Beauty and Not The Beast (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 4 June 2018

Seorang gadis cantik yang baru pulang dari sekolahnya berjalan keluar gerbang menuju mobil jemputannya. Si sopir yang menyadari keberadaan si gadis pun segera keluar dari mobil “Oh, nona mau pulang sekarang?” Tanya si sopir gadis itu pun menjawab “Saya mau kerja kelompok dulu di rumah teman yang dekat sini, nanti pulangnya juga bareng teman-teman jadi pak sopir pulang dulu aja.”
“Begini saja, nanti kalau nona Melisa mau pulang hubungi bapak saja jangan bareng sama teman.”
“Bapak takut saya diculik?” Melisa pun tertawa “Itu nggak akan terjadi, Pak. Saya aman kok pulang sama teman saya. Sudah ya, saya ditunggu teman-teman saya tuh.” Kata Melisa sembari meninggalkan Pak Sopir yang terbengong.

Pak sopir pun mengeluarkan ponselnya lalu mencari nomor telepon seseorang kemudian menghubunginya “Halo, gimana? Kamu siapkan siang ini. Dia mau kerja kelompok di rumah temannya yang dekat dengan sekolah.” Kata Pak sopir kepada seseorang di seberang sana.
“Ok, aku siap.” Jawab orang itu singkap lalu segera menutup teleponnya.

Terdengar suara tawa beberapa remaja putri dari sebuah rumah sore itu. Melisa sedang asyik mengobrol dengan beberapa temannya seusai mengerjakan tugas kelompok mereka. Suara nada dering smartphone Melisa berhasil suasana menjadi hening.

“Nak, kamu di mana? Jam segini kok belum pulang? Kalau kerja kelompoknya sudah selesai cepat pulang. Jangan bikin khawatir ibu dan ayah.” Kata Ayah Melisa kemudian ia menutup teleponnya.

Melisa hanya menghembuskan nafas panjang lalu ia segera mengemasi barang-barangnya ke dalam tas kemudian berpamitan kepada teman-temannya. “Teman-teman aku pulang dulu ya.” Pamit Melisa “Lho, Mel kamu pulang sama siapa? Kalau belum dijemput aku bisa kok antar kamu pulang.” Tawar Vivi namun Melisa menggeleng “Nggak usah repot-repot, Vi. Aku bisa bisa pulang sendiri kok.” Kata Melisa. Setelah berpamitan dengan orang tua Vivi si empunya rumah ia pun melangkah keluar dari rumah Vivi.

Melisa adalah anak seorang penyidik KPK. Baru-baru ini ia berhasil mengungkap kasus korupsi salah seorang mantan menteri. Ayah Melisa sadar betul bahwa pekerjaannya ini bisa berisiko tinggi tidak hanya kepada dirinya namun juga keluarganya. Sebagai anak tunggal tentunya Melisa sangat diperhatikan oleh kedua orangtuanya namun Melisa juga ingin bisa bebas beraktivitas seperti teman-temannya kebanyakan. Melisa sudah berulang kali meyakinkan kedua orangtuanya kalau dia bisa menjaga dirinya baik-baik, dia tidak melarang kedua orangtuanya untuk mengawasinya namun ia tidak ingin kedua orangtuanya over protective. Tetapi Ayah Melisa lah yang lebih tahu bahaya apa yang mengintai Melisa, bukan pergaulan bebas karena ia yakin anaknya bisa memilih teman yang baik, namun bahya itu adalah suatu hal yang mungkin belum pernah terpikirkan oleh Melisa.

Orang itu berjalan agak jauh di belakang Melisa dan ia terus menjaga pandangannya agar fokus kepada Melisa. Melisa pun berhenti karena ia merasa ada yang mengikutinya kemudian ia berbalik namun ia tidak mendapati seseorang pun. Melisa pun kembali melangkah namun lebih cepat dari sebelumnya. “huft, hampir saja aku ketahuan.” Kata orang itu dalam hati “bisa-bisa gajiku dipotong.”

Saat Melisa sudah sampai di jalan yang lebih lebar ia pun mendengar suara gaduh di belakangnya dan mendapati seorang remaja seusianya sedang berkelahi dengan beberapa orang dewasa. Melisa tidak begitu terkejut karena ia beberapa kali melihat anak itu berkelahi di jalan seperti sekarang ini. “Dia kira dia jagoan seperti yang di film-film apa? Nggak keren sama sekali.” Melisa pun berjalan mendekat ke arah anak remaja yang sedang berjuang itu lalu ia diikuti segerombolan orang berlari ke arah yang sama dengannya “Lho?” Kata Melisa bingung melihat orang banyak itu.

Melihat sekumpulan orang yang mendekat sambil meneriaki mereka, orang-orang yang berusaha menghajar anak remaja laki-laki itu pun memutuskan untuk mundur dan kabur. Remaja laki-laki itu pun tersungkur di atas jalan beraspal karena kelelahan melawan orang-orang itu yang jumlahnya semakin bertambah dari semula hanya 2 orang lalu 4, lau 5 lalu 7 seperti sekarang ini. “Ini benar-benar gila, bisa-bisa aku mati hanya untuk melindungi orang yang bahkan tidak pernah menatapku.” Kata Abimanyu dalam hati kemudian ia merasakan ada seseorang menepuk pundaknya pelan. “Abimanyu kan?” Tanya Melisa, Abimanyu hanya menatap Melisa dengan tatapan bingung “Darimana kamu tahu namaku?” Tanya Abimanyu balik “Oh, jadi aku benar ya. Siapa sih yang nggak kenal kamu juara 1 karate tingkat kabupaten bahkan sampai bisa juara 1 tingkat provinsi juga, dengar-dengar kamu mau jadi atlet nasional juga ya? Mana ada yang nggak kenal JAGOAN karate kayak kamu di SMA kita?” Kata Melisa dengan memberi penekanan pada kata “jagoan”. “Jadi jagoan kalau di luar sekolah kayak gini ya kelakuannya?” Tanya Melisa dengan nada sinis. Abimanyu pun berdiri sambil membersihkan pakaiannya “Ini bukan urusanmu.” Kata Abimanyu lalu pergi menjauh dari Melisa meski ia tidak benar-benar melakukannya.

Hari sudah gelap namun Abimanyu belum juga sampai di rumahnya karena ia harus memastikan Melisa masuk ke rumahnya dengan selamat. Tidak hanya sekedar memastikan Melisa pulang dengan selamat namun ia harus memastikan Melisa masuk ke dalam rumah dengan selamat. Begitu Melisa menutup pintu rumahnya Abimanyu segera mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi sopir Melisa. “Halo, Melisa sudah pulang dengan selamat.” Kata Abimanyu “Oh ya? Ya sudah, terimakasih sudah menjaganya.” Jawab Pak Sopir “Kirim uangnya segera, Pak.” “Tentu, saya akan kirim hari ini.” Abimanyu pun segera menutup teleponnya kemudian pulang ke rumahnya.

Siang itu di sekolah Melisa tidak bisa fokus dengan pelajaran yang disampaikan oleh guru di depan kelas padahal sekarang adalah pelajaran yang ia suka yaitu bahasa inggris. Sekarang di pikirannya hanya ada satu orang yang lebih menarik perhatiannya selain bahasa inggris atau pun artis idolanya sekali pun. “Abimanyu, kenapa kamu begitu suka berkelahi?” Tanya Melisa dalam hati. Sejujurnya dalam hati, Melisa tak bisa mengelak bahwa Abimanyu adalah lelaki yang tampan meski penampilannya selalu berantakan dan banyak siswa di sekolah ini yang menganggap Abimanyu adalah siswa yang nakal. Bagaimana tidak? Dia sudah sangat sering keluar masuk ruang BK dengan berbagai masalah seperti sering membolos pelajaran, terlambat datang ke sekolah, dan beberapa kali ia berkelahi dengan sesama siswa. Namun pihak sekolah hanya memberinya peringatan-peringatan dan hukuman seperti membuat surat pernyataan. Setahu Melisa jika di kelas 11 ini dia masih membuat masalah dia terancam tidak naik kelas. Yang jelas, sekolah tidak pernah mengancamnya untuk dikeluarkan dari sekolah seperti beberapa siswa sebelumnya karena sekloah terlalu sayang mengeluarkan siswa berprestasi dalam bidang olahraga seperti dia.

Melisa menatap keluar jendela kelasnya, ia melihat beberapa siswa kelas XI-IIS 3 sedang berjalan sambil bercanda keluar dari kantin. Karena suara mereka cukup gaduh, beberapa siswa dan siswi di kelas Melisa termasuk Melisa mengarahkan pandangan pada mereka. Saat itu pandangan Melisa dan Abimanyu bertemu namun Melisa segera mengalihkan pandangannya ke papan tulis. “Hmm, aku hanya tertarik padanya namun aku tidak menyukainya. Tidak untuk saat ini atau suatu saat nanti.” Kata Melisa dalam hati.

Abimanyu sedang sibuk memimpin pemanasan untuk latihan karate di aula sekolahnya. Di tengah-tengah aktivitasnya itu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. “Permisi, ini ekstra INKAI kan?” Tanya gadis yang mengenakan seragam olah raga di depan pintu aula. Semua anak yang ada di dalam aula pun mentap gadis itu, para lelaki di dalam aula yang semula wajahnya terlihat kelelahan karena pemanasan yang cukup berat wajahnya berubah cerah setelah melihat Melisa. Abimanyu pun berjalan ke arah Melisa “Iya, memangnya kenapa? Kamu mau ikut?” Tanya Abimanyu “Apa kamu bisa baca pikiranku ya?” Tanya Melisa, Abimanyu tampak sedikit terkejut namun ia berusah tenang kembali. “Baiklah, kalau begitu silahkan lari 5 putaran lalu push-up 20 kali kemudian sit-up 15 kali.” Perintah Abimanyu, tanpa melihat reaksi Melisa ia segera berbalik untuk melanjutkan latihan. Melisa hanya terbengong mendengar perintah Abimanyu “Apa? Lari 5 putaran di aula seluas ini? Push-up 20 kali lalu sit –up 15 kali? Bisa-bisa sebelum latihan aku kecapekan.” Kata Melisa lalu terdengar suara yang berkata “Dengan atau tanpa mengeluh sebelum pemanasan capeknya akan sama jadi segera lakukan apa yang aku katakan tadi, Melisa.”

“Apa aku tidak perlu memperkenalkan diriku dulu ke anak-anak yang lain?” Tanya Melisa.
“Tidak perlu, kamu cukup populer jadi tidak ada alasan untukmu memperkenalkan diri.” Jawab Abimanyu.
Melisa pun tertawa “Aku rasa aku tidak sepopuler itu deh.”
“Cukup basa-basinya dan cepatlah pemanasan.”
“Baiklah, ngomong-ngomong aku harus panggil kamu apa ya? Guru? Atau Abimanyu saja.”
“Terserah.”
“Kalau begitu, Abimanyu saja ya.”

Abimanyu hanya menatap Melisa datar, Melisa pun segera melakukan apa yang diperintahkan Abimanyu tadi. “Apa pemanasan yang kamu berikan tadi tidak akan memberatkannya?” Tanya Andi teman sekelas Abimanyu, tidak seperti Abimanyu yang bersabuk hitam, Andi masih bersabuk oranye. “Aku rasa tidak, kalau pemanasannya yang gampang dan ringan maka dia justru cepat kelelahan saat latihan.” Jawab Abimanyu. “Apa ya yang membuat cewek secantik dan sekalem Melisa bisa ikut ekstra INKAI?” Tanya Andi.
“Dia tidak sekalem yang kamu kira.” Jawab Abimanyu.
“Kamu tahu dari mana?”
“Ah, itu tidak penting. Kita lihat saja sejauh mana dia bertahan.”

Seusai latihan Abimanyu pun segera pulang. Abimanyu mengayuh pelan pedal sepedanya di atas jembatan sambil menikmati langit sore yang yang indah. Hari ini dia tidak mengawasi Melisa karena Melisa dijemput oleh sopirnya jadi Abimanyu bisa pulang dengan santai hari ini Abimanyu akhirnya menepikan sepedanya dan memutuskan untuk melihat-lihat sebentar pemandangan matahari terbenam. Keindahan langit sore ini mengingatkannya pada keindahan yang ia lihat saat latihan tadi. Gadis itu meski sedang berkeringat dan wajah yang kelelahan masih saja terlihat begitu cantik. Ah, tapi hanya khayalan Abimanyu saja untuk bisa bersamanya bahkan untuk hanya sekedar berteman.

Tiba-tiba Abimanyu merasakan ada yang menodongkan pisau ke pinggangnya. Namun ia berhasil berkelit lalu menghajar orang itu tetapi keberuntungannya hanya sampai di situ ketika ia merasakan pukulan yang begitu keras di belakang kepalanya. Saat itu juga Abimanyu tak sadarkan diri.

Ponsel Abimanyu berdering pertanda panggilan masuk, panggilan itu pun diterima. “Halo, Abimanyu. Pukul 7 malan nanti Melisa akan ke rumah temannya untuk menghadiri pesta ulang tahun temannya. Dia tidak mau diantar oleh pak sopir jadi kamu haru mengawasinya. Alamat temannya Jl. Markisa nomer 14b. Kamu bisa kan?” Kata orang dari seberang sana, tapi itu adalah kesalahan terbesar orang itu. Begitu mendapat informasi selengkap itu, orang yang menerima panggilan itu segera menutup telepon. Terdengar nada panjang penanda panggilan diakhiri, Ayah Melisa pun bingung melihat reaksi Abimanyu yang berbeda dari biasanya, Abimanyu selalu memberitahu bahwa ia bersedia mengawasi Melisa. “Halo, Abimanyu? Kenapa dia diam saja, tidak biasanya dia seperti ini.” Kata Ayah Melisa.

“Ayah, Melisa berangkat dulu ya? Sudah ditunggu teman-teman di luar.” Pamit Melisa “Iya, nak. Hati-hati.” Jawab Ayah Melisa dengan suara lirih. Ayah Melisa merasa ada yang tidak beres dan hal itu membuat ia cemas. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menghubungi orang lain untuk ikut mengawasi Melisa juga.

Cerpen Karangan: Anggakara

Cerpen Beauty and Not The Beast (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Lovely Blushing

Oleh:
“Perkenalkan, nama saya adalah Arima Kalita Yusi. Kalian bisa memanggilku Lita atau Ari. Sekian perkenalannya Dan terima kasih” ucapku. Hari ini Aku mulai bersekolah di High School Priority. Sekolah

Pahlawan Penyakit

Oleh:
“Firli! Kamu gak apa-apa kan?! Firli!” Bunda berusaha membangunkanku yang sedang terbaring lemah di Trotoar, Aku Hanya bisa mendengar teriakan Bunda “Kamu ya! Kalo jalan pake mata dong! Udah

Catatan Cerita Cinta SMP

Oleh:
Selama ini kau memang terlampau spesial untuk diriku. Bayang bayangmu masih sangat kuingat jelas, tak berubah sedikitpun. Meskipun kini kita makin jauh, biarkan semuannya hidup dalam kenangan. Terima kasih

Sang Asisten

Oleh:
Jaka, seorang pemuda yang berprofesi sebagai asisten salah satu dari anggota kepolisian bernama Fabian. Fabian cukup tegas dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang polisi. Sehingga Jaka harus dituntut untuk disiplin

Masa Yang Panjang

Oleh:
Pertama aku melihatnya di teras halaman depan rumahnya, mataku seperti terkunci hanya untuk melihat wajahnya. Maklum aku baru datang di kota ini karena aku baru pindah sore ini ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *