Batu di Balik Udang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 31 August 2016

“Felly! Ini berkas yang lo butuhin untuk stock barang dari para klien,” kata Riska dengan menyerahkan map berwarna biru.
“Hmmmm.. tumben banget cepet kerjaannya. Biasanya, lo selalu molor kalau suruh data stock barang.”
“Yeeeee… elu mah tahunya itu doang!”
“Hahaha.. sorry-sorry.”
“Eh tapi Fel, klien kita kali ini kayaknya gue pernah kenal loh.”
“Oh ya? Pasti cowok.”
“Emang iya.”
“Kalau cowok, mana ada yang nggak lo kenal Ris?”
“Sialan lo! Eh tapi bener lo Fel, gue kayak pernah kenal dan liat dia. Kalau dari segi tampang sih, bagus juga. Gimana kalau lo gue comblangin sama dia? Lu kan udah lama tuh ngejanda dari jaman SMA. Gimana kalau lu coba aja sama dia.”
“Hahahaha.. enggak-enggak. Gue masih nyaman kok sama status janda gue Ris. Toh sekalipun gue janda, gue masih perawan.”
“Dasar lo! Tahu ah! Percuma juga ngomong sama lo, nggak ada hasilnya. Udah! Gue mau balik ke ruangan gue, bye!,” kata Riska dengan berlalu dan tersenyum centil kepada Felly.

Tak lama dari itu, Felly mendapatkan pesan singkat mengenai acara makan siang bersama dengan klien. Dan dia, akan ditemani dengan empat ekor temannya yang gila. Bram, Billy dan Riska. Termasuk dia jika ia kumpul bersama dengan ketiga setan-setan dunia itu.
“Bu Felly, tadi dapat pesan dari Pak Bram dan Bu Riska kalau restoran yang akan digunakan bukan di tempat yang tadi siang. Melainkan, ada di samping kantor, Bu,” kata Nina. Sekretaris Bram.
“Jamnya, juga berubah?”
“Tidak, Bu.”
“Ok. Makasih, ya?!”

Nina menganggukkan kepalanya seraya tersenyum dan berlalu meninggalkan Felly.Tanpa berpikir panjang, Felly pun menaiki lift dan berjalan ke luar kantor. Ia pergi ke tempat yang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Bram.
“Arka!,” gumam Felly yang masih termangu di depan pintu.
“Udah dateng, Fel?! Sini, duduk!,” kata Billy dengan melainkan tangan.
Felly tidak merespon apa yang dikatakan Billy. Ia, masih dalam posisi yang sama. Berdiri dengan termangu. Bram pun mengalihkan pandangannya berulangkali ke arah Felly dan Arka. Felly yang terdiam dengan termangunya dia, sedangkan Arka yang tersenyum manis menyambut kedatangan Felly. Sungguh bertolak belakang.
“Bisa bicara berdua?,” tanya Felly.
Arka mengangguk dengan menghembuskan nafas beratnya. Kemudian, ia beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti langkah Felly untuk kelar restoran. Dengan suara bising lalu lalang kendaraan, Felly menatap Arka dengan tatapan tajamnya.
“Jangan bilang kau ada di sini karena ucapanmu tujuh tahun silam?,” tanya Felly ketus.
“Maafkan aku. Karena aku tidak bisa lari dari ucapanku.”
“Arka!”
“Sekeras apapun kau melarangku, aku tidak akan membiarkanku bebas Felly!,” kata Arka dengan menekan suaranya seraya menatap mata Felly dengan tatapan yang tak kalah tajamnya dengan Felly.
“Arka, aku tidak pernah menolak apa yang kau ucapkan. Tapi tindakanmu, tidak akan pernah membekas sekalipun di dalam jiwaku atau ragaku. Karena kau, hanyalah serpihan masa lalu. Yang hanya cukup aku simpan dalam peti yang sepantasnya untuk ku kubur,” jawab Felly dengan santai namun mengintimidasi.
“Felly!!!,” bentak Arka.
“Apa kau pikir dengan kembali kau dan ucapanmu tujuh tahun silan kau bisa mendapatkan aku kembali setelah kau mencampakkan aku dan membuangku layaknya sampah?!! Apa kau akan kembali membuatku mencintaimu dengan seluruh laknat Allah? Nggak!!! Nggak akan, Arka!!! Memang, tidak seharusnya aku memarahimu, membencimu, atau menolak kehadiranmu yang pernah singgah di kehidupanku. Karena kau tahu, kau adalah orang yang berhasil membuat hatiku berhenti untuk melangkah. Cukup jiwa dan ragaku saja yang bergerak. Jadi, jangan harap aku menerima ucapanmu bahwa kau akan kembali dengan kesuksesanmu! Apa kau pikir tujuh tahun itu hanya sebentar?! Nggak, Ka! Bagiku, satu detik saja sudah cukup untuk aku menangis karena cinta! Benar kata Al-Qur’an. Nggak seharusnya aku mengenal cinta tanpa restu dari Allah!!!,” kata Felly dengan meninggalkan Arka yang masih berdiri dengan gegatan gigi yang kuat.
“Termasuk jika aku akan bersumpah di hadapan para saksi?!,” tanya Arka.
Seketika langkah Felly terhenti. Namun, ia terus meneruskan langkahnya tanpa menoleh ke arah Arka yang masih berdiri di tengah teriknya matahari siang.
“Jawab aku, Felly!,” kata Arka dengan meraih lengan Felly saat ia mengejar langkah Felly.
“Untuk apa aku menjawab pertanyaan orang gila?!!!”
“Apa katamu?! Aku gila?!”
“Ya!!! Kau G-I-L-A!!!”
“Tch! Felly… Kau… Aaaakkhh! Aku memang gila!!! Dan itu karena dirimu!!! Kau yang tidak pernah bisa mengerti apa yang aku inginkan!!! Kau yang tidak pernah mengerti bagaimana peraanku padamu!!! Kau yang berhasil merampas seluruh heti dan perhatianku!!! Kau.. yang ingin aku nikahi…”
“Apa kau gila?!!! Kita hanya..”
“Aku tahu kita hanya masa lalu. Memang salahku karena aku tidak mengatakan pernikahan pasa saat itu. Tapi, untuk kali ini aku benar-benar serius, Fel!!! Aku ingin hidup bersamamu. Aku tidak ingin kau jauh dariku,” kata Arka dengan mata yang berkaca-kaca.
“Apa kau pikir aku akan percaya dengan rayuan gombalmu? Nggak, Ka!!!,” ucap Felly dengan meninggalkan Arka.
“Cowok nggak akan menangis kalau dia nggak benar-benar terluka, Fel!,” kata Riska yang sudah berdiri di depan pintu restoran.
“Kalian…,” kata Felly terputus saat Felly mendapatkan isyarat dari Bram untuk menoleh ke arah belakang.

Dengan ragu, Felly menolehkan kepalanya ke belakang. Dan benar saja, jantungnya serasa anjlok setelah ia melihat pipi Arka yang berkilauan terkena sinar matahari karena banjirnya air mata itu. Dan di sana, Felly melihat rasa sakit yang mendalam. Yang terpancar di dalam mata Arka.
“Gue tahu, lo pasti juga merasakan sakit yang sama kan, Fel?,” kata Bram.
“Kita udah kenal lo lama Fel. Bukan Felly kalau dia nggak suka nyiksa dirinya sendiri. Ya nggak men?,” nyata Billy dengan menyikut pinggang Bram.
“Fel, kita tahu kalau lo masih mencintai dia!,” kata Riska.
“Ini buktinya!,” ucap Bram dengan tersenyum saat ia menunjukkan buku diary biru milik Felly.
“Kalian…”
“Sekarang, nggak ada alasan lagi buat kamu pergi, Fel!,” kata Arka dengan memeluk Felly dari belakang.
“Lepasin!!!,” pekik Felly dengan berusaha melepaskan pelukan Arka.
“Nggak, sayang!!!,” kata Arka lembut dengan semakin erat memeluk Felly di sela-sela gumaman manjanya.
“Arka..,” panggil Felly lirih dengan kekuatannya yang melemah untuk melepaskan pelukan Arka yang begitu tulus dan penuh dengan kehangatan. Dan tanpa Felly sadari, ia meneteskan air matanya setelah hatinya telah menyatakan bahwa ia juga membutuhkan Arka. Karena memang sesungguhnya, ia telah kalah dengan cinta Arka yang begitu besar kepadanya. Felly pun membalas pelukan Arka dengan segenap hatinya Yah.. hati yang penuh dengan cinta dan benci. Cinta, yang terkadang tak sejalan dengan pikiran dan juga mulut yang mengucap. Karena cinta yang benar adalah cinta yang saling membenci dan menyakiti.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Batu di Balik Udang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Di Abu Abu

Oleh:
Masih terdiam di derasnya hujan yang membasahi luasnya kota. Dinginnya udara tidak membuat tubuh ini tergerak. Kerasnya suara deras hujan yang jatuh di antara jalanan dan atap bangunan hanya

Love in Fb

Oleh:
Kisah ini berdasarkan kisah nyata lho. Sebut saja gadis ini bernama alya, gadis yang hobby online di facebook sepanjang waktu tidak kenal tempat dan waktu. Pertama kali buat akun

Hari itu, Ia Menyadari Satu Hal

Oleh:
“Aku tahu sekarang.” Pria di depannya mengernyit. “Hanya aku bukan?” Lipatan di dahinya makin bertambah. Dia tertawa. Wanita itu mendongak menatap nanar padanya. “Aku lelah, Di.” “Vin, ada apa?”

Kamu Aja Deh

Oleh:
“Allahu akbar Allahu Akbar” “Hoaammmmm, masih ngantuk nih,,” Suara Adzan Subuh itu lagi. Suara yang biasa membangunkanku seperti pagi ini, pusing bener rasanya, ku paksa kucek-kucek mata yang masih

Ini Ceritaku

Oleh:
Di sini, aku akan menjemput pangeranku. Orang paling spesial di hidupku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Aku tidak ingin kehilangan dan terlambat lagi. Aku sudah berada di bandara sekarang.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *