Beauty and Not The Beast (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 4 June 2018

Tawa seseorang menggelegar ke seluruh ruangan diikuti tawa beberapa anak buahnya. “Hey, kenapa kalian ikut tertawa? Hanya aku yang boleh tertawa.” Bentak orang itu. “Bodoh, bodoh untuk Haryono karena telah memberi aroma darah untuk hiu yang lapar sehingga hiu itu akan mudah mencari mangsanya.” Kata orang itu. Mendengar suara-suara itu, Abimanyu pun tersadar. Dia berada di tengah-tengah ruangan dan diikat di sebuah kursi kayu. “Kalian semua cepat menuju rumah di jalan Markisa no 14b dan cari tahu keberadaan Melisa setelah itu bawa ia ke sini.” Kata orang itu, mendengar nama Melisa disebut Abimanyu tahu bahwa Melisa sedang dalam keadaan bahaya. Setelah anak buahnya pergi orang itu menoleh ke arah Abimanyu. “Oh, kau sudah sadar rupanya. Apa kau mendengar perkataanku tadi? Apa kau melihat mereka yang sedang pergi untuk membawa Melisa ke sini? Sekarang aku bisa mendapatkan Melisa dengan mudah karena tidak ada kau di dekat Melisa.” Kata orang itu “Begini saja, kita mengobrol santai sebelum Melisa datang ke sini. Jadi ada hubungan apa antara kau dan melisa? Apa semacam hubungan seperti di film-film itu? Kau melindunginya karena kau mencintainya?” Tanya orang itu “Tidak.” Jawab Abimanyu.
“Lalu? Oh, tunggu sebentar apa mungkin ayah Melisa membayarmu untuk melindungi anaknya? Melihat kemampuan bela dirimu yang di atas rata-rata itu sepertinya kamu memang dipilih untuk hal ini, bukan?”
“Ya.”
Orang itu pun tertawa “Aku benar-benar tidak menyangka kalau Haryono benar-benar bodoh membiarkan anaknya dijaga oleh orang yang tak berpengalaman sepertimu. Tapi kenapa dia bisa menjadi penyidik KPK dan menangani banyak kasus besar seperti kasus pak Hasan ya?”
“Kau pasti suruhan Pak Hasan, kan?”
“Tepat sekali, anak muda.”

Abimanyu menatap tajam ke arah orang itu “Kenapa kau mentapku seperti itu?” Tanya orang itu. “Lepaskan aku lalu kita bertarung, jika aku menang biarkan aku keluar dari sini namun jika tidak…” Abimanyu membiarkan perkataannya menggantung membuat orang itu harus menunggu. “Jika tidak apa?” Tanya orang itu dengan nada membentak “…aku akan tetap di sini.”
“Bagaimana mungkin aku melepaskanmu begitu saja?”
“Tidak begitu saja, aku tidak akan lari. Mari kita bertarung, bukan kah Anda bilang saya kurang berpengalaman? Jika ditinjau secara umur tentu Anda jauh lebih berpengalaman dari pada saya, ini juga demi kehormatah Anda, bukan? Bahkan hanya dengan menolak tawaran ini berarti Anda kalah karena secara tersirat Anda takut saya akan menang.” Kata Abimanyu sambil tersenyum sinis penuh intimidasi.

Orang itu menjadi semakin geram karena Abimanyu berhasil mencabik-cabik harga dirinya dan berhasil mengintimidasinya. “Aku tidak akan kalah darimu, anak kurang ajar.” Kata orang itu geram, namun Abimanyu hanya tersenyum santai meski jauh dalam hatinya dia tidak tahu mengapa dia bisa menantang orang itu dengan taruhan nyawa.

Abimanyu dan orang itu pun bersiap, Abimanyu sekarang tahu apa alasan dibalik kenekadannya ini. Alasan yang juga mendasari dia mau melakukan tugas berbahaya dan risiko pulang malam yang mengakibatkan ia harus tidur di luar rumah. Orang itu pun mulai menyerang dan Abimanyu berhasil menghindarinya sehingga membuat orang itu semakin kesal. “Ini tak masuk akal, kau gila. Apa kau tidak memikirkan nyawamu, Abimanyu?” kata pikiran Abimanyu namun hatinya menjawab “Memangnya ada yang masuk akal dalam cinta, Abimanyu?”

Melisa meronta di dalam mobil itu berusah untuk melepaskan diri dari tali yang mengikat tubuhnya. Ia diculik ketika sedang merayakan ulang tahun temannya. Itu bukan pesta besar sehingga hanya sedikit orang yang datang. Tiba-tiba saja saat acara peniupan lilin terdengar suara tembakan yang mengakibatkan satu orang tumbang dan itu membuat semua orang ketakutan dan menjerit. Setelah itu masuklah beberapa orang berpakaian hitam-hitam dan bertopeng yang menodongkan senjata ke semua orang di dalam ruangan itu setelah itu salah seorang misterius itu menarik paksa Melisa keluar dari rumah. Di depan rumah 2 orang bertubuh tinggi besar menghadang sekumpulan orang misterius itu sambil menodongkan pistol. Baku tembak pun terjadi, karena perbedaan jumlah 2 orang itu pun berhasil dilumpuhkan oleh orang-orang misterius yang menculik Melisa.

Seorang teman Melisa menghubungi ayah Melisa kalau Melisa diculik, ayahnya sangat terkejut mendengar berita itu. Untung saja temannya itu sempat mengingat plat nomer mobil yang menculik Melisa. Setelah mendengar berita itu, ayah Melisa pun segera menghubungi polisi. Ia teringat pesannya kepada Melisa sebelum ia berangkat. “Iya, itu akan membantu.” Kata Ayah Melisa lalu ia segera keluar rumah.

Seragam putih Abimanyu sekarang sudah dipenuhi oleh darahnya. Wajah Abimanyu pun juga babak belur dan sekarang ia terpojok. Tidak jauh berbeda dari Abimanyu, orang itu pun juga tampak babak belur. “Aku sudah bilang kalau aku tidak akan kalah dari mu.” Kata orang itu sambil mencengkram kerah seragam Abimanyu. “Tapi aku belum kalah” Kata Abimanyu lalu menendang tepat di ulu hati orang itu. Cengkraman orang itu pun terlepas dan Abimanyu pun jatuh tersungkur. Orang itu berusaha bangkit dan meyerang Abimanyu namun dia berhenti karena mendengar suara langkah-langkah kaki memasuki gudang. Ternyata itu adalah para anak buahnya yang berhasil menculik Melisa. Dalam keadaan terikat mereka mendorong Melisa sampai jatuh ke depan orang itu. Abimanyu menatap ke arah Melisa dan Melisa pun terkejut melihat Abimanyu yang ada di sana.

“Kenapa Melisa? Apa kamu terkejut melihat temanmu di sini? Kamu tidak tahu ya kalau selama ini dia melindungimu dari para anak buahku yang berusaha menculikmu?” Kata orang itu lalu memegang dagu Melisa sambil tertawa. Abimanyu bangkit berusaha menyerang orang itu namun para anak buah orang itu langsung menyerang Abimanyu secara keroyokan. Abimanyu pun roboh namun para anak buah itu belum puas menghajar Abimanyu, meski ia telah roboh dan tidak melawan mereka masih saja memukul bahkan menendang Abimanyu secara brutal. Melisa menjerit histeris melihat Abimanyu yang diserang secara brutal itu. “Tidak bisakah Anda menghentikan mereka? Abimanyu bisa mati kalau seperti itu terus. Tolong hentikan mereka, targetmu itu aku bukan Abimanyu.” Kata Melisa dengan berlinangan air mata. Orang itu pun tersenyum sinis “Hm, bagaimana ya? Aku rasa mereka sudah sangat kesal dengan Abimanyu. Jadi aku anggap ini sebagai pembalasan dendam mereka.”

BRAAK!! Terdengar suara keras pintu didobrak kemudian masuklah sejumlah polisi bersenjata dan beberapa mengepung seluruh sisi luar gudang bekas pabrik itu. Orang-orang yang memukuli Abimanyu secara brutal pun berhenti dan terkejut melihat kedatang polisi. “Menyerahlah! Kalian sudah terkepung.” Perintah polisi. Orang itu pun juga terkejut lalu ia mengakat tangan, tindakannya itu pun diikuti oleh anak-anak buahnya. Orang itu dan anak-anak buahnya pun digiring keluar oleh polisi untuk segera dibawa ke kantor polisi. Melisa berlari ke arah Abimanyu yang tergeletak lemah tak berdaya dan bersimbah darah. “Abimanyu, kamu masih hidup kan?” Tanya Melisa dengan cemas sambil menggoyang-goyangkan pelan tubuh Abimanyu. “Aku tidak tahu” jawab Abimanyu lirih “Sepertinya aku melihat bidadari cantik, apa aku sudah di surga?”. Jika saja Abimanyu saat itu tidak sekarat mungkin Melisa sudah menamparnya. Abimanyu tersenyum melihat Melisa. Seorang polisi dan ayah Melisa berjalan mendekat ke arah mereka. “Melisa kamu tidak apa-apa, nak?” tanya ayah Melisa. Melisa berdiri lalu menoleh ke arah anaknya “Aku tidak apa-apa, ayah. Ayah kita harus segera membawa Abimanyu ke Rumah Sakit. Dan ada yang ingin Melisa tanyakan kepada ayah.”

Tak lama kemudian ambulan datang dan membawa Abimanyu ke Rumah Sakit. Sementara itu, di belakang ambulan terdapat sebuah mobil yang dikendarai oleh Ayah Melisa dan Melisa duduk di samping ayahnya. “Ayah, boleh aku bertanya?” Tanya Melisa. “Tentu boleh, apa yang ingin kau tanyakan?” Jawab Ayah Melisa.
“Pertanyaan pertama, bagiaman ayah bisa menemukanku?”
“Apa kamu lupa kalau ayah menyuruh mu untuk menyalakan GPS di HP-mu sebelum berangkat? Ya melalui itu ayah melacak keberadaanmu.”

Melisa terdiam mengingat sesaat sebelum dia masuk ke mobil temannya, ayahnya berpesan untuk menyalakan GPS di HP-nya. Melisa pun menuruti perintah ayahnya tanpa berpikir apa alasan ayahnya menyuruhnya melakukan hal itu.

“Pertanyaan kedua, aku dengar ayah membayar Abimanyu untuk melindungiku dari para penculik itu?”
“Ya, ayah menyuruhnya dengan harapan kamu tidak merasa diawasi karena penjaga mu adalah anak yang seumuran dengan mu.”
“Apa ayah tidak menyesal setelah peristiwa ini?”
“Ya, ayah menyesal. Ayah tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Saat itu Abimanyu juga sedang butuh biaya untuk sekolahnya dan keperluan lainnya. Kamu mungkin tidak tahu kalau selama ini Abimanyu memang tinggal bersama pama dan bibinya setelah kematian ibunya, namun paman dan bibinya tidak benar-benar merawatnya dengan baik sehingga ia harus membiayai kehidupannya sendiri kecuali makanan.”
“Jadi paman dan bibinya hanya memberinya tumpangan dan makanan?”
“Ya, terkadang jika Abimanyu pulang kelewat malam dia tidur di luar rumah.”

Mendengar cerita ayahnya itu Melisa pun terdiam. Sekarang ia tahu apa alasan Abimanyu dibilang sebagai anak nakal. Bagaimana pun juga Abimanyu terpengaruh dengan keadaan keluarganya.

Melisa masuk ke dalam kamar dimana Abimanyu dirawat. Mengetahui kedatangan Melisa ia pun tersenyum dan menyapa Melisa “Hai, Melisa! Aku senang kamu datang.” Sapa Abimanyu “Tidak usah banyak basa-basi ya.” Jawab Melisa dan itu membuat Abimanyu bingung “Aku hanya berusaha bersikap ramah.” Balas Abimanyu.
“Memang itu yang seharusnya kamu lakukan karena kamu tidak pernah bersikap ramah padaku.”
“Pernah kok, barusan.”

Melisa pun mengambil kursi lalu menaruhnya di samping ranjang Abimanyu dan duduk di kursi itu. “Abimanyu, terimakasih ya karena kamu ternyata pelindungku.”
“Jadi kamu sudah tahu ya?”
“Ya, ayahku sudah menjelaskan semuanya. Jadi, kamu melakukan hal itu karena apa?”
“Karena uang.”
“Karena uang? Hanya itu? Aku kok tidak yakin ya?”
“Uang adalah salah satunya, masih ada alasan lain.” Kata Abimanyu sambil tersenyum. Ya, ada alasan lain yang membuat Abimanyu mau menerima tawaran ayah Melisa. Itu adalah alasan utamanya. Sebuah alasan yang membuat pikiran dan hati Abimanyu berselisih.

TAMAT

Cerpen Karangan: Anggakara

Cerpen Beauty and Not The Beast (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Always Here With You (Part 1)

Oleh:
Seperti biasa alexa berangkat kesekolah dengan berjalan kaki. Bukan karena dia orang tidak mampu, dia adalah anak dari seorang miliyarder tekenal di Indonesia. Merupakan keturunan campuran, ayah dari inggris

Mengejar Bintang Jatuh (Part 1)

Oleh:
Siapa yang tidak tahu bintang jatuh? aku pastikan semua orang tahu dan pernah melihat apa itu bintang jatuh. Konon, kalau ada bintang jatuh lalu kita memohon sesuatu itu akan

Tinggal Kenangan

Oleh:
Pagi itu sangatlah cerah, mentari pagi muncul memancarkan sinar cerah dengan semangat 67 eh semangat 45 maksudnya. Sama denganku, hari ini adalah hari ulang tahun orang yang sangat aku

Surat Cinta Untuk Anggra

Oleh:
Aku wandi aku anak satu-satunya dari keluargaku, ayahku bekerja sebagai karyawan suwasta di salah satu toko di kampungku, sedangkan ibuku adalah ibu rumah tangga biasa, Hobiku adalah menulis cerpen,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Beauty and Not The Beast (Part 2)”

  1. NabilaEka says:

    Sukaa.,, bagus ceritanya:”)) lanjutin dong klao bisa bersambung gituloh:”)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *