihak.
Dan akhirnya aku berdiri diantara ratusan siswa siswi lainnya.Terdampar sendirian,setelah Riri kabur bersama Doni.Ah…seharusnya aku tak kesini.Toh,tak ada bedanya.Aku juga tetap kesepian.
“Rin!”seseorang menepuk pundakku pelan.Aku kenal betul suara itu.
“Kupikir kau tak datang?”
Aku tersenyum.Aku yakin Bara tahu aku tak suka acara berisik semacam ini.
“Riri yang memaksa?”
“Trus sekarang kemana Ririnya?”
“Kabur.”
“Sama Doni?”
Aku mengangguk.
“Hahaha…,”kau tertawa renyah.Tawa yang kini mampu mengukir senyum di bibirku.
“Ikut aku!”kau menarik tanganku tanpa permisi.
Tubuhmu bergoyang ringan mengikuti alunan musik.Aku tersenyum simpul melihatnya.Benar kata Riri,ini mungkin yang terakhir aku bisa menikmati masa putih abu-abuku.
“Kamu ini?”
“Ya!”jawabku tergagap.
“Hobi ngelamun kok dipelihara.”
Aku geli mendengarnya.Musik berubah syahdu.Kau mengulurkan tanganmu.Mengajakku berdansa.
“Aku tak bisa!”kataku menggeleng.
Kau malah menarik tubuhku.Hangat napasmu menyentuh wajahku.Kita memang begitu dekat.Kurasakan jantungku berdetak lebih cepat.Darah memompa adrenalinku.Untuk sesaat aku tergelam.Menghilang dalam pelukmu.Tanpa peduli jika Cinta tiba-tiba hadir lalu mencercaku dengan kata-kata kotor.

———
18 Juni 2005

Pagi ini aku terbangun dengan kepala pusing bukan main.Kuamati sekelilingku.Ini bukan kamarku.Kusingkap selimut yang membungkusku.
“Ya,Tuhan!”pekikku.
Tak ada sehelai benangpun menutupi tubuhku.Kulihat gaunku semalam terjatuh pasrah di ujung ranjang.Lalu mataku menubruk sosokmu yang baru saja terbangun karena suaraku.Kau mengucek matamu.Tak beda denganku kau juga terkejut menemukan dirimu tanpa baju.HPmu berdering nyaring.
“Ya!”
“Bagaimana malammu?Menyenangkan,bukan!”suara Reno di seberang menggelegar.Diringi tawa penuh kemenangan.
“Apa maksudmu?”kau menelan ludah.
“Aku harap obat yang kumasukkan dalam minuman kalian semalam bereaksi dengan benar.”
“Obat?”
“Kau pasti menyukainya!”
Hpmu terjatuh ke lantai.Kau menatapku nanar.
“Rindu!”suaramu parau.Aku menunduk dan meraih gaunku.Air mataku meluncur tanpa henti.
“Maaf!Aku….,”kata-katamu terhenti.
Aku menangis.Menangis sejadi-jadinya.Aku kehilangan kegadisanku.Satu-satunya hal berharga yang masih kumiliki.Kau memelukku.Aku sudah benar-benar hancur.

———-
25 Juli 2005

Kuamati lekat-lekat kalender di meja belajarku.Sudah satu minggu lewat.Namun aku tak jua mendapatkan jadwal bulanananku.Aku mulai cemas.Sejak hari itu aku tak lagi melihatmu.Gemetar kusentuh tombol Qwerty ponselku.
“Aku telat Bara!”
Hanya kalimat sederhana itu yang aku kirim padamu.Satu menit,satu jam,satu hari,bahkan sudah satu minngu berlalu.Masih tak ku dapatkan jawaban darimu.Sebenarnya ingin sekali kudatangangi rumahmu,namun aku tak punya cukup keberanian untuk melakukannya.

———-
27 Juli 2005

Aku tertunduk ke lantai.Positif.Aku berteriak.Menangis sejadi-jadinya.
“Ada apa ini?”
Tergopoh Mama menghampiriku.Mama terperanjat menemukan tespect di ujung kakinya.
Aku terus menangis.Mama membimbingku ke ranjang.Memberikanku segelas air.
“Maafin Rindu,Ma!”kataku terisak.
Mama memelukku.
“Siapa yang melakukannya?”
Aku tak menjawab.Masih terus menangis.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
Aku menggeleng.
“Everything has a price,sayang!”Mama mengelus rambutku lembut.
“Rindu takut,Ma!”
Mama tersenyum bijak.”Kita percepat keberangkatanmu!”
“Tapi….!”
“Butuh kedewasaan untuk menerima segala konsekuensi atas tiap pilihan dan keputusan.Kamu harus belajar bertanggung jawab atas hidupku!”
Aku terus saja menangis.
“Ada Mama bersamamu!”

—————-
02 Agustus 2005

Gundah kulangkahkan kakiku membelah terminal keberangkatan.Mataku melirik sana sini.Berharap menemukan wajahmu sebelum kutinggalkan negeri ini.Sebuah pesan singkat telah ku kirimkan semalam.

“Aku berangkat besok!Jam 1 siang.”

Namun tak ada tanda-tanda kedatanganmu.Aku putus asa.Aku kecewa.Semua memang berakhir sekarang.

“PASIFICBLUE DJ4146 SYNDEY 01.05 DEPARTED”

Kulirik arlojiku.Pukul 12.25.Bergegas kutarik koporku.Tak ada waktu lagi.
“Ayo,Sayang!”panggil Mama.
Aku tersenyum.
“Selamat tinggal masa lalu!”gumamku lirih.

—————
02 April 2006

Suara tangisnya memecah hening malam ini.Meleburkan segala kekhawatiran dan ketakutanku.
“Lihatlah!Di sangat tampan,Sayang!”Mama menunjukkan wajah mungil itu padaku.
Melihatnya seluruh rasa lelahku hilang tak bersisa.Air mataku jatuh.Aku menangis haru.
“Aku seorang Ibu,Ma!”
Mama mengangguk,”Tentu.Sekarang Mama sudah tua.Sudah jadi nenek!”
Kami tertawa.Seolah bunga-bunga bermekaran di hatiku.

—————-
02 Agugtus 2012

Hari ini tepat tujuh tahun perantauanku.Kembali kulangkahkan kakiku membelah bandara Ngurah Rai.Sejenak kulirik Arya yang masih terlelap dalam gendongan Mas Bayu.Aku tersenyum melihatnya.Aku tak bisa menolak keinginan Mama untuk dimakamkan di tanah kelahirannya.Kanker yang selama 6 tahun terakhir menggerogoti tubuh Mama akhirnya mampu mengalahkan upaya Mama untuk terus hidup.
“Sudah lama ya tidak pulang?”
“Iya,Mas.”
Kulihat Papa melambaikan tangan.Dan aku melihatmu berdiri di samping Papa dan Cinta.Aku masih mengenalimu dengan baik.Walau banyak perubahan kutemukan pada dirimu.Kau terlihat lebih dewasa dengan sebaris kumis tipis.Juga jas hitam yang membalut tubuhmu sempurna.
“Aduh cucu Kakek sudah besar!”Papa meraih Arya dari Mas Bayu.Merasa terusik Arya jadi terbangun.Mengucek matanya.
“Sudah sampai,Ma?”tanyanya polos.
Aku hanya mengangguk.
“Kita mampir dulu ke rumah,Rin!”ucap Papa.
Aku menggeleng.”Kita langsung ke pemakaman saja!Tadi pihak pemakaman menelpon semua sudah siap.”
“Memangnya tidak capek?”
“Sydney tak jauh,Pak!”Jawab mas Bayu.
“Baiklah!Setelah itu kan masih bisa berkeliling.”
“Kami pulang besok,Pak!”Mas Bayu kembali mengambil alih jawaban.
“Memangnya kamu gak kangen Bali,Rin?”Cinta ikut-ikutan.
“Tak ada tempat yang bisa kutuju disini.”
Semua terdiam.Tak ada lagi pembicaraan
——————

03 Agustus 2012

“Apa tidak sebaiknya kau tinggal dulu barang sehari atau dua hari,Rin?”
Aku yang sedang merapikan pakaian melirik Mas Bayu.Keningku mengkerut.
“Untuk apa?”jawabku ketus.
Mas Bayu merebahkan tubuhnya ke ranjang.
“Nostalgialah!Sekedar napak tilas!”
Aku ikut-ikutan berbaring di sampingnya.
”Tidak ada yang ingin kulakukan disini,Mas!Berada disini terlalu lama hanya akan mengorek luka yang mulai kering!”aku mendesah berat.
Mas Bayu beringsut ke arahku.Meraih tubuhku.Lalu mengecup keningku lembut.
“Ya,terserah kamu saja!”
“Terimakasih,Mas!”kubenamkan tubuhku di peluknya.Menghalau gundah yang tiba-tiba saja menghantam dinding kalbuku.
Aku tak bisa berkata apapun selain terimakasih.Dia ibarat malaikat yang Tuhan anugerahkan untukku dan Arya.Dia yang hadir dan selalu ada untukku.Bersedia menikahiku,walau tahu aku sedang mengandung benih pria lain.Tetap kukuh bersamaku walau dia tahu cintaku tak sebesar cintanya.
Aku ingat betul ucapannya beberapa tahun yang lalu.
“Menikahlah denganku!”
“Aku tak bisa,Mas!Lihatlah aku!Apa yang bisa kau harapkan dariku!”
“Kenapa?”
Aku tak menjawab.Menunduk,menyembunyikan airmataku yang menggantung.Aku belum percaya jika cinta setulus itu tercipta untukku.
“Karena kau sedang hamil?”katanya hati-hati.
“Atau karena kau tak mencintaiku seperti aku mencintaimu?”
Aku masih tak menjawab.Mas Bayu meraih jemariku.
“Aku tahu kau seseorang yang berfikir modern.Namun kamu tak bisa egois.Pikirkan bayimu!Apa kau akan membiarkannya lahir tanpa Ayah?”
“Tapi…,”dia meletakkan telunjukmu di bibirku.
“Aku hanya perlu satu jawaban,bisakah kau percaya padaku?Mempercayakan hati dan hidupmu padaku?
Kuangkat wajahku.Kulihat kesungguhan di matanya.Aku menggangguk pelan.Dia tersenyum puas.Lalu membiarkanku menumpahkan tangisku di dadanya.
“Ada apa?”Mas Bayu mengelus pipiku.Membuyarkan lamunanku.
Aku menggeleng,lalu merapatkan pelukanku.
“I love you!”bisiknya di telingaku.
“I love you too!”

—————-
04 Agustus 2012

Kupandangi punggung Mas Bayu yang semakin mengecil.Akhirnya tertunda juga kepulanganku.Mas Bayu ada pekerjaan di Jakarta.Dan dia memintaku untuk menunggunya disini.Katanya tak tega jika aku harus pulang sendiri bersama Arya.Biasanya Arya memang suka rewel.
Perlahan mobil meninggalkan bandara.Arya tertidur di pakungkuanku.Dari kaca depan kulihat Bara mencuri pandang ke arahku.
“Mas Bayu lama ya di Jakarta?”Cinta memecah hening.
“Cuma dua hari.”
“Hmmm,kau benar-benar beruntung!Ada Mas Bayu yang mencintaimu.”
“Iya.”
“Beruntung?”Kau ikut-ikutan bicara.
“He-eh.Mas Bayu itu bukan manusia tapi malaikat!”
Kau mengernyit tak faham.
“Zaman individualis seperti ini masih ada laki-laki seperti Mas Bayu.Cintanya begitu tulus.”
“Cinta ya memang tulus!”sahutmu.
“Kalo yang ini berbeda.Coba fikirkan!Ia bersedia menikahi wanita yang sedang hamil bayi orang lain.Menyayangi anak itu seolah itu putra kandungnya.Kalau bukan malaikat berarti dia orang gila!”
“Hamil?”kau tercekat.
“Hem….aku belum cerita ya?”
Kau menggeleng pelan.
“Rindu itu pergi ke Australia dalam keadaan hamil.Dia tak mau mengatakan siapa ayah dari bayinya.Dan lebih parah lagi dia ingin melahirkan bayinya.Bodoh sekali bukan?”
Kau tak menjawab.Namun kulihat wajahmu berubah pias.Kau menoleh.Pandanganmu nanar ke tubuh Arya yang sedang terlelap.
————–
06 Agustus 2012

Tergopoh aku berlari menuju pintu.Orang yang mengetuk pintu pasti sangat tidak sabaran.Suara ketukannya berulang-ulang tak beraturan.
“Bara!”
Aku terkejut saat menemukanmu berdiri di balik pintu dengan wajah memerah.Tanpa permisi kau menuju pembaringan.Tertunduk di samping Arya yang baru saja tertidur.
“Apa yang kau lakukan disini?”
Kau tak menyahut.Matamu masih terpaku menatap Arya.Perlahan tanganmu meraih kepala Arya lalu mengelusnya lembut.
“Jadi kau mempertahankan kehamilanmu!”
“Benar.”
“Dan Arya….?”
“Ya,bayi itu Arya.”
“Aku seorang ayah.”
“Bukan.Kau bukan seorang Ayah.Kau menolak kehadirannya tujuh tahun yang lalu.”
“Aku tak pernah mengatakan apapun.”
“Justru karena itu.Kau mengabaikan semua pesanku.”
“Dan kau anggap aku menolak?”
“Lalu kau ingin aku bagaimana?”suaraku gemetar.Perlahan perih menyeruak.Air mataku nyaris tumpah.
“Waktu itu aku terlalu muda,Rin!Kita baru lulus SMA.”
“Aku mengerti,karena itu aku tak menuntut apapun darimu.”aku menarik nafas dalam.
Lima menit berlalu.Kita hanya saling terdiam dalam hening.
“Lalu sekarang bagamaina?”
Aku menarik napas dalam.Menyandarkan punggungku pada kursi.”Tak ada!”
“Apa maksudmu?”suara bergetar.
Aku menggeleng pelan.”Jangan memulai sesuatu yang tak bisa kamu akhiri!Kami sudah bahagia sekarang.Lepaskan dan lupakan saja semua seperti tujuh tahun yang lalu!”
Kau menatapku tajam.Ada bara panas di matamu.
“Aku tak akan mengambilmu dari Cinta juga kehidupanmu.Tidak sekarang atau tujuh tahun yang lalu!”
“Tapi mereka semua berhak tahu tentang kita!”suaramu meninggi.
“Tentang kita?”aku tersenyum sinis.”Aku sudah lama move on,Bara!”
“Tapi……,”
“Terkadang dalam hidup ada hal-hal tertentu yang akan lebih baik jika tetap menjadi rahasia,”potongku cepat.
Kau termanggu.Tak percaya dengan pendengaranmu.
“Akan ada waktunya untuk mereka tahu dan mengerti.Tapi bukan kini.”
“Lalu kapan?”
Aku menggeleng pelan”Entahlah!Hanya Tuhan yang tahu.”
Aku berdiri dari kursi.Merapikan hijab yang kukenakan sekenanya saat terburu-buru membuka pintu tadi.
“Kumohon keluarlah!Tidak pantas jika wanita bersuami sepertiku berdua dengan lelaki yang bukan mahramnya saat suaminya sedang tidak ada di rumah!”
Tatapanmu sayu,”Kau benar-benar sudah move on,Rin!”
Aku mengangguk yakin,”Insyaallah!”
Kau melangkah meninggalkanku setelah sebelumnya mengangguk mengerti.Belum genap aku menutup pintu selepas kepergianmu,kulihat Mas Bayu muncul di balik pintu.
“Mas Bayu!”
Sebentuk rasa takut membentur hatiku.Mungkinkah Mas Bayu mendengar semuanya?
“Kok sudah pulang!”kataku gugup.Tanpa sadar sungguh kalimat itu tak pantas terucap dariku.
“Memangnya kamu tidak suka!”godanya seperti biasa.Namun kali ini aku merasa seperi di tampar.
Aku langsung tertunduk ke lantai.Bersimpuh dan memeluk kakinya.
“Maaf,Mas!”tangisku pecah.
Mas Bayu ikut jongkok ke lantai lalu mengusap airmataku.”Untuk apa?”
“Untuk semuanya!”
“Semuanya?”Ia balik bertanya.
Aku mengangguk lemah.
“Karena membiarkan Bara masuk ketika aku tidak sedang di rumah?”
Mataku membulat.”Mas melihatnya?”
“Ya!”
Airmataku semakin deras.”Seharusnya aku memberitahumu Mas sedari dulu!”
“Tentang apa?”
“Bara!”kataku ragu.
“Kalau dia Ayah kandung Arya?”
Mataku lebih bulat lagi.”Mas Bayu tahu?Darimana?Sejak kapan?”
Mas Bayu hanya tersenyum.Lalu mengangkatku ke sofa.Ia hendak beranjak saat kuraih tangannya agar tetap di sampingku.
“Mas!”
Sekali lagi Mas Bayu tersenyum.
“Aku sudah lama tahu,Rin.Mama yang memberitahuku.Dan aku semakin yakin saat bertemu dengan Arya di bandara beberapa hari yang lalu.Arya mirip dengannya!”
“Maaf!”
“Maaf untuk apalagi?”
“Ini pasti sulit bagimu,Mas.”
Dia menggeleng.”Awalnya aku sempat berfikir sama sepertimu.Namun kini tak lagi.”
“Maksud Mas?”Aku tak mengerti.
“Bara memang ayah biologis Arya.Tanpa Bara tidak akan ada Arya.Namun akulah yang selalu bersamanya.Sejak Arya terlahir ke dunia hingga sekarang akulah yang Arya kenal sebagai ayahnya,”terangnya.
Ya Allah betapa besar hati yang kau anugerahkan pada suamiku.
“Dan Bara pantas iri padaku tentng itu,”lanjutnya.
“Terimakasih,Mas!”aku berhambur ke dadanya.
“Subhanallah!Sekarang kamu berhijab,Rin?”Mas Bayu menatapku tak percaya.Aku hanya mengangguk pelan.
“Baru dua hari aku pergi,Tuhan sudah menghadiahiku dengan istri yang luar biasa.”
“Aku ingin menjadi wanita yang halal hanya untuk suamiku,Mas.”
Mas Bayu kembali tersenyum.
“Masih ada satu hadiah lagi,Mas!”
“Apa?”
“Seorang bayi,”bisikku di telinga kanannya.
Mas Bayu tersentak,”Kamu hamil?”
Aku menggangguk sembari tersenyum.”Sudah 6 minggu!”Mas Baru merapatkan pelukannya.
“I love you,”bisiknya
Aku tak menjawab.Aku tahu Mas Bayu pasti mengerti jawabanku.Karena Bara,Cinta,dan Rindu hanya sebuah kisah ABG berbaju putih abu-abu yang sudah layak disebut masa lalu.
Allah tak pernah menjanjikan hidup ini mudah,tapi Dia berjanji akan selalu disisi kita!Begitu yang selalu Mas Bayu katakan padaku.Aku percaya itu.Karena kini,bahkan Allah sudah mengirimkan malaikat untukku.Untuk menjaga hidup dan hatiku.Juga menjaga keimananku.

-end-

Cerpen Karangan: Echae E.S
Facebook: echae n’cute

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Cerpen Kehidupan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply