Baru Aku Tahu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 January 2016

Jam menunjukkan pukul 12.45. Para siswa dipulangkan untuk kepentingan rapat guru mengenai efektifnya kurikulum baru. Aku dan Fahmi memilih untuk berdiam dahulu di sekolah karena di luar hujan sangat deras mengguyur kota Bandung. “Len, kita duduk dulu aja di halte depan sekolah ya! kalau pulang sekarang, pasti kita basah kuyup di jalan.” ujar Fahmi. “Hmm… terserah kamu aja Mi. Aku pulang bareng kamu aja ya? soalnya aku gak bawa kendaraan. Lagi pula, kalau naik bus umum juga percuma harus jalan kaki. Jauh lagi.” kataku.

Fahmi pun tersenyum padaku seraya mengangguk pertanda ia menyetujui ajakanku. Gemericik air hujan menghangatkan suasana hening halte sekolah. Udara dingin mulai menyelimuti sepasang anak adam yang sedang berharap mentari kembali menampakkan dirinya. Aku terkejut saat Fami melingkarkan jaket ke bahuku yang baru saja ia keluarkan dari tasnya. “kamu kelihatan kedinginan banget, Len. Maaf ya, barusan aku sempat bikin kaget kamu.” Kata Fahmi seraya menutup kembali tasnya.

Aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Fahmi. Sesaat setelah itu, mentari mulai bersinar lagi dan hujan mulai reda, kami lekas beranjak dari sana. Aku selalu melihat Fahmi berjalan sendirian ketika pulang sekolah. Aku tak pernah melihatnya memakai kendaraan tidak seperti anak-anak sekolah lainnya. Pulang pergi pun, ia sering sendiri. Jarak rumahku ke sekolah tidak terlalu jauh, begitu pun Fahmi. Sesekali ia bercerita tentang rasa sukanya terhadap Andin siswi kelas XI IPA 4.

“Oh, Andin yang itu aku tahu Mi. dia satu SMP sama aku dulu.” ujarku. “Wah, kebetulan dong. Bantuin aku deketin dia ya! Please Len.” Fahmi memohon. Aku sempat ragu atas permintaan Fahmi, karena sikap Andin yang begitu dingin terhadap semua pria yang ingin dekat dengannya melebihi seorang teman. Fahmi tak menggubris akan hal itu. Ia menyukai tipe wanita seperti itu karena menjadi tantangan tersendiri untuk mendapatkan hatinya.

Di sekolah. Aku sengaja datang lebih awal ke sekolah untuk menemui Andin. Ia adalah anak dari salah satu penjaga kantin di sekolah yaitu Mang Iyus. Ia selalu datang awal bersama ayahnya. Apalagi ia sudah tidak mempunyai ibu. Untuk itu ia rutin membantu ayahnya sekedar membereskan kantin. “Hai Len! beruntung banget kamu ada di sini, tolong kasih ini ke Andin ya. Aku gugup banget nih.” Kata Fahmi yang tiba-tiba ada di belakangku. Ia pun memberikan sebuah kado padaku untuk diberikan pada Andin. Langkahku tertuju pada Andin. Dengan sedikit ragu, aku mencoba untuk mendekatinya dan memberikan semua ini. Belum sempat menyentuh pundaknya, dia langsung membalikkan badan.

“Eh Kak Alen. Ada apa Kak?” Tanya Andin.
“Ng.. nggak Din. Aku ke kelas dulu yaa. Bye!”
Andin heran melihat ekspresiku yang tak karuan, ia hanya menggelengkan kepalanya. Apa yang harus ku lakukan sekarang? ini amanat dari Fahmi. Bel pulang berbunyi. Dari luar terdengar suara kaki yang berlari ke arahku. Itu Fahmi! Pasti dia menanyakan hal tadi pagi. “Hai, Len!” Sapa Fahmi. “Maaf Mi, aku buru-buru.” Jawabku tanpa memandang Fahmi seraya meninggalkannya di ruang kelas.

Aku terus memandang kotak berwarna cokelat berhiaskan pita merah muda itu. Sesekali Air mataku menetes ‘Andai kamu tahu, aku yang lebih dalam menyayangimu Fahmi. Aku..’ ucap batinku. “Len, apa kamu udah ngasih bungkusan itu ke Andin?” Terdengar suara Fahmi dari belakangku. Ekspresinya terlihat dingin. Mungkin dia kesal dengan sikapku kemarin. Tanpa sepatah kata, aku langsung memeluk Fahmi. “Aku bingung Mi! aku ragu untuk memberikan ini! Aku cemburu sama Andin. Kado ini masih ku simpan dan ku bawa ke mana pun aku pergi.” Aku tak sanggup menahan rasa itu, sehingga aku berani untuk berbicara dan memeluk Fahmi.

“Apa? Kamu gak ngasih kado itu ke Andin! Kenapa gak bilang dari kemarin? kalau gini jadinya, aku lebih memilih memberikan langsung pada Andin. Kembalikan kado itu! Sekarang juga akan ku berikan pada Andin, agar dia tahu semuanya.” Jawab Fahmi seraya melepaskanku dan mengambil kado itu. Fahmi pergi seakan tidak peduli dengan apa yang aku ucapkan. Dia tidak merasakan perasaanku, bahkan dia tidak sedikit pun menggubrisnya.

Aku mencoba menghubungi Fahmi. Namun, dia tidak membalasnya. ‘Agar dia tahu semuanya’ Kata-kata Fahmi yang selalu terdengar di telingaku. Apakah Fahmi memang akan menyatakan perasaannya pada Andin? Semenjak kejadian itu setiap kali berpapasan dengannya, ia tak pernah memasang raut menyenangkan. Ekspresinya selalu dingin, meskipun aku melontarkan senyum padanya. Hingga pada suatu hari, aku memberanikan diri untuk menemui Fahmi.

“Kamu kenapa? Kamu kenapa bersikap dingin seperti ini? aku tahu aku salah. Aku mau coba minta maaf soal perkataanku kemarin sama kamu, tapi kamu kayak gak mau dengerin aku. Aku gak mau kalau kamu terus jauh seperti ini. Aku rela kamu jadian sama Andin, aku ikhlas Mi. Aku akan coba lupain rasa aku ke kamu.” Ujarku dengan linangan air mata. Tiba-tiba ia mendekapku. Aku merasakan air mata yang jatuh di pundakku. “Apa kamu gak tahu yang sebenarnya, Len? Apa kamu gak tahu isi bungkusan itu apa?”

Di taman, Fahmi menceritakan yang sebenarnya padaku. Aku sempat mengira isi kado itu adalah hadiah istimewa untuk Andin. “Jadi, kamu sempat berpacaran sama Andin?”
“Iya Len, dulu sebelum aku kenal kamu. Kamu udah tahu kan, isi sebenarnya dari kado itu.” Kata Fahmi.

“Maaf Din, aku gak bisa simpan benda kenangan kita. Semakin sering ku lihat, semakin teringat masa lalu kita.” Ujar Fahmi. “kenapa, Mi? apa kamu mau lupain masa lalu kita? Iya?”
“Bukan gitu Din. Tapi aku udah punya pilihan hatiku sendiri. Jika aku terus menerus melihat barang ini, terus menerus juga aku gak bisa lupain masa lalu dan kenangan kita. Aku mau move on.”

“Aku mengerti sekarang. Maafkan aku Mi, sebenarnya dulu aku tak ingin melepaskanmu. Tapi, karena keadaan ekonomi dan Ayah, aku terpaksa rela bertunangan dengan anak pengusaha itu. Untuk itu sikapku selalu dingin dan acuh pada setiap pria yang ingin dekat denganku melebihi seorang teman. Kecuali kamu, aku memang suka padamu Fahmi.” Kata Andin dengan mata sayup. Ia pun menerima bungkusan berpita merah muda yang diberikan Fahmi. Ternyata, itu berisi foto dan benda kenangan lainnya saat Fahmi dan Andin berpacaran dulu.

“Aku mengerti Mi. Kamu itu tipe cowok yang susah move on.” kataku sedikit tertawa.
“Apa? Kamu berani mengejek calon pacarmu ini!”
“Maksud kamu?” Tanyaku heran. “Udahlah Len, kamu gak usah sok lupa. Aku tahu kalau kamu suka aku. Kamu pernah nangis di pelukan aku kan. Itu buktinya.” Jawab Fahmi seraya mempraktekkan tingkahku saat mengungkapkan padanya.

“Ih! Dasar cowok nyebelin! Aku gak mau jadi pacar kamu!”
“Loh! Kenapa? Apa perlu aku teriak biar semua orang tahu, kalau aku cinta kamu? Kamu mau bukti?”
“Eh.. eh, tunggu!”
“Alenaaa.. apa kamu mau jadi pacar aku?” Suara Fahmi memenuhi taman.
“Udah aku bilang, aku gak mau jadi pacar kamu!” bisikku pada Fahmi. Lalu, ku tarik napas.

“Jadikan aku pendamping hidupmu Fahmi.. Jangan pernah kau tinggalkan aku…” Ku balas berteriak.
“Dasar anak muda, kerjaannya teriak mulu! berisik tahu. Kalau mau nembak cewe, pelan-pelan aje tong!” Sahut kakek yang sedang jongkok di Mck empang yang tidak jauh dari taman. Aku dan Fahmi tertawa mendengarnya. ‘Aku janji gak akan ninggalin kamu Len. Aku akan berusaha bahagiakan kamu. Ingat itu’. Fahmi membisikkan kata-kata itu seraya mendekapku.

Cerpen Karangan: Neng Novi Nuraisyah
Facebook: Novi Nuraisyah
Saya merupakan penulis pemula yang membutuhkan saran dan kritik untuk kesuksesan dalam hal menulis ๐Ÿ™‚ salam kenal ๐Ÿ™‚

Cerpen Baru Aku Tahu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Tinggalkan Aku (Part 1)

Oleh:
“Kak Dika tungguin akuu, cape nih!” seru Risma sambil ngos-ngosan mengejar Dika, orang yang dipanggil malah mengejek dan menambah kecepatan larinya. “kejar aja wekk.. wekk kalau bisa.” ledeknya sambil

Nyata di Hatiku

Oleh:
โ€œStella…โ€ Suara itu membangunkanku dari mimpiku yang begitu indah. Aku meregangkan tubuhku sejenak dan kulihat orang yang sedang memanggilku. Astaga betapa kagetnya aku setelah melihat orang yang ada di

Gaya Batu

Oleh:
Orang jahat selalu bangga dengan kejahatannya, orang baik selalu bangga dengan kebaikannya. Orang kota selalu bangga dengan kemewahan kekotaannya, orang desa juga selalu bangga dengan kesederhanaan kedesaannya. Orang pintar

Bidadari dalam Ketidakpastianku

Oleh:
Namanya ziezie. Usianya memang terpaut jauh dibawahku. Gadis belia berambut ikal yang memesona. Aku menyayanginya, ya! Ketika peliknya masalah tengah membelenggu kehidupanku. Dia satu-satunya yang mampu mengukirkan canda tawa

My Soulmate

Oleh:
Kriiiing.. Namaku Angelina madison. Bel masuk sekolahku berbunyi. Tanda Kegiatan belajar dimulai. Aku berlari tergesa gesa menuju Kelas. Sudah telat beberapa menit. Di kelasku.. Berdiri pak Agus sambil menatapku

โ€œHai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?โ€
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *