Beach Pangandaran

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 12 April 2014

Weekend minggu kedua dari libur semesteran. Gak ada yang seru dari liburan kali ini. Sahabatku, Alice, liburan ke Sydney. Sedangkan aku? Harus seneng dengan keadaan ini. Aku tinggal bareng sepupuku, Reno dan jauh dari orangtua. Aku tinggal di Bandung, sedangkan orangtuaku di Alaska.

Biasanya kalau liburan, keluargaku datang dan ngajak aku ke Alaska. Tapi, tadi pagi Mama telpon dan bilang adikku demam. So? Dengan terpaksa aku tetap di Bandung.

“Sist, biasa aja kali. Alice di Sydney, ortumu di Alaska, tapi kamu di Bandung kan malah kesannya beda kan?” kata Reno seraya membuat es teh. Udara kota Bandung emang selalu panas.
“Hem, ya. I am so boring. Weekend so boring.” Jawabku sambil berada di depan kipas angin. Huft, sejuk.
“Boring? Bosen kenapa? Ada aku yang jadi partnermu di sini. Come on girl.” Reno membangkitkan ideku.
“Ren, pergi ke mall yuk?”
“Okay, sist. Anywhere.

Suasana di kota Bandung cukup ramai. Banyak kendaraan lalu lalang di depan mall. Sudah satu.. dua.. tiga.. empat.. Oh! Delapan kantong plastik belanjaan isi bermacam. Ada baju, elektronika, ada juga topi dewasa. Reno kebagian bawa barang berat dan aku dengan santainya cari tempat belanjaan lain. Reno sudah cemberut dari tadi. Tangannya mulai pegel.
“Sist, mau pulang!” rajuknya.
“Remember your word? ANYWHERE.” ucapku penuh kemenangan.
“Aaa… Bisa-bisanya sepupu diginiin. Awas kamu ya, sampe rumah bakal aku gelitiki sampe nangis darah kalo perlu! Remember that!” ancam Reno penuh misteri.
“So, what? Dasar cowok! Iam not scare, baby.”

Reno yang merasa kalah cuma diem dan lanjut belanja. Memang sih aku gak ke Alaska, tapi paling gak buatan lokal bisa memuaskan diri juga. Biasanya di Alaska aku suka shopping bareng Mama sama adikku. Kalau di sana pakaiannya trendy, terus keren-keren. Pokoknya banding produk lokal ya beda banget. Tapi, kadang aku bangga juga sama produk lokal. Bandung kan kreatif juga.

Setelah shopping dan lihat-lihat, aku memutuskan untuk makan siang. Aku tersenyum geli lihat muka Reno yang capek.
“Aku traktir, brother. Mau makan apa?” tanyaku. Wajah Reno langsung sumringah.
“Ke restoran Jepang ya, Ann. Aku ngebet sushi.” pinta Reno.
“Okay, brother. No problem.”

Aku mengecek ulang nota pembayaran. Oh My God! Habisnya banyak banget. Ternyata, selama aku ke toko sebelah, Reno udah pesen tiga porsi. Dan itu untuk dirinya sendiri. Aku sebel. Terpaksa kartu kreditku aku keluarkan. Uang cashku Cuma tinggal enam puluh ribu. Dan habisnya seratus dua puluh ribu. Padahal akunya beli martabak di depan restoran. Menyedihkan punya sepupu kayak Reno.

Selama perjalanan pulang, aku gak henti-hentinya ngedumel. Reno ketawa ngakak sambil gak fokus nyetir. Entah berapa kali kita semprot para pengendara.
“Mas, matanya jangan diumpetin.” Waduh nyesek banget rasanya. Apalagi wajahnya langsung cemberut. Aku pun ngakak penuh penyindiran.

Reno kembali fokus nyetir dan belok ke perumahan kami. Huft, masuk kamar aku langsung menghempaskan badan ke kasur. Setengah hari shopping capek juga. Reno langsung tidur di sofa. Masih pake jeans dan kemejanya. Ah, besok masih libur. Iya, udah dua minggu libur. Kalu diinget, aku kepikiran cowok yang kemarin ngajak aku ketemuan. Tapi, dia cuma bilang lewat chat. Waktu kebetulan kemarin aku online.

Aku sama si cowok udah setahun kenal, tapi belum pernah ketemu. Kita kenal karena satu grup di facebook. Grup pecinta anime. Awalnya sih komen-komen biasa, lama-lama, dia cerita tentang pribadinya. Yang jelas lewat chat. Katanya, baru katanya sih, tingginya 170 cm dan umurnya baru 17 tahun. Otomatis masih SMA. Umurku 20 tahun, kuliah dan jurusan akuntansi. Tinggi lebih pendek dari si cowok, 168 cm. Mungkin kalu aku pake heels bisa lebih tinggi. Tapi, egoku yang ngrasa nggak nyaman kalau pake heels.
Pernah sekali pake heels, waktu pesta barbeque di Alaska. Waktu itu aku dipaksa pake heels, karena mamaku setuju aku pacaran sama Stanley. Hubungannya? Dulu aku udah deket sama Stan dan ortunya Stan bilang kalau anaknya suka aku. Awalnya sih aku tertarik juga, tapi aku harus kuliah di Bandung, dan aku gak suka LDR. Nah, tentang heels, mama suruh aku pake itu, dan karena belum biasa akhirnya jatuh. Mukaku kena kue tart. Sontak, semua ketawa dan Stan yang bantu aku berdiri. Sebenernya mama suruh aku peke heels biar kelihatan cantik di depan Stan.

Yah, tapi itu dulu. Kata Mama Stan udah punya pacar dan masih sering main ke rumahku. Sekedar main atau ngenalkan pacarnya. Walaupun kita jauh, dia masih sering kontak aku. Kembali ke si cowok. Aku penasaran dan buka FB dari notebook. Bener aja udah ada pesan dari dia. Kebetulan juga lagi on.
“Ann Stewart? Kapan kita ketemu? Aku penasaran sama kamu. Bilang ke aku kapan kita bisa ketemu.”
“Hmm, hay Rama Austin? Lho, memangnya kenapa buat penasaran? Kamu SMA ya?”
“Pengen ngobrol langsung. Enggak, waktu SMP aku aksel jadi aku udah kuliah. Kuliah di Bandung.”
“Lho? Sama, kampus mana?”
“Universitas Padjajaran. Fakultas teknik.”
“Kok sama? Tapi, aku jurusan akuntansi.”
“Malah lebih gampang dong ketemunya. Kalu gitu aku tunggu di pantai pangandaran ya? Aku bakal siapkan tempat yang bagus buat kita lihat sunset.”
“Hem.. Oke.”
“Jaga kesehatan ya. Packingnya besok aja.”
“Oke, bos!”

Aku nglirik jam weker. Udah jam setengah dua. Udah jam setengah dua? Wah, belum mandi. Ah, aku meregangkan otot-ototku. Ku ambil handuk dan menuju kamar mandi. Lho? Badanku? Kok tambah gendut? Liburan menyebalkan! Pokoknya besok aku harus diet! Harus!

Jam setengah lima sore. Jam yang pas untuk aku berangkat ke pantai. Setelah minta ijin sama Reno dan ngelarang dia buat ikut, akhirnya bisa juga aku pinjem mobilnya. Kurang lebih setengah jam, aku udah sampe di pantai. Aku celingukan cari Rama. Uuh, dari beribu orang di sini dia yang mana? Em, nomor telpon gak punya, hubunginya?
Kuambil HP dan online. Siapa tahu dia kirim pesan biar aku tahu dia dimana. Dan benar aja udah ada satu pesan dari dia.
“Come on, girl. Aku udah ada di pantai. Pake baju warna biru toska, dan celana jeans hitam. Aku ada dimana tempat semua orang perhatian ke situ.”
Hem, mungkin aku tahu tempatnya. Tempat yang semua orang perhatian ke situ. Mana ya? Mungkin tempat orang suka lihat sunset. Oh, mungkinkah tempat itu? Iya, pasirnya dibentuk love, di pinggirnya banyak lampu kelap-kelip. Wonderful! Batinku. Rama? Rama yang mana ya?
“Girl?” ucap seseorang sambil menepuk bahuku.
“Yes? Are you Rama?” tanyaku kaget. Gimana enggak dia emang tinggi, putih, cakep lagi.
“Yes. Hay, aku Rama. Ann Stewart kan? You are so beautiful.”
“Thanks.”

Rama langsung tarik tanganku untuk masuk ke tengah gambar love. Tepat, ketika kami duduk, sunset terlihat. Suasana terasa aneh. Bawaannya pengen senyum terus. Rama tersenyum manis. Hatiku jadi tambah berdebar.
“Ann Stewart, will you be my girlfriend?” tanyanya serius. Hatiku makin berdebar.
“Why? Ke.. kenapa?” ucapku kaget.
“Cause I love you, Ann. Walapun gitu. Walaupun aku lebih kecil dari kamu, aku gak pernah kecil untuk bilang suka sama kamu.”
“Ortuku di Alaska, Ram. Susah kenalkan ke kamu.”
“So? Kenapa gak kerja sampingan. Untuk beli tiket ke Alaska. Naik kapal lebih seru. Jadi?”
“Hem. Okay. Aku suka caramu. Aku mau.”
Sontak Rama langsung peluk aku, masih di suasana yang aneh ini.

Cerpen Karangan: Nida Karimah
Blog: blogkunidaa
Facebook: Nida Karimah
Hay. Namaku Nida. Udah beberapa tahun ini aku berkecimpung di dunia penulisan. Yang ini ceritaku yang kedua yang aku terbitkan di online. Maaf ya kalo gaje. 😀

Cerpen Beach Pangandaran merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kepercayaan

Oleh:
“Bagaimana mungkin, aku bisa dengan sungguh-sungguh menjaga hatimu, jika hati itu sendiri tak benar-benar kau serahkan padaku?” Mata laki-laki berwajah sendu itu memelas. Selama 3 bulan ini Angga tak

Dan Hanya Bebas

Oleh:
Atas perintah Mamanya, di pagi yang cerah, seorang gadis cantik nan baik hati bernama Nury pergi ke pasar untuk belanja sayur-mayur dan beberapa keperluan lainnya. Tubuhnya yang mungil begitu

Maaf Ayah Aku Tak Bisa

Oleh:
Tidak terbayang olehku, sejak aku menikahi gadis madura lima belas tahun silam. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, yang terlintas hanyalah sebuah paksaan dari orang tuaku yang ngotot

Cinta Nayang (Part 1)

Oleh:
BRUKKK…!!! Sebuah tumpukan buku menghantam meja gue, perasaan gue jadi gak enak, gue pandang orang yang di depan gue yang telah nganter buku buku itu. “nihh… buku dari pak

21 Mei

Oleh:
Hari ini tanggal 21 mei, tapi entah kenapa hati ini tak merasa ketenangan yang terjadi 2 tahun lalu saat cinta dan rasa ini begitu mengebu-gebu dalam dada ini. Tanggal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *